Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

Meeting berlangsung lama, bukan hanya satu tapi dari tempat ke tempat. Karena itulah yang menyibukkan Agha untuk urusannya.


Bahkan baru saat ini ia kelar dengan segala tugasnya. Niat hati ingin langsung pulang, akan tetapi ada seseorang yang bekerjasama dalam bisnisnya tiba-tiba mengajak singgah untuk melebur lelah.


“Ayolah, kapan lagi kita!”


Ya, Branden yang selaku teman dekat sesama CEO merasa asik bergaul dengan Agha. Pria itu seumuran, hanya saja dia berstatus duda dua anak. Branden kerap kali mengajak Agha untuk sekedar melepas lelah, di bar. Namun yang ia dapat selalu penolakan dari pria itu.


“Hmm, baiklah. Untuk malam ini, aku pun butuh hiburan,” balas Agha.


“Nah seperti itu dong brother. Aku yang sudah mempunyai anak dua saja, tidak memikirkan yang di rumah. Ah, kita juga bisa bersenang-senang dengan para kupu-kupu cantik di sana,” balas pria itu dengan terkekeh.


“Aku pun sudah mempunyai anak, bukan kau saja!”


“Hah? Bagaimana bisa?”


Kaget? Tentu, identitas Agha sangat tertutup, bahkan mengenai status dan keluarganya. Tak ayal jika sahabatny itu merasa terkejut atas lontaran kata yang baru saja terucap.


***


“Jadi seperti itu ....”


Kini mereka sudah berada di sebuah club malam yang tengah dibicarakan akan kepopulerannya. Karena club ini menyediakan banyak fasilitas. Ya, bukan hanya sekedar minum atau bersorak ria dengan banyak orang di panggung yang diiringi panduan musik DJ. Bagi para pria yang haus nafsu dan butuh penyaluran, tempat ini adalah gudangnya.


Bahkan ada khusus penginapan bagi orang-orang yang ingin menyewa wanita. Wanita-wanita di sini memang bisa dikatakan banyak yang bersegel, berkualitas, dan bukan sembarang wanita-wanita pelayan lainnya. Karena mereka hanya mau tidur dengan orang-orang yang tinggi, sebab pengunjung di sini bukan orang yang biasa.


Bagi Agha siapapun wanita di sini, tidak ada yang berharga. Menurutnya perempuan yang sukarela memberikan kehormatan demi uang, bukanlah perempuan berkualitas. Mereka tetap murah pada umumnya. Wanita yang sebenarnya adalah dia yang berjuang mempertahankan harga diri dengan menjaga mahkotanya.

__ADS_1


Namun, jika mengingat prihal kehormatan Agha selalu sadar akan dirinya. Ya, dia adalah pria yang jahat telah merenggut kesucian perempuan mahal di masa lalunya. Mengingat itu, ia selalu merutuki dirinya, dan selalu berdoa agar putrinya tidak mendapat lelaki seperti dirinya di masa lalu.


“Ya. Aku juga masih bertanya, sebenarnya aku juga duda sepertimu atau beda?” papar Agha sambil menikmati minumannya. Sesekali ia berpikir dengan apa yang ia ucapkan.


Tiba-tiba Branden tertawa lepas, setelah ia teguk dua cawan itu sekaligus. Pria itu merasa humor, karena ketidakjelasan status pria yang ada di sampingnya itu.


“Astaga lucu sekali Agha. Aku sih tetap beranggapan kau itu duda, sama sepertiku!” Lalu ia kembali lagi tertawa.


“Mana bisa? Sedangkan aku sendiri tidak pernah mengikat hubungan sama sekali dengannya. Aku tidak pernah menikah ataupun bercerai, hanya saja aku telah menghadirkan seorang yang mengubah statusku. Ya, dia putriku."


Seketika Branden berpikir, “Benar juga. Semakin tidak jelas statusmu Gha. Tapi, mau bagaimana pun kau tetap seorang ayah sama sepertiku. Ah, sudahlah yang jelas kita ini sudah tidak lagi perjaka, haha!”


Agha menggelengkan kepalanya dengan senyum. Ia tak heran lagi dengan tingkah orang ini, sebab efek alkohol minuman yang terus dia tenggak itu mulai bereaksi.


Saat Branden sudah mulai meracau sendiri, Agha mengalihkan perhatiannya. Kini ia melihat ada seseorang bertubuh tegap dengan kemeja putih yang ia gulung sampai tangan, sedang berjalan menghampiri.


“Suatu penghormatan untuk clubku yang biasa ini, didatangi oleh seorang Aghafa Luis sang penakluk raksasa bisnis,” ucap Gerald kala ia sudah duduk di berhadapan dengannya.


“Tidak perlu berpura-pura seperti orang asing Gerald. Aku Alex sahabatmu, jangan formal layaknya seseorang yang baru kenal,” balas Agha seolah menyindir. Ya, Agha tidak melupakan sahabat satunya ini.


Gerald yang belum mengetahui semuanya, merasa terkejut. Itu artinya praduganya dengan Gafin waktu itu tidak salah.


“Jadi ....?”


“Aku Alex Gerald, aku sahabatmu yang telah berkhianat dulu. Maafkan aku yang sekarang ....”


Gerald refleks merengkuh tubuh Agha, mereka saling menyalur rindu dengan ketidaksangkaan.

__ADS_1


“Aku memang selalu yakin, bahwa sahabatku ini masih ada bahkan sangat dekat denganku. Kau ke mana saja bajing!” ungkap Gerald penuh haru.


Agha mulai bercerita satu persatu tentang semua kejadiannya, dan selama itu Gerald terus saja tidak menyangka.


“Ternyata memang benar ya, dunia ini seakan berputar di sebuah kancing, begitu sempit. Sudah lama kita terpisah, kini aku bertemu dirimu yang baru. Jadi aku harus panggil apa sekarang? Kau seperti punya dua kepribadian,” ucap Gerald terkekeh.


“Gerald, aku tetap Agha. Alex yang kau kenal dulu anggap saja, sudah tiada. Aku pulih dari terlupanya masa lalu, tapi bukan berarti aku kembali pada masa itu,” tuturnya. Agha menatap dalam mata sahabat lamanya itu. “Hmm ... Apa tidak terbesit rasa bencimu untukku?”


“Untuk apa? Tidak ada untungnya bagiku. Aku tidak ikut campur, tapi aku masih bertanya kenapa kau begitu berbeda dari yang dulu?”


Terbesit pertanyaan-pertanyaan yang membuat otaknya ikut bekerja. Kepribadian Agha ataupun Alex seperti dikendalikan oleh seseorang. Ya Gerald yang kenal Alex adalah seorang pria sadis, kejam, absurd, berandal bahkan minim etika. Kini, yang ia lihat pria ini sudah menjadi orang besar, dan sangat terhormat.


“Amnesia yang melupakan segalanya. Tapi, Amnesiaku juga yang mengubah seluruhnya, sebab kejadian demi kejadian yang terjadi. Aku seakan diubah oleh keadaan. Gerald, semua orang tidak bisa menetap seperti itu saja, akan ada masanya semua bisa berubah,” balas Agha.


“Kau benar. Berarti penyelidikanku dengan asistenmu itu ternyata memberi bukti yang benar. Aku salut dengan pria itu, dia begitu jenius dalam menghadapi persoalan,” ujar Gerald.


Agha pun terkekeh, bukan hanya dirinya saja yang kagum ternyata banyak orang yang merasa senang dengan asistennya. “Ya, aku selalu bersyukur mendapat tangan kanan sepertinya. Sebab dia aku mengetahui jati diriku yang sebenarnya.”


“Tapi bagaimana hubunganmu dengan Azriel?”


Agha bersandar pada sandaran sofa, lalu mendesah gusar. “Dia masih sangat membenciku. Kebrengsekanku pada malam itu, membuat kakaknya menderita,” balasnya.


“Kau tahu dari dulu pria itu memang sangat keras kepala. Sebenarnya dia mempunyai hati yang baik, hanya saja terbalut dengan dendamnya. Agha, aku ingin sekali bersatu seperti dulu. Mau bagaimana pun kita berteman bukan dalam waktu yang singkat.”


Seketika Agha berpikir. Tanpa sadar pria itu banyak sekali meneguk minumannya, hingga rasa pusing dan panas tenggorokan mulai terasa.


“Selain maaf yang aku butuhkan, aku juga ingin mendapatkan kakaknya.”

__ADS_1


“Apa?”


__ADS_2