Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Gadis Desa Memang Cantiknya Natural


__ADS_3

Melihat Abel yang sudah tertidur dalam pangkuan Azriel, Ina berniat untuk memindahkannya ke atas ranjang.


"Biar saya pindahkan Nona Abel Tuan, sepertinya dia sudah pulas."


"Ya, pindahkan!"


Ina segera mengambil bocah yang sudah pulas itu, lalu ia pindah ke atas kasur. Namun, saat sudah direbahkan seragam pelayan Ina ditarik olehnya, sampai perempuan itu kembali menjatuhkan dirinya di samping Abel.


Azriel yang melihatnya, segera memberikan instruksi agar tetap pada posisinya. Ia hanya takut keponakannya itu terbangun.


Ina menurut, akhirnya pun gadis itu menjaga Abel yang masih memeluknya. Sementara Azriel melanjutkan pekerjaannya.


***


"Nona Azel perkenalkan ini anakku, namanya Aghafa Luis. Dia putraku yang tertarik untuk bekerjasama di perusahaan Anda."


Pria tampan itu tersenyum kepada Azel dengan sangat ramah, lalu ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Namun karena Azel yang terbengong melihat wajahnya, membuat tangan itu tak mendapat penyambutan.


"Eh, ya aku Azel Raymond salam kenal," balas Azel tersenyum canggung.


'Sepertinya aku salah orang, jika itu dirinya tidak mungkin dia tidak mengenal aku, terlebih kusebutkan nama lengkapku. Tapi, sungguh dia sangat mirip dengan pria itu,' batin Azel.


"Salam kenal Nona Azel. Hmm, sepertinya saya telat."


"Ah tidak Pak Agha, kita juga belum lama melakukan rapat tadi. Mungkin pertemuan khusus ini akan membicarakan kerjasama kita," ucap Azel.


'Entah kenapa aku ingin menangis, wajah itu mengingatkan aku pada masa lalu,' batin Azel.


***


Beberapa jam kemudian.


Saat Azriel menoleh, tiba-tiba ia mendapati gadis yang berada di atas ranjang itu ikut tertidur bersama keponakannya.


Merasa sudah menyelesaikan pekerjaan kantor, Azriel menutup laptopnya kemudia dia mengayuh kursi rodanya untuk menghampiri mereka.


Azriel sejenak memandangi wajah Abel, tapi tiba-tiba beralih ke arah wajah Ina. Setelah ia pikir cukup lama, Ina ini gadis cantik yang natural. Hidung lancap yang mancung itu seakan membentuk bibir kecil miliknya. Azriel akui bahwa gadis desa memang natural dan manis.


Tanpa sadar dia terus memandanginya, sampai tersadar lalu menyangkal, 'Astaga apa-apaan dengan pikiranku ini? Dia tetap orang baru, dan aku benci pendatang itu,' batin Azriel.

__ADS_1


Ina terkejut, ia terlonjak bangun untuk beranjak dari ranjang dan sadar akan perbuatannya yang menurut ia  tidak sopan. "Maafkan saya Tuan, saya ketiduran. Maafkan ketidaksopanan saya!"


"Hmm. Sekarang bantu aku naik!"


***


Pagi hari telah tiba.


Seperti biasa, Ina akan menyiapkan pakaian dan air hangat untuk Azriel mandi. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.


'Nak, bantulah Tuan Azriel untuk sembuh. Jika kau bisa meluluhkan hatinya, Nenek akan sangat bangga. Ingat, Tuan Azriel adalah harapan keluarganya.'


Ucapan itu pernah ia dengar dari sang Nenek yang mengatakannya sebelum ia pulang ke desa.


"Sampai saat ini aku masih bisa bertahan, tapi entah kenapa pekerjaanku ini tidak ada kemajuan. Aku merasa selama melayani Tuan Azriel, dia justru semakin tak mau tahu dunia luar dan hanya mengandalkanku saja," gumamnya.


"Apa air hangatku sudah siap?" teriak Azriel.


"Iya sebentar Tuan!"


Ina bergegas menghampiri Azriel. Namun ternyata, Azriel sudah menelanjangi tubuhnya sendiri. Kini, ia hanya mengenakan CD saja. Tentu sangat canggung bagi Ina dalam situasi ini.


Terlihat Azriel sudah merenggangkan tangannya agar meminta bantuan dari Ina. Gadis itu membantu untuk duduk di kursi. Namun, untuk kali pertama Ina merasa memeluk pria kekar itu. Azriel memeluk erat tubuh Ina, karena ia tidak bisa menahan bandannya sendiri.


Sementara, Ina terus menahan napas saat wajah pria itu nyaris menyentuh dadanya. Ina menyangga kedua ketiak Azriel dengan tangannya, dan itulah cara kerja Ina untuk membantu Azriel duduk di kursi rodanya.


Beberapa menit berlalu. Saat Ina sedang menunggu di depan pintu kamar mandi,  tiba-tiba terdengar suara dari dalam sana.


"Ina, cepat masuk bantu aku!" Ina tertegun sebentar, karena baru kali ini Azriel memanggil namanya langsung dengan sangat lantang.


Saat ia memasuki kamar tiba-tiba Azriel sedang merangkak, karena kursi rodanya terdorong jauh dari posisi bak mandinya.


Melihat itu Ina terkejut, entah kenapa hati lembutnya merasa teriris karena iba kepada tuannya itu.


'Aku tidak bisa melihat seorang dalam keadaan seperti ini,' batinnya meringis.


Ina segera membantu Azriel untuk naik ke atas kursi rodanya. Nasib baik, pria itu mandi dengan masih mengenakan pakaian dalamnya. Dan, bagi Ina ini akan menjadi kebiasaan, dengan begitu pun ia harus terbiasa.


"Kenapa bisa tergelincir kursi rodanya, Tuan?"

__ADS_1


"Tersenggol lenganku!"


"Baiklah, apa Tuan sudah selesai membersihkan tubuhnya?"


"Sudah, bawa aku ke kamar saja!"


Ina segera mengambil handuk. Tanpa diperintah Ina berinisiatif untuk membantu mengelap tubuh Azriel yang basah. Setelahnya, ia menyodorkan pakaian untuk Azriel dan ia pun langsung keluar dari kamar.


Di dapur.


Ina sedang melamun, gadis itu masih memikirkan kejadian tadi.


'Mau bagaimana pun aku harus bergerak. Tuan Azriel tidak boleh selamanya seperti ini. Aku merasa kasian, selama 4 tahun dia hidup dalam kesulitan. Membayangkan sendiri saja aku tidak akan sanggup, tapi dia begitu kekeh dan kuat dengan pendiriannya,' gumam dalam hatinya.


Tiba-tiba Ella datang mengagetkan.


"Hei Mbak Inah muda!"


"Astaga, Mbak Ella!"


Ketua pelayan itu menyengir saat Ina tersentak kaget akibat perbuatannya. "Maaf, Nona Ina. Lagian kenapa melamun saja?"


"Hehe tidak apa-apa Mbak."


"Mbak Inah selalu berpesan kepadaku, jika cucunya tidak akan sanggup bekerja, dia bilang segera memberitahu dan sekarang Mbak mau tanya kau sudah merasa tidak betah 'kah?"


"Aku nyaman kok Mbak. Kenapa berpikir seperti itu? Jika aku tidak betah, mungkin sudah dari kemarin aku resign," ucap Ina.


"Ya, ya ... aku memang salut denganmu. Kau begitu kuat, dan jika kau tahu kau adalah orang yang bertahan lama mengurus Tuan muda Azriel. Kok bisa? Apa kau diperlakukan baik dengan Tuan?"


Ina tersenyum. "Aku diperlakukan baik. Aku cuma ingin membantu Tuan Azriel sembuh, Mbak. Kata Nenek dia harapan keluarga, harus menjadi pemimpin tertinggi untuk menggantikan Tuan besar. Tapi, sampai saat ini aku masih bingung untuk memberikannya semangat, sedangkan diriku saja sangat takut dan enggan untuk mengakrabkan diri dengannya," ujar Ina.


"Aku salut denganmu, kau perduli kepada orang yang jelas bukan siapa-siapamu. Baiklah, untuk mengakrabkan diri sepertinya mudah. Kau harus bisa banyak tanya dan bicara, yang lebih penting lagi kau harus ada di momen setiap kegiatannya."


"Maksudnya?" tanya Ina tak paham.


"Contohnya, kau harus bisa mengajak Tuan Azriel untuk keluar rumah agar dia bisa bersosialisasi dengan lingkungan, dan membuat percaya diri lagi dengan dunia luar. Biasanya Tuan Azriel setiap Dua Minggu sekali akan ke makam ibu kandungnya. Kau ikut saja, dan tarik terus perhatian dia."


"Tunggu sebentar, ibu kandung?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2