
Hati terkuasai oleh api amarah, dirinya sudah terjerat gairah. Meluapkan semuanya kepada orang yang tak bersalah.
"Hikss, Tuan tolong lepaskan!" Sementara Ina menjadi bahan penyiksaanya. Gadis itu terus meraung sembari menangis tak tertulung.
"Sudah kukatakan aku tidak suka perubahan. Kau datang merubah hidupku, jika kau pergi kau kembali merubahku. Kau tidak akan boleh keluar, setelah kau masuk ke dalam hidupku!"
"Egois!" Tiba-tiba kata itu langsung terlontar dari mulut Ina.
Azriel langsung menyumpal mulut Ina dengan mulutnya. Argumen mereka terhenti tatkala Azriel mel*mat habis bibir Ina. Amarah dengan hasrat terpadu, hingga tersalurkan dengan kasar.
Ina hanya pasrah karena kemampuan dan tenaganya tak sekuat Azriel. Gadis itu hanya mampu menangis. Pintu sudah tertutup rapat, satu-satunya harapan Ina hanya pintu itu terbuka dan ada seseorang yang akan menolongnya.
"Lep-paskan hikss!"
Azriel tak memperdulikan semua penolakan dan berontakan dari Ina, ia hanya perduli dengan nafsunya.
"Kau harus menjadi milikku!"
Tangan nakal Azriel bergerak lincah memainkan aset berharga seorang perempuan. 'Nenek tolong Ina. Tuhan tolong sudahi ini semua,' batin Ina menjerit.
Srekk ...!
Baju atasan Ina berhasil dikoyak oleh Azriel, bahkan gadis itu masih menganga atas perlakuan tuannya. "Tuan!"
Tubuh Ina sudah benar-benar kaku berada di bawah kukungan Azriel. Pria itu habis-habisan memagut bibirnya sampai Ina kelu tak kuasa untuk bersuara lagi.
Sementara saat ini Azel sedang mencari keberadaan adiknya di dalam kamar. Namun, mengetahui Azriel tidak ada di dalam kamar, Azel pun kembali keluar. Saat yang kebetulan ia menjumpai Ella.
Ya, perempuan itu memang masih sileweran di jam segini.
"Ella di mana adikku?"
"Nona mencari Tuan Azriel ya? Tadi, saya lihat dia berjalan menuju kamar Ina. Entahlah, pulang-pulang Tuan Azriel langsung menghampirinya, padahal Ina sedang berberes untuk keberangkatannya besok," jawab Ella.
"Berangkat? Kemana?"
"Kembali ke desa Nona. Oh ya, dia memang belum sempat izin, tapi katanya dia berniat untuk langsung pamit besok," jelas Ella.
'Apa gadis itu akan pulang? Pantas saja Azriel menghampirinya. Hmm, kenapa tiba-tiba aku tidak enak perasaan seperti ini, sebaiknya aku mengeceknya,' batin Azel.
"Baiklah terima kasih!" Azel pun melangkah menuju ke kamar Ina. Perempuan itu sebenarnya memang ada keperluan penting kepada adiknya.
Saat sudah sampai di depan pintu, tiba-tiba Azel menghentikan langkahnya. Samar-samar ia mendengar suara seseorang berteriak. Karena rasa penasarannya kuat, Azel pun membuka pintu yang ternyata tak terkunci itu.
Dan, sudah ya keterkejutan terlihat dari raut wajah tatkala apa yang disaksikan depan matanya ini.
__ADS_1
"TOLONG ... HIKKSS TOLONG ...."
Azel menekap mulutnya tak menyangka semua yang dilihatnya. Ia langsung membentak adiknya itu, "AZRIEL!"
Ina sudah bercucuran air mata, akhirnya harapannya terkabul. "Tolong, hikksss ...."
Melihat adiknya sedang mencumbu seorang gadis dengan bringas, Azel merasa marah. Ia berteriak, "DADDY, MOMMY ...."
Shireen dan Samuel yang mendengar suara teriakan lantang dari Azel, mereka berbondong-bondong menghampiri sampai semua orang datang.
"Ada apa?!"
"Lihatlah!"
Azriel bangkit dari tubuh Ina yang terlihat sudah tidak memakai apa-apa. Mereka mengira bahwa Azriel telah memperkosa gadis itu.
"APA YANG KAU LAKUKAN AZRIEL?!" bentak Samuel dengan amarahnya bergejolak.
"Daddy lihat semuanya 'kan. Ya, aku memperkosanya. Dia akan hamil anakku Dad. Cepat nikahkan aku dengannya!" tegas Azriel.
Bughh!
Tiga pukulan berhasil dilayangkan oleh Samuel. "Menjijikkan!" tandas Samuel.
'Tidak, tidak bukan seperti ini maksud harapanku. Aku hanya butuh pertolongan, bukan kesalahpahaman!' batin Ina.
'Kak Azriel keterlaluan,' batin Aryan merasa kasihan dengan Ina.
"Nikahkan aku secepat mungkin, dia akan hamil anakku!" tegas Azriel kepada Daddynya.
"Tidak, saya mohon percayalah ini tidak seperti yang kalian lihat! Tuan Azriel jahat, dia melecehkan saya hikss!" Kondisi tubuh Ina tidak membuat mereka percaya akan ucapannya.
Namun, bukan berarti mereka menyalahkan gadis itu karena Azriel lah objek pertama yang disalahkan mereka atas kejadian ini.
"Daddy benar-benar kecewa dengan Kau. Kau bukan seorang lelaki yang mencontohkan baik kepada adik-adikmu. Di mana rasa malumu Azriel? Perbuatanmu ini tidak pernah Daddy ajarkan!" sungut Samuel.
"Aku melakukan ini sebab Daddy yang selalu mengatur semua hidupku. Aku benci perjodohan itu, aku tidak mencintai gadis yang Daddy jodohkan, aku hanya ingin menikah dengan gadis yang kucintai!"
Samuel menahan emosinya sebab ada sang istri yang meredakan. "Mas ... kita bicarakan baik-baik nanti yah ...."
Samuel langsung pergi, semua orang pun bubar menyaksikan dan hanya ada Azel dan Shireen yang menghampiri Ina.
Saat Azel ingin menghampiri gadis itu dan membantunya untuk menyelimuti, tiba-tiba Ina melengoskan badannya untuk menghindar.
"Jangan sentuh tubuh kotor ini, hikkss!"
__ADS_1
"Ina, maafkan adikku." Azel merasa iba dengan gadis itu. Ia melihat begitu banyaknya memar merah di tubuh Ina, ia tahu jika itu ulah sang adik. Kecupan itu pasti seperti sengatan untuknya. Pikir Azel.
'Azriel benar sangat keterlaluan. Dia sangat membenci pria yang memperkosaku, tapi kini perbuatan dosa itu dia lakukan dengan pengasuhnya sendiri,' batinnya.
"Maafkan anakku," ucap Shireen berusaha untuk memeluknya. Namun, Ina semakin menguatkan isakan tangisnya. Terdengar begitu nyesak.
"Nyonya, tolong percayalah. Saya dengan Tuan tidak melakukan apa-apa. Dia hanya melecehkan saya, berusaha untuk memperkosa. Tetapi ini semua hanya kesalahpahaman apa yang kalian tidak semestinya langsung menyimpulkan hikks! Aku hanya hampir diperkosa, tapi tidak sampai terjadi!"
"Ina tenanglah, Azriel pasti menikahimu. Kami akan bertanggungjawab atas perbuatannya, kau tidak perlu menyangkal lagi. Semuanya sudah terjadi," balas Shireen.
'Ya Tuhan, kenapa sekarang kejujuran tidak pernah dihargai lagi. Mereka hanya menyimpulkan apa yang dilihat, tanpa mau tau kenyataannya. Kumohon katakan semuanya,' batin Ina.
"Aku tidak melakukan apa-apa hikss, tolong percayalah ...."
"Tenangkan dirimu Ina, kita semua tidak pernah menyalahkanmu," sahut Azel.
"Ya, aku akan bicarakan semuanya baik-baik dengan nenekmu."
'Tidak, Nenek tidak boleh tahu tentang ini. Bagaimana perasaannya nanti.' Lagi-lagi Ina bergumam dalam hati. Namun, tiba-tiba semua pandangannya menjadi gelap. Kepalanya pusing, dan akhirnya jatuh ke dalam kepelukan seseorang.
"Mommy dia pingsan."
"Biarkan saja, mungkin dia kelelahan. Esok pasti akan sadar."
***
Di dalam kamar Samuel tampak memikirkan kejadian tadi. Ia masih tidak menyangka perbuatan anaknya yang sangat menjijikkan menurutnya.
Shireen memasuki kamar, ia melihat sang suami sedang melamun. Dengan inisiatif ia memeluk tubuh suaminya agar menenangkan hati.
"Mas ...."
"Aku benar-benar tidak menyangka dengan perbuatan anak itu!"
"Mau bagaimana pun kita harus menikahinya Mas."
"Tapi, bagaimana dengan perjanjianku bersama Genro? Kita sudah sangat sepakat. Dia pasti kecewa," balas Samuel.
"Batalkan saja. Pernikahan itu akan percuma, jika pada kenyataannya Azriel memiliki anak dengan gadis lain." Shireen mengelus dada suaminya, lembut.
"Ingat tidak, waktu kita nekat menikah padahal saat itu kamu dijodohkan kembali dengan mantan istrimu, oleh Mami? Tidak enak bukan? Mungkin itu yang dirasakan Azriel. Keterpaksaan akan membuat orang bisa melakukan apapun, contohnya seperti itu perbuatan Azriel agar tidak menikah dengan gadis yang kamu pilihkan," lanjut Shireen.
"Tapi itu cara yang benar agar menghindari perjodohannya? Perbuatan anak itu sungguh menurunkan martabat keluarga kita. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada Bik Ina nanti."
"Aku akan menghubungi Bik Inah, agar esok dia segera ke sini."
__ADS_1
Bersambung ....