
Shireen terlihat terburu-buru keluar dari pintu mobil. Ia sudah sangat tidak sabar melihat pemandangan yang akan disaksikannya.
"Wahhh, Om indah banget ...."
Shireen merentangkan kedua tangannya, menikmati semilir angin yang berhembus halus. Tidak terlalu banyak orang di sini, hanya ada beberapa saja.
Suasana dan pemandangan danau ini begitu menyegarkan mata, hati, badan dan pikiran. Sungguh indah sehingga pikiran berat seolah melebur, terlebih yang berkunjung adalah pengantin baru yang sedang-sedang kasmarannya.
Samuel tersenyum, melihat istrinya itu terus memejamkan mata menikmati kesejukan udara. Perlahan ia mendekat, dan mengalungkan tangannya di pinggang sang istri. Membenamkan wajahnya di tengkuk leher Shireen. Mencium, dan menghirup wangi khas istrinya.
"Hmm, apa tempat ini juga kenangan Om sama mantan istri Om, dulu?" Pertanyaan itu membuat keasikann Samuel terusik.
"Tidak!"
"Yaa, biasanya setiap tempat yang selalu Om ajak aku, adalah tempat kenangan Om sama Dia," ucap Shireen.
"Aku, tidak ingin hari bahagiaku bertempat di mana masa kelamku dulu!"
Shireen pun hanya mengangguk. Kemudian suaminya itu berbisik, "Jangan memancing mood burukku. Aku sangat malas membahas masa lalu!"
"Hmm, oke. Lagian aku cuma nanyak!" ketus Shireen.
"Ya, sudah kita pulang sekarang!"
Shireen membalikkan badannya menatap sang suami dengan kesal. "Om, belum ada 10 menit aku nikmati pemandangan di sini. Tadi, Om kata kita bakal jalan-jalan santai menghabiskan waktu lama, berdua!" katanya merengut dengan melipat kedua tangannya.
"Sayang ... kita harus semangat. Aku ingin buat tim sepak bola. Jadi, kita harus giat agar dapat memproduksi anak yang banyak!"
Shireen menganga. Ia geram dengan ucapan suaminya yang tanpa merasa dosa, menjerumus ke arah yang iya-iya.
"Om, ngelahirin anak itu ngeden Om, gak ngeden perut yang disobek. Enak banget, ngomong gitu! Om aja yang hamil!" cetus Shireen begitu tersungut.
"Untuk itu bisa kita pending, sekarang bekerja keras dulu!" balas Samuel mengerlingkan matanya menggoda.
Shireen menepuk dada suaminya dengan menahan untuk tidak tersenyum. Setelahnya, ia pun meminta digendong memasuki mobil, menuju pulang untuk menuruti permintaan sang suami.
***
Keesokan paginya.
Hari ini adalah hari pulangnya mereka kembali ke mansion. Sebenarnya masih ingin menikmati masa honeymoon mereka lebih lama lagi. Namun, karena mereka sudah berjanji kepada dua anak kembar mereka, akan pulang hari ini. Jadi, Shireen dan Samuel hanya menghabiskan waktu sedikit saja. Lagipun honeymoon di rumah tak jauh mengasikkan, hanya saja mungkin ada pengganggu kecil mereka.
Sedangkan saat ini keringat dingin membasahi kening Shireen. Samuel membantu mengusap, dan mengelus kepala istrinya. "Tidak usah cemas, banyak penghuni rumah yang membelamu."
__ADS_1
"Tapi, bagaimana jika tidak ada Om?"
"Sudah kubilang banyak penghuni rumah yang membelamu. Jika tidak ada aku, ada putra-putri kita. Perkataan Mami yang menusuk, atau membuatmu sakit, kumohon jadikan hal itu sebuah candaan," ucap Samuel.
Azel dan Azriel putra-putri Shireen bukan? Ya, otomatis air susu yang dulu ia beri sudah menjadi darah daging mereka. Wajar, jika Shireen mengakui bahwa itu anaknya juga. Bedanya, mereka keluar bukan dari rahimnya.
"Baiklah, tergantung kuatnya hati!"
"Kau pasti bisa mengambil hati Mamiku!"
Shireen hanya menghela napasnya. Tanpa terasa, kini sudah tiba di depan gerbang rumah suaminya.
Saat ingin memasuki pintu rumah, tiba-tiba Shireen berhenti karena menatap seseorang perempuan yang asik bermain dengan dua anak kecil begitu gembira. Shireen menatapnya dengan sendu.
"Kenapa? Cemburu?"
"Sedikit. Tapi, senang karena akhirnya mereka tidak susah lagi untuk menerima keberadaan Maminya," balas Shireen.
"Percayalah, mereka hanya anak kita. Mereka pasti akan lebih luluh dengan kita." Sedikit egois bukan, perkataannya? Yakinlah itu hanya untuk menghibur istrinya.
Saat memasuki rumah, pandangan tidak suka Yuri sudah terpancar. Sedangkan, tertawa Leona seketika berhenti tatkala anaknya begitu excited melihat kedatangan mereka.
"Daddy, Mommy!"
"Sayang ...."
"Belum jadilah, paling juga masih jadi kecebong!" celetuk Lia menyahut.
"Kecebong?" Azriel bergantian bertanya, dengan memiringkan kepalanya.
"Jangan dengarkan Ontymu, dia creazy!"
"Apa tidak terlalu singkat honeymoon kalian? Kenapa sudah pulang saja?" tanya Dika.
"Hmm, kita udah janji Papi dengan mereka. Lagipula kita tidak terlalu butuh healing. Di rumah pun bisa dengan mereka," jawab Shireen.
"Baiklah, ya sudah ajak mereka ke kamar Nak. Memang dari kemarin mereka selalu menanyakan kalian," imbuh Dika.
"Baik!"
"Sam, kau datangi ruang pribadi Papi. Ada yang ingin Papi bicarakan!"
"Baik Pih!"
__ADS_1
Mereka masuk kamar terlebih dahulu, dengan saling menggendong. Namun sebelum itu Shireen menatap tiga orang yang tidak menyukainya. Dari arah Yuri tersirat rasa tidak sukanya, sedangkan Leona hanya tatapan dingin. Ia yakin terselubung dendam darinya. Sementara wajah jutek dan kesal ditunjukkan oleh Liyu.
'Gimana caranya membasmi tiga kuman ini?' gumam hati Shireen.
Malam hari.
Samuel tengah berada di ruang pribadi sang ayah. Ia ingin tahu apa yang mau dibicarakan olehnya.
"Ada apa Papi?"
"Papi hanya memberitahumu, bagaimana cara menyusun rencana untuk mengusir Leona. Tapi, tidak sampai menyakiti hatinya," ucap Dika.
Samuel menautkan alisnya dan kemudian ia bertanya, "Untuk apa Pih?"
"Apa kau merasa kehadirannya tidak mengganggu? Bisa saja istrimu tidak nyaman dengan hadirnya Dia."
Samuel terdiam. Inilah sosok Papinya, jika sudah menyangkut tentang kebahagiaan dirinya dan keluarga kecilnya, sang Papi pasti yang lebih memikirkan. "Terima kasih Papi, memikirkan kenyamanan istriku. Tapi, Sam tidak tahu harus apa. Ada Mami yang mempertahankan, terlebih dia adalah seorang wanita yang sudah melahirkan anakku."
"Sam, untuk Mamimu itu mudah, hanya bagaimana caramu dan istrimu saja memperlakukannya. Namun, selain Leona Papi rasa Liyu juga ingin merobohkan rumah tangga kalian. Jadi, kau harus berhati-hati!"
Liyu? Haha, untuk gadis itu jangan ditanya lagi. Namun, Samuel merasa heran, semua apa yang dirasakannya dan apa yang terjadi perlahan diketahui pada sang Papi.
"Papi tenang saja. Perlahan mereka juga akan pergi dengan sendirinya."
"Ya. Sekarang, yang kau harus jaga hanya kenyamanan istri dan anakmu saja. Hmm, mungkin aku dan Mamimu akan menetap di sini, di Amerika sudah ada Arkan yang menggantikan posisiku di perusahaan," ucap Dika.
"Aku senang Papi, akhirnya Papi mau menetap kembali."
***
Saat ini Shireen tengah berada di toilet. Terdapat, Liyu yang menyusul yang entah mau melakukan apa juga.
"Selamat datang kembali Nona, Shireen. Kau tahu posisimu sekarang bukan?"
"Ya, sebagai istri dari adik iparmu," jawab Shireen tanpa mau menatap perempuan seksi itu.
'Cih, songong sekali gaya bicara bocah ini,' batinnya.
"Berarti kau juga tahu, aku sebagai sainganmu 'kan?"
"Yaaa, ****** yang dulu yang pernah dipakai oleh suami saya. Perempuan rendahan, yang masih mengharapkan seorang adik dari suaminya sendiri, kan?"
Ucapan Shireen mampu membuat tangan Liyu mengepal.
__ADS_1
Bersambung ....
Spesial Ay up waktu sahurrrr