
Azel mengelak, “Ah iya maksud mami kamu dihantar dengan ayahmu?”
“Iyalah Mami, siapa lagi?”
Azal pun hanya ber ‘oh’ saja. Antara kikuk dan gugup menjadi satu, jadi membuat perempuan itu salah tingkah. Terlebih saat Abel menatapnya dengan mengintimidasi.
“Pipi Mami kenapa?”
“Ah, mana?” Azel langsung mencari kaca, kebetulan ada di sebelahnya. Perempuan itu refleks bercermin untuk melihat wajahnya.
“Tidak ada apa-apa.”
Abel tertawa, ternyata maminya itu benar-benar salah tingkah. “Itu Mami, pipinya merah. Ngeblus haha!”
“Anak sialan!”
Abel mendekati sang mami, ia menaiki pahanya lalu duduk di atas pangkuannya tanpa memikirkan bobot tubuh. Ya, seusia Abel memang sudah tidak pantas untuk bermanja apalagi tubuh gadis itu sudah terlihat memesat, tidak lagi seperti gadis kecil yang mudah dipangku.
“Mami jujur sama Abel, mami cinta kan sama ayah?”
“Astaga tahu apa sih kamu soal cinta?”
Abel merengek manja, lalu ia tatap sang mami dengan sinis. “Mami ... selalu deh meremehkan Abel!”
Abel menatap kembali, kali ini penuh dengan ketulusan dan keseriusannya. Ia juga membekap wajah sang mami, seolah akan ada nasehat yang dikeluarkan. “Abel sudah tahu semua. Ternyata, papi Alex masih ada. Bukan suatu praduga mami jika ayah Agha adalah papi Alex, nyatanya dia memang orang yang sama hanya kejadiannya saja yang berbeda. Mami, Abel ingin memperbaiki semuanya, Abel ingin kalian bersatu,” ujarnya.
Azel melongo, ia tak percaya ucapan yang didengar dari mulut mungil putrinya itu. Seperti orang dewasa, bahkan lebih bijak darinya. Ternyata anaknya itu bisa berubah menjadi siapa saja. Abel terkadang dewasa sangat bijak, tapi jika seperti anak kecil sikap manja dia bisa melebihi anak TK.
‘Aku seperti bukan melihat anakku. Apa kejadian hilang kemarin, ada kepribadian lain yang menyatu di tubuhnya?’ batin Azel.
“Abel kau tidak menghargai kekasih mami. Om Xander adalah pria satu-satunya yang akan menjadi pendamping mami, calon ayahmu juga. Apa karena sudah mengetahui siapa ayahmu, kau jadi tidak setuju dengan mami dengannya?”
Abel merengut sedih, ia salah menduga jika maminya itu mempunyai rasa kembali kepada sang ayah. Kenyataannya sang mami masih ingat akan kekasihnya yang di luar negeri sana. “Bukan gitu ... ya sudahlah, Abel tidak ingin memaksa. Bagi Abel mengetahui siapa ayah Abel, sudah sangat bahagia. Setidaknya Abel masih memiliki ayah kandung, dan tentunya dia sangat tampan,” balas Abel seolah berbangga.
“Dan kau bangga gitu?”
“Iya dong, ‘kan cantiknya wajah Abel memang dari ayah juga,” bangga Abel seolah memancing.
__ADS_1
“Astaga, kau tidak menganggap mami?”
“Tapi kata orang Abel lebih mirip ke ayah ....” Dengan santai gadis itu turun dari pangkuan sang mami. Lalu, pergi begitu saja.
“Astaga karakternya memang semenyebalkan orang itu. Aku paham sekarang, kenapa banyak sekali kesamaan di antara mereka,” gerutunya.
Bagaimana bisa gadis seumur jagung itu bisa mengetahui tentang gen, ternyata Azel teringat.
“Pantas saja, dia pasti mengetahui tentang spesies wajah dari sekolah. Pasti pelajaran IPA yang mengajarinya. Ah, sungguh pintar sekali anakku. Memang seperti aku.”
***
Keesokan paginya.
Abel mulai aktif sekolah kembali, gadis itu sudah pulih sepenuhnya. Keceriaan seperti biasa pun sudah terlihat.
Kini Abel harus dijaga 24 oleh bodyguard, walaupun tidak membuntuti anak itu mereka selalu memantau. Ya, siapa lagi jika bukan sang paman yang mengirim orang-orang itu.
Kini Agha sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Azel. Hatinya berharap tidak ada kecanggungan hari ini. Sebenarnya dia sedikit enggan untuk menjemput sang anak, tapi tidak bertemu dengan Abel dia merasa akan ada yang kurang. Baginya melihat sebentar saja wajah putrinya, akan membuat harinya semangat bekerja.
“Ayah!” Melihat sang ayah yang sudah bersandar di mobil, Abel begitu excited menyambutnya.
“Berangkat sama ayah ya?”
“Boleh, berarti sama mami juga ya Ayah.”
Seketika pandangan Agha tertuju pada sosok perempuan yang terlihat begitu cantik dengan pakaian kantornya. Ya, itu berarti ia juga harus menghantar wanita itu bekerja.
“Mami berangkat sama Ayah yah?!” teriak Abel masih berada di gedongan sang ayah.
“Mami naik mobil sendiri sayang ....”
“Ayolah Mami, sekalian. Kita berbarengan ....” mohon Abel, sampai gadis itu turun dari tubuh ayahnya lalu memohon kepada sang mami.
“Untuk hari ini saja, tolonglah ....” Agha pun memohon. Azel melihat kembali wajah anaknya yang terlihat sangat berharap.
“Baiklah ....”
__ADS_1
***
Selama perjalanan, hanya ada keheningan. Abel pun merasa bosan, akan tetapi gadis itu tidak bisa membuka mulut karena takut ada perkataan yang salah nantinya.
Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas. ‘Kenapa harus kayak gini sih? Perasaan sebelumnya kita bisa-bisa saja,' batinnya.
Sampai tak terasa tiba di sekolah.
“Belajar yang pintar ... semester ini kau unggul, ayah akan ajak kamu liburan ke luar negeri,” ujar Agha mengusap kepala anaknya.
“Serius Yah?” Abel berbinar, dan itu dibalas anggukan kepala oleh sang ayah.
“Jadi tambah semangat hehe ... yaudah Abel mau masuk ya, kalian akur-akur yaaa!” Abel langsung keluar dari setelah mencuri kecupan dari sang mami. Ya, anak itu hanya menghindar tatapan membunuh dari maminya.
‘Astaga anak itu, awas saja nanti,' sungut batin Azel kesal.
Azel terlihat ingin membuka safety beltnya, Agha pun menegur, “Mau ke mana?”
“Aku naik ojek saja, kau berangkatlah. Biar aku sendiri,” balas Azel tanpa menoleh. Perempuan itu sudah membuka pintu mobil, namun Agha langsung mencekal tangannya. Alhasil wanita itu mengurungkan niatnya.
“Aku tidak masalah mengharapkanmu,” ujarnya. Tatapan pria itu begitu sendu.
“Tidak perlu Alex.”
Deg!
Hati Agha seperti tertikam belati, ia selalu dibaluti rasa bersalah jika nama itu tersebut. Agha tahu, panggilan itu seperti sebuah sindiran untuknya sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya mereka tutupi dengan saling berdiam.
“Maafkan aku ...,” ungkap Agha lirih.
“Sudah masa lalu!” Azel sudah benar-benar ingin keluar dari mobil, tapi lagi-lagi pria itu menahannya.
“Masa lalu kau bilang? Lantas untuk apa kau menguaknya?” tegas Agha. Seketika Azel menatap tidak terima, belum berkata tapi perempuan itu sudah mengeluarkan.
“Siapa? Aku? Tidak salahkah? Bukankah itu kau dan asistenmu yang menguak sampai kalian menghadap ke adikku? Agha, jika aku tahu kau itu Alex, sungguh aku menyesal bertemu denganmu. Memang tidak sepantasnya kita dipertemukan kembali!” pungkas Azel penuh penekanan.
“Azel apa gunanya aku minta jika kau terus membahasnya. Maaf aku memang punya perasaan dendam dengan adikmu, sampai aku melampiaskannya denganmu. Namun, tidak terbesit sama sekali aku menyesal menghadirkan Abel. Justru aku bangga bisa melakukan itu, karena dengan begitu Abel lahir ke dunia,” tutur Agha.
__ADS_1
“Kau memang selalu bangga atas semua kesalahanmu Alex, bahkan itu dari dulu. Aku pun tidak pernah menyesal telah melahirkan Abel, tapi aku hanya tidak menyangka Abel harus menerima kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang pria bajingan!”