
Shireen menatap rumah besar yang saat ini ia sudah berada di depannya. Tangan hangat seseorang menggenggam kuat jari jemari, seakan memberikan sumber energi untuknya.
"Tenang, ada aku. Aku ingin hubungan kita ini benar-benar masuk ke jenjang yang serius. Semuanya akan baik-baik saja."
Shireen menarik napasnya dengan perlahan. "Hmm, semoga saja."
Mereka saling menggenggam, melangkah menuju pintu masuk. Shireen berusaha untuk tetap tenang, walaupun ia tahu apa yang terjadi setelah ini. Mentalnya begitu baja, itupun berkat bantuan dari Samuel yang menguatkannya.
Saat dirasanya sudah terkumpul keberanian. Shireen akhirnya mau juga melangkahkan kakinya menepaki rumah. "Aku suka wajahmu di saat kau ketakutan," ucap Samuel terkekeh berusaha untuk menghibur dari rasa kekhawatiran gadisnya.
Shireen pun berhasil meloloskan umpatannya.
Suara tepak kaki mereka, seolah memberikan sinyal untuk telinga anak kembar di sana. Sebab, lihatlah, sekarang mereka tengah berlari berlomba-lomba untuk mendapatkan sambutan dari orang yang mereka sangat rindukan.
"Daddy, Mama!"
"Sayang ... anak Daddy," ucap Samuel menyambut anaknya.
"Anak Mama ...," sahut Shireen lirih.
"Kenapa Daddy dan Mama pergi lama syekalih? Aku lindu!" ucap Azel manja.
"I miss, Dad and Mama!" ucap Azriel sesegukkan.
"Maaf ...," ujar Shireen dan Samuel bersamaan. Dua anak kembar itu pun memeluk mereka kembali.
Semua mata tertuju pada mereka. Semua juga menampilkan senyum kepada mereka. Ah ralat, tidak semua. Yuri, dan Liyu sedang menatap ke arah Shireen dengan tidak suka dan begitu sinis. Berbeda dengan Leona. Perempuan itu masih terdiam dengan tatapan sendunya.
"Perempuan tidak tahu malu!" sergah Yuri.
"Sam, kau tidak menghargai keputusan Mami!" sahut Liyu. Namun, ia langsung mendapati tatapan tajam dari suaminya.
"Aku baru pulang. Apa ini sambutan kalian?" ucap Samuel dingin.
"Sambutan Mami akan baik, jika kau tidak membawa gadis itu!" cetus Yuri. Sangat amat menyakitkan. Nasib baik, Shireen masih menyimpan kuat-kuat mentalnya. Stok kesabarannya pun masih banyak.
Tak ada air mata kali ini, ia tetap tersenyum manis. Terlebih itu hanya untuk mengarah pada ayah dari tunangannya.
"Sambutlah tamu dengan baik, tidak bagus kau berpilih kasih. Dia juga tamu yang harus kita perlakukan baik, sebagaimana kau memperlakukan Leona," ujar Dika.
"Sambutanku hanya untuk orang-orang yang berharga, bukan untuk orang biasa yang tak tahu malu dan rasa!" cetus Yuri, meninggalkan mereka dengan mengajak Leona untuk masuk ke dalam kamar. Wanita paruh baya itu, mengetahui bahwa orang yang sangat diperhatikannya daritdi ingin menangis karena melihat kedatangan mereka.
__ADS_1
"Hmm, maafkan kedatanganku yang merusak pagi kalian ini," ucap Shireen tidak enak hati dengan menatap kepergian Yuri dan Leona.
"Tidak Nak. Kita yang meminta maaf atas sambutannya, terutama dari istriku," ucap Dika. Pria itu memberikan senyum manis, lalu menyeru Shireen untuk duduk bersama, "Duduklah, kita berbicara hangat tanpa pengganggu lagi," lanjutnya. Namun mata pria paruh baya itu mengarah jelas kepada Liyu.
Dika menyadari menantunya itu tidak baik, semenjak perkataannya selalu menghasut istrinya. Ia merasa menantunya itu, menghalangi anaknya dalam hal pernikahan. Ia simpulkan, bahwa Liyu memanglah masih menyukai anak keduanya, yaitu Samuel.
"Terima kasih Om!"
Lia dan Lisa menatap hangat Shireen. "Morning Shireen. Kita seneng deh, lo mau ke sini lagi!" Shireen pun meresponnya dengan senyuman manis.
"Pagi juga," balasnya tak melepas senyum.
"Papi, aku ingin berbicara serius."
"Bicaralah!"
"Hmm Sel, ajak main ke kamar ponakanmu!" Diksel yang tengah asik dengan gamenya, tiba-tiba terusik dengan perintah sang Daddy.
"Gak mau!" tukas Azel dan Azriel masih mau menempel dengan Shireen.
"Kakak ada game baru, dan Azel gak mau makan coklat?" bujuk Diksel. Tentu saja itu membuat mereka sangat tertarik.
"Hmm, tapi Azel takut Mama pulang ...."
"Ck, manja!" Sampai akhirnya Diksel berdecak jengah.
"Azel, Azriel. Mama gak akan pulang kok. Mama gak akan pergi lagi, jadi ikuti kakak itu yah!" rayu Shireen.
"Janji?"
"Janji!"
"Oke, Azel mau makan cokat. Ayo Kakak Dicel!" ajak Azel menerima uluran tangan Diksel. Sedangkan, sang adik terlihat masih cuek dan biasa saja.
"Tidak usah gengsi, kau mau 'kan ... huh, arrogant seperti Daddymu!" celetuk Diksel, langsung mendapatkan tatapan sinis dari pamannya. Akhirnya Azriel pun mau mengikutinya.
"Awas kau ajari yang tidak dengan anakku, apalagi mengasih coklat yang banyak untuk Azel!" ancam Samuel.
"Sesukaku!"
"Sialan!"
__ADS_1
Sekarang sudah tidak ada lagi anak kecil. Mereka hanya tidak mau saja, jika anak-anak mendengar pembicaraan mereka. Walaupun mereka belum mengerti tentang apapun topik pembicaraan mereka itu.
"Hmm, aku ingin ke jenjang yang serius Papi!" ucap Samuel memulai.
Mereka masih menyimak, menunggu lanjutan dari ucapan Samuel, "Aku dan Shireen saling mencintai. Jadi, mau bagaimana pun pernikahan aku dengannya akan tetap terjadi!"
"Papi akan selalu memberikan restu untuk kalian, tergantung bagaimana kalian bertindak. Papi akan selalu mendukung," ucap Dika.
"Jika itu yang terbaik untuk anakmu. Aku akan selalu merestui kalian," sahut Daniel.
"Lia dan Lisa juga, Kak! Kita lebih setuju Kakak sama Shireen dibanding dengan Dia!" ucap Lisa mewakili. Ya, sosok Dia adalah Leona.
'Aku benci ini,' batin Liyu merasa jengah.
"Baiklah, kita akan segera meresmikan hubungan ini. Ya, aku akan menggelar pernikahan secepatnya," ujar Samuel.
"Tapi apa kalian tidak ingin menggelar pertunangan terlebih dahulu?" ucap Daniel.
Samuel menujukan tangannya dan tangan Shireen. Ya, yang ia tunjukkan ialah sebuah cincin yang melingkar di jari manis mereka. "Kita sudah bertunangan dengan sederhana," ucap Samuel.
Liyu membola, matanya terbuka lebar melihat cantiknya cincin itu. 'Oh astaga, itu berlian incaranku di Amerika. Sialan, bisa-bisanya gadis biasa ini mendapatkannya!' batin Liyu.
"Syukurlah, lebih cepat memang lebih bagus!"
"Tapi, maafin aku Om. Aku sangat tidak sopan langsung menerima pertunangan ini, padahal aku belum tentu diterima di keluarga ini?" ujar Shireen sendu.
"Nak, kita hanya mengharapkan kebahagiaan Samuel dan anaknya. Apapun yang menyangkut hal itu, kita semua akan memberi dukungan yang terbaik. Kalian akan tetap menikah. Jangan simpulkan jika hanya satu restu orang yang kalian tidak dapatkan, hubunganmu dengan anakku akan kandas. Pernikahan akan tetap terjadi!"
"Aku setuju itu!" sahut Daniel.
"Kita juga setuju!" serempak Lia dan Lisa.
'Sialan. Aku tidak bisa berkutik saat ini. Argghh, aku sangat tidak rela jika Sam jatuh kepada gadis yang jauh lebih baik dariku!' Liyu masih membatin.
"Terima kasih, aku sangat senang mendapatkan dukungan baik dari kalian," ujar Samuel.
"Segeralah melangsungkan pernikahan. Jangan hiraukan Mamimu, perlahan dia juga akan bisa menerima Shireen, nanti."
"Baik Pih, besok aku langsung menyewa gedung. Aku akan siapkan untuk resepsi esok juga!"
"Hah!"
__ADS_1
Bersambung .....