Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Hamil


__ADS_3

Rasa mual Shireen di pagi ini begitu buruk. Tidak seperti biasanya, jika mual hanya sebentar. Dalam toilet, perempuan itu terus saja berusaha untuk mengeluarkan isi perutnya.


Namun nihil, yang keluar hanya cairan bening saja. Sebenarnya ia khawatir akan terjadi sesuatu di dalam tubuhnya.


"Gak kuat, sebenarnya ini kenapa sih? Kok gak enak banget ...."


Samuel datang, langsung membantu untuk mengurut tengkuk leher istrinya. "Keluarkan semuanya!"


"Gak keluar. Mual, aku gak kuat. Ini gak enak banget ...." Shireen mulai mengeluarkan air matanya. Entah kenapa semuanya serasa memusingkan.


Samuel menyingkap baju istrinya, ia memeluk sembari mengoleskan minyak angin di perut Shireen. Sedangkan perempuan itu memejamkan mata, menikmati elusan tangan suaminya.


"Sudah lebih baik?" bisik Samuel.


"Hmm, masih sedikit. Tapi, gak terlalu kayak tadi. Mas, kenapa masuk angin kali ini aku lebih parah dari biasanya?" balas Shireen dengan bertanya.


"Kau tidak masuk angin, kau sedang hamil Sayang."


"Ha-hamil?"


"Ya, ada bayi kita di sini," ucap Samuel sambil mengusap perut istrinya.


"Apa mungkin? Tapi, aku belum cek, bisa aja ini masuk angin biasa," balas Shireen.


"Di ruang tengah sudah ada Dokter yang menunggu. Kita periksa sekarang!" Samuel segera menggendong tubuh lemas, istrinya.


Setelah sampai di ruang tengah. Pandangannya sudah di suguhi dengan beberapa orang dengan wajah penasaran mereka masing-masing. Semua mata tertuju kepada Shireen yang tengah digendong.


Atensi Shireen hanya tertuju kepada Dokter cantik yang dulu pernah memeriksa tentang kelebihan hormonnya, di mana saat ia bisa keluar ASI. Entah kenapa ia sangat takut dengan seseorang yang berprofesi sebagai Dokter, lagi-lagi dirinya hanya takut jika disuntik. Bayang-bayang masa lalu, seketika terselampir di benaknya.


'Nggak, gue gak mau. Ini pasti ujung-ujungnya gue infus, disuntik, terus gak sadar kayak waktu dulu gue tidur sampai lama,' batinnya. Begitu paranoid, dan overtaking.


"Masih ingat saya Nona?" tanya Dokter itu menahan senyumnya. Shireen pun mengangguk.


"Mas, antar aku ke kamar aja ya please ...," mohon Shireen.


"Tenang, kau tidak akan disuntik. Ini hanya pemeriksaan kehamilan, bukan memberikan penenang pasien sakit jiwa!" cetus Samuel.


Dokter cantik itu menghampiri Shireen. Sementara Shireen terus menggeser posisinya agar menjauh. Sedangkan, Samuel tetap siaga untuk menenangkan.


"Tenang Reen. Disuntik itu gak sakit, yang sakit itu ditusuk dari belakang!" celetuk Lia.

__ADS_1


"Nyindir?" tanya Lisa seolah tersindir.


"Nggak. Kalo ngerasa berart nyadar!" cetus Lia membalas.


"Di sini tidak ada yang ingin lihat kalian mendrama! Jangan berisik, jadi ganggu yang diperiksa!" tukas Daniel membungkam mulut kedua adiknya. Dan, yang lain masih menunggu hasil pemeriksaan.


"Tenang Nona Shireen, saya hanya memeriksa. Tidak ada suntikan, jadi tenang saja," ucap Dokter itu memberikan ketenangan untuk Shireen.


Beberapa saat kemudian. Pikiran berlebih Shireen seketika hilang. Setelah, Dokter menyatakan telah selesai memeriksanya.


Semua sudah menunggu jawaban. Termasuk Yuri, Liyu dan Leona yang tampak begitu penasaran.


'Semoga dia cuma kembung!' celetuk Liyu dalam hati.


'Ya Tuhan kumohon jangan hadirkan sosok malaikat kecil untuk mereka,' batin Leona lebih cemas.


"Bagaimana hasilnya!" Yuri dengan Dika saling memandang karena bertanya dengan serempak. Merasa kaget dengan istrinya, Dika bertanya menampilkan senyumnya, "Apa kau merasa penasaran juga?"


Yuri hanya membalas dengan ekspresi jengahnya.


"Gimana Dok? Anaknya cewe atau cowok?" tanya Lia dengan sangat konyol.


"Santai dong Kak, dendam amat!"


"Kak Lia sangat konyol. Seharusnya kau tanya tanggal berapa lahirnya!" timpal Diksel.


"Dasar bocah, lu lebih konyol!"


Sang Dokter hanya tertawa pelan menyaksikan kekonyolan mereka. "Baiklah, hasilnya sangat memuaskan dan saya yakin ini sesuai harapan," ucapnya.


Titik lemas Leona dan Liyu pun, tiba di saat ucapan itu keluar.


"Nona Shireen tengah hamil, dan usia kandungannya sudah memasuki satu Minggu. Mohon dijaga pola makannya, jangan banyak berpikir berat, dan yang terpenting selalu dalam kondisi bahagia oke!"


Semua refleks mengucap syukur. Terkecuali dengan Liyu, Yuri dan Leona.


"Selamat atas kehamilanmu Nak, jaga baik-baik calon cucuku!" ucap Dika.


'Jujur aku memang mengharapkan sosok bayi hadir di keluarga ini, dan mendengar kabar ini entah kenapa aku sangat senang. Lagi-lagi aku mendapat cucu dari anak tersayangku, Samuel,' batin Yuri.


'Ini semakin berat untukku mendapatkan waktu luang. Aku harus pandai-pandai mencari kesempatan. Astaga, aku ini hanya ingin belaian Samuel, kenapa rasanya sangat sulit sekali!' ucap Liyu dalam hati.

__ADS_1


'Bayi bisa digugurkan, tapi harapan tidak akan bisa! Ya, aku hanya menunggu waktu mainnya!' batin Leona.


***


Satu Minggu telah berlalu, satu Minggu juga Samuel telah menghabiskan waktu banyak di rumah. Selama 7 hari berlangsung itu, Samuel seakan mogok kerja.


Bukan mogok, tapi ia hanya menunda. Ucapnya, hanya ingin menemani istrinya yang sedang hamil muda. Nyatanya, ia justru merepotkannya.


Di rumah pria itu hanya bisa bermanja, melingkar di atas ranjang, mengemil banyak makanan, dan banyak sekali keinginan. Terkadang Shireen bergumam, apakah suaminya itu telah menggantikan peran seorang wanita? Ya, sosok ayah tampan itu seperti sedang hamil padahal istrinya yang berbadan dua. Tapi, yang mengalami morning sickness justru ia.


Seringkali Samuel mual dan muntah tiap kali habis makan, bahkan dia menjadi pria yang getap bangun pagi hanya karena ingin muntah. Sementara Shireen, ibu hamil itu justru biasa saja.


"Sayang ... sepertinya sup buah yang dulu pernah kau buat, sangat enak di makan tengah malam seperti ini," ucap Samuel memberikan kode untuk dibuatkan.


"Bisa nggak sih, gantian aku yang minta? Kenapa sih? Heran deh, capek, bingung tau gak mikirin sikap aneh kamu!" cerocos Shireen.


"Mau minta apa hmm? Sebut saja, aku pasti akan melanyani semua permintaanmu!" 


"Aku minta, hamil kedua Mas aja ya!" sewotnya. Ia berjalan meninggalkan suaminya tanpa memperdulikan keinginan Samuel. Ia pun menghela napasnya saat melihat istrinya itu benar-benar tertidur.


"Huhh, sepertinya aku harus bergerak sendiri. Demi anakku," ucapnya sembari mengelus perut. Ya, sebut saja Samuel pria konyol. Apakah sekarang kodrat wanita telah digantikan oleh pria?


Beberapa saat kemudian, setelah pria itu pergi Shireen membuka matanya. Ada rasa kasihan, tetapi ia sangat malas untuk bergerak.


"Gak tega juga, mau gimana pun itu pasti permintaan anak gue. Huh, lagian aneh-aneh banget sih, yang hamil siapa yang ngidam siapa!"


Setelah menggerutu cukup lama. Akhirnya, Shireen menyusul suaminya ke dapur dengan rasa malasnya.


Sesampainya di dapur, ibu hamil itu tiba-tiba menahan senyumnya. Ia melihat Samuel tengah kebingungan, dan yang membuat ia tergelitik ketika melihat ada celemek yang terpasang di tubuh atletisnya.


"Kasihan banget sih!" ledeknya. Samuel hanya memasang wajah datarnya.


"Mau apa kesini?"


"Bantu suami aku, kasihan dia lagi ngidam," goda Shireen.


"Iyalah, ini demi anak kita, anak kamu juga!"


"Mana ada, ini cuma demi perut kamu tau gak!"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2