
Sheila menatap geram wanita itu. "Maksudnya apa? Maaf Nyonya, apakah Anda sadar ucapan Anda itu suatu penghinaan?" ucap Sheila tak terima.
"Kak dia Ibu dari majikan kita," ujar Shireen. "Biar Shireen yang urus sendiri yah!"
"Oh apakah ini adab karyawan, terhadap majikan? Ini cafe anakku, aku bisa saja menyuruhmu untuk angkat kaki dari cafe ini. Kamu saya pecat!" sarkas Yuri.
"Tante aku mohon jangan. Aku turuti permintaan Tante, tapi jangan pecat Kak Sheila. Baiklah aku yang akan angkat kaki dari cafe ini, dan untuk menjauhi anak Tante, tanpa di perintah pun aku sudah meninggalkannya. Tidak usah khawatir, aku membiarkan anak Tante menikah dengan wanita yang Tante pilih, tak'kan aku mengganggunya."
Shireen berdiri, menatap sendu Sheila yang terus menggeleng kepadanya seakan ia tak mau sahabatnya itu pergi. Shireen berjalan dengan deraian air matanya. Selain meninggalkan Samuel sang pria yang dicintainya, kini ia harus meninggalkan cafe tempat penghasilannya. Namun, mampukah ia meninggalkan dua anak kembar yang sudah seperti menjadi anaknya sendiri? Ah, Shireen tidak akan bisa, tetapi itu mengharuskan untuknya melupakan orang-orang yang pernah dekat dengannya.
"Reen!"
"Bagus, ingat jangan pernah kembali!"
Shireen seakan sudah kebal dalam perucapan dari wanita paruh baya itu. Dapat ia simpulkan, bahwa Mami dari Samuel ini benar-benar sangat tidak menyukainya.
***
Beberapa bulan kemudian.
Masih di tempat yang sama. Namun, dalam keadaan yang berbeda. Apa arti sebatang kara? Ya, seseorang yang tak mempunyai siapa-siapa terkecuali diri sendiri. Hidup dalam kesepian, tak ada teman atau orang terdekat. Menghabiskan waktu pun hanya berdiam diri dalam kamar.
Bukan hanya pekerjaan yang hilang, cita-cita pun harus pupus karena tak mampu membiayai kuliah sendiri. Makan pun apa saja yang ada. Mau lari? Tapi kemana? Memangnya Shireen punya siapa? Semua orang yang disayangi telah hilang meninggalkannya. Nasib baik, ia masih memiliki tempat tinggal hingga tak mengharuskan dirinya tidur di gorong-gorong. Jika itu terjadi, sungguh miris sekali hidupnya. Memilih mati pun merasa jalan satu-satunya.
Sedangkan, mana bukti cinta? Mana ucapan sayang? Mana kata setia? Nyatanya Shireen kehilangan segala hal dalam segejap.
Beberapa bulan ini, ia mengharapkan sosok lelaki yang masih membekas di hatinya itu hadir kembali dan mencari keberadaannya. Namun, ia hilang tak ada kabar bagai ditelan bumi.
"Mungkin Azel dan Azriel sekarang udah bahagia sama ibu kandungnya." Shireen menatap nanar jendela, ia menghela napas sedikit-sedikit, "Hmm, pasti mereka juga udah rujuk."
Lagi-lagi Shireen hanya bisa menarik napasnya. Tersenyum miris, membiarkan air matanya berjatuhan. Tak munafik, tak bohong juga. Saat ini dirinya merindukan sosok Samuel, menginginkan pelukannya dan melihat kembali bagaimana perkembangan anaknya. Shireen rindu semua itu. Ia merutuki dirinya, karena tidak bisa melupakan semua yang terjadi walau pada kenyataannya itu hanya menyakitinya saja.
"Kenapa gue gak pernah dengar di kehidupan nyata seseorang terjadi hilang ingatan? Mungkin kalo amnesia bisa melupakan dia, gue bakal benturin kepala gue di depan truk gandeng. Itu lebih baik, daripada gue harus dihantui rasa rindu ini," gumamnya kembali menitikkan air mata.
Tiba-tiba mendengar suara ponselnya berdering. Tertera nama sahabatnya, sekaligus mantan kekasihnya.
"Hallo Jasson."
'Reen gue pulang. Nanti malam siap-siap, gue mau ajak lo makan malam,' ucap seseorang dari sebrang sana.
"Hmm, mau apa? Bisa nggak sih lo ke apartemen langsung sekarang. Gue butuh lo, hikkss!"
__ADS_1
'Sebentar lagi gue landing di bandara. Gue bakal ke apartemen langsung setelah tiba. Berenti nangis, suara lo jelek!'
Tut ....
"Isshh, dasar bocah!"
Namun sesaat kemudian Shireen mengusap air matanya. Setidaknya ia masih mempunyai Jasson.
***
Saat ini Leona sedang menjaga anaknya, ia tampak kewalahan saat membujuk mereka untuk pulang. Ia tengah menatap kedua putra-putrinya yang masih asik bermain. Padahal, waktu sudah mulai petang.
"Sayang, anak Mami masuk yuk! Kalian belum mandi, lho."
"Gak mau, kamu 'kan bukan Mama aku!" ketus Azriel.
"Azel maunya sama Mama ...."
Tiba-tiba datang Yuri.
"Cucu Omah, sini Nak!"
"Sini. Kalian, tidak boleh berucap seperti itu dengan Mami kalian sendiri ... kamu tahu Daddy kalian itu galak, Eyang kalian juga galak! Bisa saja Omah akan mengadukan dengan mereka atas perlakuan kalian, Daddy dan Eyang pasti akan memarahi kalian!"
"Tapi, kata Onty Lia dan Onty Lisha. Kita itu cuma punya satu Mama, iya Mama Shilen, bukan Dia!" tunjuk Azel ke arah Maminya dengan wajah tidak suka. Yuri merasa kesal, karena anaknya itu sudah memberikan pelajaran yang tidak baik terhadap cucunya. Sehingga ia merasa cucunya ini mulai tidak sopan.
"Omah tidak suka yah, sikap kalian yang tidak sopan dengan orang tua. Omah mau kalian melupakan Mama kalian itu!" ucap Yuri sedikit tegas, tapi tak mampu membuat mereka takut.
"Aku cuma mau Mama!" tegas Azriel. Bocah kecil itu menggandeng tangan kakaknya untuk memasuki rumah, meninggalkan mereka dengan wajah yang tidak suka.
"Huh, maafin mereka yah. Mungkin selama ini Samuel terlalu memanjakan mereka. Mami juga heran kenapa mereka tumbuh seperti itu, Mami yakin ini pasti perbuatan anak kembar Mami juga," ucap Yuri merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Mami. Ini semua salah aku. Tidak seharusnya aku meninggalkan mereka di saat membutuhkan ASIku. Mungkin jika aku selalu bersamanya, mereka akan kurawat dengan baik. Maafkan kesalahan aku Mami, aku menyesal," ucap Leona menunduk menatap anaknya yang tengah berjalan saling bergandengan.
"Sayang ... tidak boleh seperti itu, mau bagaimana pun kau akan tetap menjadi ibu mereka!"
"Tapi aku rasa mereka sudah mempunyai ikatan batin dengan seorang yang sudah menyusui mereka ...."
"Tidak! Kau akan tetap menjadi ibunya. Lagipula kau tidak perlu khawatir untuk mengambil hati Samuel dan anakmu lagi. Karena, gadis yang menjadi penghalang sudah meninggalkan Samuel beberapa bulan yang lalu," ucap Yuri. Seketika senyum dari bibir Leona terulas.
***
__ADS_1
Malam hari.
Shireen dipaksa untuk dandan cantik oleh sahabatnya. Ia heran sebenarnya apa yang direncanakan oleh Jasson.
"Son, sebenernya lu mau ngapain sih?! Ah, gue males dandan cantik, gak guna!"
"Berguna buat gue, pokoknya lo bakalan gue kenalin sama orang terdekat gue!"
"Siapa?"
"Kepo banget sih!"
"Isshh!"
Berselang beberapa menit. Jasson menatap Shireen dari atas sampe bawah. "Gila ya, lo dandan cepet banget aja, udah cakep kayak gini."
"Udah jangan banyak omong lu. Kita gass sekarang, gue penasaran lu mau ajak gue kemana. Hmm, jangan bilang ke pantai? Gila ya Son malam-malam gini, gue takut ombak!" cerocos Shireen.
"Nggaklah bodoh!"
***
Jasson menepikan mobilnya di sebuah tempat yang begitu menakjubkan. Entahlah Shireen belum tahu itu tempat apa, karena ia tidak bisa melihat. Saat ini matanya tengah ditutup oleh tangan Jasson, hingga menggelapkan semua pandangannya.
"Jasson, awas kalo lu ajak gue nyebur. Hari ini gue gak lagi ulang tahun ya!" ucap melangkah dengan digiring oleh Jasson yang masih membekap matanya.
"Ck, gak bloon! Dangkal banget sih otak lo!"
"Hissh!"
Setelah sampai, perlahan Jasson menyingkirkan tangan dari mata Shireen. Saat yang bersamaan dengan mata yang sudah terbuka, Shireen sangat amat terkejut.
"Om ...," lirihnya.
Bersambung ...
Please, kalo memang udah gak suka sama cerita ini, karena mungkin alurnya mengecewakan. Silahkan tinggalkan lapakku. Gini yah, aku tuh buat cerita ini sesuai ide yang mengalir di otakku, aku juga bisa menyesuaikan plotnya. Kalo cerita ini bahagia terus, gak ada konflik. Aku pikir itu bakal terasa hambar dan pasti membosankan. Semua Author pun sama, pasti buat cerita itu harus ada pengembangan konfliknya gak selamanya bahagia.
Aku gak maksa kalian harus tetep stay di cerita ini!
Terima kasih yang masih setia:)
__ADS_1