
“Untuk apa membohongi hati Kak? Masih banyak kesempatan untuk menjelaskan. Jika seperti ini, bukan hanya hati Kakak yang terbohongi, tapi juga semua orang,” ujar Ina sang adik ipar.
“Kesempatan? Hari ini adalah waktunya, tidak akan ada kesempatan. Semua sudah terlanjur, Ina ....”
Ina menghela napas lalu menunduk, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi dukungan dengan kakak iparnya ini.
Sementara gadis manis yang berada di kamarnya, sedang menatap diri di hadapan cermin. Seorang perias tampak kebingungan dengan ekspresi gadis yang sedang ia riasi.
“Heyy gadis manis, kenapa terlihat sedih? Hari ini hari spesial ibumu lhoo,” ujar seorang MUA yang merias Abel.
“Aku sedih Tante, di saat hari bahagia mami, aku bingung harus senang atau sedih. Jika aku bahagia, sementara di atas ranjang rumah sakit sana ayahku sedang terbaring tak berdaya,” ujar Abel terus menunduk wajahnya.
Gadis itu bahkan belum melihat betapa cantiknya ia di depan cermin, ia fokus ke bawah melihat foto ayahnya di ponsel, sementara pikirannya selalu tertuju pada rumah sakit.
Seorang perias itu turut ikut sedih. ‘Walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi di keluarga ini, tapi yang pasti persoalan mereka membuat anaknya terlibat. Kasihan, gadis semanisnya harus ikut dalam permasalahan mereka,' batinnya.
Perias itu telah usai menata rambut Abel. Nasib baik dalam keterpurukannya, gadis ini tidak mengeluarkan air mata. Mungkin jika dia terus menangis akan menghambat untuk meriasnya.
“Kau lihat, bagaimana bentuk pahatan wajahmu di depan cermin. Kau tidak jauh mewah dari riasan mamimu, ayah barumu nanti seperti menikahi dua pengantin yang begitu cantik. Tersenyumlah Sayang, jangan tunjukkan kesedihanmu di depan semua orang,” ujar MUA itu dengan mendongakkan kepala Azel.
Abel benar-benar melihat perbedaan dari parasnya, sungguh ia seperti disulap bak bidadari. Namun untuk itu ia anggap biasa, lagi-lagi kesedihan menyelimuti hati.
“Kau boleh memikirkan keadaan ayahmu, tapi pikirkan juga perasaan mamimu. Jika kau tunjukkan wajah sendumu, mereka akan berpikir jika putri dari pengantin seperti tak merestui hubungan maminya,” lanjutnya.
“Padahal Abel ingin sekali melihat ayah hadir di pernikahan mami. Baiklah, Abel masih bisa tersenyum kok. Setelah ini Abel mau ke rumah sakit untuk melihat ayah, bagi Abel jika sudah melihat sedetik aja keadaan ayah itu sudah buat Abel tersenyum,” ujar Abel berusaha melebarkan bibirnya.
MUA itu terharu, ia menjentik sedikit air sedikit keluar di ujung pelupuk matanya. “Janji harus senyum terus, gak sedih lagi?”
“Janji Tante, terima kasih ....”
“Baiklah keluar dan temuilah orangtuamu!” Abel mulai berdiri, lalu ia keluar untuk menemui orang tuanya.
Di ruang tengah, sudah ada Ina dengan suaminya yaitu Azriel, serta sang pengantin.
__ADS_1
“Astaga apakah gadisku telah dirubah menjadi bidadari?” ucap Azriel takjub akan kecantikan gadis kesayangannya itu.
“Mami lebih cantik Paman ....” balas Abel. Azel pun merenggangkan kedua tangannya, seolah ingin menyambutnya ke dalam pelukan.
“Kau sangat cantik Sayang ....”
“Mami lebih cantik!”
“Baiklah, semuanya cantik. Sekarang kita berangkat, mereka sudah menunggu.” Azriel menggapai tangan keponakannya, berniat untuk menggendong gadis itu sampai ke mobil. Sementara anak lelakinya, saat ini sudah berada di gedung bersama dengan kedua orang tuanya.
Namun sebelum itu Abel menolak, “Kalian duluan saja, Abel mau lihat ayah sebentar. Nanti Abel susul.”
Wajah Azriel seketika berubah, tidak lagi antusias seperti tadi saat melihat keponakannya itu keluar. “Sayang ... untuk hari ini, bisakah kau sempatkan waktu sepenuhnya untuk mamimu?”
“Mas ... biarkan, dia menemui ayahnya tidak ada salahnya hanya beberapa saat,” ujar Ina mengusap lemah punggung suaminya.
“Iya, Paman hanya sebentar ....” Terdengar suara Abel gemetar, bahkan nyaris ingin menangis.
Azriel yang sedikit merasa tak ada hak untuk melarang keras, akhirnya ia mengiyakan saja. “Baiklah, susul dengan sopir nanti. Kita langsung berangkat!”
Abel tergesa-gesa memasuki ruangan ayahnya, sepanjang ia melangkah gadis itu selalu disorot oleh semua para pengunjung. Gaun indah wanita itu seakan menarik atensi semua orang, bahkan kecantikan wajahnya yang begitu khas.
“Ayah ....” Abel langsung menubruk sang ayah, saat itu juga dia menumpahkan air mata di atas dadanya.
“Nona ....” Gafin yang terkejut dengan kedatangan anak dari tuannya itu, masuk dengan terisak-isak.
“Ayah ... bangun sedetik saja Ayah .. hikkss, mami sudah ingin diikat dengan janji sucinya, sementara ayah di sini terus terbaring. Lihat mereka Ayah, tunjukan jika Ayah sudah mencintai mami dengan hadir di pernikahannya!” ucap Abel dengan sesenggukan.
“Nona tapi Ayah Anda sudah ....”
Deg ...
Ucapan Gafin terpotong karena suara Abel yang tiba-tiba meninggi menambah kencang tangisnya, ia belum siap untuk menatap wajah ayahnya, kini gadis masih terisak di bawah dada sang ayah. Tiba-tiba pikiran dan hatinya tak karuan, sama hal dengan detak jantungnya.
__ADS_1
“Ayah Abel mohon Ayah, bangun ... hikkss ... tolong bangun Ayah! Lihat mami di sana, Abel ingin Ayah hadir hikksss ... Ayah ....” Sudah banyak air mata yang tumpah, di baju biru ayahnya.
“Sayang ....”
Abel terdiam sejenak, ia merasakan punggungnya hangat karena ada sebuah tangan lembut yang menyentuh bahunya yang polos. Ragu-ragu Abel menatap ke atas, perlahan tetapi langsung mengejutkan.
“Ayah ....”
“Kenapa nangis?” Suara lemah itu amat ia rindukan, Abel merasa tidak pernah menemukan kebahagiaan sebahagia ini.
“Hikksss ... Abel kira Ayah ....”
“Sudah tiada?”
“Om asisten yang bilang, hikksss ....”
Gafin tersenyum, bahkan ia ingin sekali tertawa karena kegemasan yang perempuan itu ciptakan. “Astaga Nona, maksud saya ayah Anda sudah sadar bukan sebaliknya,” jelas Gafin terkekeh.
Agha pun ikut merasa lucu sampai ia tersenyum lemah. Abel masih menangisi, ya kali ini tergantikan dengan tangis haru bahagianya. Ternyata harapannya terkabul, ayahnya itu telah sadar di hari pernikahan maminya.
“Kenapa gak bilang hikksss!”
Agha terus mengusap kepala gadisnya. Ia beranjak duduk bersandar, dibantu juga dengan Gafin. Saat itu juga Agha memangku Abel.
“Sebenarnya sudah dari malam Tuan bangun Nona, tapi maaf karena kita tidak sempat mengabari,” jelas Gafin.
Ya, ternyata seusai Abel, Azel dan Xander semalam pulang. Tak lama kemudian Agha menunjukkan tanda-tanda akan kesadarannya, ternyata pria itu benar-benar sudah bangun dari komanya.
“Sudah jangan menangis ayah sudah bangun. Kau sudah begitu cantik Sayang ... jangan hapus riasanmu demi menangisi ayah,” ujar Agha.
“Ayah ... hadirilah pernikahan mami, ayo kita saksikan.”
“Kau susullah mereka segera, di sana mereka sedang menanti-nantikanmu. Ayah tidak bisa hadir, kondisi ayah yang tidak mendukung. Salam saja ucapan selamat untuk mereka,” balas Agha.
__ADS_1
“Tidak mau, Abel mau sama Ayah ... Abel mau tunjukkan kepada semua orang, bahwa Abel mempunyai ayah!”