
Azriel berucap begitu lantang, bahkan nyaris berteriak. Emosinya sudah terpancing, terlebih saat ia melihat tangan sang kakak yang digenggam begitu kuat oleh pria yang sangat dibencinya.
“Tapi Azriel ....” Azel seolah ingin mengelak, akan tetapi ucapannya terburu dipotong oleh sang adik.
“Lebih baik kau pulang sekarang. Tidak semestinya kau mau menunjukkan dirimu di hadapan pria ini!”
Azel sudah tidak bisa berkutik lagi, pengusiran itu membuatnya harus mengalah menuruti perkataan Azriel. Perempuan itu pun pergi karena rasa sedihnya.
Sementara Agha tampak enggan untuk melepaskan tangan Azel. Namun karena paksaan dari perempuan itu untuk segera dilepaskan tangannya, Agha mau tidak mau harus merelakan yang mungkin ini akan menjadi perpisahannya.
Sebelum itu ia menatap sayu Azel, kemudian hanya bisa menatap renung kepergiannya. “Maafkan aku Azel ....” Ya, kata lirihan adalah ucapan Agha sebelum wanita itu melangkahkan kakinya untuk pergi.
“Azriel hukumlah aku, lakukanlah apapun yang kau inginkan untuk membalaskan dendammu. Tapi, aku mohon jangan pisahkan aku dengan Azel begitupun dengan anakku!” imbuh Agha begitu menatap dengan permohonan dari wajahnya.
Azriel terkekeh, tampak begitu meremehkan. Ia tertawa kecil, seperti sebuah ledekan. “Rupaya sepuluh tahun dipisahkan tidak membuatmu hilang perasaan. Kau sudah masuk ke dalam perangkat jatuh hati dengan kakakku. Padahal, dulu kau hanya berniat untuk membalas dendam denganku bukan? Alex ... Alex ... begitu bodoh kau. Kakakku akan segera menikah, apa yang kau harapkan darinya? Merasa dia juga mencintaimu?”
Seketika Agha terdiam, dirinya tak bisa mengelak hadirnya Abel adalah hasil masa lalunya. Dulu dia memang sangat benci pria ini, tapi setelah kehidupan yang dibawa ke bawah kesadaran Agha mengakui kesalahannya dan yang berhak memang hanya Azriel.
“Aku tidak berhak melarangmu untuk bertemu dengan keponakanku, bukan berarti aku mengizinkan kau untuk mengambil hak asuh sepenuhnya. Pergilah jangan kembali untuk bersama kakakku. Jika kau benar-benar mencintainya biarkan dia bersama dengan orang lain,” ujar Azriel. Untuk kali ini berintonasi rendah, bahkan tentang hal seperti sebuah nasehat.
“Baiklah, sekali lagi maafkan aku. Aku tidak lupa bagaimana persahabatan kita dulu, aku harap kau juga mengingatnya,” balas Agha.
Pria itu mengundurkan dirinya, menetap Gafin seolah mengajak untuk segera keluar. Mereka pun sama-sama melangkah pergi, dan tanpa disadari Azriel diam-diam menatap kepergiannya dengan wajah yang sendu.
“Maafkan aku juga,” lirihnya begitu pelan, sampai tak terdengar.
***
“Mengalah bukan berarti kalah. Mencintai bukan berarti memiliki. Tetapi, putus asa bukan berarti jalannya. Masih banyak kesempatan Tuan. Jika tidak ada pun, setidaknya Anda memiliki seorang putri darinya,” ujar Gafin.
__ADS_1
Hanya terdengar seperti sebuah rangkaian kata untuk menyemangati. Namun di saat hal apapun yang membuat kita lelah, mau satu dunia memberi rasa semangat tetap saja jika lelah yang memang lelah.
Mungkin sudah waktunya aku Agha melebur perasaannya. Ia tidak ingin berlarut dalam harapan yang lagi-lagi dipatahkan oleh kenyataan.
“Sudah tidak ada yang perlu dieffort lagi, toh semuanya sudah clear. Aku sudah mengingat siapa diriku, dan apa statusku sekarang, aku juga sadar akan kesalahanku. Bagiku tidak mendapatkan ibunya, bukan suatu problem tapi yang terpenting aku sudah mengetahui bahwa Abel adalah benar-benar putri kandungku,” ujar Agha tampak tidak menunjukkan kesedihan.
Gafin tersenyum samar, asisten itu sangat mengerti saat berada di posisi seperti ini. ‘Mulut dan hatimu, seolah berkata lain. Di antara keduanya berbeda pendapat. Kau kuat di luar tapi lemah di hati,' batinnya.
“Aku pun merasa heran, amnesiaku hilang tapi kenapa perasaanku tidak? Jika seperti ini jadinya, aku lebih memilih hidup dalam kelupaan dibanding ingatan pulih tapi membekasi luka.”
“Tapi, bukan aku menyalahkan perjuanganmu. Sekarang rasa penasaranmu sudah terjawab yang berarti kau memberikanku jalan untuk menjalani hidup yang sebenarnya,” lanjutnya.
“Saya sangat senang Tuan. Anda sudah menemukan jati diri yang sebenarnya. Ingatan Anda kembali, tapi diri Anda tetap yang sama sebagai Tuan Aghafa Luis. Sesungguhnya niat saya hanyalah untuk mempersatukan Anda dengan Abel begitupun bersama ibunya,” ungkap Gafin.
“Terima kasih, kau begitu berperan penting dalam kehidupanku. Termasuk kah perasaan risih di hatimu akan di masa lalu?”
Gafin tersenyum lembut, “Untuk apa? Itu masa lalu, bagi saya Anda tetaplah Tuan Aghafa, bagian dari keluarga Luis yang terpandang dan baik. Biarlah nama Alex menjadi samaran masa lalu, sekarang dirimu tetap Aghafa!”
***
Lima hari setelah Abel siuman. Kini dokter telah mengizinkan gadis itu untuk pulang. Ya, karena apa yang sudah dinyatakan benar-benar pulih.
Agha begitu excited untuk menjemputnya, seolah hari-hari bermain bersama anaknya itu sudah terbayangkan.
“Yeayy akhirnya Abel pulang juga. Bosen tau di rumah sakit, cuma liat selang-seling kecil yang kayak usus ihh!” celoteh gadis setelah tiba di rumahnya.
Azel dan Agha sama-sama tersenyum. Mereka ikut merasakan hal yang sama apa yang dirasakan oleh putri mereka.
Tidak ada lagi kata 'anak angkat’ ataupun itu ‘hanya anakku’ dan bukan lagi ‘orang lain.’ Siapapun kalian tidak akan pernah menemukan kata itu lagi, karena status lah yang membuktikan.
__ADS_1
“Ayah ikut senang.”
“Ayah sudah janji mau ajak Abel ke pasar malam bersama Mami. Mami juga pernah bisa katakan kalau Mami mau menuruti semua keinginan Abel. Itu berarti tidak ada penolakan dari kalian!” beo Abel.
Seketika Azel dan Agha saling bersitatap, tapi itu tidak berdurasi panjang. Mereka saling mengalihkan kembali ke arah lain. Keheningan pun tercipta.
“Kenapa kalian gak mau yaaa?”
“Tentu saja kita mau, tapi nanti ya karena saat ini kau belum pulih sepenuhnya,” ucap Agha. Sementara Azel masih tampak terdiam. Ia sedikit menahan napas karena berusaha mengendalikan rasa sedihnya.
“Kenapa kalian jadi terlihat asing. Dulu, berisik kenapa sekarang jadi sunyi? Banyak banget ya momen yang Abel lewatkan?”
Sejatinya seorang anak tidak pernah putus dari perasaan batin orangtuanya. Terlihat ada kejanggalan dari sikap keduanya saja, Abel merasa tidak nyaman.
“Sayang ... banyak bertanya akan membuat pikiran, istirahatlah. Ayo masuk ke dalam!” sahut Azel.
“Hmm Azel, apa aku boleh mengajak Abel untuk menginap sehari saja di rumahku?”
Rasa hati ini menolak, akan tetapi ia tidak bisa melarang. Mau bagaimana pun Abel tetaplah darah daging pria itu, ayah sesungguhnya dari sang putri. “Baiklah, hantarkan esok di malam hari.”
“Kau ikut ayah ke rumah. Mau ‘kan?”
“Iya Ayah!”
Seketika Azel langsung menerobos masuk ke dalam rumah, tanpa sepatah kata sedikitpun yang diucapkan. Abel yang tidak mengetahui apa-apa merasa bingung, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Mami kenapa ya?”
“Mungkin Mamimu sedikit lelah. Sudahlah, ayo kita berangkat. Ayah mau manjain kamu, sebagai membayar janji!”
__ADS_1
“Come on!”
‘Azel masih marah,' batin Agha.