Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Anakku Merindukan Sosok Ibu ASInya


__ADS_3

Saat ini Samuel dan kedua anak kembarnya tengah berada di sebuah minimarket. Selain membeli coklat untuk Azel, Ia juga membeli kebutuhan untuk orang rumah. Jika bukan karena permintaan anaknya, Samuel tidak akan pernah mau untuk melakukan ini.


Kini pria itu sedang mendorong troli yang berisi kedua putra-putrinya. Tampaknya mereka begitu senang, sampai semua pembeli di sana mengagumi sosok Samuel yang terlihat sangat sayang dengan anaknya.


'OMG udah ganteng, bisa jaga anak lagi. Tipe pria idaman banget.'


'Hot Daddy ....'


'Sugar Daddy.'


'Gua yakin dia duda, karena kalo punya istri nggak mungkin dia sendirian.'


'Om, ada jasa buka Ibu sambung nggak?'


Oh apakah ketampanan Samuel sampai menembus masker yang dikenakannya. Darimana coba mereka tahu jika Samuel ganteng.


'Gantengnya luar dalem hihi,' ucap seseorang yang terus memperhatikannya. Ya, mungkin seperti itu terlihatnya.


Samuel meresponnya hanya dengan tatapan dingin. 'Jika aku berdua dengan gadis itu seperti waktu dulu, pasti aku tidak akan terlihat duda dua anak seperti ini,' batinnya.


Ketika memori ingatannya kembali di saat dia berbelanja kebutuhan bayi 2 tahun silam, Samuel mulai merenung. Sudahlah itu sudah menjadi kenangan.


"Kau boleh memilih coklat sepuasnya, tapi hanya untuk stok. Nanti di rumah kau hanya boleh makan sedikit saja!" pesan Samuel.


"Baik Daddy ...."


"Son jangan berdiri, kau bisa terjatuh!" ucap Samuel memperingati anak lelakinya.


"Stop Dad!" teriak Azriel.


"Why? Ada apa?" tanya Samuel.


"Tulun, Azil mau tulun Daddy!" pinta Azriel.


"Tidak! Jika Daddy turunkan, kau pasti tersesat karena kelayapan!"


"Huaaa, Daddy ...."


"Baik, baiklah ...."


Keras kepala memang, sepertinya Daddy-nya.


Menuruti permintaan Azriel untuk diturunkan, akhirnya Samuel mengeluarkannya dari keranjang belanja itu. Ya, daripada buat kehebohan dengan teriakannya. Yang ada akan membuat malu.


Setelah turun dari troli, Azriel berlari balik ke tempat yang sudah ia lewati, lalu anak kecil itu berbelok kiri. Mau tidak mau Samuel harus menyusulnya. Ia cemas jika anaknya membuat kenakalan di sini.


"Inilah mengapa aku selalu memilih untuk memasukkan kalian ke dalam troli, saat berbelanja." Pria itu pun terus menggerutu.


Namun, tiba-tiba sesuatu  mengejutkannya. Ia mendapati putra kecilnya itu, tengah digendong oleh seseorang wanita yang selalu dicari-carinya.


"Come here Dad! I found Mama!" ucap Azriel. Sedangkan saat itu, Shireen masih tercengang. Ia ingin pergi, tapi ia tidak mungkin tega meninggalkan bocah yang digendongnya itu.

__ADS_1


Seketika Azel heboh. Ia bersorak-sorak kegirangan dengan memanggil mama. Gadis itu sudah sangat tidak sabar meminta untuk dikeluarkan dalam troli.


"Mama gendong aku juga!" minta Azel merentangkan kedua tangannya. Sedangkan saat itu Shireen tengah menggendong Azriel.


Karena tidak mampu menggendong mereka berdua, akhirnya Shireen memilih menurunkan Azriel. Ia, berjongkok dan langsung mengecup kedua pipi mereka satu persatu.


"Mama tidak bisa menggendong kalian berdua. Biar adil, tidak ada yang mama gendong."


Tiba-tiba Samuel ikut berjongkok dan berkata, "Mereka rindu dengan sosok ibu ASInya."


Shireen tak menanggapinya, ia hanya menatap sekilas lalu kembali dengan kedua bocah kembar itu.


"Mama mau 'kan ikut kita pulang cama kita?" ucap Azel.


'Astaga, anakku adalah keberuntunganku. Ayo Baby, bujuk lagi calon mamamu ini,' batin Samuel.


Shireen melirih, "Hmm tidak bisa Sayang ..., mama mau pergi, ada urusan yang penting. Kalian pasti mengerti." Shireen mengusap kedua bocah kembar itu. Kemudian ia berdiri, dan ingin pergi.


Entahlah, masa lalunya yang begitu miris, mengingatkan kebenciannya kepada Samuel.


"Sampai kapan kau mau menghindariku?" ucap Samuel menahan tangan Shireen. Namun tentu saja Shireen tepis tangannya itu.


'Huh, nyesel gue belanja di sini. Kalo bukan karena Jasson yang ngebet minta mie Korea, gak bakal gue mau ke sini. Apalagi harus ketemu nih orang," batinnya.


"Mama, jangan pelgi ...."


'Duh ini yang bikin gak tega. Gue gak nyesel sama sekali ketemu dua bocah ini, bahkan gue masih kangen banget.'


"Azel masih lindu Mama."


"Please Mama ...."


Azel dan Azriel merengkuh kaki Shireen, mereka memeluk kakinya seakan memohon.


"Berikan waktumu sedikit saja untuk malam ini bermain dengan anakmu," ujar Samuel.


"Mereka bukan anak aku!"


sangkal Shireen.


"Tapi, mereka darah dagingmu. Kau sendiri yang bilang itu dulu." Seketika Shireen membisu. "Kau boleh membenciku, tapi jangan libatkan dengan anakku. Beri mereka rasa kasihanmu," lanjutnya.


Shireen berjongkok kembali. "Kita main yah, tapi janji jangan nangis okee!"


Senyum mereka terbit, sampai karena mereka begitu senang, kedua anak kembar itu memeluk leher Shireen begitu kuat.


"Benelan kan?"


"Iyah cantik."


"Maasih Mama."

__ADS_1


"Thanks Mama, I love you."


Shireen mengacak gemas rambut Azriel.  "Astaga, kamu pinter banget si bahasa Inggrisnya!"


"Adik bicala omong-omong libet, Azel gak paham ...." celetuk Azel.


"Belajal, jangan makan mulu Kakak!"


Shireen terkekeh, lagi-lagi ia menoel pipi bulatnya.


"Terima kasih." Tiba-tiba Samuel berucap itu.


"Aku melakukan ini karena mereka, bukan untuk Om!" cetus Shireen.


"Terserah, mau itu untuk siapapun. Yang jelas jika anakku tersenyum, aku akan pun bahagia."


Shireen hanya memasang wajah andalannya. Tetap terlihat seperti gadis sombong yang jual mahal, judes, jutek. Sedangkan, Samuel tersenyum senang.


***


Saat ini Samuel dan Shireen serta kedua bocah kembar itu, sedang berada di sebuah taman malam yang masih banyak dikunjungi para keluarga kecil untuk menghibur anaknya.


Bukan hanya family, sepasang kekasih pun banyak di sini. Selain sekedar mencari angin malam, taman ini juga tempat keromantisan dua insan yang sedang kasmaran.


"Makan kamu banyak yah, pantas badanmu semakin bulat," ucap Shireen dengan diiringi tawa kecilnya. Gadis itu tengah menyuapi Azel yang begitu lahap menyantap makanannya.


Sedangkan, Azriel makan sendiri. "Azriel mau mama suapi?"


"Tidak! Azil mandili, gak kayak Kakak yang kalo makan tumpah-tumpah," balas Azriel.


"Oh oke baiklah, pangeran tampan gak boleh manja," ucap Shireen. Tanpa sadar membuat Azel cemberut. Lagi-lagi ia mengembungkan pipinya. "Azel juga mandiri kok, 'kan anak mama," bujuk Shireen.


Hanya dengan kata-kata itu, Azel mampu tersenyum cerah kembali. Mungkin berbeda jika dengan Daddy-nya.


Sementara saat itu Samuel terus memperhatikan wajah Shireen. Entah kenapa tangannya begitu gatal ingin menggapai tangan manis gadis itu.


"Apa kau masih tak mau memaafkanku?" ujar Samuel. Sudah tentu ditepis. Yaa, setidaknya sedikit ia merasakan tangan lembut itu lagi.


"Please Om, kita profesional. Jangan bahas soal itu, aku di sini cuma untuk bermain sama mereka," balas Shireen dingin.


Samuel menghela napasnya, lalu ia memandang parau ke depan. "Mendapatkan maaf darimu saja sangat susah. Bagaimana jika aku ingin mendapatkan cintamu?"


"Apakah aku harus melewati 7 samudra dulu, untuk mendapatkannya?"


Ada sengatan sedikit di hati Shireen. 'Please Shireen jangan mudah luluh lagi sama predator ini. Dasar buaya muara. Ingat kata-kata Jasson,' batinnya.


Namun sesaat kemudian ...


'Astaga Jasson. Mati gue, dia pasti kelaparan mienya gak sampe.'


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2