
Setelah beberapa saat memandangi wajah Azriel, akhirnya Ina memberanikan diri untuk menghampiri dan berniat untuk membangunkannya.
"Tuan, sudah pagi. Ayo bangun!" Ina mengusap pelan punggung Azriel, hingga membuat lelaki itu menggeliat.
"Nanti saja Bik, aku masih mengantuk!" Azriel mengubah posisinya dengan memunggungi Ina. Namun, tiba-tiba ia melotot lebar.
'Kenapa suara Bik Inah berbeda?' batinnya.
Saat berbalik, Azriel benar-benar melebarkan matanya. Melihat orang asing masuk ke dalam kamarnya, Azriel murka. Ia mencengkram kuat lengan Ina.
"Kurang ajar, beraninya kau masuk dan menyentuhku!" terkam Azriel. Ina pun meringis karena merasakan tangannya dicengkeram.
"Stop Azriel, lepaskan dia!" Tiba-tiba Shireen datang, Azriel pun langsung melepaskannya dengan kasar.
Shireen menghampiri anaknya itu, ia mengusap kepala Azriel agar lebih tenang.
"Dia pengasuh barumu Sayang ... bersikap baiklah."
"Mom, tap--"
"Azriel, Mommy mohon menurut untuk kali ini. Dia cucunya Bik Inah, jika kau mengusirnya bayangkan bagaimana perasaan Bibik Sayang ...."
"Aku tidak membutuhkan pelayan, Mommy!"
"Kau sangat membutuhkan! Bik Inah akan resign, dan cucunya ini yang menggantikan. Ingat jasa Bik Inah, jika kamu melukai perasaannya kau sangat jahat!"
Azriel menatap Ina yang terus saja menunduk, dari atas kepala sampai bawah kaki. Pandangannya sangat tidak bersahabat. "Kenapa harus wanita? Aku sangat risih!"
"Memangnya jika pelayanmu lelaki kamu mau? Sudah banyak pengasuh laki-laki yang mengundurkan diri karena ulahmu. Pokoknya kali ini kau tidak bisa lagi menolak!"
Karena rasa sayang kepada Mommynya begitu tinggi, dan lagi ia tak mau melukai perasaan pembantu yang banyak jasa terhadapnya, akhir pun Azriel hanya bisa menghela napas pasrah.
"Gitu dong. Baiklah, Ina kamu sudah bisa menjalankan tugasmu ya!"
"Baik Nyonya."
Setelah Shireen memberikan anaknya kecupan di kening, ia pun meninggalkan mereka berdua. Kini kembali lagi Azriel menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.
'Akanku pastikan, siapapun orang baru yang menjadi perawatku tidak akan bertahan lama,' batinnya.
Azriel mulai bergerak sendiri. Ia sangat enggan untuk meminta bantuan. Sikap angkuhnya membuat Ina mengucap sabar dalam hati.
'Ternyata benar kata Nenek, pria ini sangat angkuh bahkan melebihi apa yang ada dipikiranku,' batin Ina.
"Maaf Tuan, saya harus membantu!" Ina merasa jengah karena Azriel yang sok ingin melakukan sesuatu sendiri.
"Aku tidak mau disentuh dengan sembarang tangan!" tolak Azriel saat Ina memegang lengannya. Ia menepis, tapi Ina kekeh tak membiarkannya.
"Maaf, ini sudah menjadi pekerjaan saya Tuan."
"Keras kepala!" maki Azriel.
Akhirnya Azriel menurut, walau gerutuan di mulutnya terus saja keluar.
__ADS_1
***
Di meja makan.
Semua orang sedang melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu sarapan sebelum memulai kegiatan.
"Mommy bagaimana dengan gadis itu?" tanya Azel.
"Sepertinya kali ini adikmu tidak bisa menolak lagi," balas Shireen.
"Syukur deh, Azel lega. Semoga dia bisa bertahan lama," ucap Azel.
"Beruntung banget kakak bisa dapat pengasuh cantik sepertinya," sahut Aryan merasa cemburu.
"Kamu mau juga?" tawar Shireen.
"Memang boleh Mom?"
"Boleh. Kemarin ada yang menawarkan diri untuk menjadi pelayan, usianya sama seperti Bik Inah. Bagaimana jika buat kamu saja?" Semua orang langsung menertawai Aryan.
Senyum sumringah yang awalnya tercipta kini terbit kecemberutan. "Astaga, Mommy jahat!"
"Bereskan saja skripsimu dulu, mikirin wanita terus tidak akan ada habisnya!" sahut Azel.
Kini pandangan Samuel hanya tertuju kepada putri bungsunya, ia pun bertanya, "Anak Daddy kenapa hmm?"
"Gak suka sekolah ini. Iren mau pindah ke sekolah Daddy, tapi gak dapat izin dari Kak Azriel ...." rengeknya mengadu.
"Apapun yang diputuskan kakakmu pasti benar, karena Daddy mempercayainya ia pasti mempunyai alasannya sendiri!" sahut Samuel. Ternyata, Iren tidak lagi mempunyai pendukung di sini.
Tampak Ina tak mau jauh dari pengawasannya. Ia terus saja mendampingi Azriel, bahkan menemaninya di dalam keadaan apapun.
"Harus juga kau mengawasiku makan seperti ini? Aku jadi tidak berselera!"
"Maaf, ini tugas saya Tuan."
"Sudah berulang kali kau mengucapkan kata itu. Jika aku memintamu untuk keluar, apa kau bisa melakukannya? Melayaniku tidak harus 24 jam!" dalih Azriel.
"Saya hanya khawatir jika Tuan membutuhkan sesuatu."
Azriel menyerahkan sebuah remote kecil kepada Ina. "Pegang itu setiap saat, jika aku membutuhkanmu, benda itu akan berbunyi dengan tanda merah."
Ina menatap benda itu, ia takjub dengan teknologi sekarang. 'Canggih,' batinnya. Bahkan ia sendiri yang menyaksikan bagaimana cara kerja benda itu.
"Sekarang kau bisa keluar!"
"Baiklah Tuan, saya permisi!"
Ina keluar dengan membawa remote itu. Kini Azriel langsung berpikir, "Bagaimana caranya agar gadis itu pergi tanpa aku usir. Sungguh lebih baik aku diurus dengan keponakanku, dibanding dengan orang lain!" gumamnya.
"Menyiksanya akan membuat gadis itu tidak lama bertahan. Ya, cuma itu caraku!"
***
__ADS_1
Ina berjalan ke arah dapur untuk menjumpai Neneknya.
"Bagaimana, kau berhasil?"
"Ini lebih sulit Nek, dibanding aku mengurus 5 bayi!" jawabnya.
Inah tersenyum, helaan napas dari cucunya membuat ia paham bahwa Ina tidak sanggup. "Mau lanjut atau ikut pulang esok dengan Nenek?"
Ina berpikir beberapa saat. "Sepertinya Ina mau coba untuk beberapa Minggu. Ina merasa penasaran, bagaimana sosok pria itu sebenarnya. Ini seperti tantangan buat Ina."
"Nenek tidak memaksamu untuk melakukan pekerjaan ini, jika tidak sanggup kau bebas undur diri."
"Baik Nek, tapi Ina mau berusaha terlebih dahulu. Siapa tahu hasilnya nanti akan baik."
"Baiklah, besok Nenek akan pulang ke desa. Nenek harap kau bisa jaga diri baik-baik di sini," ujar Inah.
"Baru saja beberapa hari berjumpa, kini mau berpisah lagi ...."
"Akan ada masanya kita akan bersama lagi." Inah membelai helaian rambut cucunya, sampai tak sadar bunyi di remote itu tak didengarnya.
***
Ina berjalan terburu-buru, ia segera memasuki kamar Azriel dengan sangat cemas.
"Telat!"
"Maaf Tuan, bunyi di remote ini terdengar kecil saya tidak sempat mendengarnya," ucap Ina menunduk.
"Tidak becus! Sepertinya posisi Bibik Inah, tidak pantas digantikan oleh gadis lemot sepertimu!"
"Sekali lagi saya minta maaf, tidak akan mengulangi dan lebih respect untuk benda ini."
"Bagaimana jika aku sangat membutuhkan bantuan? Keburu aku mati, kau baru datang!" Ina hanya bisa menunduk. Kata-kata yang menggambarkan bahwa pria itu tidak suka kepadanya, membuat ia paham dan hanya bisa bersabar.
Tiba-tiba Abel bertanya. Ya saat ini posisi Abel sedang berada di pangkuan Azriel, "Om Ante itu ciapa?" Namun, pertanyaan itu tak dibalas oleh Azriel.
'Apa dia yang bernama Abel, gadis kecil yang dimaksud Nenek? Benar-benar seperti ibunya, sangat cantik,' batin Ina memandangi wajah Abel.
"Cepat bereskan mainan keponakanku!"
"Baik!"
Ina segera membereskan mainan yang berserakan di lantai. Abel yang merasa bersalah, ingin membantunya karena tidak mau Ina membereskan kekacauan kamar dengan sendiri.
"Abel antu!"
"Tidak usah Nona!"
"Abel biarkan dia, itu pekerjaannya!"
"Tapi ini kalena Abel Om!"
"Jangan lakukan itu!"
__ADS_1
Abel tak menggubris, gadis itu tetap ingin membantu Ina yang kini mulai kelelahan. Pasalnya, mainan di sana sangatlah banyak. Biasanya ada 4 pelayan yang membereskan. Namun, kini ia sendiri yang melakukannya.
Bersambung ....