
Azriel menatap Ina penuh selidik, sedangkan gadis yang ia tatap itu terlihat panik dari wajahnya.
"Ma-maaf Tu-tuan, benda itu hilang. Padahal terakhir saya taruh di kamar," ucap Ina gugup.
Brakkk!
"Itu?"
Ina langsung memungut cerpihan benda elektronik yang sudah hancur itu. Entahlah rasa kekeselan Azriel membuatnya hilang ketenangan hati. Tanpa rasa tega, ia membanting benda itu sampai beberapa bagian terpisah.
Ina masih berjongkok sambil memunguti benda itu. "Maafkan saya Tuan," lirihnya.
"Terbukti jika kau tak benar-benar memegang benda itu setiap waktu. Sepertinya kau memang tak butuh benda itu lagi, karena aku rasa tidak berguna! Aku butuh, kau malah acuh!" tandas Azriel.
"Maafkan saya Tuan, tadi say--"
"Bersantai-santai dengan adikku dan bergurau bersama, bukan? Mau cari muka ke adik-adikku juga? Setelah Aryan dan Mommy siapa lagi? Daddyku?"
"Maaf Tuan ...." Ina tidak bisa berkata lain lagi, hanya itu saja yang mampu ia ucapkan.
"Keluar, aku bosan dengan kata maafmu. Aku melarang keras kau terlalu akrab dengan Aryan!"
Bisa disimpulkan bukan? Bahwa saat ini Azriel sedang merasa cemburu dengan adiknya. Namun, pria angkuh itu tentu saja tidak menyadari dan menyangkal perasaan hatinya.
Ina menunduk, lalu ia berjalan keluar.
Kini tergantikan dengan sang kakak yang masuk ke kamarnya. Azriel menatapnya dengan selidik atas kedatangannya itu.
"Ada apa?"
"Kakak mau bercerita sesuatu," ucap Azel.
Azel duduk di sofa samping kursi roda Azriel. Azel tiba-tiba menunjukkan sesuatu dari dalam tasnya, yaitu sebuah ponsel yang memperlihatkan gambar seseorang.
Azriel yang melihatnya melebarkan tatapannya. Terlihat jelas sorotan amarah dari pria itu. "Untuk apa kau menyimpan fotonya?!" bentaknya.
"Tenanglah dulu. Jika kau mengira dia adalah pria itu, kau salah. Dia pria yang berbeda, dan aku ingin memberitahu bahwa dia partner bisnisku di perusahaanmu."
"Kau yakin itu bukan dia? Jelas-jelas wajahnya sangat mirip!"
Azel menggeser layar ponselnya, lalu menunjukkan kepada adiknya foto dia bersama dengan seorang pria. "Memang sangat mirip bukan? Tapi, percayalah dia bukan pria yang sama. Dia tidak mengenalku, dia juga tidak mengenal namamu dan setelah aku cari tahu tentangnya, ternyata dia dari asal keluarga yang jelas dan terpandang," jelas Azel.
__ADS_1
"Bisa saja pria itu dalam penyamaran."
"Azriel, aku sudah sangat mengintrogasinya dan kepribadian pria itu sangat berbeda."
"Bagaimana kau bisa tidak merasakan sesuatu perasaan aneh padanya, kau yang sudah pernah berhubungan dengannya, aku sebagai musuhnya sangat yakin bahwa dia adalah pria yang memperkosamu. Putuskan kerjasama dengannya!"
"Azriel, kakak paham rasa sakit hatimu. Seharusnya yang lebih pantas berperasaan seperti itu, aku! Tapi, memang kenyataannya aku tidak merasakan perasaan saat aku berdekatan dengannya. Justru aku merasakan diri orang lain saat berdekatan dengannya. Dia sudah menyatakan cinta padaku, dan jujur aku mulai nyaman dengannya, walaupun wajahnya sangat mengingatkan aku akan masa lalu itu," tutur Azel.
"Hatimu sudah masuk ke dalam perangkapnya. Kau jatuh cinta dengan pria yang sudah menghilangkan masa depanmu dan juga aku."
"Tapi Azriel ...."
"Tidakkah kau pedulikan perasaanku?"
"Baiklah, aku tahu kau sangat membenci orang yang berhubungan dengan pria itu."
"Putuskan kerjasama dengannya!"
"Baiklah ...."
Azriel merenggangkan kedua tangannya, Azel langsung menyerahkan kepalanya untuk bersandar di dada sang adik. Azriel mengusap kepala sang kakak. "Maafkan keegoisanku, tapi aku selalu ingin yang terbaik untuk kakak dan adik-adikku!"
Sudah terlihat jelas bukan, bahwa sedaritadi kecil Azriel itu sangat berperan tinggi dalam keluarganya. Bahkan, dengan sang kakak saja seperti dia yang menjadi peran itu.
"Masih aku usahakan!"
Azel mendongakkan kepalanya, ia menatap Azriel dengan wajah tersenyum. "Aku dengar kau sudah mulai merasakan kakimu, itu tandanya otot saraf di kakimu sudah mulai berfungsi. Aku jadi tidak sabar kau bisa berjalan lagi!"
"Baru sedikit."
"Ina sangat bekerja keras untukmu, berkat gadis itu kau sudah ingin mencapai kesembuhanmu. Jangan sering memarahinya!"
"Kenapa gadis itu lagi?" ucap Azriel jengah. "Jika Kakak tahu, gadis itu hanya berucap, maaf Tuan, baik Tuan, dan ayo semangat Tuan! Apa yang dimaksud perjuangannya yang selalu kalian katakan itu?!"
"Jangan seperti itu, nanti kau jatuh cinta. Ingat cinta akan tumbuh seiring waktu yang menyatukan!"
"Mengarang!"
Azel pun tertawa puas karena berhasil menggoda adiknya.
***
__ADS_1
Pagi hari.
Burung berkicau merdu, embun-embun bertetesan, cahaya pagi menyambut. Di pagi yang cerah ini Azriel sudah tampak siap dengan mengenakan pakaian olahraganya.
"Hari ini aku ingin olahraga tangan, temani aku di luar taman," ucap Azriel. Lalu ia mengayuh kursi rodanya itu, dan Ina menggiring mengikutinya dari belakang.
"Tuan, jika merasa letih panggil saja aku!"
Azriel hanya mengangguk. Pria itu mulai mengayuh kursi rodanya dengan cepat. Kekuatan tangan pria itu tak diragukan lagi, bahkan otot-otot tangannya semakin terbentuk.
"Dia hebat, padahal hanya menggunakan tangan tapi bisa secepat itu. Sebenarnya pria itu bisa cepat sembuh, hanya saja sifat pesimis dan rasa malasnya itu membuat dia tidak maju," gumam Ina.
Gadis itu terus memantau Azriel yang masih melakukan aktivitasnya. Sampai tak terasa sudah hitungan jam Azriel berputar mengelilingi rumah. Bayangkan saja rumah seluas lapangan ini, dikelilinginya hanya dengan menggunakan tangan yang seolah berjalan.
Gadis yang menunggunya pun mulai merasa bosan. Saat ia berkali-kali menarik napasnya, tiba-tiba Azriel datang dengan bercucuran keringat.
Sigap Ina menghampiri dengan membawa handuk kecil. Gadis itu berjongkok, dan mulai mengelapi keringatnya.
"Bagaimana? Apa sudah merasa bugar?"
"Tapi berenang di sana sepertinya sangat menyegarkan," balas Azriel menatap kolam renang yang berisikan air jernih di sana.
"Panas pagi itu lebih baik daripada berenang Tuan," balas Ina.
"Kenapa kau sekarang jadi seperti Dokter?"
"Hanya itu yang saya tahu."
"Tidak perlu formal denganku, sudah hampir satu bulan kau bekerja di sini. Duduklah kita berbicara!"
Ina duduk di bangku taman dengan menghadap ke arah Azriel. "Menurut kau aku bisa berjalan lagi tidak?"
Tiba-tiba pertanyaan itu dilontarkan kepada Ina, sudah pasti gadis itu merasa aneh. "Tentu saja, lihat sekarang dirimu. Kau sudah masuk tahap pertengahan Tuan, kata Dokter kau hanya perlu berlatih rutin," balas Ina.
'Kepribadian Tuan ini sangat sulit ditebak. Terkadang dia bisa lembut dan asik, terkadang dia juga bisa berubah seperti harimau,' batin Ina.
"Sentuh kakiku!"
Azriel meraih tangan Ina, ia letakkan di kedua pahanya, kemudian ia tumpu dengan kedua tangannya juga. "Coba cubit pelan ataupun keras!"
Ina mencubit pelan. "Kakiku sudah bisa merasakan kembali, tapi aku masih tidak bisa berdiri tegak."
__ADS_1
Bersambung ...