
Dua Minggu waktu telah berjalan, tapi sampai saat ini Azriel masih memikirkan untuk berusaha mengusir Ina. Namun, ia menyadari bahwa Ina bukanlah gadis sembarangan yang lemah.
Azriel menatap remote desktop yang dirancang khusus untuk penghubungnya ke Ina.
"Semalam sudah berkali-kali aku memerintahnya, tapi gadis itu sangat kuat melayani banyaknya permintaanku, bahkan dari yang sangat tidak penting semua!"
Pria itu menggebrak meja dengan geram. "Kenapa kali ini sangat sulit sekali? Aku merasa sudah tidak ada ide lagi. Gadis itu sangat kekeh akan pendiriannya!" Pria itu tak hentinya mengurut pelipis kening, karena berpikir banyak yang membuatnya pusing.
Tiba-tiba pintu terbuka, lagi-lagi menampilkan sosok wajah manusia perempuan. Namun, bagi Azriel sangat bosan dengan itu.
"Permisi Tuan, sudah waktunya minum obat," ucap Ina.
"Nanti saja!" acuh Azriel merasa tak semangat. Ia kalut dengan pikirannya sendiri.
"Saya diperintahkan untuk mengawasi Tuan minum obat sampai selesai."
Azriel menatapnya dengan tajam, tapi sesaat kemudian ia membuang pandangannya dengan sinis. Secara terpaksa ia harus memperlihatkan dirinya untuk minum obat.
"Baik, saya permisi Tuan."
"Aku belum menyuruhmu keluar!"
Seketika Ina mengurungkan niatnya. Ia kembali menghadap Azriel. Menunggu instruksi apa yang harus dia lakukan. Dan, akhirnya Azriel berkata, "Kepalaku sangat pusing hari ini. Apa kau bisa memijat?"
Bagi Ina ini adalah momen yang sangat langka, di mana pekerjaan ringan ini dilakukannya. 'Sungguh lucu, kemarin dia sangat tidak suka disentuh tapi sekarang menyerahkan diri,' batin Ina.
"Tentu saja bisa Tuan."
Azriel menyenderkan kepalanya di kursi roda dengan mendongak, secara leluasa Ina pun memijat kepalanya.
Dengan lembut dan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahan, Ina sangat telaten untuk pekerjaan ini. Tekstur lembut kulit tangannya, mampu membuat Azriel terpejam menikmati.
"Lumayan pijatanmu. Bisa kau lakukan tiap hari?"
"Boleh."
"Jika kau pandai memijat, kenapa tidak menjadi tukang pijat keliling saja? Kau malah memilih mengurusku yang sudah besar. Aneh!"
Ina tersenyum. Sebenarnya ingin tertawa tapi ia tahan. Ya, karena dalam keadaan apapun ia harus profesional. "Bagaimana jika saya menjadi tukang pijat Tuan saja? Lebih menguntungkan untuk Tuan," balas Ina.
"Akan terasa bosan, jika aku melihat wajahmu terus!" cemooh Azriel. Tak jauh berbeda memang dengan keangkuhan Daddynya. Sangat menurun bukan?
Beberapa saat, kemudian.
"Hmm, rasa pusingku sudah lebih baik. Kau bisa keluar!" usir Azriel.
"Sebentar, saya akan kembali lagi!" Ina berlari cepat ke arah dapur, ia mengambil sesuatu. Sementara Azriel menggerutuinya.
__ADS_1
"Aku tidak meminta dia kembali lagi!"
Ina kembali masuk kamar, di tangan gadis itu terlihat ada sebuah wadah yang dibawanya.
"Sebelum tidur, sebaiknya tubuh Tuan dielap terlebih dahulu, agar terasa sejuk."
Dalam hati berkata, 'Semua yang biasa Bik Inah lakukan. Dia juga melakukannya. Aku tahu ini semua pasti sudah disetting oleh Mommy, dan Bik Inah serta kakakku.'
Ina menaruh wadah itu di atas nakas, kemudian dia berjongkok di hadapan Azriel. "Maaf Tuan jika saya lancang."
Ina membuka kancing baju Azriel. Syukurnya tidak ada penolakan dari sang empunya. Setelah Terbuka semua, kini Ina bisa menyaksikan bagaimana bagusnya bentuk tubuh Azriel secara dekat.
'Tubuhnya sangat bagus. Dia cocok jadi tentara,' batin Ina memandangi sebentar bentuk otot-otot yang menonjol di dada dan perut Azriel.
Setelah itu Ina membuang pandangannya ke arah lain, gadis itu beranjak berdiri dan melakukan sesuatu. Ia membasahi kain yang dibawanya tadi ke dalam wadah itu, lalu ia tempelkan secara perlahan ke tubuh Azriel.
Masih tidak ada penolakan dari Azriel, akhirnya gadis itu bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Tangan Ina mulai menyusuri lap kain itu ke tubuh Azriel, sampai merasa sedikit basah. Dengan telaten Ina bersihkan sampai Azriel merasa adem di badannya.
Namun karena merasa sibuk, Ina sampai lupa di atas kepalanya terdapat dagu Azriel, sehingga saat ia berdiri otomatis ujung kepala gadis itu menyundul dagunya.
"Awhhhh!"
Ina pun terdiam sejenak, lalu ia tersadar dan kaget. "Astaga Tuan, maaf saya tidak sengaja!" Ia langsung berdiri tegak.
"Lanjutkan!" pinta Azriel.
Ina kembali berjongkok, dan kemudian dia melanjutkan kegiatannya lagi setelah mencelup kain lapnya.
Sementara Ina kembali memakaikan bajunya. "Langsung naik ke atas ranjang?" tanya Ina.
"Ya--"
Saat ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara panggilan masuk dari sang kakak.
"Kenapa?"
'Azriel bisa kau tidurkan Abel, aku pulang agak telat. Tugas kantor pun masih belum selesai.'
"Kirim semua filenya ke emailku, dan segeralah pulang!"
'Baik, tapi aku tidak bisa pulang. Malam ini aku masih ada meeting dengan klien yang ingin bekerjasama di perusahaanmu.'
"Ya sudah."
Azriel mematikan sambungan teleponnya. Pria itu kembali menatap Ina, lalu berkata, "Ambilkan laptopku, setelah itu kau susul Abel di luar!"
"Baik Tuan."
__ADS_1
Ina bergerak mengambilkan laptop yang minta oleh Azriel, kemudia setelah diserahkan kepada Azriel, Ina pergi keluar untuk mengambil Abel.
Saat kembali masuk, ternyata Ina datang dengan Abel yang sedang menangis. Melihat gadis mungilnya menangis, Azriel merenggangkan kedua tangannya kemudian memeluk Abel.
"Om, napa Mama Abel lum lang?"
"Mama Abel kerja Sayang, Abel sama Om ya." Abel langsung dipangku olehnya.
Sementara Ina, terlihat tersenyum karena melihat Abel yang begitu luluh dengan Azriel.
'Dia memperlakukan keponakannya bagaikan seorang anak dan ayah,' batin Ina.
"Jangan kembali dulu, aku butuh kau untuk menjaga keponakanku saat tidur nanti," ucap Azriel.
"Baik Tuan."
Ina pun dipersilahkan untuk duduk agar perempuan itu tidak lelah. Kini, gadis itu hanya bisa menyaksikan Azriel yang sibuk di depan laptop dengan tangan satunya yang meniduri Abel.
"Buatkan susu untuk Abel dan juga untukku!"
Ina segera melakukannya, ia keluar kamar untuk membuat susu sampai dia kembali lagi dengan membawakan satu gelas susu dan sebuah dot yang berisi susu juga.
Ina menyerahkan, lalu ia memberikan kepada Abel yang masih asik tiduran di atas pangkuan Azriel.
"Tidurlah!"
Abel yang begitu senang mendapatkan susu, akhirnya bocah itu tertidur dengan masih mengedot.
***
Sementara di sebuah restoran. Terdapat Azel sedang makan malam bersama dengan pria tua. Ya, baru saja perempuan itu melakukan meeting bersama dengan rekan bisnisnya.
Perusahaan yang ditangani Azel saat ini memang milik adiknya. Namun karena Azriel tak mampu untuk memimpin, jadi sekarang semua dibawah kendalinya.
"Tunggu sebentar Nak, anakku akan segera datang!"
"Baik Pak!"
"Sepertinya tidak perlu formal di luar jam kerja. Panggil saja aku Paman!" ucap pria paruh baya itu.
"Baiklah Paman." Keramahan pria itu membuat Azel nyaman.
Tiba-tiba datang seorang pria tampan dengan mengenakan pakaian kemeja hitam, sedang berjalan menghampiri dengan membawa laptop di tangannya.
"Selamat malam, Ayah dan Nona?"
"Namanya Azel!" sahut pria tua itu menjawab.
__ADS_1
Terlihat Azel tercengang, melihat pria itu Azel merasa terkejut. 'Astaga wajah itu?' batinnya.
Bersambung ....