
Tanpa mengulur-ulur waktu lagi Agha segera menuju ke sekolah, setelah anak angkatnya itu memberitahu di mana keberadaannya.
Pikiran dan hati Agha saat ini tengah di balut dengan rasa cemas. Pekerjaan yang terbengkalai ia biarkan begitu saja, dan ya Gafin lah orang pertama yang menangani itu.
Selama perjalanan, tangan pria itu seolah gemetar bahkan tak mampu menyetir karena rasa kekhawatirannya. Hingga berselang beberapa saat, ia telah tiba di sekolah.
Sebelum mencari Abel, kebetulan sekali pria itu menjumpai salah satu seorang guru Abel. Terlihat guru perempuan itu celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang juga.
“Hmm permisi. Apa ibu, guru mapel Abel hari ini?”
“Iya Pak, saya sedang mencari anak itu. Dia izin sudah hampir satu jam, bahkan waktu mengajar saya akan habis beberapa menit lagi, tapi anak itu belum juga muncul,” ujar guru itu.
“Sebelumnya dia izin ke mana dan karena alasan apa?”
“Dia izin karena sakit perut, dan ingin ke toilet Pak!”
Seketika Agha langsung tertuju ke tempat itu. “Ya sudah, biar saya menyusulnya Buk.”
“Mari Pak, saya juga ingin ke sana untuk mengecek keadaannya.”
Setelah sampai di dalam toilet, ternyata tempat ini begitu sunyi. Sudah berkali-kali Agha menghubungi Abel, tapi sepertinya nomor itu sedang tidak aktif.
“SAYANG KAMU DI MANA?!” Akhirnya pria itu memilih untuk berteriak, ia berpikir Abel sedang berada di salah satu deretan pintu toilet ruangan ini.
“Abel kamu di mana, ini ibu ....”
“Abel ini Ayah!”
“AYAH!” Tiba-tiba sebuah kepala keluar dari salah satu pintu itu, tapi hanya kepala saja sementara tubuh gadis itu masih disembunyikan di balik pintu. Benar saja anaknya itu berada di salah satu dalam toilet ini.
“Abel ....”
Agha segara menghampiri gadisnya itu, akan tetapi buru-buru dicegah oleh Abel, “Ayah jangan mendekati!”
“Kenapa Sayang?”
“Tidak boleh, Abel malu ....”
Kening pria itu berkerut, sebenarnya ada apa dengan anak gadis angkatnya ini. Kemudian, seorang guru muda yang bisa diprediksi usianya masih 23an, datang menghampiri Abel.
“Biar ibu yang masuk yah?” Dengan ragu-ragu Abel pun mengangguk.
“Ayah tunggu di sana, jangan ikut masuk!” peringatnya, lalu dengan patuh pun Agha mengiyakan saja.
Beberapa menit Agha mulai risau. Namun, karena sang guru yang masuk tadi telah keluar, Agha menepis perasaannya.
Terbesit pertanyaan lagi, sebab guru muda itu keluar dengan senyuman manisnya. Sebenarnya ada apa dengan Abel? Agha rasanya ingin mendobrak pintu toilet agar ia tahu apa yang terjadi pada anaknya itu.
“Tenang saja Pak. Abel sedang mengalami masa pubertas. Ini pengalaman pertamanya, di awal menstruasi. Jadi wajar dia kaget,” jelasnya.
Seketika Agha ikut tersenyum. Helaan nafas pun keluar, dibarengi dengan tepukan keningnya. “Astaga ... benar-benar buat cemas anak itu!” resahnya.
“Hmm, kalau boleh tahu Bapak ini siapanya Abel?”
“Wahh apa Anda tidak mendengar saya membahasankan diri dengan sebutan apa? Saya ini ayahnya Abel,” balas Agha.
“Oalah ayahnya toh, yang sering saya dengar Abel mempunyai orangtua yang sedikit0 private identitasnya. Bahkan maaf sebelumnya, Abel diisukan tidak memiliki ayah,” balas guru muda itu sedikit berbicara pelan diakhir kalimatnya.
Agha berlagak seperti orang yang terkekeh, terkesan sangat santai menanggapi ucapan guru itu. “Isu yang tidak masuk logika itu terdengar aneh Buk, bahkan sangat konyol jika dipercaya. Bagaimana seorang anak lahir hanya dari reproduksi wanita saja?”
“Benar Pak, tapi kenapa biodata Abel tidak tercatat nama walinya? Lalu, sempat saya dengar akhir-akhir ini ayahnya Abel baru muncul, dan ternyata itu Bapak sendiri.”
“Saya dengan ibunya Abel sudah lama bercerai, mungkin karena ada perdebatan hak asuh saya dan mantan istri saya, jadi saat mengisi formulir pendaftaran dia tidak mencantumkan nama saya. Entahlah, saya juga belum lama tiba di kota ini sebab sibuk di luar negeri, jadi baru sempat memantau perkembangan anak saya.”
‘Pantas saja. Aku juga tidak heran, karena wajah mereka sangat serupa,' batin guru itu.
“Untuk kenaikan kelas nanti, jika ada pendaftaran ulang saya akan merekap kembali agar lengkap data-data anak saya,” lanjut Agha.
“Astaga lagi-lagi saya minta maaf ya Pak. Mungkin terlalu banyak isu yang beredar di sekolah ini, jadi mudah percaya dengan berita seperti itu. Baiklah, waktu jam pelajaran saya sepertinya sudah habis maaf saya permisi dulu, jika Abel ingin izin tidak mengikuti pelajaran, biar nanti saya yang mengizinkan kepada guru mapel selanjutnya.”
“Ya, terima kasih Buk, maaf sudah membuang waktunya.”
“Ah tidak apa-apa Pak. Baiklah saya permisi ....” Guru itu segera meninggalkan.
Agha pun mencoba untuk mendekati pintu, lalu berbicara, “Abel ayah masuk ya Sayang ....”
Tanpa menunggu jawaban, Agha langsung mendorong pintu itu walau sempat tertahan oleh tangan Abel.
“Ayah jangan mendekat!”
“Tidak perlu malu, kemarilah ... anak ayah 'kan sudah besar sekarang,” rayu Agha. Abel terenyuh, ia telah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah yang selalu memberi effort kepadanya.
Abel mulai mendekat, ia sedikit canggung karena tangannya yang terus menutupi bagian belakang rok.
__ADS_1
“Biar ayah lihat!”
Apa ini? Tidak mungkin, mau bagaimana pun pandangan Abel kepada Agha tetaplah orang lain. Namun, nalurinya berkata beda. Tidak, dia adalah sosok ayah yang sesungguhnya. Jika nalurinya bisa ia akan mengatakan itu. Jiwanya merasakan desiran darah yang mengalir seolah mengikat batin.
“Hmm, tapi ini ....”
Tanpa persetujuan lagi, Agha segera menarik tangan Abel. Dia mengamati bercak darah yang berwarna kecoklatan dari rok Abel. “Lumayan banyak. Nanti, kita mampir ke minimarket dulu!” Pria itu tidak merasa jijik ataupun terbesit perasaan risih sama sekali.
“Pakai ini dulu.” Abel hanya bisa mengamati pria itu mengikat pinggangnya dengan jas yang baru saja ia buka. Ternyata itu caranya agar menutupi noda di rok biru SMP-Nya.
Abel tak berani menatap wajah Agha. Sementara pria itu dapat melihat tingkah dan rasa malu Abel. Lihatlah, pipi gadis itu sangat merona dipandangnya.
“Tidak perlu malu, ini pertanda Abel sudah remaja dan ingin beranjak dewasa. Berarti anak ayah sudah punya rasa suka dengan lain jenis. Nanti cerita sama ayah, siapa laki-laki yang kau sukai,” bisik Agha sedikit menggoda dengan menarik pipi bulat Abel.
Lagi-lagi Abel hanya menunduk merasakan panas di pipinya. Agha pun semakin gemas, hingga tak mau berlarut lama, ia segera membawa anak gadis itu untuk menjauh dari sekolah.
***
Agha mulai menepikan mobilnya di parkiran sebuah minimarket. Ia melihat ke arah samping, sosok gadis cantik yang wajahnya sangat ia gadang-gadang memang mirip dengan dirinya.
Bak pinang dibelah dua, itu adalah istilah dirinya dengan Abel. Serupa tapi mungkin tak sama. Sulit dimengerti, bagaikan memecahkan sebuah kata, ‘kita sama tapi kita beda’. Jika di dalam pelajaran biologi, mereka seperti spesies harimau dan kucing.
Kini ia mulai memasuki minimarket. Pria itu mencari susunan barang yang anaknya butuhkan. Sempat dilanda kebingungan, karena ia tidak tahu merek apa yang bagus, sementara pariannya sangat banyak.
Sampai di mana ia menjumpai dua orang gadis. Sepertinya mereka seorang mahasiswa, dan Agha berniat ingin bertanya kepada mereka, “Hmm permisi apa aku boleh tanya? Pembalut wanita yang paling bagus itu apa?”
Seketika dua orang wanita itu seakan tergelak. Pasalnya, pria itu bertanya tanpa berat sedikit pun. Namun, terlihat juga kekaguman dari mereka.
“Buat istri atau pacar nih Om?” goda salah satu di antara mereka.
“Anak!” jawab Agha singkat. Dia merasa jengah dengan nada bicara gadis itu.
“Memang biasanya anak Om pakai yang merek apa? Mau sebagus apapun mereknya, barang wanita ini tergantung kenyamanan,” jawab gadis yang berbeda. Tampak serius, dan dia sedikit formal.
“Ini pengalaman pertama anak saya menstruasi, jadi menurut saya yang terbagus itu utama. Agar bisa menjaga kesehatan tubuhnya juga,” balas Agha.
“Yang itu Om, coba dibiasain buat anaknya. Paling bagus tuh!” kata gadis yang menggoda tadi, dan itu disetujui oleh teman satunya.
“Baiklah terima kasih.”
Agha segera mengambil banyak barang wanita itu, entah berapa jumlah bal yang ia beli. Jelas, sepertinya itu bisa buat stok satu tahun.
Setelah Agha meninggalkan posisi tempat pencarian kebutuhan wanita. Kedua gadis itu masih menatap kagum, bahkan punggung kekar Agha yang berjalan gagah masih mereka pandangi.
‘Iya, anaknya aja dijaga sampai begitu gimana istrinya? Lebih salut lagi, dia gak gengsi sama sekali. Beda sama laki-laki lain, yang selalu jaga image apalah itu. Padahal, beli kebutuhan wanita gak buat harga diri turun.’
‘Pria bule memang gitu, dia selalu mengutamakan keluarganya. Beruntung si, perempuan lokal yang dapat bule kayak dia.’
‘Dia blasteran, tapi mukanya albino banget.’
‘Ihhh dia kelihatan bule Rusia Amerika gitu. Kalau albino terlalu bule. Matamu bermasalah.’
‘Kacamatamu tuh yang harus dibenerin!’
‘Aku cuma mines, bukan buta. Matamu tuh, bola tengahnya hitam jadi gelap!’
‘Terus kau apa? Merah? Aneh!’
Ya, pembahasan yang berkelanjutan perdebatan mereka itu pun terputus. Karena, bagi kita pembaca tidak terlalu penting. Iya tidak?
***
Agha menuju kasir, seorang wanita berseragam merah tersenyum melihat banyaknya barang yang dibeli oleh pria itu.
‘Bocor banget istrinya, sampe sebanyak itu,' batin kasir wanita satunya.
“Hmm, obat pereda nyeri menstruasi itu apa?” Pertanyaan itu terlontar mulus tanpa ada perasaan canggung dari pria ini.
“Di sana Mas, khusus minuman herbal!” tunjuk sang kasir itu.
Setelah Agha beranjak pergi untuk mengambil beberapa produk lagi, dua wanita kasir itu tersenyum terkekeh.
“Aduh, aduh lagian sih suami disuruh beli barang istri,” ucapnya.
“Tapi keren lho, dia gak malu.”
“Orang ganteng mah, di mana aja juga bawaannya tenang, percaya diri!”
Agha kembali dengan beberapa minuman herbal di tangannya. Cukup banyak, bahkan lagi-lagi bisa menjadi stok.
Setelah menyerahkan semua barang belanjaan, Agha segera kembali ke mobil dan ternyata gadisnya itu sedang melamun.
“Sudah bangun?”
__ADS_1
“Ayah?”
“Keperluanmu sudah ayah belikan, nanti kita cek ke dokter untuk minta penjelasan tentang awal menstruasi ini,” jelas Agha.
Lagi-lagi pipi Abel merasa panas. Sejujurnya ia sangatlah malu, tapi Agha tampak sekali biasa saja. ‘Astaga ayah angkatku ini terlalu lebay,' batin Abel.
“Gak perlu Ayah, nanti juga dijelasin sama mami.”
“Tidak! Aku tahu mamimu selalu sibuk, mana mungkin dia ada waktu untuk memperhatikanmu!” Tiba-tiba kata itu lolos saja dari lisan Agha. Tanpa disadari, Abel tengah menatapnya dengan penuh nanar.
“Kenapa?” Agha pun bertanya dengan heran.
“Ayah begitu hafal dengan aktivitas mami ya?”
Seketika Agha menjadi salah tingkah. Pada kenyataannya, hal itu adalah fakta kecil dari banyaknya pengetahuan lain tentang maminya yang sudah diketahuinya.
“Ayah sebelumnya punya scandal ya dengan mami?"
Deg.
Tatapan mata Abel benar-benar sangat mengisyaratkan bahwa dirinya sedang mengintrogasi. “Mmm, kau sendiri yang bilang waktu itu jika mamimu selalu sibuk ‘kan?”
Abel tertawa kecil. “Jujur Ayah, mami sendiri yang cerita sendiri jika kalian dulunya pernah bekerjasama. Aku mengira dibalik kerjasama itu, ada suatu scandal khusus.”
Agha membalas ucapan itu dengan tawa yang tak kalah renyah. Namun siapa sangka dibalik tawa itu ada waktu yang ia sempatkan untuk berpikir, bagaimana alasan dia untuk mengelak. “Abel ... gadis seumur SMP seperti kamu, tahu apa sih tentang scandal hmm?”
“Jangan anggap aku anak kecil lagi dong ... ‘kan Abel sudah ....” Abel menggantungkan ucapannya, ia tersadar akan sesuatu.
Senyum Agha pun terbit begitu terang, menandakan ia sedang menggoda anak angkatnya itu, “Sudah apa hmm? Sudah menangis karena datang masa pubertasnya ya?”
“Ayah ....”
“Yasudah lupakan saja semuanya. Sekarang, kau ingin kembali ke rumah atau mau kemana dulu?”
“Pulang ke rumah Abel takut dimarahi mami, kalau ikut Ayah boleh tidak?”
“Ayahmu ini akan sangat senang jika diuntil oleh anak gadisnya, tapi sebaiknya kau itu harus pulang terlebih dahulu karena mamimu yang cantik pasti butuh kabar!”
“Iihh diputuskan sendiri, Kenapa harus membuat pertanyaan pilihan!” Gadis itu langsung melipat wajahnya, cemberut.
Tanpa aba-aba, mengindari pertentangan lagi, akhirnya Agha menancap gasnya mobilnya menuju alamat yang sangat sudah ia hafal. Sementara tampak jelas wajah putrinya itu sedang merengut karena keinginannya hanya menjadi abu.
***
Sampai sudah di pekarangan rumah komplek yang cukup besar. Agha menaikkan bibirnya membentuk senyuman, tetapi Abel hanya terdiam sedang memainkan kukunya.
“Putri ayah, ayolah ....” Pria itu tahu jika Abel masih ingin bersamanya.
“Tapi bagaimana Abel bilang sama mami?”
“Dengan mami sendiri pun malu?”
“Tidak! Bukan itu, tapi Abel takut mami marah Abel dihantar sama Ayah ....” elak Abel.
Agha menulikan pendengarannya, ia bergegas keluar dan segara membawa gadis itu.
“Ayah!” geram Abel.
Bukan pasal malu, tapi gadis itu tak nyaman dalam kondisinya. Ia takut noda kotornya terkena ayah angkatnya ini.
“Pencet tombolnya!” titah Agha.
Abel menggeleng kuat. “Gak mau, nanti kalau mami marah bagaimana?”
“Ada Ayah, dia tidak akan bisa marah!”
Ting nong ....
Belum terbuka, sampai Abel memencet untuk yang ketiga kalinya. Ternyata masih tak ada sahutan dari dalam.
Seketika ia baru teringat, jika sang mami sudah mengatakan bahwa ia akan ke rumah sang eyang.
“Mami tidak ad--”
“Siapa?” Tiba-tiba seseorang menyahut.
Sontak Agha membalikkan badannya, dengan masih menggendong Abel. Seketika seseorang itu terkejut, tetapi masih bisa terealisasikan. Namun, wajah Abel benar-benar terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.
“Abel ....”
Ya, suara itu adalah melodi indah yang sangat dirindukan oleh Agha. Iris mata keduanya kini saling bertemu. Rasa sakit dan pedih seketika menjalar menggoroti tubuh Agha.
“Maaf, anakmu izin pulang karena ....” Agha menatap Abel dengan tanda tanya, sementara Abel masih menggigit bibir bawahnya menahan sesuatu di hatinya. Ya, itu hanya perasaan takut.
__ADS_1
“Dia sudah mengalami masa pubertasnya. Menstruasi di hari pertama,” sambungnya.