
Shireen tercengang mendengar ucapan seseorang itu. Matanya membulat, mulutnya terbuka. Saat ini yang ia lihat tampilan senyum manis seseorang yang tengah merentangkan kedua tangannya.
Dengan mata yang berair, Shireen menyatukan tubuhnya dengan lipatan tangan pria itu. Shireen menyembunyikan wajahnya di dada Samuel. Seraya menumpahkan semua air mata yang selama ini tertahan.
"Om maafin Shireen, hikksss!"
"No, jangan minta maaf denganku. Aku yang seharusnya minta maaf denganmu," balas Samuel.
"Shireen udah maafin, Om. Udah sebelum Om minta maaf yang kesekian kalinya, hikkss!"
Samuel mengelus punggung gadis itu dengan tangan yang masih banyak lilitan selang inpus.
"Om Shireen mohon, jangan tidur lama lagi. Shireen gak mau lihat Om terus-terusan berbaring. Shireen minta maaf, karena kesalahan Shireen Om jadi kayak gini."
Samuel membingkai wajah Shireen, ia menatapnya dengan penuh arti. "Jangan menyalahkan dirimu, aku tidak suka kau terus meminta maaf padaku. Yang lebih pantas meminta maaf itu, aku!"
Shireen menitikkan banyak sekali air mata, Samuel pun berkali-kali menghapus jejaknya. "Shireen udah maafin Om," balasnya.
"Jika aku sudah mendapatkan maaf, berarti aku hanya berjuang untuk mendapatkan cintamu saja," ucap Samuel lembut.
"Gak usah berjuang lagi. Shireen udah cinta sama Om, Shireen sadar kalo selama dua tahun ini Shireen disiksa karena cinta dari Om, hanya saja Shireen tutupi dengan rasa keegoisan Shireen," ucap Shireen lirih.
Samuel menariknya ke dalam dekapan, menyembunyikan wajah manis Shireen di dadanya. "Mulai saat ini kau milikku!"
"Shireen mau kok jadi ibu buat anak Om. Mama sesungguhnya, buat Azel dan Azriel!"
"Baiklah, besok kita langsung menikah. Kita buat lagi bayi kembar Lima," celetuk Samuel.
Shireen terkejut mendengarnya. Gadis itu refleks menegakkan badannya, lalu menatap wajah Samuel yang tersenyum mesum, dengan tatapan sinis tapi membunuh.
"Kenapa gak sekalian 12 aja, biar kayak keluarga gledek!" ketus Shireen.
"Boleh, asal kau kuat saja membuatnya denganku," ucap Samuel lagi-lagi mengarah ke pikiran kotor. Shireen hanya berdecak kesal. Namun, sesaat kemudian ia kembali merebahkan kepalanya di atas dada Samuel dengan manja.
"Hmm, kapan Om sadar? Kok langsung bisa ngomong?"
"Dari semalam."
Shireen mendongak terkejut, ia menatap Samuel dengan mata membola. "Berarti ...."
"Ya, aku juga mendengar kata-kata konyolmu tadi. Jika kau tahu, aku mati-matian menahan untuk tidak tertawa," balas Samuel masih dengan ekspresi santainya.
"What?! Issh, kok Lia Lisa jahat banget sih gak tau dari awal 'kan Shireen jadi malu ...." Pipi Shireen pun bersemu, Samuel dapat melihatnya.
__ADS_1
"Aku yang menyuruh mereka."
"Hisshh, Om wicked!"
Samuel terkekeh mendengar itu, ia merasa lucu dengan Shireen yang berucap seperti anaknya jika marah dan permintaannya tak dituruti. Siapa lagi, jika bukan Azriel.
"Kenapa kau jadi ikut-ikutan seperti anakku? Hmm, aku ingin segera pulang. Aku ingin menemui mereka."
***
Dua hari kemudian, Samuel sudah diperbolehkan untuk pulang. Kini mereka tengah dalam perjalanan.
Rasanya Samuel sudah tidak sabar ingin menjumpai anaknya, mencium dan bercanda dengan mereka lagi. Entahlah rasanya begitu merindukan, padahal Samuel merasa hidupnya tidak terjadi apa-apa.
Sepanjang perjalanan, kedua tangan pasangan yang berbeda jenis kelamin ini, terlihat menggenggam satu sama lain. Seakan ada lem yang menempel erat. Ya, walaupun mereka belum mengikat cinta. Namun, mereka terlihat seperti sepasang remaja yang sedang kasmaran.
"I love you."
Mungkin jika Tansoon mendengar ucapan itu dari mulut Samuel, ia akan tertawa terbahak-bahak. Ia pasti dihujat dengan rasa jijiknya.
"Love you too. Hmm, sejak kapan Om jadi bucin gini?" tanya Shireen. Pasalnya bukan Shireen yang sedang kasmaran, tetapi hanya Samuel. Pria itu tak mau jauh dari genggamannya, bahkan saat ini pria itu tengah tidur di pangkuan gadisnya. Ingat, sudah menjadi gadisnya. Jangan dihujat!
"Sejak aku dengar bahwa kau juga mencintaiku," balas pria itu.
Sesampainya, Samuel merasa amat bahagia melihat kedua anaknya yang heboh menyambut kedatangannya.
"Daddy ...."
Samuel sudah berjongkok untuk memeluk mereka, di sanalah Samuel mencium mereka dengan bertubi-tubi menyalurkan rasa rindu yang menggebu.
"Anak Daddy ...."
Tiba-tiba mereka menangis. Entah mungkin karena terharu, atau rasa rindu akan ayah mereka.
"Hikkss, kenapa Daddy lama pelginya? Azel gak mau ditinggal Daddy lagi."
"Daddy, Azil gak mau Daddy kelja kelual negeli lagi. Don't not like'. I m so, miss hikkss!"
Samuel menatap kedua anaknya dengan senyum bahagia. 'Apakah aku begitu lama berdiam di rumah sakit? Sampai mereka benar-benar merasa kutinggal jauh,' batinnya.
"Sekarang Daddy sudah pulang, apa yang kalian sedihkan? Oh son, daddy pun merindukan kalian. Oke, nanti setelah ini kita belanja banyak mainan yah!"
Seketika wajah sedih mereka tergantikan dengan senyum gembira. Shireen pun ikut bahagia melihat mereka sudah kembali merasakan kasih sayang Daddy-nya.
__ADS_1
"Syukurlah Tuan, saya senang dengan keadaan Tuan sekarang. Lihatlah, mereka begitu bahagia melihat Tuan kembali," ucap Inah.
"Ya, saya merasa bahagia sekarang. Hmmm siapa yang menjaga mereka, selama aku tidak ada?" balas Samuel.
"Nona Shireen. Dia yang selalu sigap menangani Nona dan Tuan muda kembar. Selama Tuan koma, peran Nona Shireen benar-benar menjadi sosok ibu buat mereka, bahkan Nona tak pernah absen menjaga Tuan seharian," ucap Inah seolah memuji seseorang dengan berhadapan langsung.
Shireen merasa malu saat ini, terlebih saat tatapan mata Samuel mengarah padanya.
"Saya pun salut dengan Nona Shireen. Dia rela meninggalkan pekerjaan dan kuliahnya, hanya untuk merawat mereka dan juga Tuan," ujar Inah lagi-lagi membuat Shireen merasa malu.
"Bibik terlalu berlebihan," pungkas Shireen.
"Thanks. Your the best Mom," ucap Samuel dengan mengecup pipi Shireen.
Lagi-lagi Shireen bersemu, ia benar-benar seperti dibakar pipinya. Lihatlah, akibat perbuatan pria itu saat ini Inah tengah menahan senyumnya.
"Itu udah jadi keharusan buat aku Om," balas Shireen.
'Aku sangat senang melihat mereka seperti ini. Semoga keluarga kecil terbentuk kembali, dan tak ada yang datang untuk menggangu mereka lagi,' batin Inah.
***
Hari sudah kembali normal. Samuel pun kembali dengan kegiatan kesehariannya. Ngantor dan mengurus anak, itu kegiatan wajib baginya.
Ia menantikan sekali ada sosok istri yang melayani dalam kebutuhannya. Ia juga menginginkan pernikahan kembali dengan seseorang yang dicintainya.
Namun, saat Shireen berkata, 'Maaf ya Om, Shireen masih belum siap untuk menikah. Tapi, Shireen masih tetap bisa menjadi peran ibu buat anak Om.'
Mengingat ucapan itu, Samuel hanya bisa menghembuskan napasnya.
"Pulang kuliah ke kantorku, bawakan makanan masakanmu!"
Di sebrang sana, Shireen menjawab melalui telepon yang terhubung, 'Tapi aku malu datang ke sana om, nanti disangka anak gembel masuk kantor.'
"Aku sudah bilang resepsionis untuk mempersilahkanmu. Jika dalam waktu beberapa menit kau tak datang, aku yang akan menjemputmu dan membawamu ke hotel!"
'Oke, oke! Dasar pedofil!"
Samuel mengangkat kakinya di atas meja, menyandarkan kepala di kursi kebesarannya. "Shireen ... Shireen melihat kau berjalan saja membuatku bernafsu. Tubuhmu yang mungil membuatku candu untuk selalu memelukmu."
Bersambung ....
Demi para mamakku yang setia aku tak tega mengghosting kalian, jadi Ay usahakan up hari ini walaupun sedikit. Yang punya anak masih sekolah SMA pasti tau minggu-minggu ini tengah PTS. Ya, Ay sedang sibuk di sekolah jadi mohon maaf up-nya tidak stabil.
__ADS_1
Salam cinta dari Ay. Lov you all ...