
Agha masih merasakan hal yang aneh, ia seperti sedang berhalusinasi dengan imajinasi di pikirannya sebab melihat jalan raya itu.
“Kau lelah? Biar kita istirahat dulu,” usul Azel.
“Tidak, aku baik-baik saja. Kita lanjut!”
“Tapi, Agha ....”
“Azel sudahlah, aku tidak apa-apa!”
Akhirnya Gafin mengusulkan untuk lanjut mencari dari arah lain, sebab firasatnya selalu tertuju dengan arah jalan sana. “Coba kita kesana!”
Gafin memimpin paling depan, Agha dan Azel pun mengikuti. Hingga beberapa jalan telah disusuri, tiba-tiba Gafin berhenti secara mendadak.
“Ada apa Gaf?”
“Tuan, di sana ada jurang!”
Ya jalanan yang mereka lihat tadi adalah sebuah tanjakan, yang di mana akan ada dataran tinggi jika melintasi lebih jauh lagi. Jurang yang kini mereka lihat, adalah daerah yang berlawanan arah dari sebelah gunung di sana.
Suara-suara aneh mulai terdengar, suasana tidak mengenakan mulai mengusik bulu kuduk, walaupun siang di hutan pegunungan yang sunyi ini sangat menampakkan aura keseramannya.
Di bawah jurang yang curam sana, Gafin menatap ngeri. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu.
“Kain sobekan berwarna pink di sana, bukankah seperti jaket yang dikenakan nona?”
“Kau melihat apa? Kain pink apa?” tanya Agha yang ikut mencari-cari keberadaan benda yang ditemukan oleh asistennya itu.
“Di sana Tuan, lihatlah!”
Azel yang sudah melihatnya tampak terkejut, ia sangat hafal jika kain merah muda itu sama persis seperti jaket yang dikenakan oleh anaknya. “Astaga, Agha itu sobekan jaket anakku!”
Seketika Gafin pun langsung bisa menyimpulkan, “Itu berarti kain sobekannya memberi kita arah bahwa jejak nona Abel dari sana. Tuan saya yakin di bawah sana ada keberadaan nona!”
Tanpa ragu lagi pria gagah dan pemberani itu langsung terjun. Turun secara perlahan, walau banyak sekali penghalang yang membuatnya sulit untuk menyusuri jalan.
“Agha aku ikut!”
“Tidak, di sana bahaya. Tunggulah di sini!”
Azel menggeleng kuat, ia menolak perintah dari Agha. “Tidak. Di sini akan lebih berbahaya jika aku sendirian!”
“Baiklah cepat naik ke punggungku!” Agha berjongkok, lalu mencodongkan punggung belakangnya.
“Tapi ....”
“Mau ikut atau kau tunggu di sini?”
Sontak Azel terburu-buru menaiki punggung kekar pria itu, dengan gerakan cepat Agha pun turun dengan menggendongnya.
“Agha hati-hatilah, jika kau merasa keberatan katakan saja. Aku bisa turun!” bisik Azel di sela perjuangan Agha yang berusaha untuk turun dari jurang yang begitu dalam ini.
“Aku akan lebih berat jika melihatmu jalan sendiri melewati jurang ini!”
__ADS_1
Hati Azel menghangat, ia merasa terenyuh dengan perjuangan pria ini. Tampak begitu peduli dengan keselamatannya. Namun ia tahu ini semua ia lakukan demi Abel juga.
Sampai mereka tepat berada di dataran paling rendah, Azel segera turun dari punggung Agha. Beralih menggenggam tangan Azel, kemudian mereka pun terus menyusuri jalan.
Gafin sudah menemukan tiga potongan kain yang sama, ia terus berjalan mengikuti jejak kain-kain yang tersangkut di berbagai ranting itu.
Agha terus mengikuti jalan yang Gafin lewati, tetapi lagi-lagi ia merasakan hal yang aneh. ‘Lagi-lagi aku merasa aneh dengan hutan ini. Astaga ini benar-benar persis yang ada di mimpiku,' batinnya.
“Agha kau benar tidak apa-apa? Kau terlihat pucat,” ucap Azel saat melihat kejanggalan dari pria itu.
Agha justru mengusap kepala Azel, lalu ia mengecup kening perempuan itu dalam kondisi benar-benar sadar. Azel membeku, hatinya berdesir.
“Aku baik. Kenapa? Khawatir?” Lihatlah, dalam situasi seperti ini pun pria itu sempat-sempatnya menggoda.
“Ah tidak ....” elak Azel. Tanpa mereka sadari Gafin sudah hilang dari pandangan mereka. Namun tiba-tiba ia mendengar suara seseorang.
“Tuan kemarilah ...!!” Ya, itu ternyata suara teriakan Gafin.
Azel dan Agha berlarian menghampiri. Sepertinya ada yang ingin ditunjukkan oleh pria itu.
“Tuan batu besar itu ....”
“Ada kaki seseorang!”
Ya, mereka sama-sama melihat sepasang kaki dengan balutan sepatu kets. Namun itu hanya kaki, badan seseorang itu tampak tertutup batu besar yang menghalangi.
“Mari kita hampiri!”
“ABEL, ASTAGA ANAKKU HIKKSS ....”
Azel sudah terduduk lemas melihat kondisi anaknya, ia menjerit keras menyebut nama anaknya. Seakan tak percaya apa yang dilihatnya.
“Gafin cepat kabari tim SAR dan polisi!”
“Baik Tuan!”
Agha menghampiri sosok gadis yang tak berdaya itu, ia menggendongnya. Namun, tiba-tiba pria itu lagi-lagi limbung tak menyeimbangi beban tubuhnya. Azel yang menyadari itu segera membantu, masih dengan berlinang air mata.
‘Astaga aku ini kenapa?’ Dalam hati pria itu terus terheran dengan keadaannya sendiri.
Setelah mengabari, Gafin menghampiri. Ia tahu jika tuannya itu sedang tidak baik-baik saja.
“Nona Abel sepertinya masih bisa diselamatkan, darahnya terlihat masih segar, kemungkinan semalam tadi nona terjerembab di jurang ini sampai membuatnya terluka,” ujar Gafin.
Kemudian datanglah para polisi dan tim SAR saling berbondong-bondong menghampiri.
“Menjauhlah Nona dan Tuan. Kita akan mengevaluasi korban!” Intrupsi dari polisi, seketika membuat mereka membiarkan Abel.
Sementara Azel masih memeluk tubuh anaknya, seolah ia sendiri yang ingin mengurusnya.
“Azel biarkan mereka yang menangani, sebaiknya kita segera pergi dari sini!”
Akhirnya Azel mau untuk beranjak, tetapi lagi-lagi Agha merasa pusing saat ingin berdiri. Ia pun berpegangan kuat dengan batu besar itu.
__ADS_1
“Arghhhh ....”
Pria itu memegangi kepalanya, seketika pandangannya berkunang-kunang tetapi tak membuatnya tumbang. Gafin yang mempunyai firasat kuat, sangat hafal jika ada yang tidak baik dari tuannya itu.
“Tuan ada apa?”
“Gafin kepalaku sangat pusing. Sebenarnya ada apa denganku?”
Tatapan Agha langsung tertuju dengan batu besar itu. Sekelebat bayangan-bayangan aneh lewat dalam ingatannya, seolah membentuk memori.
“Batu ini,” gumam Agha tanpa sadar.
“Apa Tuan mengingat sesuatu?” tanya Gafin.
“Tidak. Sudahlah, ayo cepat kita pergi. Biarkan mereka bekerja!”
***
Abel dilarikan ke rumah sakit. Kini mereka sudah berada di sana, sedang menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.
“Sebaiknya kau hubungi orangtuamu. Jika mereka mendengar dari orang, aku takut menimbulkan kekecewaan nantinya. Di mana mereka sekarang?” ujar Agha dengan bertanya.
“Lebih baik seperti itu Nona, kabarilah sebelum mereka tahu dari orang lain,” timpal Gafin.
‘Ya, bisa saja ini peluang untukku menemui tuan Azriel dengan mudah,' batin Gafin.
“Mommy dan Daddyku sedang menghantar adik-adikku ke Amerika untuk kuliah kembali. Aku justru takut jika aku mengabari saat mereka masih di sana, itu pasti akan membuat cemas,” balas Azel.
Drrrttt ... drttt ....
Kebetulan sekali, Shireen sang mommy tiba-tiba menghubunginya melalui telepon seluler.
[Hallo Sayang, kau di mana? Mommy dan Daddy sudah tiba di rumah. Mommy lihat di rumahmu, kau tidak ada. Apa masih di kantor?]
“Hiksss ... Mommy aku sedang di rumah sakit.”
[Astaga. Ada apa Azel?]
“Datanglah Mommy, aku butuh Mommy!”
[Tunggu Mommy ya Sayang. Tenangkan dirimu dulu!]
Blup.
Sambungan terputus. Agha pun segera menarik perempuan yang sedang dilanda kehancuran itu untuk selalu berada di dalam peluknya.
“Tenanglah ....”
“Anakku Agha, aku takut terjadi sesuatu dengannya, hikkss ....”
“Susttt ... tidak boleh seperti itu. Kau harus tetap berdoa!”
Tiba-tiba sang dokter keluar dari ruang gawat darurat itu. “Bagaimana dengan anakku Dok?!”
__ADS_1