
Shireen menatap marah, tetapi ia juga bingung. Apa maksud dari perbedaan Mama dan Mami? Bukannya sama saja?
"Azel mau Mama aja. Mami, jauh gak mau lihat Azel!"
"Azil juga, Mami Wicked! Gak kayak Mama yang baik."
Shireen menatap Samuel. "Siapa yang dimaksud Mami?" tanya Shireen.
"Dia Leona. Lia dan Lisa selalu, memberitahu mereka bahwa Mami mereka akan pulang yaitu Leona yang masih di Paris. Namun, nyatanya tidak!Karena Leona tidak akan pernah mau melihat anaknya. Lagipula sekarang mereka tidak perlu Mami karena mereka sudah menemukan Mamanya," jelas Samuel.
Shireen memasang wajah datar. "Kenapa gak disusul ke luar negeri aja? Mau bagaimana pun mereka harus menemui ibu kandungnya," cetus Shireen.
"Sama saja aku menyerahkan anakku yang sudah kurawat, dengan orang jahat!" balas Samuel.
"Belum tentu sosok ibu mereka itu, jahat!"
"Apakah tidak mau memberikan ASI itu tidak jahat? Bagaikan membiarkan seorang anak yang kelaparan. Shireen, aku tidak butuh Leona untuk menjadikan ibu untuk mereka, yang sekarang aku butuhkan itu kau! Ya, aku membutuhkanmu untuk ibu sambung mereka," ucap Samuel dengan aura keseriusannya. Ia menggenggam lembut tangan gadis yang ditatapnya sendu itu.
Shireen mengambil tangannya dari genggaman pria itu. "Maaf, untuk mengobati rasa sakit hati aku aja Om masih belum bisa, apalagi untuk menjadikanku ibu sambung mereka. Shireen rasa itu ekspetasi yang terlalu tinggi," balas Shireen.
"Baiklah jika kau belum memaafkanku, tapi kau tak ada hak melarangku untuk berjuang mendapatkan maaf, bahkan cinta darimu," imbuh Samuel.
"Silahkan, jika mampu!"
"Kau meremehkanku? Aku pasti bisa, bahkan berjuang merenggut keperawananmu pun aku, pasti bisa!" celetuk Samuel langsung mendapatkan tatapan marah dari Shireen.
'Apa sebegitu sulitnya mendapatkan cinta seorang gadis yang benar-benar dicintai? Mungkin dengan satu kali perintah saja aku bisa mendapatkan seribu gadis, tapi aku tetap menginginkan gadis ini. Dia menarik dan selalu membuatku penasaran,' ucap hatinya.
***
Semua karyawan di kumpulkan untuk menghadap Samuel, termasuk Shireen juga.
"Oke baiklah. Di sini aku akan umumkan, bahwa pemilik caffe ini sekarang jatuh kepada Tuan Samuel. Beliau masih duda, sudah mempunya dua anak dan masih membucin," ujar Tansoon yang ternyata di balik keseriusan ucapannya, hanya bercandaan.
"Kenapa kau jadi buka statusku!" sarkas Samuel, Tansoon pun hanya menyengir kuda.
"Ya, salam kenal, aku Samuel. Caffe ini akan kudatangi setiap aku ingin kulihat bagaimana perkembangannya. Mohon maaf untuk manager di sini akan saya carikan orang khusus," ucap Samuel.
"Sheila, kau karyawan yang masih akan tetap memimpin. Namun, karena akan adanya seseorang yang bertanggungjawab menangani caffe ini, jadi kau hanya memimpin untuk para karyawan baru saja," ucap Tansoon.
"Mohon maaf, karena mau bagaimana pun caffe ini akan kita kembangkan. Jadi, pasti kita membutuhkan seseorang yang benar-benar jadi pemimpinnya," ucap Samuel.
'Jadi gue turun jabatan nih?' batin Sheila.
__ADS_1
"Baik Pak, tidak masalah! Itu lebih bagus," balas Sheila.
'Nih pak boss butuh goyangan gue kayaknya. Oke Sheila, targetkan untuk menggodanya,' batinnya.
"Oke, untuk masalah gaji kalian. Mulai sekarang saya akan taikkan," ucap Samuel. Seketika semua senyum karyawan terbentuk.
"Wahhh, terima kasih Pak!" serempak mereka, bahagia. Tidak termasuk dengan Shireen. Gadis itu tetap pada ekspresinya yang datar bagaikan aspal kering.
"Ya, karena aku tidak pelit seperti mantan boss kalian ini," cetus Samuel. Ia pun mendapat tatapan jengah dari Tansoon.
"Sialan!"
"Daddy ayo pulang, Azel mengantuk ...." Tiba-tiba sosok gadis kecil mengeluh ngantuk, dengan mengusap-usap matanya.
"Iya Sayang sebentar! Ya sudah, untuk hari ini tutup lebih awal, pengunjung sudah sepi. Kalian bisa kembali ke rumah masing-masing," ujar Samuel.
"Baik Pak, terima kasih sekali lagi!" ucap mereka. Kemudian, mereka kembali untuk berberes.
"Kecuali, Shireena Fatrcia!"
Padahal saat itu Shireen sudah berbalik badan, dan ingin melangkah. Namun ia langsung mengurungkannya, dan membalikkan badannya kembali.
"Ada apa ya Pak?" ucap Shireen bertanya.
"Mama ikut pulang ya, pisss ...," mohon Azel.
"Ayo Mama, aku mohon yaa. Azil pingin bobo sama Mama," sahut Azriel.
"Ayolah, permintaan mereka tidak terlalu berat. Anakku hanya ingin bermain lama denganmu," bujuk Samuel.
Shireen berpikir sejenak. Tak bisa dipungkiri bahwa hatinya juga menginginkan banyak waktu dengan bermain-main bersama dua anak kembar ini. Rasanya memeluk saat mereka tertidur, itu adalah hal yang sangat dirindukan oleh Shireen.
"Oke Mama ikut kalian pulang yah, tapi ingat, nanti di rumah kalian gak boleh bertengkar jika ada Mama!" ucap Shireen. Ya, memang mereka seringkali bertengkar di saat merebutkan kasih sayang darinya.
"Oke Mama!" Akhirnya kebahagiaan mereka pun tumbuh. Imajinasi mereka seketika muncul, membayangkan bagaimana serunya bersama Shireen dan menghabiskan waktu banyak dengannya.
"Terima kasih," ucap Samuel.
***
Sampai sudah di mansion. Tempat kediaman Samuel. Rumah yang dulu pernah menjadi singgahan Shireen.
'Huh, rasanya rindu banget sama rumah ini.'
__ADS_1
"Ayo Mama, masuk!" tarik Azriel menuntunnya tidak sabaran. Sedangkan, Azel sudah tertidur pulas dalam gendongan Samuel. Sepertinya gadis berperut buncit itu sangat kelelahan.
"Hati-hati Son, tidak usah terburu-buru!" peringat Samuel.
"Baik, Daddy! Hmm, nanti Mama tidul baleng kita 'kan Dad?"
"Iyah!" balas Samuel santai.
Tiba-tiba Inah datang menghampiri dengan tergopoh-gopoh, "Astaga, Nona Shireen ...."
"Bibik ...."
Shireen langsung menyambut pelukan yang diberikan oleh Inah. Wanita paruh baya itu terlihat rindu sekali dengannya.
Tanpa terasa Inah meneteskan air matanya. "Saya khawatir dengan keadaan Nona semenjak Nona pergi," ucapnya.
"Aku baik Bik. Shireen kangen banget sama Bibik, bagaimana kabar Bibik juga?"
"Saya baik juga Nona. Syukurlah Nona mau kembali lagi ke rumah ini," ucap Inah.
"Aku cuma ingin bermain bersama Azel Azriel aja Bik," balas Shireen.
"Jadi Nona tidak tinggal bersama di rumah ini lagi?" Shireen menggeleng tersenyum. "Sayang sekali, padahal semua orang rumah sangat menginginkan sosok Nona untuk kembali seperti dulu lagi."
***
Malam hari.
Kini Shireen tengah memandikan dua anak kembar yang sangat lincah itu.
Saat ini dirinya sudah ikut basah, bersama mereka. Seragam kerjanya pun kuyup dengan cipratan yang mereka lakukan. Namun, Shireen justru bahagia karena melihat mereka tertawa begitu lepas.
Saat ini Samuel berada di kantor. Sore tadi, sepulang dari caffe tiba-tiba Samuel mempunyai urusan mendadak di kantor yang mengharuskannya untuk pergi. Mungkin sebentar lagi pria itu akan pulang, sedangkan dirinya kini terlihat semeraut.
"Mama, ikut mandi baleng yaaa!"
"Tidak Sayang, nanti Mama masuk angin, jika harus pakai baju basah seperti ini," balas Shireen.
"Ya sudah Mama buka bajunya!" sahut Azel. Ia menoel pipi bulatnya dengan gemas.
"Nanti kalo Daddymu lihat, habis Mama!"
"Mama dimakan Daddy?"
__ADS_1
"Iya, Daddy akan memakan Mamamu malam ini!"