Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Meminta Hak Sebagai Suami


__ADS_3

"Kau 'kan sayangnya cuma sama Abel!"


Ina mengernyitkan dahinya, ia tak paham dengan maksud ucapan dari adik iparnya itu. "Maksudnya?"


"Iyah, kau hanya peduli dan akrab dengan Abel, sementara aku gak dianggap!" ucap Iren dengan nada angkuhnya.


"Hey Nona cantik, sebenarnya ada apa? Apakah aku melakukan kesalahan?"


"Ya, aku cemburu dengan Abel karena kau lebih perhatian dengannya, sedangkan aku juga ingin ikut akrab denganmu!"


Ina memerintah, "Kemarilah!"


Iren mendekat, kemudian Ina mengusap rambutnya dan saat itu juga Ina menyisiri rambutnya. "Umur kita tidak berbeda jauh lho, tapi aku merasa seperti bicara dengan anak SD," gurau Ina.


"Kau meledekku seperti anak kecil?!"


"Tidak ... kau sudah menjadi adikku sekarang, jadi datanglah kapanpun kau butuh, aku siap membantu dan menjadi temanmu," ujar Ina.


"Bolehkah?"


"Tentu saja."


"Baiklah ... aku akan memanggilmu Kakak!"


"Ya. Kenapa dari awal kau tidak mau bergabung? Padahal aku selalu ingin kau ikut bermain denganku dan Abel?"


"Aku malu ... bahkan, kau terlihat lebih perhatian dengannya dan cuek denganku!"


"Baiklah mulai sekarang, anggap aku seperti temanmu. Hmm, rambutmu aku kepang ya?"


"Oke!"


Dengan ketelatenannya Ina mengepang rambut Iren. Namun, tiba-tiba sekelebat ucapan sang mertua kembali terngiang. 'Aku lelah menunjukkan kebenaran jika pada akhirnya akan menjadi angin lewat untuk mereka. Biarkan mereka berpikir apa yang mereka lihat, tanpa tahu kenyataannya,' batin Ina.


Azriel datang menghampiri sang istri yang sedang mengepang rambut adiknya. Ternyata keakraban yang baru mulai diantara mereka, tampak dilihat oleh suaminya tadi.


"Jelek!" cemooh Azriel.


"Aku?" tanya Iren polos.


Lihatlah, baru saja datang pria yang tak pernah merasa dosa itu tiba-tiba mencemooh.


"Rambutmu!" Lalu ia mengacak rambut Iren sampai kembali berantakan. Ina yang melihat kelakuan suaminya merasa jengah.


"KAKAK!" Sementara Iren kesal, rambut cantiknya yang sudah tertata rapi kini berantakan kembali.


"Jangan dikepang, seperti gadis desa saja!" ucapnya. Seolah menyindir sang istri. Ya, dengan sangat santainya ia berucap seperti itu sambil meminum susu.


Ina yang merasa, hanya bisa memberikan tatapan malas. 'Menyebalkan!'


"Jahil. Kak lihat suamimu, dia sangat konyol!" adu Iren.

__ADS_1


"Biar aku rapikan kembali ya. Ayuk kita ke sana saja!" Ina menuntun adik iparnya itu untuk duduk di sofa.


Azriel bisa melihat raut wajah Ina yang tampak kesal. 'Lucu.'


***


Di kantor.


Azriel kedatangan seorang tamu, dan itu adalah seorang yang ia undang kemarin.


"Selamat pagi Pak Azriel," sapa Abran.


"Ya, pagi Paman. Tidak perlu formal, kita akan membahas sesuatu di luar pekerjaan," balas Azriel.


"Ah, baiklah Nak."


Azriel menyodorkan secangkir kopi yang baru saja dibuat oleh office boy kantor, "Minumlah dulu!"


"Terima kasih."


Setelah menyaksikan pria paruh baya itu meminum kopi, kini ia mulai melontarkan pertanyaan, "Aku ingin mengetahui sesuatu tentang keluarga Paman, apakah boleh?"


"Tentu saja. Tanyakanlah!"


"Apakah Aghafa benar-benar anak kandung Paman? Berkata jujurlah, karena kebohongan tidak akan selamanya terjaga."


'Anak ini seperti sedang mencari tahu tentang identitas Aghafa,' batin Abran.


"Baiklah, aku akan mengatakan kejujuran untukmu dan hanya kau yang tahu. Aghafa itu bukanlah anak kandungku."


"Lanjut Paman!"


"Aku menemukannya di sebuah jurang tanjakan emen saat aku berlibur di suatu tempat. Aku melihat dia terjatuh dengan melumur darah. Setelah aku bawa dia ke rumah sakit, ternyata dia masih hidup yang awalnya aku mengira bahwa dia telah meninggal." Azriel tampak menyimak dengan serius ucapan pria tua ini.


"Sampai di rumah sakit, kata Dokter ada peluru di dalam tubuhnya. Aku terkejut, dan aku bertanya, 'apa dia bisa selamat?' Setelah melakukan operasi, dia dinyatakan masih hidup. Namun, beberapa bulan dia koma, aku diberitahu jika pria itu amnesia, karena pada saat aku temukan dia berada di atas batu besar dengan kepala yang bocor."


'Aku mengerti sekarang. Ternyata Alex masih hidup, karena ditemukan pria tua ini. Dari awal aku memang sudah mengira bahwa dia musuhku. Walaupun sikapnya berubah jauh dari kepribadiannya, dia mau baik atau jahat lagi pun, aku tidak akan merestui dia dengan Azel bahkan untuk menemui anaknya aku tidak akan beri ruang sedikit pun untuknya,' batin Azriel.


"Setelah sadar aku menanyakan semua tentang identitasnya dan ternyata benar, Aghafa tidak ingat semuanya bahkan nama sendiri pun dia tidak tahu. Mengetahui dia amnesia permanen, aku mengangkatnya menjadi anak. Ternyata, Aghafa adalah pria baik yang pintar dia bisa aku handalkan untuk menjadi penerusku karena memang kebetulan aku dan istriku tidak bisa mempunyai anak," ungkap Abran.


"Apa Paman yakin dia pria baik, dan apakah amnesianya tidak bisa pulih?" tanya Azriel.


"Ingatannya tidak bisa pulih kembali. Benturan keras di kepalanya tergolong parah, hingga menyebabkan dia amnesia permanen atau menetap. Maka dari itu aku tidak pernah memberitahu jika dia mengalami hal itu, karena aku tidak mau membuatnya penasaran dan mengungkit siapa sosok pribadinya, apalagi mencoba mencari tahu untuk menyembuhkan dia."


'Kemungkinan besar, Alex atau Aghafa tidak akan pernah tahu kejadian itu. Sebelum aku akan membawa jauh kakakku darinya agar Abel tidak bisa menemui ayahnya.'


"Nak, aku sudah terlanjur sayang dengan anak itu aku tidak mau dia pergi ataupun mencari identitas sebenarnya. Aku ingin mengabulkan permintaannya, tolong berikan ruang untuknya bersama kakakmu," mohon Abran.


"Maaf aku tidak bisa."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Akan aku ceritakan apa yang terjadi sebenarnya."


***


Malam hari.


Azriel merasa pegal-pegal di tubuhnya. Sepulang kerja ia langsung merebahkan badan di atas sofa. Ya, duduk berlama memang tidak baik juga, terkadang Azriel pun sering merasa keram dan kesemutan di bagian kakinya.


Ina yang melihat suaminya tampak kelelahan merasa gatal ingin memijat dan membantunya untuk merilekskan badan.


'Aku merasa kasihan, tapi ... sudahlah biarkan saja!' batinnya.


Ia pun kembali membereskan pakaian di lemari. Azriel mengamati istrinya, ia berpikir akan disambut seperti istri pada umumnya saat suami pulang.


'Setelah menjadi istri, semuanya berubah. Bahkan, gadis itu sama sekali tidak melirikku,' batin Azriel.


"Shhh ..."


Tiba-tiba Azriel merintih sembari memegangi kakinya. Ina sempat melirik, tapi sesaat kemudian ia kembali fokus dengan kegiatannya.


'Astaga dia sama sekali tidak terpancing.'


"Akkhh aww!"


"Tuan!"


Akhirnya pertahanan Ina runtuh, ia tidak bisa melihat suaminya itu kesakitan. Ia hanya takut jika terjadi sesuatu pada kaki Azriel.


'Yeaahh, aku berhasil!'


Saat Azriel mengaduh kesakitan, Ina sigap berlutut dan memijat kakinya. Dia juga membantu Azriel membuka bajunya. Akhirnya pria itu mendapat pelayanan dari seorang istri layaknya suami pada umumnya.


"Seharusnya dari aku pulang kau sudah sigap seperti ini!"


"Maaf Tuan!"


"Aku bukan tuanmu, berhenti memanggilku itu!"


"Baiklah ...."


"Panggil aku Mas!"


"Hmm."


'Kaku sekali,' batin Azriel.


Azriel mengangkat bahu istrinya yang sedang memijat kakinya.


"Kau masih marah?"


'Pertanyaan bodoh. Kenapa pria ini tidak pernah merasa bersalah?' batin Ina.

__ADS_1


"Apa aku berhak meminta hakku sebagai suamimu!"


Bersambung ....


__ADS_2