
Shireen memberikan bayinya kepada sang suami, lalu Samuel memberikan kepada Maminya.
"Oh astaga, tampannya cucuku. Kau kesayangan Omah, Nak." Senyum bahagia dari Yuri, membuat Shireen benar-benar merasa terharu.
"Mami, Shireen gak tau lagi mau berterimakasih dengan cara apa. Tanpa, Mami mungkin saat ini Shireen dan bayi itu tidak akan ada," ucap Shireen.
"Aku juga berterima kasih karena kau telah melahirkan penerus untuk suamimu. Maafkan semua kejahatanku waktu dulu, kini aku telah memberikan restu seutuhnya," ujar Yuri.
"Shireen ucapan terima kasih sekali lagi. Cucu Mami hadir, sebab pertolongan Mami, dan Rico ...."
Tiba-tiba Shireen teringat sesuatu. Ia menggantungkan ucapannya, kemudian menatap sang suami seakan ada pertanyaannya yang terlihat gelisah. "Mas, di mana Rico? Mas, dia tadi tertembak. Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Shireen sangat cemas.
"Rico tidak selamat, dia tewas saat kejadian itu," jawab Dika dengan penuh kesedihan.
"Papi, apa kau serius?" Samuel merasa tidak percaya, sebab ia pun belum tahu karena sibuk mengkhawatirkan istrinya tadi.
Shireen mulai menangis. "Mas, hikks ... gak mungkin, dia yang menyelamatkan aku Mas! Rico gak mungkin meninggal hikks!"
"Sayang-Sayang ... dengarkan aku. Kematiannya adalah takdir, anggap saja Rico itu malaikat penyelamat yang telah menolong kau, dan bayi kita!" Samuel mencoba menenangkan istrinya. Ia membingkai wajah Shireen, lalu menatapnya dengan lekat-lekat.
"Anak itu baik, kita doakan yang terbaik untuknya juga!" sahut Yuri.
"Ya, Rico adalah saudara kita. Dia sudah tenang, tugas kita hanya mendoakan," timpal Tansoon.
***
Di malam hari.
Samuel masih setia menemani sang istri yang sedang merasakan efek operasi sesarnya. Mungkin, karena sisa biusnya sudah habis.
Sementara bayi bule yang sangat tenang memejamkan matanya itu, masih betah berada di gendongan sang Omah. Sedangkan Yuri seakan tidak mau lepas dengan cucunya. Baginya masa tua adalah menikmati waktu bersama orang tercinta, mungkin kelahiran Azel dan Azriel ia sibuk dengan pekerjaan, kini ia ingin meluangkan semua waktunya bersama cucu-cucunya.
Sementara Lia, sudah tertidur di sofa dan Dika yang terlihat tengah menemani Yuri yang sedang menjaga cucunya. Sedangkan, Tansoon memilih untuk pulang karena anaknya terus menangis setelah dikabari oleh istrinya.
"Masih terasa sakit?" Tiba-tiba Samuel bertanya. Tangan pria itu tak beranjak sama sekali dari perut Shireen. Mengusap lembut-lembut bekas jahitan operasinya.
"Sudah lebih baik," balas Shireen walaupun beberapa kali terdengar suara rintihannya.
"Operasi sesar memang enak diawal. Tidak capek-capek mejen, tapi setelahnya lebih parah dari sakitnya orang yang melahirkan normal," sahut Yuri.
"Nanti Mami kasih makanan yang baik setelah melahirkan sesar," lanjutnya.
"Hmm, ya Mami. Rasanya perih banget ...."
"MAMI, SHIREEN!" Semua orang terlonjak kaget, karena saat itu keadaannya memang sangat sunyi.
Tiba-tiba terdengar heboh di luar, ternyata Lisa datang dengan membawa kedua keponakan kembarnya.
Lisa berteriak cukup keras, hingga membuat mereka memberikan kode dengan menempelkan telunjuk di bibir. Seketika Lisa langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
"Jangan samakan rumah sakit dengan di rumah sendiri!" tegur Samuel.
"Mommy, Daddy!" Sementara dua bocah kembar itu terlihat mengembang matanya dengan bibir tertarik ke bawah atau membleh.
"Sayang, anak Daddy ..." Samuel menaikkan Azel untuk duduk di pangkuan Shireen. Sedangkan ia menggendong anak lelakinya, yaitu Azriel.
"Kenapa Mommy tidak ada di lumah? Hikkss ...." Terdengar sedih sekali dari suara lirihan tangis Azel yang terus saja mengusap matanya.
"Maafkan Mommy Sayang ... lihat, adik Azel udah keluar," ucap Shireen menunjuk anaknya.
"Reen, gue bersyukur lo bisa selamat."
"Iya, semuanya karena Mami yang nyelametin dan juga Rico."
"Aaa ... Mami aku ...." Dengan sangat lebay Lisa menghampiri Maminya lalu memeluk pundaknya.
"Mami baik-baik. Udah ih sana, perut Mami masih sakit nih!"
"Pokoknya Mami hebat. Lisa juga kaget pas dengar kabar, ternyata Kak Rico asistennya Kakak, meninggal. Dia berjasa buat keluarga kita ...."
"Ya, maka dari itu kau jangan selalu salahkan atau bilang dia menyebalkan. Karena, seseorang mempunyai sisi baiknya sendiri!" balas Yuri.
"Hmm ya ya." Tiba-tiba pandangan Lisa teralihkan dengan sosok bayi mungil yang berada di gendongan Maminya. "Aaa ... cute banget ... welcome baby boy!" ucapnya.
"Tampan kan?"
"Buat sendiri. Mau dimiripin orang lain, sedangkan adik sendiri yang kembar selalu menyangkal!" ketus Yuri menjawab. Seketika Lisa menunjukkan muka cemberutnya.
Azel dan Azriel datang ikut melihat adiknya. "Adik Azil masih kecil ya Omah?" tanya Azriel polos.
"Jadi, Azel punya adik balu lagi?"
"Iya cucu Omah sayang ... sekarang kalian jadi kakak. Pokoknya nanti harus akur!"
Azel dan Azriel pun tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi kecilnya. Kemudian mereka berebut untuk mencium adiknya itu.
"Jadi, pelut Mommy tidak besal lagi?" tanya Azel polos menatap Mommynya.
Shireen tersenyum, ia menunjukkan perut ratanya kepada Azel. Seketika Azel memasang wajah murung.
"Kenapa Sayang? Kok murung?"
"Azel suka pelut besal. Jadi, sekalang pelut siapa yang Azel peluk?" keluh Azel menunduk.
"Ada perut Eyangmu. Lihat, Eyangmu sudah mulai membuncit," ucap Yuri melirik ke arah suaminya.
"Wajar saja, cucuku sudah empat sekarang, dan kau kenapa masih cantik awet muda, saja? Sepertinya membuat anak bungsu satu lagi, akan terasa ramai." Memuji tetapi dengan nada yang tidak mengenakan. Namun Yuri justru tersipu malu.
"Astaga, aku malu!"
__ADS_1
Seketika mereka saling tertawa.
Shireen dan Samuel telah merasakan kelengkapan rasa kebahagiaan keluarganya. Masa depan indah yang diidamkannya dulu telah terwujud sepenuhnya. Ia mendapat suami tampan yang sangat mencintai, mertua dan keluarganya yang hangat, dan kini ia dikaruniai sosok buah hati. Lengkap sudah, semua senyum pahit yang dulu dirasakan telah tergantikan dengan senyum manisnya.
"Aku mencintaimu."
"Jangan pernah berhenti untuk itu."
***
5 bulan kemudian.
Shireen sedang menggendong bayinya yang sudah beranjak 6 bulan.
Kini ia berhadapan dengan sebuah rumah peristirahatan terakhir manusia. Membawa banyak bunga untuk menghiasi gundukan tanah itu.
"Hy Rico. Aku datang menjenguk, lihat bayi tampanku. Dia sangat beruntung karena mempunyai paman berjasa sepertimu. Tenang di sana, aku sangat berterima kasih atas pengorbananmu, doaku selalu menyertai untukmu," ucap Shireen berkata dengan penuh senyuman.
Samuel merangkul pundak Shireen, lalu mereka beranjak ke sebuah makam di sebelahnya. Terlihat Azel dan Azriel sedang menaburi bunga-bunga di makam itu.
"Mami, Azel sayang Mami. Mami tidul yang tenang ya!"
"Azil juga sayang Mami, Mami baik. Mami Azil cantik!"
Mereka sama-sama mengecup papan nama yang bertuliskan nama ibu kandungnya. Kemudian mereka kembali menaburi bunga-bunga lagi.
Shireen dan Samuel tersenyum.
"Sayang ayo pulang, seperti mau hujan!" seru Samuel.
Mereka berlari, sebelum itu mereka berucap. "Dadah Mami, dadah Om Lico!"
Samuel segera merangkul pundak istrinya, lalu menggiring anaknya. Dan mereka pun meninggalkan tempat yang di mana singgahan terakhir manusia.
Note:
Semua sudah terbentuk baik, kebahagiaan telah lahir, senyum manis hadir. Siapa sangka itu dilalui dengan tetesan darah.
TAMAT.
Huufffhh huh, rasanya kayak baru napas lagi hihi. Untuk cerita Samuel dan Shireen sudah berakhir ya.
Tapi tenang kok, mereka gak gitu aja ninggalin kalian. Ay, buat season 2 yaitu saquel dari Shireen dan Samuel.
Ya, yang di mana Ay mau ceritain tentang Azriel. Ay buat alur cerita Azriel di masa depan. Azriel dewasa yang tampan.
Tunggu part selanjutnya, Ay gak buat cerita baru Ay tetep update season 2 di tema ini. Bagi pembaca setia Ay, tunggu episode terbaru dari Ay yaa. Insyaallah Ay bakal update 2 kali sehari.
Terima kasih banyak atas reader tercinta yang selalu mau mendukung, berkomentar, memberikan vote dan like. Percayalah partisipasi yang kalian anggap kecil itu adalah suatu penghasilan para author. Jadi, jangan malas ataupun enggan memberikan dukungan kepada novel yang kalian sukai.
__ADS_1