
Seorang perempuan cantik berjalan bak model yang tengah kontes diajang fashion show, dengan kaki jenjangnya. Melangkah mendekati Yuri yang memanggilnya. Semua keluarga Samuel ternganga melihat kehadiran perempuan itu. Sedangkan, para tamu merasa kagum dengan sosoknya.
"Mami maafin Leo yah, karena telat dan tidak sempat melihat acara berlangsung," ucapnya.
"Tidak apa-apa Sayang ...."
"Ya, Leona Alberry Farinska anak tunggal dari keluarga Alber ini, adalah sosok ibu kandung Azel dan Azriel. Mungkin tak asing dengan namanya, bukan?"
'Dia 'kan model asal Paris yang sedang naik daun itu.'
'Aku salah satu pengkoleksi fashionnya. Cantik sekali.'
'Cantik, dia model favorit aku.'
Tiba-tiba seseorang menyahut, "Lho aku kira ibu Shireen ibu mereka. Soalnya cuma dia yang kemana-mana selalu bersama, dengan Azel Azriel" ucapnya.
"Tidak! Gadis yang di sana, hanya ibu ASI mereka. Leona ini ibu kandung yang sebenarnya. Mungkin setelah ini mereka akan segera rujuk, ya menjadi menantu saya kembali."
Deg.
Mata Shireen mulai memanas, tangannya terkepal kuat. Hatinya tersayat, tiba-tiba matanya mulai memberat. Samuel yang melihat itu menggenggam erat tangannya. Ia sangat tahu apa yang dirasakan oleh gadisnya saat ini.
"Lepas!" geramnya berusaha untuk menarik tangan yang digenggam kuat oleh Samuel. Telinga gadis itu terasa terbakar dengan ucapan semua tamu yang memberikan selamat.
'Wah selamat Nona Leo.'
'Semoga rukun kembali yah, keluarganya.'
'Akhirnya si kembar bersama lagi dengan ibu kandungnya.'
Shireen berusaha untuk tetap tenang dan masih mampu mengontrol emosinya. Namun ia sudah tak sanggup mendengar ucapan dari mereka. Ia berlari keluar. Terlihat, gadis itu menyeka air matanya, sebelum pergi. Samuel menyusul Shireen. Walaupun beberapa kali ia di tahan oleh maminya.
Untuk apa masih tetap di sini? Shireen merasa kehadirannya menjadi sampah, yang awalnya sebuah emas. Tak ada harganya ia bagi semua orang, terutama Yuri.
Tidak dengan sekeluarga Samuel. Seketika gumam, dan berbagai pertanyaan banyak dilontarkan dari mereka.
"Mami apa-apaan sih, kok malah nyambut nih orang lagi," bisik Lia.
"Gak tau, ngenalin dia rujuk. Dan, sekarang perempuan itu masih tersenyum tanpa merasa berdosa," bisik Lisa.
"Kak, gimana sama perasaan Shireen?" tanya Lia.
"Biar itu jadi urusan Kak Sam."
Dika masih terdiam, ia menonton aksi dari istrinya itu. Sedangkan, Daniel menghernyit heran.
__ADS_1
'Kemarin Mami fine-fine aja nerima gadis itu. Lantas sekarang? Ah, aku tidak mengerti konsep keluarga ini,' batin Daniel.
'Hmm, terhempas dia. Sedangkan Leona tidak ada apa-apanya dengan pesonaku,' batin Liyu.
***
Di jalan raya.
Shireen menangis sesenggukan dengan menenteng high heelsnya. Banyak yang mengira Dia adalah perempuan gila, tapi sayangnya Dia terlihat sangat cantik.
Dua kata menjadi simpulan orang-orang mengakatakan, bahwa gadis itu adalah perempuan aneh!
Hatinya hancur, harapannya hilang. Semua pupus begitu saja. Semuanya seakan berhenti di tengah jalan. Apa makna takdir dari semua ini? Apakah ini permainan? Oh tidak, ini adalah sebuah kejutan yang amat menyakitkan.
"Kenapa gak dari awal dia bilang, dia gak setuju dan gak nerima gue? Nyesek gak dianggap, sakit, sakit banget ... digantikan. Kenapa? Coba dia bilang gak kasih restu, gua pasti mundur dari awal!"
"Hikkss!" Shireen melempar sepatu tingginya, menghentak-hentakkan kakinya lalu berteriak, "SEMUANYA GAK ADIL, SIALAN ....!!"
Langkah kakinya perlahan berat, tubuhnya lemas tak bertenaga. Ia duduk di tepi jalan dengan meratapi nasib yang miris.
'Kasihan mana masih muda.'
'Orang gila jaman sekarang cakep-cakep.'
'Cantik-cantik gila. Rumah sakit jiwa, pasti jebol.'
"Lepas Om!"
Samuel kekeh menariknya, Shireen pun tetap berusaha dengan sekuat tenaga yang ia punya. Karena gadis itu cukup kuat, Samuel merasa kewalahan. Namun, tiba-tiba pandangan Shireen meredup, sekujur tubuhnya mulai lemas. Perlahan penglihatannya menggelap. Akhirnya gadis itu tumbang setelah mengatakan, "Tinggalkan aku Om ...."
Samuel menggendong Shireen, memasuki gadisnya ke dalam mobil. Setelah itu, ia tancap gas dengan kecepatan yang tinggi, seolah meluapkan emosinya.
***
Samuel membawa Shireen ke sesuatu tempat yang jauh dari orang-orang tahu. Ya, rumah pribadi miliknya.
Rumah sederhana ini adalah tempat di waktu santainya Samuel, tempat di mana ia dan Leona dulu memadu cinta dalam satu malam.
Shireen sudah di rebahkan di atas kasur. Samuel menatap gadisnya itu dengan penuh sendu. Mengingat kejadian tadi, ia tak mampu membayangkan bagaimana perasaan Shireen.
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika semua terjadi seperti ini," gumamnya terus mencium tangan Shireen.
Beberapa saat kemudian.
Shireen mulai mengerjapkan matanya, ia menatap seluruh penjuru kamar. Pikirannya bertanya, di mana dirinya saat ini?
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang yang ia tangkap dari pandangannya, membuat hatinya kembali teriris. Air mata secara otomatis turun tanpa permisi. Membuat hati pilu dengan nasib hidup yang hanya bisa ditangisi.
"Maafkan aku. Kita bisa kembalikan semuanya ...," lirih Samuel.
"Kembalilah dengan seseorang yang sudah melahirkan anak Om. Mau bagaimana pun, Azel dan Azriel butuh sosok ibu kandungnya. Secara tidak langsung ibu Om memberikan kita lampu merah, dia menginginkan Om untuk kembali dengan Nona Leona. Rujuklah, jangan pedulikan aku. Biarkan aku bebas dan menemukan jalan hidupku sendiri!" ucap Shireen dengan tatapan nanarnya.
"Hentikan ucapan sampahmu itu, aku tidak ingin melakukan yang kau pinta. Tidak ada hakmu untuk mengaturku. Yang aku cintai itu kau, bukan dia!" tegas Samuel.
Shireen tersenyum remeh. "Tapi aku yang gak cinta sama Om!" teriaknya tiba-tiba.
Shireen bangkit dari tempat tidur, ia melangkah untuk pergi. Namun, Samuel mencekal tangannya, sebelum gadis itu benar-benar pergi. Pria itu menarik dan menggenggam tangannya dengan kasar, membantingnya ke atas kasur.
Shireen pun yang diperlakukan seperti itu tidak terima, menatap tajam ke arah Samuel yang ingin menindihnya.
"Om kasar!"
"Aku melakukan ini karena kau yang memancingku!"
Samuel langsung menyambar bibir ranum Shireen dengan paksaan, dan penekanan setiap sensasinya. Ini bukanlah cium*n cinta, tapi ini adalah suatu emosi yang terlampiaskan.
"Seseorang yang sudah kugenggam, tak akan kubiarkan pergi begitu saja!" tekan Samuel.
Shireen sudah menjerit menangis atas perlakuan pria itu. Shireen merasa di kasari dengan ciuman yang diberikannya, cengkeraman paha yang kuat, pegangan leher yang menekan habis, membuatnya kehilangan banyak oksigen dan merasa tertekan.
"Om lepasin! Om jahat, Om kasar!" raung Shireen.
"Aku bisa membuatmu terpaksa menikah denganku. Dengan menumbuhi benihku, di dalam sini." Samuel mengusap perut Shireen, lalu berkata lagi, "Mungkin akan membuat Mamiku merestui kita."
Kini leher Shireen yang menjadi santapan oleh Samuel. Bibirnya terasa perih akibat ciuman sadis itu, dadanya terasa nyeri karena saat ini Samuel meremasnya dengan kuat. Bukan suatu kenikmatan hal ini, tapi ini adalah penyiksaan baginya. Dan, Shireen kalut karena Samuel tega memperlakukannya dengan kasar.
"Jangan Om aku mohon ...."
"Aku menginginkan bayi lucu seperti wajahmu." Samuel menyeringai kemudian melanjutkan aksinya kembali.
Bersambung ....
INI LEONA. CANTIK KAN ....
NAH INI AY, LUCU KAN ... IYALAH AY KAN GEMESIN.
Yang mau kepoin akun sosmed Ay boleh cari akun Facebook : Allya
__ADS_1
Instagram : @ayalosiapa.