
Agha kembali ke kantor. Semua para stafnya sama-sama menyaksikan bagaimana kondisi wajah bosnya itu.
“Hari ini saya mau pekerjaan selesai dengan cepat, karena hari ini juga semua saya mau data. Jika belum dapat menyelesaikannya hari ini, terpaksa kalian harus lembur!” Setelah mengucapkan kata lugas yang jelas itu Agha kembali ke ruangannya dengan berjalan layaknya seorang raja yang sedang digiring para prajuritnya.
Semua para pegawai menghela nafas dengan perlahan secara bersamaan. Terdengar juga decakan dari mereka.
‘Gilak lembur lagi gue!’
‘Kebiasaan deh si bapak ganteng, kalo lagi ada masalah kita diajak-ajak!’
‘Siap-siap beli obat guyss ....’
‘Harus hati-hati nih, kayaknya lumayan serem sama suasana hati si bos hari ini. Ngelakuin kesalahan sedikit, bisa di blacklist kita dari Sonya Group.’
***
Benar saja, hari ini sudah ada yang menghadap ke ruangan pemimpin, karena panggilan langsung dari sang pemilik. Terdapat seseorang tengah menunduk dengan bersimbah di bawah kaki.
“Pengkhianat!”
“Mohon ampuni saya Tuan. Saya bisa ganti rugi atas semua perbuatan yang saya lakukan!”
“Saya tahu kamu bisa mengganti kerugian perusahaan atas memanipulasi semua data keuangan. Namun, dari hal yang terkecil kamu lakukan kamu bisa berbuat lebih kedepannya. Jadi untuk menghindari itu, silakan angkat kaki dari perusahaan saya!”
“Tuan, Tuan, Tuan saya mohon ... saya masih butuh pekerjaan ini ....” Seorang lelaki dewasa itu terus bersimbah memohon belas kasih, tetapi sepertinya hati Agha tidak bisa bertoleran.
Agha langsung memberikan instrupsi kepada asistennya. Dengan sangat peka dan sigap, Gafin langsung membawa pegawai itu keluar dari ruangannya. Walau, masih dengan memohon-mohon.
Agha membanting tubuhnya di atas sandaran kursi, pria itu terpejam sejenak dibarengi dengan helaan nafas, kemudian ia memilin matanya. Tergambarkan sosoknya yang lelah dan letih, dari itu hati maupun fisiknya.
“Apa ada masalah lagi Tuan?”
Agha refleks membuka matanya, menatap sang asisten dengan sayu. “Mereka semakin harmonis Gaf, aku merasa semua harapanku benar-benar sudah tidak ada,” ungkapnya.
‘Benar pradugaku, pasti karena nona Abel beserta ibunya. Sebenarnya apa yang dilihat Tuan sampai dia kehilangan mood baiknya?’ batin Gafin.
__ADS_1
“Sepertinya untuk hal ini sulit Tuan, tapi Anda bisa ambil hati nona Abel kembali jika pria itu sudah pergi dari kota ini. Otomatis, ibunya akan ikut terjerembab pada Tuan,” ucapnya.
“Aku justru takut jika kekasih Azel itu menetap di sini.”
“Apa perlu saya selidiki lebih lanjut?”
“Tidak perlu, lebih baik kau temani aku ke tempat biasa. Mengurus hidup orang hanya membuang waktu, yang tidak mungkin akan memberikan untung kepada kita!”
‘Bukankah itu mau Anda yang selalu ingin memantau kehidupan seseorang, yang pada kenyataannya tak memberikan apa-apa. Baiklah, aku tidak bisa melihatmu terus seperti ini Tuan, sepertinya ada suatu problem yang sampai saat ini masih tergembok. Akanku usahakan untuk mendapatkan kuncinya,' batin Gafin.
***
Malam hari tiba, seorang wanita terlihat begitu iba dengan wajahnya yang selalu merana.
“Aku marah dengan siapapun bisa, tapi jika aku yang dimarahi dengan anakku sendiri, rasanya aku tidak bisa!”
Dengan perasaan bersalah yang berkemelut di hati, Azel ingin sekali berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan sang putri.
Perempuan itu mendatangi kamar anaknya, lalu ia mengetuk pintu dan memutuskan untuk masuk begitu saja tanpa mau menunggu respon dari dalam.
“Sayang ....”
“Abel lebih baik kamu minta ini itu, bahkan mami lebih suka kamu cerewet seperti biasa. Mami tidak bisa didiamkan seperti ini Sayang ... apa yang harus mami lakukan untuk mendapat maaf darimu, hikkss!”
Hati lemahnya sudah tidak berdaya, ibu satu anak itu akhirnya tak kuasa menahan kesesakan di hatinya. Ia berupaya mendapatkan maaf dari anaknya sedari tadi, tapi Abel begitu cuek sampai ia lelah dan menangislah cara terakhirnya.
“Jika sudah tidak sayang lagi, katakan ....”
Seketika perhatian Abel beralih. Sejujurnya ia tidak bisa melihat wanita yang telah melahirkannya itu menangis, terlebih itu karenanya. Namun, ego di hati tetap ada walaupun sudah terkalahkan dengan kelembutannya.
“Jangan menangis ....” Dia menghampiri maminya. Abel memeluk wanita itu, hingga tangisannya mereda.
“Abel jahat!”
“Mami yang jahat!”
__ADS_1
“Kamu!”
“Mami!”
“Abel!”
“Mami!”
Ya, begitu saja terus sampai gajah beranak tokek. Sebenarnya anak dan ibu itu sama-sama saling mempunyai sikap manja, dengan cara menyelesaikan masalah yang tidak dewasa. Namun karena cinta, seperti itu saja sudah terasa memperbaiki.
“Jangan marah sama mami lagi, janji maafin?” Azel mengacungkan jari terakhirnya, dengan senang hati Abel pun menyambutnya. Gadis itu tersenyum setelah menyeka air mata, karena diam-diam ia ikut menangis tadi.
“Abel sayang Mami, tapi Abel butuh ayah. Di mana ayah kandung Abel?”
Sebenarnya membahas prihal identitas asli anaknya ini sangat sulit untuk dijelaskan bagi Azel. Ya, siapa ayah kandung anak itu dia sendiri pun masih bertanya.
“Kamu siap mendengar mami cerita?” Seketika anak itu mengangguk semangat.
“Jadi seperti ini Sayang ....”
Azel mulai menceritakan tentang masa lalunya. Sedikit malu, karena pasti membuat otak anaknya itu bekerja dan berpikir lebih keras.
Sebab, ia menceritakan kisahnya di kala usia seorang perempuan cantik yang hidupnya sangat kuper (kurang pergaulan)
Saat julukan itu sangat cocok untuk dirinya, tiba-tiba ia diisukan hamil sendiri atau hamil gaib. Karena, tidak mungkin seorang wanita rumahan sepertinya bisa mengandung sementara kehidupannya saja hanya berada di atas sofa dengan buku-buku yang menjadi kesibukannya.
Ternyata itu tidak dibenarkan. Ia benar-benar hamil dengan seorang pria, manusia yang dia sendiri tidak tahu siapa identitasnya.
Malam itu Azel sedang membereskan buku-bukunya, setelah wanita itu selesai mempelajari isi bukunya. Sejak SMP sang daddy memang selalu mengajarkan cara berbisnis, dan di masa SMA ini Azel sudah sangat paham. Sehingga sang daddy merasa bangga akan kepintarannya.
“Azel tidur ... lepas semua buku-bukumu, ingat masih ada hari esok!” Terdengar suara samar-samar dari luar kamarnya, dan ia sangat hafal dari mana sumber suara itu.
Gadis yang ingin beranjak dewasa itu pun menyahut, “Baik Mommy ....”
Ia segera menggulum tubuhnya dengan selimut. Namun, sepertinya ia terlupa jika gorden kamarnya masih terbuka dan itu ia biarkan karena rasa kantuknya yang sudah tidak bisa ia tunda. Akhirnya, pintu jendela itu tetap terbuka hingga waktu menunjukkan 00:00 AM.
__ADS_1
Seorang bertopi hitam dengan memakai masker hingga tak terlihat jelas seperti apa rupanya. Bajunya tidak serba hitam, melainkan seragam sekolah yang ia kenakan.
“Sudah lama aku mengimpikan malam ini. Balas dendamku dengan adikmu akan terbalaskan!”