Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Menyelamatkan


__ADS_3

Ternyata dugaan Yuri salah. Asal suara pekikan itu bukan berasal dari menantunya, tetapi dari salah seorang pria yang menyerang.


"Astaga, apakah dia keturunan Spiderman?" gumamnya merasa konyol.


"Kuat juga. Oke sebelum lo mati di sini, lo mau nyerahin nyawa atau barang-barang lo?"


"Nggak nyawa ngga juga barang! Gue bisa lawan lo, jadi jangan banyak bac*t!"


Bughh!


Bugh!


Baru dua pukulan, sudut bibir dan dahi si ketua preman itu sudah memar. Ya, jangan diragukan soal bela diri. Shireen bisa dibilang seperti lelaki jika prihal membantai.


"Sial, dia hebat bela diri!" gumam salah satu dari pria berbaju hitam di sana.


Tiba-tiba salah satu di antara mereka ada yang mengeluarkan sebuah pisau kecil. Jika untuk menyayat, pisau itu sudah pasti berguna untuk memutuskan lidah ataupun jari-jari.


"Kalo dia ditusuk, tinggal bunuh yang di dalam mobil," gumam pria yang memegang pisau tajam itu.


Yuri diam-diam menyaksikan itu, hatinya semakin ketar-ketir. Terpaksa ia keluar untuk menolong menantunya itu. Namun, wanita paruh baya itu mempunyai otak yang cerdas hingga ide bagus terselampir saat dalam situasi genting seperti ini.


"Aku ingat ada linggis simpanan suamiku di bagasi, tapi sebelum itu sebaiknya aku telepon polisi terlebih dahulu!" gumamnya. Setelah beberapa menit ia menelpon ...


Yuri berjalan dengan perlahan. Tak ada yang memperhatikannya, karena semua orang hanya berfokus melawan Shireen yang terus mengelak.


Saat sudah didapatinya benda besi itu, Yuri tiba-tiba melotot karena pisau yang dipegang pria tadi kini mengarah ke Shireen yang masih sibuk melawan.


"Shireen, awass!"


Sretttt ....


"Mami-aakkkhhh!"


Bughh!


Yuri berhasil memukul pria itu dengan linggisnya. Terlihat ada banyak darah yang mengalir di bagian punggung pria itu. Sedikit terkejut, tetapi ada rasa takut.


"Aku tidak membunuhnya, maafkan aku!" gumamnya.


Bughh!


Begitu cekatan, di saat ada seorang yang ingin menusuk Shireen Yuri lagi-lagi memukulnya kembali. Alhasil dua orang sudah terkapar dengan bersimbah darah, sementara beberapa orang hanya terkapar lemas setelah perlawanan dengan Shireen.

__ADS_1


"Mami, sebaiknya Mami masuk!" ucap Shireen berusaha menutupi sayatan di lehernya. Mungkin telapak tangan perempuan itu saat ini, sudah banyak darah.


"Aku tidak ingin kau mati sendiri!"


"Astaga!"


Dalam pembicaraan itu, ada saja kejahilan. Seorang pria yang tadinya sudah lemas di tanah, kini tiba-tiba merampas linggisnya.


"Lo berdua harus bayar semuanya!" Yuri mati kutu, ia bagaikan dalam dua alam antara dunia atau akhirat yang akan menyusul. Ternyata, kawan dari pria yang ia pukul ingin balas dendam dengannya.


"Mami cepat masuk!" Sedangkan Shireen terus memberikan perintah.


"Lo harus rasain ini!"


"Mami awww-aashhh!" Berhasil Shireen menyelamatkan mertuanya itu untuk yang kedua kalinya. Ia rela kena pukul linggis, demi sang Mami selamat.


"Shireen!"


Shireen terjatuh, tapi ia masih sadar hanya tiba-tiba semua tenaganya habis terkuras. Ada banyak darah yang keluar dari lehernya hingga mengalir ke belahan dada. Saat yang bersamaan, polisi datang dan menangkap semua pelaku kejahatan di jalan ini.


"Terima kasih atas laporannya, bisa kita bantu untuk membawanya ke rumah sakit?" ucap salah satu seorang polisi itu.


"Tidak Pak, terima kasih. Tolong tangkap semua penjahat itu!" Setelah polisi itu mengangguk, mereka pun segera pergi setelah mengurus para tawanan baru yang akan masuk sel.


Shireen benar-benar lemas, tetapi perempuan kuat itu tidak pingsan. Yuri segera menuntunnya masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah sakit terdekat.


"Sus, Dok, cepat tangani menantu saya!"


Dalam keadaan tak berdaya dan lemas, masih tercipta senyum manis di bibir Shireen. Yang ia dengar tidak salah, ya barusan saja mertuanya itu mau mengakuinya menantu.


Hingga tim medis datang tergopoh-gopoh, saat itulah Shireen jatuh pingsan. Kini Yuri yang begitu cemas menunggu pemeriksaan Dokter.


"Bagaimana aku mengatakan semua ini kepada orang rumah? Shireen terluka, dia kena sayat dan pukulan linggis yang cukup parah, hanya demi menyelamatkanku! Astaga, sudah pasti mereka semua menyalahkan aku," gumamnya gelisah.


Dia mengambil ponsel. Namun, dia ragu-ragu untuk membukanya. Rasa cemas dan khawatir akan kena marah suami dan anaknya.


"Lebih baik aku mengabarinya nanti dulu."


Beberapa menit kemudian, setelah cukup lama Yuri menunggu. Terlihat sang Dokter keluar dengan beberapa suster yang mengikutinya.


"Bagaimana keadaannya Dok?"


"Keadaan pasien masih lemah. Nasib baik, luka sayatnya tidak terlalu dalam, kita juga sudah menjahitnya. Namun sayangnya, kepala pasien bocor hingga menyebabkan sedikit pendarahan. Untuk sementara sebaiknya pasien dirawat di ruang inap selama beberapa hari," kata sang Dokter.

__ADS_1


Penjelasan dari Dokter itu, entah kenapa membuat Yuri merasa bersalah. Walaupun sekarang Shireen dan dirinya sudah aman, bukan berarti mengurangi rasa cemasnya.


"Baik Dok, terima kasih."


"Jika begitu saya permisi!"


Yuri berjalan menghampiri ruang rawat Shireen. Ternyata menantunya itu sudah tersadar, tetapi kepala perempuan itu sudah terlilit perban dengan sekujur tubuhnya yang lebam. Namun, Shireen tak memutus senyumnya sama sekali.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.


"Baik, aku sangat baik. Mami juga harus diperiksa ya, Shireen takut orang-orang tadi melukai Mami," balas Shireen.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Kau yang tidak baik-baik saja. Hmm, maaf karena membuatmu seperti ini jadinya."


"Ini takdir Mami, nggak apa-apa."


"Tapi bagaimana aku menjelaskan ini ke semua orang rumah? Terutama dengan suamimu."


"Sebaiknya jangan kasih tahu dulu, sebelum nanti aku benar-benar pulih. Shireen takut kena marah Mas Sam, dan Azel Azriel pasti nangis liat Shireen,"


Yuri menghela napasnya. "Astaga bodoh! Mau kau satu bulan baru pulang pun, kau tetap ketahuan dan itu aku yang tersalahkan. Sebaiknya memang aku harus telpon suamimu!"


Shireen hanya dapat mengelus dadanya. 'Kalo emang punya pendapat sendiri, gak usah minta pendapat. Ya ampun, dalam keadaan bonyok begini tetep aja omelan gue kena!' gerutu Shireen dalam hati.


Ia menyaksikan bagaimana ketakutan mertuanya itu saat mengabari semua orang rumah.


Berselang beberapa menit kemudian.


Tiba-tiba datang 2 orang, memasuki ruangan. Ya, Samuel orang yang pertama masuk dengan terburu-buru, dengan papinya yang mengikutinya dari belakang.


"Sayang ...."


"Mas."


Samuel menghampiri istrinya. Kecemasannya berada di level tertinggi saat ini. Ia terus memeluk erat istrinya sembari mengecupi dahi yang terbalut perban itu. "Aku menyesal mengizinkanmu keluar, jika seperti ini jadinya!"


"Aku gak apa-apa, Mas."


"Mami apa yang terjadi?"


"Seperjalanan pulang tiba-tiba Mami salah jalan, ternyata jalan yang kita lewati rawan pembegalan. Kita hampir dibrantas, tetapi dengan sangat sok jagonya istrimu itu ingin melawan, alhasil dia kena sayat oleh pria jahat tadi!" jelas Yuri menceritakan.


'Ya ampun, dia memanipulasi semua kejadian tadi. Oke gak apa-apa, orang baik selalu beruntung. Untuk ada suami gue, jadi gue bisa sabar lebih banyak!' Lagi-lagi batin Shireen menggerutu.

__ADS_1


"Jadi bagaimana keadaanmu sekarang, Nak?" tanya Dika.


Bersambung ....


__ADS_2