
Azel pulang lebih awal hari ini. Ia tahu, malam ini ia akan didiami sampai besok oleh putrinya, karena itulah ia terpaksa membeli banyak es krim dan coklat hanya untuk menyogok agar dimaafkan oleh anaknya.
"Terpaksa aku kasih es krim dan coklat, demi tidak didiami anakku walaupun nantinya aku juga yang repot kalau dia sakit gigi," gerutunya.
Wanita itupun berteriak dengan mengetuk pintu kamar anaknya.
"Abel Mami pulang ...."
Ya, sekarang Azel sudah pisah rumah dengan orang tuanya, dia tidak lagi tinggal bersama dengan Samuel dan Shireen. Semenjak Abel memasuki sekolah dasar, entah kenapa Azel tidak mau merepotkan atau kebergantungan dengan orang tuanya lagi. Walaupun begitu, dia tidak memilih tinggal berjauhan, justru saat ini jarak rumah mereka tidak terlalu jauh bahkan masih bertetanggaan.
Hanya adiknyalah yang masih menetap bersama orang tuanya. Ya, Azriel tidak ingin meninggalkan orang tuanya hanya berdua, karena Shireen dan Samuel sudah pensiun dan usia pun sudah tidak muda lagi, sudah waktunya ia yang menggantikan peran ayahnya. Sementara, Aryan dan Iren di sekolahkan di luar negeri bersama Ainsley anak dari pamannya.
Kini terlihat Abel membuka pintu dengan wajah riang gembiranya. Bukan hal yang ditakutkan oleh Azel saat pulang bekerja seperti ini, tapi suatu kebahagiaan melihat senyum putrinya.
"Mami ...." Abel langsung memberikan banyak kecupan di wajah maminya.
'Hah, tumben sekali anak ini,' batinnya.
Abel dapat melihat apa yang dibawa oleh maminya, dia langsung berbinar-binar. Sangat bahagia melihat makanan manis kesukaannya itu. "Mami Abel dibolehin makan coklat sama es krim?"
"Boleh, tapi Abel maafin mami 'kan? Karena tadi mami mengingkari janji untuk hadir ke sekolah ...."
Senyum manis terbit di bibir kecil Abel, ia menarik tangan maminya untuk masuk ke dalam kamar, "Sini ikut Abel!"
Gadis remaja itu menuntun maminya untuk duduk di bangku sofa, kemudian ia berlari mengambil sesuatu yang ada di dalam tas sekolahnya.
"Mami lihat, Abel naik peringkat. Walaupun belum yang pertama, tapi tidak apa-apa 'kan Mami?"
Azel tersenyum haru, ia bisa melihat kecerdasan anaknya saat ini. Kejeniusan Abel benar-benar bertahap.
"Berapa pun peringkatnya, mami akan selalu bangga denganmu. Ingat Sayang nilai hanya sebuah hiasan, walaupun penting, tapi tingkah laku yang baik adalah tetap yang utama. Anak mami hebat!"
"Mau kasih apa ke Abel?"
Baru saja memuji, tapi Azel sudah merasa jengah dengan imbalan yang selalu dipinta oleh putrinya. Tidak apa-apa sudah biasa. Namun tiba-tiba ada satu tawaran yang terlintas, "Kita ke Bali mau?"
"Tidak! Abel cuma mau Mami bertemu dengan Om baik yang sudah mewakili orang tua murid di sekolah tadi."
__ADS_1
Seketika tatapan Azel tertuju penuh kepada anaknya. 'Bukankah Ina yang hadir tadi?'
"Ini tanda tangan Om itu Mami, dia sangat baik sampai mengaku ayah Abel demi menebus raport ini!"
Azel memeriksa ponselnya, sepertinya ada notif yang ia lewatkan.
[Kak maaf, tadi aku sudah ke sekolah Abel, tapi kata wali kelasnya raport Abel sudah ditebus dengan ayah Abel. Aku juga heran, pria mana yang mengaku ayahnya Abel]
Ya, itu pesan dari adik iparnya.
Azel mengecek tanda tangan itu, lalu ia amati sampai detil dan ... seketika ia teringat sesuatu.
'Tanda tangan ini persis sekali tanda tangan dia selepas kita bekerjasama di perusahaan Azriel dulu,' batinnya.
"Siapa namanya?" tanya Azel tiba-tiba.
"Om Agha."
Deg!
***
Aghafa baru saja pulang dari kantor, ia merasa lelah selepas berkutik dalam selembar kertas yang bertumpukan di atas meja perusahaan.
Kini ia menghilangkan rasa itu dengan merendam diri di bawah hangatnya air. Pria itu mulai menaiki bathub, mulai membuka handuk kimononya, kemudian menyisakan satu kain yang melekat ketat di pinggangnya.
"Ahhh ...."
Ketenangan menyergap, rasa badan pun seakan dibawa alam bebas, begitu menenangkan. Kini tercetak jelas tubuh kekar itu tenggelam dalam beningnya air hangat.
"Abel ... Abel ... ya, gadis imut itu mengingatkan aku akan wajahnya, tapi entah kenapa aku lebih merasa dia seperti diriku," gumamnya.
Bayang-bayang di otak seketika memasuki pikiran, tentang di mana ia menemukan gadis tanggungan yang begitu menarik atensinya.
"Aku masih mengingat Azel, walaupun berpisah sepuluh tahun lamanya tapi hati seakan tak bisa pindah ke lain tempat. Aku masih sangat mencintainya," gumam pria itu menikmati air hangat yang seperti memijat kulitnya.
'Baiklah esok aku akan suruh Gafin, untuk cari tahu tentang Abel, jika dia anaknya Azel sama seperti yang disebut oleh anak itu, otomatis dia objek pertama yang aku butuhkan untuk mendapatkan Azel,' batinnya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
"Sayang ... kamu nginap di rumah Omah ya, siang nanti Mami mau keluar negeri selama tiga hari."
Abel yang sedang menyantap makanannya tiba-tiba berhenti, lalu menghunuskan tatapannya ke arah sang mami yang sedang repot sendiri.
"Tuh 'kan gak tepat janji lagi, katanya mau ketemu sama Om tampan!"
Azel menghampiri anaknya, lalu ia mengecup pipi putrinya itu berulang kali. "Maafkan mamiĀ ya Sayang, mami belum sempat. Kamu bisa 'kan ngertiin mami?"
"Baiklah ...." Tersirat kekecewaan dari wajah Abel. Namun, ia tidak boleh egois. Ya, pikiran Abel memang dewasa jika prihal pekerjaan orang tuanya.
Sementara di kantor.
Aghafa terlihat tersenyum mendengar ucapan demi ucapan yang dijelaskan oleh asistennya itu.
"Dari biodata yang saya dapat, Abel gadis remaja bernama asli Abella Carsea Raymond, dia keturunan ketiga dari keluarga Raymond, seorang cucu pak Samuel seorang pembisnis yang saat ini sudah pensiun. Menurut informasi yang saya korek, Abel benar putri dari nona Azella Raymond, putri pertama pak Samuel, saudara kembar pak Azriel yang dulu pernah bekerjasama dengan Bapak."
Aghafa merasa telah menemukan ruang cahaya untuk bisa lagi bertemu dengan perempuan yang dicintainya. Kini kebahagiaan seakan tercipta di hatinya.
'Dia akan menjadi putriku,' batinnya.
"Apa informasi selanjutnya?"
"Masih saya cari tahu Tuan, karena nona Azel identitasnya sedikit tertutup. Tapi, saya menggali satu info lagi tentangnya," balas Gafin masih sibuk melihat layar iPadnya.
"Apa itu?"
"Abel anak hasil dari hubungan misteriusnya dengan seorang pria, yang sampai saat ini belum ada satupun orang yang dapat diketahui siapa sosok pria yang memperkosanya. Maka dari itulah, status nona Azel masih dipertanyakan," jelasnya.
Sampai di sini Aghafa sudah paham, bahkan untuk hal yang pertama dijelaskan Agha sudah mengetahuinya dari dulu.
"Ya, sebelumnya dia sudah pernah bercerita denganku dan anehnya lagi Azel sangat membenci wajahku karena aku dilihat sangat mirip dengan pria yang memperkosanya."
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Gafin heran.
__ADS_1
"Entahlah, maka dari itulah aku sangat dibenci oleh adiknya sampai dia melarang keras untuk aku menemuinya lagi. Padahal, aku sama sekali tidak tahu apa-apa."
'Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres diantara percintaan Tuan ini. Aku akan mengorek lebih dalam lagi untuk permasalahannya.'