
Agha benar-benar drop. Tiba di rumah, Gafin langsung memanggil dokter pribadi. Kini setelah diperiksa, pria sudah sadarkan diri.
“Gaf, bagaimana kabar Abel?” tanya Agha lemah.
“Keadaannya sudah membaik, tapi dokter mengatakan dia masih koma,” ujar Gafin. Ya, informasi itu ia dapat dari Azel yang mengabari. Tak luput pula, perempuan itu terus berucap terima kasih selalu.
Agha menyandarkan punggungnya, kemudian pria itu memejam mata berbarengan dengan menarik napasnya. Ia berujar, “Aku sangat menyayangi anak itu. Rasa cintaku tidak bisa lagi dielak Gafin, aku seakan ingin benar-benar menjadi ayahnya.”
‘Dia putrimu Tuan.’ Refleks hati Gafin menyatakan itu. Namun, mulut pria itu seakan kelu, tak bisa menanggapi ucapannya. Ia hanya berdiam, dengan batin yang berbicara, ‘Jikaku punya bukti yang lebih akurat, sudah kutunjukkan di hadapanmu langsung Tuan.’
“Kenapa aku merasa dia benar-benar bagian dari hidupku, aku tidak siap untuk dilepas dengannya nanti. Gafin, kau sangat pandai. Bisa kau jelaskan, kenapa aku bisa merasakan hal itu? Atau ini semua karena perasaanku terhadap ibunya?”
Mulut Gafin seakan gatal, jika saat ini ia benar-benar sangat ingin mengatakan. Namun, bukti yang logis belum bisa ia dapatkan.
“Tuan sudahlah, pikirkan kesehatanmu dulu. Apa masih ada yang dirasakan?” elak Gafin mengalihkan topik.
“Tidak. Cuma aku merasa aneh saja, kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali pusing. Bayang-bayang di otakku terus berdatangan tiba-tiba,” ucap Agha memijat pelipisnya.
Sebenarnya kejanggalan itulah yang dirasakan oleh Gafin juga. Namun, ia pernah ingat sesuatu jika tuannya itu masih mengalami Amnesia permanen.
“Tuan. Apakah Anda pernah diberitahu jika Tuan ini mengalami amnesia yang bersifat permanen?” tanya Gafin.
“Ayahku pernah bilang seperti itu. Semenjak koma, aku hilang ingatan yang sampai saat ini tak kunjung pulih. Aku tidak mempermasalahkan itu, bagiku masalah lalu biarlah pergi. Hidup yang sekarang aku jalani sudah sangat baik. Tidak ada masa lalu yang perlu diingat,” balas Agha.
“Tapi di balik terlupanya masa lalu Anda, banyak hal-hal penting yang harus diingat Tuan,” ucap Gafin. Tanpa sadar, pria itu ingin menguak misteri kejadian di masa lalu silam.
“Penting untuk apa? Identitasku, dan asal-usul? Gafin jika kau tahu, aku ini sebenarnya bukan bagian dari keluarga Luis, tapi begitu baiknya ayahku dia mau mengadopsiku sebagai anak. Sementara, di mana keluargaku? Entah, aku rasa mereka telah melupakanku.” Agha mengubah posisinya lebih tenang, dengan kepala yang benar-benar ia sandarkan. Beberapa saat kemudian, ia memejamkan mata.
“Bukan hanya itu Tuan, tapi banyak sekali kejadian-kejadian penting di masa lalu Tuan yang di mana bisa membuktikan identitas Anda,” balas Gafin.
“Sudahlah Gafin, jangan mencari hal yang tidak penting. Lakukan saja aktivitas yang bermanfaat, itu hanya menjawab rasa penasaranmu saja. Setelah itu, kau tidak mendapatkan sesuatu yang menguntungkan,” ujar Agha masih tenang.
__ADS_1
Sungguh ucapan tuannnya itu sangat memancing bibirnya untuk mengatakan, “Saya ingin menyatakan sesuatu Tuan, jika Anda dengan nona Abel memiliki hubungan darah antara ayah dan anak,” ungkap Gafin begitu lugas.
“Maksudmu?”
***
Kini Azel tak beranjak sama sekali dari brankar, perempuan itu terus menjaga anaknya.
Tiba-tiba Azriel sang adik datang, pria itu menatap sangar sang kakak seolah ada guratan amarahnya.
“Kau apakan keponakanku sampai seperti ini?!” tegasnya. Ya, dari dulu posisi mereka seperti terbalik dari Azel yang berperan sebagai kakak, justru tampak Azriel yang berada di posisi itu dan sebaliknya dengan Azel juga.
Bahkan, dari dulu Azriel lah yang selalu menjadi sosok kakak untuknya. Mereka hanya berbeda beberapa menit saja, tapi karakter mereka bagaikan terlampau jauh perbedaannya.
“Maafkan aku Azriel. Ini karena kebodohanku, hikksss ....” Azel langsung beralih masuk ke dalam pelukan sang adik yang jauh lebih tinggi darinya.
“Aku sudah katakan, jangan terlalu memberinya kebebasan. Hatiku hancur melihat gadis kesayanganku harus tertidur lemah seperti itu, terlebih karena kebodohan orang tuanya!” Ucapan Azriel seolah-olah memojokkan kakaknya, tetapi yakinlah itu adalah sebuah pesan kasih sayang ada di baliknya.
“Sudah cukup aku marah sampai sini, tapi belum cukupkah aku melarangmu untuk menghindari pria itu?”
“Maksudmu?”
***
Gafin menyodorkan secarik kertas bertuliskan tinta hitam, yang di mana banyak sekali pernyataan di dalamnya.
“Gafin kenapa kau bisa ....?”
“Ya, Tuan. Maafkan saya karena lancang mencari sumber bukti untuk menjawab rasa penasaran ini. Namun, di balik masa lalu Tuan yang terlupa ada hal penting yang harus diingat. Maka dari itu pulihkan ingatan Tuan kembali, ini akan membuktikan semuanya,” ujar Gafin menangkis.
“Ini tidak masuk logika. Dari mana aku bisa mempunyai anak dari seorang perempuan, yang ternyata anak itu gadis yang kusayangi sekarang? Gafin sepertinya kau salah mencari informasi. Ini tidak valid,” balas Agha. Namun lihatlah, lagi-lagi ia memastikan tulisan yang mungkin ada yang ia salah baca.
__ADS_1
“Ini sangat persuasif Tuan. Semuanya terbukti dari masa lalu Anda. Jika Tuan mengingat, ada kemungkinan Tuan memiliki scandal di masa lalu dengan nona Azel.”
“Dari mana kau bisa yakin seperti itu? Sampai, kau sangat niat mengetes DNAku dengan Abel?”
Agha mengubah posisinya, ia tampak lebih bersemangat. Entah, tiba-tiba pria itu ikut penasaran.
“Banyak yang membuat saya yakin Tuan. Dari banyaknya kesamaan di antara Tuan dan nona Abel, selain itu banyak juga fakta yang menunjukkan keterkaitan kalian. Contoh, seperti tadi yang saya simpulkan dari golongan darah Tuan yang sama, itu sangat akurat untuk membuktikan. Semua itu saya lakukan demi menjawab rasa penasaran saya saja Tuan, tidak ada maksud terselubung di baliknya,” tutur Gafin.
Agha justru tersenyum simpul. “Sungguh jika benar dia putri kandungku, aku akan sangat merasa bahagia. Jika semuanya salah, aku hanya bisa tersenyum,” ujarnya.
“Berjuanglah Tuan. Memulihkan ingatan adalah jalan satu-satunya. Selain membuktikan, kau juga bisa membuat pengakuan.”
“Bawa aku ke dokter esok!”
Gafin langsung menunjukkan senyumnya. Hal ini seperti kerjasama yang baik untuknya. Ah, pria itu sangat tidak sabar apa yang terjadi selanjutnya nanti.
“Baiklah, saya pamit. Langsung menuju rumah sakit untuk mengecek keadaan putrti Anda.”
“Ya, terima kasih Gafin!”
***
Kembali dengan Azel dan sang adik.
Pernyataan yang tak kunjung terjawab itu, membuat Azel mengulangi ucapannya, “Apa maksudmu Azriel? Siapa pri itu yang kau maksud?”
Azriel terkekeh, akan tetapi raut dari wajahnya berubah menajam. “Ternyata, 10 tahun belum cukup untuk memisahkan kalian. Cara apalagi yang harus aku lakukan untuk memperingatimu?”
10 tahun? Pisah? Langsung bisa Azel simpulkan siapa sosok pria itu. Ia menunduk lesu, lalu menjawab, “Dia datang begitu saja Azriel. Aku tidak tahu, tapi justru anakku yang dipertemukan duluan dengannya. Dari mana kau tahu?”
“Aku sibuk bukan berarti tidak mementingkan keluarga. Abel dan kau tak terlepas dari pengawasanku. Jadi, tidak perlu heran jika aku mengetahui semuanya. Bahkan, sudah dari kemarin-kemarin tapi aku diam.”
__ADS_1