
“Ehmm, aku hanya lengah tadi. Maaf karena sudah merusak dansamu dengannya,” ucap Azel. Namun kaki dan tubuh perempuan itu masih mengikuti irama musik yang sama dilakukan oleh keduanya.
Sementara Elena justru tersenyum. Ia memandang Xander dengan senyum smirknya.
“Seperti kebetulan bukan? Kini kita terpisah, dan pasangan kita justru bersama. Apa kau tidak merasakan hal yang aneh?” ucap Elena sama dengan mereka, yang masih meneruskan aksi dansanya.
Sesekali perempuan itu berputar layaknya ia menari dengan pasangannya, tanpa merasa canggung sedikit pun. Ya, itu sikap profesionalnya terlebih ia sudah sangat ahli dalam bidang penarian seperti ini.
“Itu hanya kebetulan Nona,” balas Xander.
“Ya, aku tahu. Biasanya yang kebetulan itu ada sesuatu. Pak Xander jika kau diharuskan untuk memilih, antara merelakan atau bersama dalam kepalsuan. Mana yang kau pilih?” ucap Elena.
“Pertanyaanmu terdengar seperti ada sesuatu. Tapi, jika merelakan yang terbaik aku akan lakukan, daripada aku hidup dalam kepalsuan,” ucap Xander.
Tiba-tiba Elena menghentikan kakinya, hingga dansa mereka terputus dengan sebab tangisan dari perempuan itu. “Bisakah kau Azel dengan Agha? Hikkss ... Pak Xander, mereka saling mencintai!”
Seketika Xander seakan tersentak dengan ucapannya, sampai ia menatap terbuka dalam mulut yang terkunci. Saat itu juga Elena pergi dengan menyisakan butiran-butiran air matanya yang sudah terjatuh.
Pandangan Xander teralihkan oleh dengan Abel dan Agha yang saling memandang. Lalu, ia menyadari sesuatu ....
“Apa aku mencintai seseorang yang ternyata telah mencintai orang lain?” gumamnya.
***
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari weekend, yang di mana kepulangan kedua orang tua Xander berserta dengannya.
“Tante dan Om kenapa tidak menetap saja sampai pernikahan kita nanti? Kau juga Mas, padahal menunggu satu bulan itu tidak lama untuk sekedar menatap di sini,” komplen Azel saat mereka sudah mempersiapkan diri untuk terbang kembali ke tempat asalnya.
“Maafkan kita Sayang ... pekerjaan di sana sudah banyak yang terbengkalai. Tapi, nanti kita janji akan menginap lebih lama di sini. Maaf juga ya, kami tidak sempat berpamitan dengan orangtuamu,” ucap Bellezia sang calon ibu mertua.
“Ya, salam saja untuk kedua orangtuamu,” sahut Christensen.
__ADS_1
“Baiklah ..., maaf aku juga tidak bisa menghantar kalian ke bandara. Anakku sedang demam,” balas Azel.
“Cepat sembuh untuk putriku ya. Aku berangkat sekarang. Jaga hatimu untukku!” ujar Xander, terdengar seperti memberi penakanan. Namun, pria itu langsung melayangkan kecupannya. Azel hanya terdiam tidak bisa membalas.
“Sudah ya Nak. Cepat pulih untuk anakmu. Kami pamit ....”
“Ya, hati-hatilah ....”
***
Padahal hari ini Agha ingin menyempatkan waktu untuk anaknya. Namun, setelah mendengar bahwa anak itu sedang demam Agha mulai dilanda rasa cemas. Ia pun berniat untuk menengok mengunjungi rumah Azel.
“Ayah ....”
Abel seperti mempunyai ikatan kuat dengan Agha, bahkan saat ayahnya itu baru saja sampai di ambang pintu belum terlihat sama sekali, dia sudah tahu akan kehadirannya.
“Kenapa sampai demam?” tanya Agha saat sudah memeluk putrinya.
Agha menghela napasnya. Ia teringat aksi kekonyolan Elena dan anaknya kemarin. Entah itu ada keterkaitannya dengan keadaannya saat ini atau tidak yang jelas tidak di sangka-sangka, baru kemarin mereka canda tawa kini sudah terkapar di atas ranjang.
“Ya, itulah kekonyolanmu yang membuat kita repot sekarang!” sahut Azel.
“Ayah ... sepertinya Mami punya dendam dengan Abel, dari tadi dia marah-marah terus!” Lagi-lagi gadis itu mengadu.
“Sudahlah, namanya juga anak kecil,” relai Agha masih mengeratkan pelukannya.
‘Anak kecil matamu.’ Rasanya Azel ingin mengeluarkan kata itu. Namun sayang, ia hanya memendamnya di dalam hati. ‘Anak ini baru kemarin menasehatiku seolah dia paling dewasa. Ah, tidak pantas sekali dikatakan anak kecil,' lanjut gerutu Azel dalam hati.
Azel berdiri dengan membawa satu wadah kecil, alat pengompresan. Perempuan itu beranjak menuju dapur untuk menaruhnya kembali.
“Istirahatlah ... ayah ingin berbicara dengan mamimu.” Agha menyelimuti tubuh putrinya, hingga ia terbenam menyisakan kepalanya.
“Tapi Ayah janji ‘kan seharian di rumah Abel?”
__ADS_1
“Iyah Sayang ....”
Azel pun ditinggalkan, kini laki-laki yang sudah berstatus ayah itu melangkahkan kakinya menuju dapur menyusul Azel.
“Azel ....”
“Ada apa?”
“Hmm ... kemarin aku sudah hadir, besok giliranmu. Datanglah esok di hari pertunanganku dengan Elena,” ucap Agha.
Abel menampakkan senyum remehnya. Tangan wanita itu masih sibuk dengan alat dapur, sementara senyuman mengisyaratkan jika dirinya sedang mengintimidasi.
“Aku akan hadir, tapi sayang aku tidak bersama dengan calon suamiku jadi tidak bisa menunjukkan kemesraan sepertimu kemarin dengan kekasimu,” balas Azel.
Agha membuang pandangannya, ia merasa jengah dengan jalan pemikiran perempuan ini. “Terserah kau saja, aku sudah mengundang itu berarti kau harus datang.”
“Jika aku tidak ingin hadir bagaimana? Oh, atau kau takut aku tidak bisa melihat kebahagiaanmu dengannya nanti?”
“Azel buang jauh-jauh pikiran overthinkingmu itu. Tidak sama sekali aku berniat apapun untuk mengundang. Jika pun kau tidak ingin hadir, tidak masalah bagiku!” tegas Agha.
Azel melepaskan semua kesibukannya, ia menatap menghunus pada kedua bola mata Agha. “Sekarang aku ingin bertanya sebelum kau berbuat jahat lagi. Kau yakin menikahi nona Elena? Kau yakin tidak akan berpindah tempat ke hati perempuan lain? Aku tidak pernah percaya akan ucapanmu Agha!”
“Apa yang kau maksud itu Azel?” tanya Agha lagi-lagi tidak mengerti ucapannya.
“Sekarang kau mengatakannya cinta pada dia, aku yakin beberapa kemudian kau akan mengatakan itu kepada perempuan lain. Aku seorang wanita tidak ingin kaumku kau perlakukan seperti itu terus.
Contohnya kau ketahui sendiri, baru kemarin kau mengatakan sangat mencintaiku lalu beberapa hari setelah kau sudah ingin menggelar pertunangan. Kau jahat jika hanya menjadikanya sebagai tempat singgah, tanpa kau sadari kau mempunyai anak perempuan Agha!”
Suara Azel menggema, menyiratkan aura kemarahannya. Agha pun merasa geram, lagi-lagi perempuan ini selalu disamakan dengan perilakunya seperti dulu.
“Lagi-lagi kau menyamakanku pada pribadi yang dulu. Azel jika kau tahu yang sebenarnya, aku memang sangat mencintaimu bahkan belum pudar sampai saat ini. Akan tetapi, aku sadar kita bagaikan air dan minyak. Aku tidak bisa memilikimu, maka aku memutuskan untuk beralih. Bagiku Elena tempat yang baik untukku, aku akan belajar mencintainya,” tegas Agha lebih mengena sampai perempuan itu mulai berpikir.
Agha mulai menghampiri Azel lebih dekat, lalu ia kembali mengatakan sesuatu, “Seharusnya kau sadari juga sikapmu. Sudah baguskah kau berkata seperti itu, sementara kau sendiri tidak bisa menghargai seseorang. Ingat, waktu kau mengatakan jika aku harus menjauh? Ya, pada saat itu juga aku pada saat itu aku memutuskan untuk berhenti memperjuangkanmu, jadi tidak ada salahnya jika aku mulai belajar mencintai orang lain. Itu ‘kan yang kau inginkan? Maka, senanglah untuk itu!” tandas Agha. Setelahnya pria itu langsung pergi.
__ADS_1