Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Rasa Sakit yang Terpendam


__ADS_3

Baiklah untuk kali ini aman, dan ucapannya itu terdengar persuasif di telinga Xander. “Baiklah, aku tidak ingin mengecewakan calon adik iparku juga, karena kebodohanku yang ingin menguak masa lalumu,” balasnya.


Azel pun menerbitkan bulan sabit di bibirnya. Terbentuk senyum yang menghangatkan. “Tapi sayang sekali, sepertinya pertemuan kita tidak akan lama di sini, terpaksa aku mengingkari janji kepada Abel untuk mengajaknya bersenang-senang.”


Azel mengerut, baru saja hampir dua hari tapi kekasih beda negaranya ini sudah mau berpisah. Belum cukup untuk mengobati rindu setelah lamanya LDR.


“Kenapa cepat sekali?”


“Pekerjaan Sayang ... aku harus kembali ke London untuk menjumpai orangtuaku. Setelahku ceritakan hubunganku denganmu, mereka berniat untuk membuat pertemuan antar keluarga kita. Setelah mengurus pekerjaan papah, aku juga akan kembali ke Amerika. Mungkin, cukup lama kita akan berpisah lagi, tapi tenang saja aku akan kembali bersamamu dengan status yang baru nanti.”


Azel yang awalnya sedih, kini terkekeh terlebih mendengar ucapan kekasihnya itu yang seperti sebuah godaan. Namun, tak bisa ia pungkiri ia tak dapat menahan senyumnya.


“Baiklah-baiklah ....”


Cup!


Satu kecupan pun mendarat di pipi Xander, akan tetapi pria itu ingin lebih. Hingga, terjadilah adegan erotis di meja makan itu. Suasana yang tenang pun berubah panas karena ulah dua pasang insan ini.


***


Sedangkan, Abel masih cemberut karena tak ingin sekolah. Agha pun mati-matian membujuknya.


“Baiklah jika tidak ingin sekolah, maka ke pasar malam untuk hari esok kita batalkan!” ucap finis Agha, karena mulai lelah membujuk.


Ternyata coklat dan eskrim tak membuat gadis itu tergoda, hingga mekdi dan makanan seafood lainnya Abel tak terpengaruh. Itu semua daftar makanan favorit Abel, yang sulit gadis itu makan karena suatu larangan dari sang mami.


“Jangan Ayah!”


“Baiklah berarti kau mau sekolah, jika ingin datang ke pasar malam nanti!”


“Tapi Abel takut dihukum ... ini sudah telat ....”


Agha tersenyum sembari mengusap lembut wajah gadis itu, “Selagi ada ayahmu ini, kau aman yang terpenting kau masih mau sekolah.”


Abel menyeka air matanya dengan kasar, buru-buru ia tersenyum guna untuk menunjukkan bahwa ia telah semangat kembali.


“Baik Ayah!” Akhirnya Agha pun tersenyum senang.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah.


Gerbang baru saja di tutup, pertanda waktu jam pelajaran akan di mulai yang berarti siapapun murid yang belum datang akan di alphakan.


Namun, tidak dengan cara cerdik Agha. “Pak, bisa anak saya masuk?”


“Maaf Pak, jam pelajaran sudah di mulai, jadi murid yang terlambat otomatis akan dialphakan,” ucap sang satpam.


“Hanya beberapa menit kita terlambat, apakah tidak bisa?” Agha mencoba untuk memohon, sebelum jurus andalannya keluar.


“Maaf tidak bisa, saya hanya menjalankan tugas!”


‘Sepertinya pria tua ini harus disumpal dengan yang enak-enak,' batin Agha.


Ia mulai mengeluarkan jurusnya. Ya, jika bukan uang apalagi? Ada rasa bersalah karena ini termasuk rasuap, tetapi demi anaknya sekolah ia harus melakukannya. Sementara Abel sendiri hanya menatap polos mereka yang sedang berdebat.


“Seperti ini saja, biar sama-sama enak. Bagaimana ....” Agha mulai menunjukkan beberapa lembar uang, dan itu cukup banyak.


“Tapi Pak, ini?”


“Hanya aku dan kau yang tahu. Aku akan tambahkan jika kau masih ragu, tapi tawaran ini terbatas, bagaimana?”


“Terlalu banyak tapi, jadi kau mau tidak?”


Akhirnya kata-kata non formal Agha mulai keluar. Ia berpikir jika satpam ini sedikit munafik.


“Baiklah, jika ada yang melaporkan tentang hal ini. Bapak akan saya tuntut untuk bertanggungjawab! Terlebih jika sampai saya dipecat!”


‘Heh dia tidak tahu siapa aku,' batinnya terkekeh.


“Kau tenang saja.”


Gerbang pun terbuka lebar, satpam itu akhirnya mempersilahkan Agha dan Abel mulai memasuki kelas. Setelahnya, ia menerima beberapa lembar mata uang itu.


Setelah memasuki kelas, seorang guru cantik yang mengajar matematika menegur, “Abel kenapa telat?”


“Abel kesiangan Buk, Abel mau kok dihukum apa aja asal Abel bisa ikut belajar hari ini!” Gadis itu sudah terlihat pasrah, sampai mengacung dua jari telunjuk dan tengahnya membentuk sebuah permohonan. Ya, gadis itu hanya takut jika harus mendengar kata-kata tegasnya.

__ADS_1


“Selamat pagi Buk, maaf atas keterlambatan anak saya. Di perjalanan tadi ada sedikit kendala.” Tiba-tiba Agha datang yang membuat ekspresi wajah ibu guru cantik itu menjadi hangat dari tegasnya tadi.


‘Benar kata buk Risma, ayahnya Abel sangat tampan. Wajah mereka terlihat sama, berarti desas-desus berita Abel tidak jelas siapa ayahnya, hanya sebuah isu,' batin guru itu.


“Baiklah Pak, pelajaran pun belum lama berlangsung. Saya mohon tingkatkan lagi kedisiplinan anaknya,” balasnya.


“Baik, terima kasih. Saya titip anak saya!”


Guru itu pun tersenyum mengangguk. Setelah pria itu membisikkan sesuatu di telinga anaknya, ia pun segera pergi.


***


Sepulang sekolah. Mobil sedan sudah menepi di depan gerbang, lalu menunjukkan sang pemiliknya. Keluarlah dua pasang manusia.


“Sayang ... Om Xander ingin pulang, mari ikut ke bandara untuk menghantarnya.” Azel berusaha untuk menunjukkan kasih sayangnya, walau ia tahu jika anaknya pasti belum memaafkan.


“Kenapa cepat sekali Om, Abel belum main puas sama Om,” balas Abel. Atensinya dialihkan dengan pria dewasa itu.


Xander tersenyum. Ternyata gadis ini selalu diajarkan baik kepada orang tuanya, walau hati mengira jika gadis itu tak bisa menerimanya sebagai calon ayah.


“Maafkan aku Nona cantik. Mungkin saat-saat ini tidak sempat, tapi suatu saat nanti waktuku hanya untukmu.” Pria itu berjongkok, dengan membuka kacamata hitamnya, hingga Abel bisa melihat kiasan wajah pria itu dengan senyuman hangatnya.


“Baiklah, tapi janji ya Om ....”


Xander semakin berat meninggalkan anak ibu ini, terlebih kini Abel sudah mulai menunjukkan kehangatannya.


‘Sebenarnya bukan dia yang tak ada respek untukku, tapi aku yang jarang mendekatinya. Pantas gadis ini selalu hamble dengan Agha, karena dia lebih banyak memberikan waktunya. Abel memang gadis yang membutuhkan perhatian penuh,' batinnya.


“Untuk kali ini, janjiku akan kutepati bahkan akanku tulis di ponselku agar aku dapat selalu mengingatnya.”


Abel pun tersenyum, sampai tertawa memperlihatkan gigi kecil mungilnya. “Oke Om!” Xander langsung memberikan kecupannya, dan ia langsung menggandeng calon putrinya itu untuk masuk ke dalam mobil.


Sementara, Azel merasa sedih karena anaknya itu tak sama sekali menatapnya. Ia tahu dan sangat hafal bagaimana perasaan Abel saat ini. Marah, ya tentunya masih ada rasa kesal.


'Mami tahu kau pasti masih sangat kesal Abel, maafkan Mami.'


Sementara, dari kejauhan mata memandang, terdapat di sisi lain seorang pria berkacamata hitam menatap nanar, wajahnya yang tetap cool bersamaan ekspresinya.

__ADS_1


“Keluarga yang harmonis ....” Dia terkekeh kecil. Dengan gerakan cepat dia menarik pedal gas, lalu melajukan mobilnya melesat dengan cepat.


__ADS_2