
Tampak seorang gadis ayu datang dengan ke kota. Ia terpukau dengan keindahannya kota.
"Wah, ternyata kota itu lebih ramai dari apa yang aku pikirkan ...."
Senyuman manisnya terbentuk sangat jelas, melihat padatnya kota dengan pemandangan di sana. "Aku tidak sabar untuk menemui nenek!"
***
Sementara di mansion kediaman keluarga Raymond.
Pak Tino merupakan satpam penjaga gerbang. Di mana ia harus mengabarkan siapapun yang datang.
"Permisi Tuan, Nyonya. Saya mau memberitahu di luar ada tamu!"
"Itu pasti cucunya Bik Inah!" Shireen dengan sigap melangkah keluar untuk menyambutnya.
"Selamat malam Nyonya, saya Ina cucunya nenek Inah!"
"Astaga kamu cantik sekali. Aku menunggu kedatanganmu, kenapa malam banget sampainya?
"Awal berangkat saya pagi-pagi, tapi karena perjalanan dari kampung ke kota cukup jauh jadi memakan waktu banyak untuk sampai."
"Oalah, kamu pasti lelah. Ayo masuk!"
'Ternyata benar kata Nenek, keluarga majikannya sangat ramah dan baik,' batin gadis itu.
Shireen langsung memperkenalkan gadis yang merupakan cucu dari pembantunya yang bernama Inaya, yang biasa disebut Ina. Gadis berparas ayu itu terus tersenyum.
"Duduk Nak!" seru Samuel.
"Terima kasih Tuan."
"Perkenalkan dirimu!"
"Saya Inaya dari kampung, kedatangan saya di sini untuk menggantikan pekerjaan Nenek."
Ada Azel, Iren dan Aryan juga di sana. Mereka tersenyum dengan gadis desa itu.
'Astaga dia cantik sekali.' Sementara Aryan sangat mengagumi kecantikannya.
Tiba-tiba Inah datang. Saat melihat kedatangan cucunya, ia tampak sekali bahagia.
"Ina!"
"Nenek!"
Gadis itu menghampiri neneknya yang sangat jarang sekali berjumpa. Kini mereka saling memeluk untuk menyalurkan rasa rindu mereka.
__ADS_1
"Nenek sehat?"
"Aku sehat, bagaimana dengan orang di kampung?"
"Mereka baik, tapi saat ini mereka sangat menunggu Nenek pulang."
"Ya, sebentar lagi Nenek akan pulang!"
"Sepertinya dia kelelahan, sebaiknya suruh dia istirahat dulu. Besok jelaskan apa saja pekerjaannya!" sahut Samuel.
"Baik Tuan. Terima kasih!"
***
Di dalam kamar.
"Jadi Ina datang ke sini untuk menggantikan Nenek? Sebagai ketua pelayan 'kah?" tanya Ina.
"Tidak Nak. Kau hanya menjadi pengasuh Tuan muda Azriel. Kau bisa 'kan?"
Ina tersenyum manis, tentu saja bukan hal yang sulit baginya. "Tentu saja bukan hal yang sulit bagiku Nek, terlebih hanya mengasuh anak kecil," ujarnya.
"Bukan anak kecil Sayang ... kau harus merawat pria berumur 28 tahun yang lebih dewasa darimu."
Ina tercengang, ternyata perkiraannya salah. "Astaga, yang benar saja Nek. Ina belum paham!"
"Nek, bagaimana jika dia tidak mau denganku juga?"
"Semoga saja mau, coba saja dulu. Kita usahakan." Inah berjalan menuju kamarnya, lalu ia kembali lagi dengan memegang sebuah bingkai foto kemudian menunjukkannya kepada sang cucu.
"Ini dia, kau harus menjadi pengasuhnya."
'Terlihat tampan, tapi sayang dia mempunyai nasib yang buruk,' batin Ina.
"Nenek, kalau boleh tahu kenapa pria itu sampai bisa lumpuh?" tanya Ina.
"Sini mendekat, biar Nenek ceritakan kehidupan Tuan Azriel!" Ina mendekat, gadis berambut halus panjang itu sudah siap mendengarkan.
"Tuan Azriel itu seorang anak piatu, jika kau hanya kenal dengan Nyonya baik yang tadi menyambutmu, itu hanya ibu ASInya. Dia mempunyai saudara kembar yang bernama Azel." Inah mulai menceritakan.
"Berawal dari Nona Azel yang diperkosa oleh seorang pria misterius sampai saat ini ia belum mengetahui siapa ayah dari anaknya. Statusnya pun masih jadi pertanyaan. Tuan Azriel selaku pemimpin keluarga ini, merasa tidak terima dengan kakaknya yang dilecehkan. Pada suatu hari, dia menemukan siapa sosok pria itu. Ternyata dia adalah musuh Tuan Azriel yang membalaskan dendamnya kepada kakaknya."
Ina masih menyimak, tampak serius gadis itu mendengarkan.
"Suatu malam, Tuan Azriel mengejar pria itu. Dia berhasil menembaknya sampai jatuh ke jurang, tapi hal tersebut justru menjadi boomerang untuk dirinya, karena pada akhirnya mobil yang ia bawa ikut masuk ke jurang itu. Setelah ditemukan, ternyata Tuan Azriel terluka parah hingga koma beberapa bulan. Di saat dia sadar, semua keluarga bahagia karena ternyata ia selamat. Namun kenyataan pahitnya Tuan Azriel harus menerima kenyataan bahwa kondisinya saat itu tidak bisa berjalan lagi."
"Kasihan sekali," gumam Ina.
__ADS_1
"Semenjak kejadian itu, Tuan Azriel berubah sangat jauh dari kepribadian aslinya. Dulu dia pria ramah yang selalu bertanggungjawab atas keluarganya, sangat menjadi harapan bagi Tuan Samuel. Kini, Tuan Azriel menjadi sangat angkuh, tidak mau diatur dan sangat keras kepala. Orang yang masuk ke kamarnya pun hanya orang tertentu, pelayan selain Nenek akan dia usir dengan kasar."
Tiba-tiba Ina merasa minder, ia takut akan merasakan seperti pelayan lain.
'Bagaiamana jika aku juga akan diusir?'
"Namun, jika kau bisa mengambil perhatian dari keponakannya kau akan bisa dekat dengannya."
"Maksudnya?"
"Ya. Nona Abel adalah putri dari Nona Azel. Dia anak kecil yang sangat menggemaskan, hanya dia yang dapat mencairkan hati dingin Tuan Azriel. Jika kau bisa mendekatinya, otomatis Tuan Azriel akan dekat denganmu. Dengan begitu pula, kau akan bisa menjadi pelayan untuknya. Dan, kau akan diberi hadiah sebagai orang yang bertahan lama mengurusnya," ucap Inah.
Entah kenapa Ina menjadi sangat penasaran ingin mengetahui sendiri siapa sosok Azriel. "Baiklah Nek, aku akan coba. Semoga aku bisa."
"Ya, siapkan mentalmu. Nenek yakin cucu Nenek itu gadis yang kuat dan hebat!"
Ina pun memeluk Nenek tersayangnya itu.
Keesokan paginya.
"Sayang ... sekarang tugasmu bangunkan Tuan muda Azriel di kamarnya. Pilihkan pakaiannya, antar dia ke kamar mandi dan kau harus menunggunya sampai dia selesai mandi!"
Mendengar penuturan dari Neneknya, Ina tercengang sampai menganga. "Harus ya Ina tunggu sampai dia selesai mandi?"
"Iya ... bahkan jika dia kesulitan memakai pakaian, kau harus membantunya."
"Astaga Nek!"
Ina berpikir ini akan lebih sulit dibanding mengurus 5 bayi. Terlebih mereka berlainan jenis, dan sama-sama dewasa.
"Tenang, bersikap profesional saja. Sekarang sebaiknya cepat kau masuk ke kamarnya!"
Dengan langkah yang berat Ina berjalan. Setelah diberitahu letak kamar Azriel gadis itu segera melakukan niatnya. Sedikit gugup, tetapi ia terus menepis perasaannya itu.
"Baru kali ini aku segugup ini," gumamnya tatkala ia sudah sampai di depan pintu kamar Azriel.
Mengumpulkan mental lagi, sebelum masuk ia pun menarik napasnya banyak-banyak.
Ceklek.
Pintu sudah terbuka, tiba-tiba ia tercengang. Ina terpaku dengan sosok seorang yang sedang tidur di atas ranjang di sana.
"Ternyata dia lebih tampan dari yang aku lihat di foto," gumamnya.
Wajahnya yang terlihat damai dan tenang, membuat Ina tersenyum. Namun, pria itu dalam kondisi tak memakai baju dan membuatnya malu sendiri.
Bersambung ....
__ADS_1