
Ina berdiri di dalam kolam dengan kaku. Ia berpikir akan ada yang melihatnya, tetapi ia salah. Justru saat ini ia disuguhi pemandangan yang amat indah dari atas balkon hotel.
"Orang di bawah sana terlihat seperti semut," gumamnya.
Akhirnya perempuan itu menikmati. Azriel pun tersenyum. Pria itu tak mau jauh dari pegangan erat di pinggang istrinya.
Mata Azriel tak beranjak dari pandangannya ke arah tubuh Ina. Sangat indah, dan ia ingin menikmatinya lagi.
"Apa kau benar-benar menikmati liburan ini?" tanyanya.
Ina membalikkan badan, lalu menghadap ke depan suaminya. "Aku sangat-sangat menikmatinya. Seumur-umur aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Terima kasih."
"Tidak perlu, karena kata terima kasih itu lebih pantas aku yang mengucapkannya untukmu." Ia mel*mat bibir istrinya di bawah pancaran matahari.
Air laut yang tenang, dengan gunung-gunung yang menjulang. Mereka menjadi saksi adegan cinta dua pasang suami istri itu.
***
Setelah satu Minggu full, Ina dan Azriel akhirnya kembali pulang. Sedangkan, adik-adiknya sudah lebih dulu dari kemarin, karena mereka masih sibuk dengan kegiatan pendidikannya.
Saat ini Azriel dan Ina sudah sampai. Ia melihat sang Mommy menyambutnya dengan senyuman yang menawan.
"Heyy, kenapa kalian cepat sekali? Kenapa tidak satu bulan saja di sana?" ucap Shireen.
"Terlalu lama Mom ...."
"Ekhemm, sepertinya ada sepasang pasutri yang baru mekar nih!" sahut Azel.
"Bagaimana? Tekdung la la la la 'kan?" tanya Shireen menggoda dengan menahan-nahan senyumnya.
Ina tersipu, ia merasa seperti aneh di dalam dirinya. Perempuan itu pun hanya bisa membalas senyuman, sementara suaminya tampak merasa jengah. Mungkin Azriel sudah kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh tadi.
"Aku tidak mengerti argumen kalian. Sudahlah ... aku lelah, tidak mau membahas yang aneh-aneh!" sahutnya.
"Hmm, Ina saja yang bekerja setiap malam tetap segar, kau yang hanya menikmati masih saja mengeluh!" ujar Azel menggoda.
"Kakak kata-katamu itu, jangan membuat istriku tidak polos lagi!"
Azel dan Shireen pun sama-sama tertawa. Azriel mengabaikannya, ia pun menuntun istrinya untuk masuk ke kamar.
***
Sementara di lain tempat.
"Nak, kau bisa mencari wanita lain. Mungkin, Azel bukanlah takdir cintamu."
"Ayah, aku masih mencintainya."
Abran menghela napas. Sudah berhari-hari anaknya itu tidak berselera dalam hal apapun, sampai ia cemas dengan keadaan mental putranya.
__ADS_1
"Lupakanlah, perempuan lembut seperti nak Azel itu banyak bahkan seribu kali lipat lebih baik darinya," ujar Abran.
"Tapi Ayah, Azel adalah wanita pertama yang membuat perasaanku nyaman. Aku ingin melamarnya segera, tetapi dia sendiri sudah menolakku," ungkap Aghafa.
"Mau bagaimana lagi? Ayah sudah tidak ada daya untuk membantumu, semua usaha sudah kita lakukan. Namun lagi-lagi Tuhan yang mampu menggarisi takdirmu, kita hanya bisa berencana."
"Tidak apa Ayah. Kau tetap sumber suport terbaikku, aku akan mengejar cintaku sendiri."
"Berusahalah, jika Azel memang jodoh mau terhalang apapun kau pasti disatukan dengannya."
***
Tiba di pagi hari.
Azriel kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, saat ini Azriel masih terpulas, ya sebab pertempuran semalaman yang mengakibatkan dirinya mengantuk di siang hari.
"Mas, ini sudah siang lho, kalau telat bagaimana?"
Azriel hanya menggeliat, tetapi tetap terpejam matanya. "Aku bos Sayang ... jika kau lupa!"
"Tidak boleh seperti itu Mas, seharusnya kamu mencontohkan yang baik untuk bawahanmu," balas Ina masih membujuk.
Pasalnya saat ini Ina sudah merasa lengket di seluruh tubuhnya, ia sangat ingin mandi. Namun, Azriel masih asik memainkan dua buah aset miliknya. Jangan diragukan lagi, Azriel memang keturunan Samuel. Kemesuman tingkat pria itu hampir sama, hanya saja Azriel berbeda. Jika pada masa lalu Samuel adalah playboy, anaknya justru kutu buku.
"Bagimana satu kali lagi untuk pagi yang cerah ini, hmm? Sebelum kita mandi Sayang," usul Azriel dan itu sangat tidak disetujui. Sebab, badannya Ina sudah terasa remuk semua karena semalam.
"Kita melakukannya di kamar mandi!"
Ina kembali pasrah, ia mengikuti kemauan suaminya. Azriel benar-benar memanfaatkan setiap waktu bercinta di saat berduaan dengan istrinya.
Di meja makan.
"Daddy tahu tidak? Kakak sekarang menjadi bucin?" ucap Iren memulai pembicaraan.
Azriel yang baru saja bergabung merasa jengah, "Aku tidak mau sarapan dengan pembicaraan kalian!" ketusnya.
"Ternyata Kakak bisa romantis juga lho Mom!" timpal Aryan.
Jika bertanya keberadaan Ainsley. Ya, gadis itu sudah pulang terlebih dahulu, di kala Ina dan Azriel masih berlibur. Padahal gadis itu sangat ingin libur lama, tetapi keluarganya di Amerika tidak memberi izin untuk berlama-lama, sebab Ainsley juga masih menjalani studinya.
"Apakah adikku yang angkuh itu sudah mampu mengungkapkan perasaannya?" tanya Azriel.
Adiknya yang mendengar pertanyaan sang kakak itu, mencoba untuk mengabaikan. Ia lebih fokus dengan keponakannya.
"Sudah Kak, bahkan kita menyaksikan adegan kis-emmmhh!" Mulut Iren tiba-tiba dikunci oleh tangan Aryan.
"Kau mau membangunkan singa tidur yaa. Jika dia marah, dompet kita tidak akan aman!" bisik Aryan.
"Iya juga ya!"
__ADS_1
"Jatah uang jajan kalian aku kurangi selama satu bulan!"
"Tuh 'kan ...."
***
Di kantor.
Jika mengingat semua tentang istrinya, Azriel tak pernah berhenti tersenyum, bahkan para pegawai kantornya yang setiap melihat wajah bahagia bossnya itu merasa aneh.
'Belakangan ini Pak Azriel sering tersenyum, apa dia sedang jatuh cinta?'
'Desas-desus gosip dari grup, Pak Azriel itu menikahi pembantunya.'
'Astaga, kenapa seleranya rendah sekali. Tidak mungkin!'
'Tapi pembantunya cantik lho, walaupun dari kampung.'
'Oalah pantas ya, akhir-akhir ini dia selalu ingin pulang cepat dan mulai murah senyum dengan karyawan. Ternyata sedang dilema. Setidaknya suasana hati atasan sedang baik, para bawahan pun tentram.'
Mendengar pergosipan mereka, Anggi yang tak sengaja mendengar mulai sewot. "Apakah pekerjaan kalian sudah alih profesi menjadi penggosip? Apa dengan menggosip juga, pekerjaan kalian akan cepat selesai?"
Omelan itu membuat mereka terdiam dan lanjut kembali bekerja. "Tolong profesionalitasnya dipakai!" Dengan sangat angkuh perempuan seksi itu pun pergi setelah menegur.
'Huh, kenapa justru dia yang killer!'
Namun, sepanjang perjalanan ia melawati semua para staf kantor, ternyata memang banyak yang membicarakan tentang status atasannya itu.
"Kenapa dengan Pak Azriel? Sepanjang aku berjalan semua orang membicarakannya," gumamnya.
Setelah ia masuk ke ruangan.
Ia mendapati pemandangan yang aneh. Ya, ternyata memang benar, bosnya itu sedang kasmaran. Saat ini terlihat Azriel sedang tertawa dan tersenyum-senyum sembari berteleponan dengan seseorang.
Melihat kedatangan Anggi, Azriel menyudahi pembicaraannya di telepon. "Aku tunggu Sayang, jangan lupa membawakan makanan kesukaanku."
"Permisi Pak!"
"Ya, masuk!"
"Ini berkas yang harus Bapak tandatangani!"
"Taruh saja di mejaku yah!"
Azriel kembali tersenyum melihat ponselnya. Saat ingin pergi, tiba-tiba Anggi mempunyai ide untuk menarik perhatian bosnya.
"Boleh saya membenarkan dasinya Pak? Terlihat kendur!"
Bersambung ...
__ADS_1