
Ella menceritakan semua hidup Azriel serta kepribadianya hingga sedetail mungkin. Sampai, gadis itu paham ke akar-akarnya.
"Ya, jadi Nyonya besar itu hanyalah ibu tiri Tuan muda Azriel dan juga Nona muda Azel," jelas Ella.
"Aku paham Mbak. Aku pernah dengar cerita dari Nenek juga waktu itu. Siapa sosok ibu kandung Tuan ya?"
"Huh, sepertinya sangat tidak baik membahas hal itu terlebih di depan keluarga mereka. Kau harus hati-hati dan jangan bertanya apapun tentang ibu kandung Tuan Azriel, ingat!"
"Kenapa?"
"Turuti saja! Yang terpenting sekarang misi kamu!"
Tiba-tiba senyum manis Ina terbit, ia bergumam seraya membentuk ide di otaknya, 'Aku akan buat semua normal lagi.'
"Baiklah Mbak, Ina ingin menghantarkan makanan ini untuk Tuan. Terima kasih atas saran dan informasinya," ucap Ina.
"Ya, sama-sama. Semangat!"
Ina memberikan senyumannya, lalu gadis itu pergi meninggalkan Ella yang terlihat masih tersenyum kepadanya.
Ina berjalan menuju kamar Azriel, ia menghantar makanan sarapannya. Kini tampak pria tampan itu sedang sibuk di depan laptop.
"Ini sarapannya Tuan."
"Ya, taruh saja di situ!"
Setelah menyiapkan sarapan Azriel, Ina tidak buru-buru pergi sampai ia menyadari bahwa tatapan Azriel saat ini membuatnya kebingungan.
"Kenapa masih di sini? Kau bisa keluar sekarang!"
"Mmm, saya ingin meminta izin Tuan. Apakah saya boleh bermain di luar bersama Nona Abel?"
Azriel mengalihkan atensinya saat mendengar perkataan Ina. Kata tidak setujulah yang dikeluarkan dari mulutnya, "Tidak!"
"Tapi saya sudah berjanji untuk mengajaknya bermain."
"Kau sangat tidak sopan. Aku tidak akan menyetujui keponakanku bermain dengan orang yang baru datang!"
"Maaf Tuan, saya hanya menghiburnya saja karena Nona Abel sangat sedih tidak mempunyai teman di luar sana."
'Sejak kapan keponakanku bisa sangat akrab dengannya?'
Saat yang kebetulan Abel datang denganĀ membawa boneka kecil kesayangan.
"Ante ayo kata-a au ain luar!" Gadis kecil itu memang belum bisa berkata dengan jelas, terkadang hanya kata akhiran saja yang ia sebut. Percayalah hanya Azriel yang bisa mengerti bahasanya itu.
"Sayang, kau tidak boleh main di luar. Sama Om aja ya?"
"Nya ao! Abel au ain luar ama Ante!" Kemarin Ina memang sempat berjanji kepada Abel, untuk mengajaknya main ke taman di luar dan sekarang gadis imut itu menagih janji Ina.
__ADS_1
"Bagaimana jika Tuan juga ikut? Kita akan keluar bertiga?"
"Aku tidak mau keluar!"
"Kenapa Tuan, bukankah dunia luar itu sangat menyenangkan? Setiap hirupan udaranya selalu menyejukkan hati," balas Ina.
'Semoga saja dia terpancing,' batin Ina.
"Malas!"
"Ya sudah, jika seperti itu. Boleh saya dan Abel saja yang keluar?"
"Tidak!"
Azriel beralih menatap wajah polos keponokannya itu, Abel sudah sangat siap sampai ia menggandeng tangan Ina.
"Baiklah-baiklah, hanya untuk hari ini!"
'Akhirnya,' dalam hati Ina merasa bahagia.
"Oke Nona cantik sekarang kita main di luar ya!" ucap Ina, membuat Abel tersenyum senang.
Ina segera mendorong kursi roda Azriel. Ekspresi wajah pria itu sangat tidak bersemangat. Namun, bagi Ina ini adalah kesempatan untuknya dan setiap momennya akan ia manfaatkan.
Kini mereka sudah berada di halaman luar, tepat di taman pribadi. Azriel tampak terlihat begitu risih dengan pantulan cahaya matahari. Sungguh ini bukanlah kegiatan kesehariannya.
Perut buncit gadis itu membuat Ina terkekeh. "Lucu 'kan Tuan? Kebahagiaan anak kecil itu sederhana, hanya jangan terlalu mengekang dan biarkan dia bebas," ucap Ina.
"Hmm."
'Astaga kenapa dia sangat irit bicara?'
Ina pun kembali mencari topik pembicaraan. Namun seakan ide di otaknya sudah buntu, "Nona Abel sangat cantik, selain mirip dengan ibunya, pasti keturunan ayahnya juga," gumam Ina.
Percayalah, Ina hanya memancing agar mulut Azriel panas dan sedikit terbuka.
"Jangan sebut yang bersangkutan dengan ayahnya. Kau tidak tahu apa-apa di sini, jadi jangan buat aku marah dengan pertanyaanmu itu!" murka Azriel.
"Maafkan saya Tuan, saya hanya bergumam dan mengira saja," ucap Ina.
"Sebaiknya diam!"
"Sejujurnya saya sudah mengetahui semua tentang Tuan," jujur Ina.
"Siapa yang memberitahu?" tanya Azriel dingin.
"Nenek dan para pembantu lainnya."
Azriel melihat ada bangku taman di samping, ia menatap Ina lalu mengarahkannya ke bangku itu, "Duduklah!"
__ADS_1
Ina menurut, dan saat itu tatapan Azriel mengarah ke depan dengan pandangan sayu-sayu nanar. "Aku sangat benci orang baru, dan kau tau kenapa alasannya?"
Ina menggeleng. "Karena aku tidak suka perubahan. Bagiku diriku harus tetap diriku, kehidupan yang dulu harus tetap yang dulu! Aku membenci kedatanganmu karena aku kira akan ada perubahan, ternyata itu memang benar!"
"Tuan, bukankah diri Anda tidak seperti ini? Mendengar cerita Nenek, bahwa Tuan itu sangat hangat kepada siapapun, selalu mempunyai semangat tinggi dan sangat bertanggungjawab. Nenek berkata juga, jika Tuan yang saat ini sangat jauh berbeda dengan Tuan yang dulu. Bukankah itu perubahan?"
"Untuk apa aku seperti dulu lagi, harapan keluarga sekarang bukan lagi aku. Aku hanya benalu yang datang di kehidupan mereka," ucap Azriel dengan pelan.
"Sepertinya Tuan salah. Keluarga ini masih sangat membutuhkan Tuan."
Seiring waktu yang berjalan menggantikan suasana, kini semilir angin mulai berhembus menerpa rambut panjang Ina. Panas yang mentereng, saat ini terlihat matahari sudah meredupkan cahayanya sedikit demi sedikit.
"Apa yang bisa diandalkan dari pria cacat sepertiku? Mungkin mereka sudah tidak perduli, sampai begitu excited setelah kedatanganmu yang ingin menjadi pengasuhku. Dengan begitu, mungkin mereka sudah merasa tidak terbebani lagi olehku."
"Pemuda cacat? Salah Tuan, Anda hanya malas untuk berubah karena Tuan sangat membenci kata itu. Maaf, ucapan saya lancang."
Tiba-tiba Ina menggenggam tangan Azriel. Entah keberanian dari mana, sampai gadis itu sangat kuat mental.
"Tuan, berubahlah saya akan siap untuk membantu. Masa depan Tuan masih terlihat!"
Mendengar perkataan lembut dari mulut Ina, serta genggaman hangat di tangannya. Azriel merasa suasana hatinya membaik.
"Dengan cara apa?"
"Tuan harus sembuh, dengan begitu Tuan akan menjalani hidup normal kembali."
Tiba-tiba Azriel menarik tangannya, lalu ia melipat di bawah dengan dengan tatapan yang angkuh. "Sembuh dari kecacatan ini sungguh mustahil, karena aku dinyatakan lumpuh permanen. Mau usaha apapun aku, pada akhirnya ini memang takdir hidupku!"
"Masih banyak cara Tuan, dan saya siap membantu bahkan menemani Tuan sampai benar-benar pulih."
"Apa kau dibayar juga dengan Daddyku, untuk rencana settingan itu?" tandas Azriel meremeh.
"Tidak ada setting ataupun rencana, tapi ini semua keinginan saya sendiri!"
"Sebab apa?"
"Karena saya perduli dengan Tuan!"
'Sepertinya hati Tuan sudah mulai terbuka denganku. Aku ingin segera memberitahu Nyonya besar dan Tuan, agar segera mencarikan Dokter,' batinnya.
Sementara di atas jendela rumah, tampak ada seseorang yang sedang melihat mereka dari sana.
"Mas, baru kali ini aku melihat Azriel mau keluar selain ke makam Mommynya," ucap Shireen.
"Ya, dia sedikit percaya diri lagi dengan lingkungan."
"Dan aku mengira itu terpengaruh dari gadis itu."
Bersambung ....
__ADS_1