
Seketika Azriel melihat kondisi bentuk dasinya. Mungkin karena Ina memakaikannya terburu-buru, sampai tidak rapi tadi. Ternyata memang benar, terlihat kendur dan ingin terlepas.
"Oh yaa."
"Biar saya bantu Pak!" Anggi langsung mengambil alih dasi itu dari pegangan Azriel.
"Setelah jam istirahat nanti ada meeting, Bapak harus rapi!" ujar Anggi.
Azriel hanya mampu menghela napasnya. Pandangan matanya selalu ia buang, sebab Anggi begitu menodongkan dadanya ke dada bidangnya miliknya. Sangat jelas jika ia menatap ke bawah, tetapi terlihat biasa bagi Azriel.
"Apa Bapak mau saya siapkan makanan?" tawar Anggi masih membenarkan dasi.
"Tidak perlu, istriku akan menghantar makanan," balas Azriel.
'Ternyata benar, Pak Azriel sudah mempunyai istri. Lantas harapanku? Tidak mungkin aku menjadi pelakor,' batin Anggi.
"Mas ...."
Azriel tersentak, Anggi pun segera menjauhkan tubuhnya. Ina segera masuk, wanita itu tetap membentuk senyuman.
'Astaga semoga dia tidak salah paham,' batin Azriel.
"Hmm, saya permisi Pak!" pamit Anggi.
Ina pun memasang wajah cemberutnya setelah Anggi mengundur diri dan keluar. Ternyata wanita itu hanya bersandiwara saat ada Anggi saja. Kini, wajahnya terlihat seperti cuaca ingin hujan.
'Sejak kapan istriku pandai bersandiwara,' batin Azriel.
Ya, Ina sedang menahan rasa cemburunya. "Sayang ... jangan ber--"
__ADS_1
"Kenapa menyuruhku datang, jika dikantor sudah ada yang melayanimu?" ketus Ina.
"Dia hanya membenarkan dasiku, Sayang ...."
"Ya, aku mengerti!"
'Tetapi kenapa posisinya harus senempel itu?' lanjut Ina dalam hati.
"Jika sedang cemburu seperti itu, jadi yakin kau sudah benar-benar mencintaiku," ujar Azriel meledek.
Ina yang sewot, melemparkan tissue makanan yang ia bawa. Kini ia menuntun suaminya menuju sofa.
"Ina, aku tidak tertarik dengan siapapun di sini. Aku sudah mempunyai istri yang lebih baik dari siapapun, jadi buat apa aku tergoda dengan wanita lain, sementara istriku saja sudah lebih menggoda."
"Mas ... sudahlah, aku juga tidak mau egois. Aku mengerti, maafkan aku yang sudah overtaking."
"Aku mencintaimu, kau memang istri yang pengertian."
Azriel mengecup bibir istrinya dengan lembut, Ina terperangah karena ciuman itu tiba-tiba. "Mas, harus profesional ingat! Ini di kantor lho!"
"Aku boss jika kau lupa!"
"Astaga ucapan itu lagi. Ya, aku tahu kau itu bos Tuan!" gumam Ina geram, tetapi sangat pelan.
"Kenapa?" tanya Azriel yang tak sengaja samar-samar mendengarnya.
"Ah, tidak!"
Azriel kembali menciumi istrinya, sedangkan Ina masih sibuk menyiapkan makanan untuk suaminya. "Hmm, aku ingin memiliki seorang anak yang banyak."
__ADS_1
"Aku lebih ingin kembar!"
"Jika kembar lima seru, tapi jika hanya dua tidak ramai!"
'Astaga, lalu anak itu mau nampung di mana? Jika di perutmu tidak masalah!' batin Ina.
"Ya, semoga saja!" balasnya memaksakan senyum.
"Berarti kita harus lebih banyak menyiapkan energi. Sayang, dengan rutin melakukan olahraga tubuh, semakin cepat pembuahan. Siapa tahu kamu bisa hamil kembar tujuh!" Mendengar ucapan Azriel yang tampak semangat itu, lagi-lagi membuat Ina menganga.
'Aku tahu ucapan setelah ini apa,' batinnya.
"Sepertinya bercinta di sofa empuk ini memiliki sensasi yang unik!"
'Tuh 'kan ....'
"Mas jangan mengada-ngada, kamu ini seperti tidak tahu tempat!"
"Ya sudah, jika seperti itu kita pulang saja. Kita melakukannya di rumah, bagaimana?"
'Suamiku sudah benar-benar gila!'
Ingin mengucapkan kata-kata lagi, tiba-tiba Ina menyuapi makanan ke mulut, sehingga pria itu mengurungkan ucapannya untuk keluar.
"Makan ya, biar energi kita banyak ...."
'Haha'
Batinnya tertawa.
__ADS_1
Bersambung ....