Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Kegigihan Ina


__ADS_3

4 menit, tak terasa ina terpejam kembali karena merasa sangat mengantuk setelah melayani azriel.


tiba-tiba terdengar kembali remote yang digenggamnya berbunyi. kali ini ina benar-benar sangat lemas, tapi ia usahakan untuk tetap terlihat segar.


ina berlari cepat. saat sampai di dalam kamar, azriel kembali menatap dirinya seperti biasa.


"bantu aku ke kamar mandi!"


dengan telaten ina melakukan tugasnya. azriel dibantu untuk ke kamar mandi dengan menggunakan kursi roda, setelah itu ina menunggu di luar.


mendengar suara ketukan, ina membantunya untuk naik ke atas ranjang lagi. setelahnya pun ina diusir.


dan, itu terjadi berulang kali sampai ina tak bisa tidur dengan tenang dan lama. gadis tangguh itu akhirnya tidur nyenyak. namun sayang, ternyata hari sudah pagi.


neneknya pun terheran, karena tidak seperti biasa cucunya itu belum bangun.


"tumben sekali ina belum bangun?" wanita paruh baya itupun memasuki kamar ina. ternyata benar, cucunya itu masih tertidur pulas.


"sayang ... bangun ...."


ina seakan dibawa alam mimpi yang sangat bebas, sampai suara neneknya itu tak mampu didengarnya.


"ina, bangun ...." inah menggoncang sedikit punggung cucunya, dan barulah ina menggeliat berusaha untuk melebarkan matanya.


"ayo bangun, anak gadis tidak boleh bangun siang-siang!"


"nenek, ina sangat mengantuk ...." ina melenguh dengan suara serak.


"apa kau tidak tidur semalam?"


seketika ina berpikir, ia tak mungkin mengadu bahwa malam ini ia habis-habisan dikerjai oleh tuannya. "tidur kok, tapi ina masih terasa ngantuk aja!" sangkalnya.


'nenek tahu apa yang kau sembunyikan,' batin inah.


"yasudah, cepat kau mandi. biar tuan azriel nenek yang urus. hari ini nenek mau pamit!"


"nenek pulang sekarang?"


"iyah. jika kau merasa tidak sanggup suatu saat, telepon nenek biar nenek yang jelaskan untuk kau resign."


"baik nek."

__ADS_1


***


kini inah memasuki kamar azriel. namun ternyata, pria itu sudah terbangun. terlihat ia sedang bermain ponsel.


"selamat pagi tuan," sapa inah.


"pagi bik, tumben sekali bibik tidak memakai seragam dan terlihat sangat rapi. mau kemana?" balas azriel.


"bibik mau berhenti tuan. sudah waktunya menikmati masa tua di kampung halaman."


azriel yang baru mengetahui pun merasa terkejut. "kenapa mendadak sekali?"


"sebenarnya sudah lama bibik niatkan, bibik juga sudah bilang ke nyonya, hari ini pun bibik akan pamit untuk berangkat," balas inah.


"astaga ... aku seperti merasa kehilangan orang tuaku. apa tidak bisa ditunda?"


"tidak tuan, bibik sudah sangat rindu keluarga di desa. hmm, bibik hanya minta tuan untuk menerima baik kehadiran cucuk bibik. semoga bisa membantu semua kebutuhan tuan, bibik akan pergi dan mungkin tidak kembali bekerja di sini lagi dan sebagai pengganti anggap saja kehadiran ina seperti bibik di sini." entah kenapa inah merasa sangat sedih. sedikit berat untuk meninggalkan keluarga yang sudah bertahun-tahun bersamannya.


azriel memeluk pembantu yang sudah merawatnya sejak kecil itu. saat itu inah mengeluarkan air mata perpisahannya. "terima kasih sudah mengurusku bertahun-tahun. aku akan selalu merindukan bibik. datanglah kapanpun jika kau mau, pintu rumah ini selalu terbuka untuk bibik," ujar azriel.


"terima kasih tuan. bibik sudah menganggap seperti putra bibik sendiri. jaga baik-baik kesehatan, dan semoga ada jalan untuk semuanya."


***


kini hanya ada ina yang menjadi bayangan mereka bahwa inah tetap ada di rumah ini.


"semoga aku bisa bertahan, dan susul nenek ke kampung dengan keberhasilan merawat orang tersayangnya sampai pulih," gumam gadis itu.


tiba-tiba kembali terdengar nada suara yang sama saat tengah malam ia dengar. ya, apa lagi jika bukan remote desktop itu.


gadis itupun segera berjalan menuju kamar. setelah sampai, ia mendapati azriel sedang melamun di depan jendela.


"aku ingin mengenalmu lebih detail!"


tentu saja ina terkejut. dalam hati bertanya, bukankah sudah jelas bahwa ina itu adalah cucu inah mantan ketua pelayan di rumah ini.


azriel membalikkan kursi rodanya untuk menghadap ina. ia menatap dengan tatapan yang amat dingin.


"identitas!" minta azriel agar ina menjelaskan.


"sepertinya sudah cukup tahu siapa saya, tuan. saya hanya seorang gadis desa yang belum lama lulus sekolah, dan sampai ke sini sebab panggilan dari nenek," balas ina.

__ADS_1


"inaya putri, berusia 19 tahun yang belum lama lulus sekolah. hmm ... bagaimana jika kita buat kesepakatan?"


ina mengernyitkan keningnya dalam keadaan menunduk. kemudian ia mendongak, lalu bertanya, "kesepakatan apa tuan?"


azriel mengayuh rodanya mendekat ke arah ina. "aku tahu, kau sangat ingin kuliah ke luar negeri 'kan? karena ekonomi dan larangan orang tuamu, kau harus menunda untuk mencapai cita-citamu yang sangat ingin menjadi designer dan juga seorang dosen?"


'astaga dia tahu semua tentangku? apa dari nenek?' batin ina merasa terkejut. sungguh azriel ini seperti cenayang baginya.


"aku akan membiayaimu kuliah sampai kau dapat sarjana yang kau inginkan. aku akan memberikan biaya hidup untukmu di sana juga. kau bisa mewujudkan cita-citamu. semua hanya bersyarat kau pergi dari rumahku dan katakan alasan bahwa kau tidak sanggup!"


'ini namanya sogokan, aku paham itu,' batin ina.


"mohon maaf tuan, sepertinya tawaran kesepakatan itu tidak menarik untuk saya. karena, saat ini saya hanya ingin menuruti kata nenek saja. mengurus tuan adalah permintaan nenek," balas ina tetap memberikan senyuman.


"aku tidak butuh pengurus, dan saat ini aku katakan aku ingin kau pergi!"


"saya masih bisa bertahan."


prang!


cah!


tiba-tiba azriel membanting vas bunga yang menjadi hiasan gorden jendela kamarnya. tanpa ia ketahui, ina terkena pecahan itu. saat ingin berteriak, ina sadar harus menahannya.


"keluar dari kamarku!"


ina pun berjalan keluar. tanpa gadis itu rasa ada darah yang menetes sedikit di mata kakinya. azriel pun dapat melihat itu. ia segera meredakan rasa amarahnya, mengusap wajah dengan gusar, lalu menjambak rambutnya frustrasi.


"lagi-lagi aku menyakitinya."


***


saat ini gadis itu sedang mengobati kakinya. ina sama sekali tak marah, ia juga tak menangis ataupun merasa kesakitan. ya, karena dari jauh-jauh hari ia sudah menyiapkan mental dan baginya hal-hal yang terjadi selalu dianggap wajar.


"nenek sudah sampai belum ya?" gumamnya. ia melihat ada notifikasi di ponselnya. ternyata itu adalah pesan yang dikirim oleh sang nenek.


'sayang, nenek sebentar lagi sampai. nenek mau bilang kalau tuan azriel harus minum obat, awasi dia sampai benar-benar minum. karena semenjak kejadian itu, tuan azriel sering mengalami depresi. maka dari itu dia terkadang marah-marah di saat suasana hatinya sedang buruk.'


saat membaca pesan dari sang nenek, ina barulah mengerti. "ini alasannya ternyata. aku harus lebih menyiapkan mental lagi!"


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2