
"Aku baik, Papi. Sebaiknya bawa Mami pulang sekarang, dia kelelehan!" balas Shireen.
"Jangan khawatirkan dia, kau masih cemaskannya dalam keadaan seperti ini. Jelas-jelas ini semua karena istriku!" ucap Dika menyindir istrinya.
Yuri menekuk wajahnya, tetapi ia kembali menunduk. 'Kenapa perempuan ini selalu baik padaku. Padahal, kejahatanku begitu terlihat di depan matanya. Baiklah, sepertinya aku harus jujur sekarang,' batinnya.
"Maaf. Shireen bisa seperti ini sebab menolong aku. Ya, dia telah menyelamatkanku," jujur Yuri dengan rasa bersalahnya.
Akhirnya Samuel pun tersenyum tulus kepada ibunya. Ia lebih suka dengan Maminya yang jujur, maka dari itu tak ada rasa amarah di hatinya.
"Aku, ingatkan. Kau bukan seperti dulu lagi. Seorang gadis yang dulu seperti lelaki, sekarang kau sudah menjadi ibu. Sebaiknya jika terjadi sesuatu segeralah telepon aku. Jangan mengandalkan kemampuanmu waktu dulu," ujar Samuel menasehati. Namun, Shireen justru memasang wajah masamnya.
"Tapi aku berhasil buat preman tadi pingsan di jalan!"
***
Satu bulan telah berlalu.
Semenjak kejadian waktu itu, Shireen benar-benar seperti seorang tawanan. Ya, dia dikurung oleh Samuel. Tidak boleh keluar terkecuali dengan suaminya. Bahkan, Samuel telah siaga menyiapkan banyak bodyguard untuk menjaga istrinya jika berpergian.
Leona masih berusaha dengan niatnya, hanya saja ia berkedok bidadari. Sementara Liyu masih tetap sama, dia hanya menginginkan waktu luang Samuel untuk bersamanya. Mengulang rasa bercinta dengan Samuel adalah impian Liyu saat ini. Sedangkan Yuri, dia lebih agak diam prihal menilai Shireen di hadapan keluarganya, tidak seperti kemarin-kemarin.
Baginya sekarang Shireen bebas. Tak ada mulut pedas lagi dalam perkataannya, terkadang hanya sebuah sindiran, itupun tidak terlalu ngena di hati. Namun, bukan berarti ada restu untuk Shireen. Yuri tetaplah Yuri, memandang Shireen sebelah mata hanya karena ia ingin sekali menjodohkan kembali anaknya dengan ibu dari cucunya.
Kini, terlihat seperti biasa. Shireen tengah membantu Inah di dapur, sedangkan kedua anak tirinya tengah menyesuaikan diri dalam pertumbuhannya, dengan bermain bersama anak-anak sebayanya. Ada untungnya, dengan begitu tak ada kecemasan karena mereka mulai mandiri, dan Shireen pun bisa beraktivitas lebih santai.
"Jika saya pensiun, apa masih ada waktu untuk kita berbincang seperti ini Nona?" tutur Inah.
"Kenapa bicara seperti itu Bik? Bibik gak ada niat buat berhenti kerja 'kan?" balas Shireen.
Inah terkekeh. "Tidak Nona. Tetapi yang namanya usia, lambat laun pasti akan berkurang. Saya merasa sudah waktunya digantikan."
"Kita semua akan kehilangan sosok pemimpin rumah ini, pastinya."
"Bibik, Bibik ...!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari Yuri yang ingin memasuki dapur.
"Yaa, baik Nyonya ada apa?"
"Hmm, tolong cepat buatkan cake. Suami saya hari ini ulang tahun, saya mau kue besar yang spesial untuknya, nanti malam!" ucap Yuri.
"Maaf Nyonya, saya hanya memasak bagian menu makanan utama. Jika soal desert atau makanan penutup saya bukan ahlinya."
__ADS_1
"Lantas siapa yang bisa?"
"Nona Shireen. Waktu itu Nona Shireen pernah membuatkan kue tart untuk nona Azel dan tuan Azriel."
Merasa namanya disebut, Shireen mengalihkan atensinya. Seketika Yuri menatapnya biasa saja. "Ya, aku bisa Mami."
"Aku takut kecewa akan rasanya nanti!"
"Lebih baik dicoba terlebih dahulu. Tapi, menurut saya tuan besar akan merasa spesial di ulang tahunnya jika kuenya dibuat oleh tangan Nyonya sendiri."
"Iyakah? Tapi aku tidak terlalu jago dalam membuat kue."
"Yasudah, apa salahnya jika membuatnya bersama-sama. Ada Nona Shireen yang akan membantu."
Setelah berpikir-pikir, akhirnya Yuri menyentujuinya. "Baiklah, semoga hasilnya tidak mengecewakan."
Dengan telaten Shireen membantu mertuanya itu untuk membuat kue. Butuh kesabaran yang ekstra, dari Yuri yang kerjaannya berantakan agak sedikit lambat juga ceroboh, dan lagi cemoohannya yang selalu menyalahkan Shireen.
"Baiklah, setelah ini apalagi?"
"Oke, oven adonan kuenya. Tapi, harus hati-hati ya Mami!"
"Ya, aku tahu!"
Setelah adonan sudah berubah menjadi roti yang dicetak bulat, kini Shireen mulai menghiasnya dengan cream dan beberapa toping lainnya.
Yuri terus mengamati, dengan tatapan selidiknya. "Boleh juga skilmu."
"Ya, terima kasih Mami. Apa Nona Leona bisa melakukan ini?" ucap Shireen tak lepas pandang dari kue yang sedang dihiasnya.
"Aku tidak memujimu, dan jangan bandingkan skilmu dengan Leona. Sudah pasti jauh berbeda, dia sangat berbakat dalam dunia fashion, tentu berkelas bukan? Sementara kau hanya menggosongkan diri di penggorengan saja!"
Shireen tersenyum, sementara dalam hatinya ngakak. 'Ya, jelas gue istri idaman. Gak selamanya orang mentingin stayle, perut juga harus diisilah,' cemooh Shireen dalam hati.
"Bukankah yang seperti itu istri idaman?"
"Teruslah memuji dirimu sendiri. Sungguh kasihan." Shireen membalasnya hanya dengan suara kekehan. Sebenarnya sosok Mami mertuanya ini sangat humor dan lucu, hanya saja tertutup dengan keangkuhannya.
Sedangkan Inah terus saja tersenyum mendengar pembicaraan mereka. 'Bagiku cara seperti ini cukup ampuh untuk mendekatkan Nyonya Yuri dengan Shireen. Tidak terlalu sulit membantu Nona Shireen mendapatkan restunya. Semoga kelak, Nyonya bisa berubah,' batin Inah.
"Oke sudah selesai. Aku buat dua kuenya, ini spesial untuk Papi, dan ini buat Mami hanya sekedar untuk menyicipi saja," ucap Shireen. Ia menyodorkan satu buah kue hasil buatannya yang tanpa campur tangan Yuri, sementara yang paling spesial untuk sang papi mertuanya sudah masuk ke dalam kulkas.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya Mami?"
'Astaga kenapa kuenya seenak ini? Dalam hati aku jujur baru pertama kali memakan kue tart selembut ini,' batin Yuri. Mulutnya terus mengunyah seolah mencari penilaian dengan rasanya.
"Hmm, lumayan. Tidak terlalu mengecewakan," balasnya. Tetapi tangannya masih terus menyuap.
'Masih aja gengsi.'
Inah menahan tawanya mati-matian, ia hanya dapat tersenyum mendengar penilaian yang kurang memuaskan dari mulut majikannya itu.
"Baiklah simpan kuenya, sampai nanti suamiku pulang!"
***
Malam hari.
Samuel pulang bersamaan dengan sang papi. Tiba-tiba ada banyak orang yang menyambutnya.
"Happy birthday Papi, happy birthday Papi, happy birthday happy birthday ... happy birthday Papi ... selamat ulang tahun Papi!"
Prok ...
Prok ...
Tepuk tangan dan penyambutan yang cukup meriah itu, membuat Dika terharu. Jujur dia tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari kelahirannya. Mungkin karena pekerjaan yang menutupi ingatan dalam otaknya.
"Astaga, aku lupa jika hari ini hari ulang tahunku. Terim kasih, terima kasih!"
"Selamat ulang tahun suamiku. Sehat selalu untukmu, muachh!" Satu kecupan diberikan Yuri kepada suaminya. Disusul oleh beberapa anak mereka juga dengan berbagai ucapan.
"Terima kasih semuanya!"
"Sekarang Mami mau suapi kuenya, ini spesial buatan Mami lho Pih!" Tiba-tiba suaminya itu menatap tidak percaya. Namun ia tetap menerima suapan dari istrinya dengan ekspresi meremeh.
"Astaga enak sekali. Aku yakin jika tidak beli, kau pasti meminta orang untuk membuatkannya!" tuduh Dika.
"Baiklah, ini buatan Shireen sebenarnya dan Mami hanya membantunya saja!" ungkap Yuri dengan kesal.
"Sudah kuduga!" ucap Dika, dan Daniel, Samuel pun ikut berbarengan mengucapkannya. Tetapi, setelah itu mereka saling tertawa.
'Sejak kapan Mami bisa dekat dengan perempuan itu?' batin Liyu sedikit syok.
__ADS_1
'Ya ampun, sesibuk apa aku sekarang sampai aku tak tahu jika mantan mertuaku sudah mulai dekat dengannya.' Sedangkan di hati Leona tercipta kecemasan.
Bersambung ....