Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Leona Pergi


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Usia kandungan saat ini sudah terhitung tujuh bulan, ingin beranjak ke delapan bulan. Perut wanita itu sudah menonjol lebih terlihat. Badannya mulai membengkak karena banyak asupan makanan.


Samuel terus terkekeh gemas melihat tubuh istrinya yang sedang memberikan umpan kucing di luar sana.


"Semakin hari kau semakin membuat aku mabuk," gumamnya.


Ia masih mengamati istrinya dari kejauhan. Memang terlihat gemas, tubuhnya yang pendek dengan perut menonjol ke depan, dan ya baju daster yang menenggelamkan badannya tampak begitu lucu bagi pandangan Samuel.


Hari ini adalah hari weekend. Waktu yang lebih banyak bersantai dan bermanja dengan istri hanya ada di hari ini.


Pria itu bergerak menuju dapur. Membuatkan sesuatu, kemudian ia menghantarkankannya kepada istrinya.


"Hay Nona, kau memberikan kucing itu susu sedangkan kau sendiri belum minum susu," ucap Samuel merengkuh tubuh istrinya dari belakang.


Shireen melenguh panjang, rasanya sangat mual jika berurusan dengan air berwarna putih pekat itu. Baunya yang amis, membuat perutnya seperti diaduk-aduk.


"Mual, Mass. Gak mau!"


"Ini susu ibu hamil. Bukan hanya kau yang sehat tapi juga anakku," ucap Samuel.


"Anak aku juga!"


"Aku yang membuatnya."


"Aku yang akan melahirkannya!"


"Jika bukan berkat aku, anak itu tidak akan ada." Samuel membalas ucapan tegas istrinya dengan sangat santai dan penuh kedataran wajahnya.


Shireen menghela napas, berdebat dengan suaminya memang akan selalu menjadi pengalah.


"Terserah! Besok, kalo udah keluar Mas aja ya yang susui!"


"Iya, aku yang susui. Mengganti popok pun aku siap. Sudah terbiasa, karena itu pekerjaanku dari dulu!" balasnya ketus.


Shireen menyengir kuda, setelah membuat mood suaminya tidak bagus sepertinya sudah cukup puas. Akhir pun, ia menerima gelas yang berisikan susu hangat itu.


Samuel tersenyum bahagia, ia terus mengusap lembut perut istrinya sembari mengamatinya sampai susu yang diminum Shireen benar-benar tak tersisa.


Dari kejauhan terdapat seorang perempuan tengah menatap mereka dengan nanar.

__ADS_1


"Dulu itu aku yang merasakannya," gumam Leona.


Ia mencoba mengingat momen kehamilannya dulu. Samuel selalu berkata, "Bayiku harus sehat, maka itu ibunya harus aku beri kasih sayang yang penuh, bukan?" Sembari mengusap perut besarnya.


Lalu ia menjawab, "Harus, karena kebahagiaan seorang ibu pasti untuk anaknya. Maka dari itu aku membutuhkan kasih sayangmu."


"Mari kita bercinta. Kasih sayangku harus penuh dengan waktu berdua kita. Bercinta adalah menikmati waktu paling indah."


"Tapi perutku yang besar, membuat aku kesusahan dan mudah lelah."


"Kita bermain dengan perlahan seperti biasa!" Percayalah kala mendengar suara lembut dan bisikkan ia luluh, karena sadar bahwa suaminya adalah pemikat semua wanita.


Tanpa terasa mengingat momen masa hamil yang selalu berujung bercinta waktu dulu, Leona menitikkan air matanya.


Ucapan flashback di masa lalu adalah bayangan mata yang selalu menusuk hati. Di mana ia selalu diingatkan akan penyesalan dan kebodohannya.


"Apakah aku bisa merasakan di posisi itu lagi? Aku rindu, aku menyesal, aku ingin kembali, aku minta semua itu lagi, dan aku akui adalah aku perempuan bodoh yang melakukan kesalahan fatal!"


Air mata perempuan itu berjatuhan. Namun tak ada kedipan, karena manik matanya yang indah terus tertuju kepada dua pasang suami istri yang tengah dilanda kebahagiaan.


"Sepertinya ini sudah waktunya. Ya, sudah waktunya aku menyerah."


***


Ada dokter Stavie yang sedang mengontrol kandungan Shireen. Ia juga membawa sebuah layar monitor, dan ternyata alat itu digunakan untuk mengecek jenis kelamin calon bayi yang ada di kandungan Shireen.


"Terlihat dari pemeriksaan USG jenis kelamin bayinya, lelaki. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi saya yakin akan ada sosok calon penerus keluarga Raymond, yaitu seorang lelaki. Namun, bagaimana pun pembuktiannya akan tetap terlihat nanti," ucap Dokter Stavie dengan tersenyum.


Mengetahui calon pewaris Raymond seorang laki-laki, tentu saja menjadi suatu kebanggaan bagi keluarga mereka. Satu lagi, Samuel telah mendapatkan anak lelaki dan itu yang akan menjadi pemimpin kelak.


"Astaga, Mami sudah tidak sabar Pih. Pasti akan sama tampannya dengan Azriel." Ya, yang sangat antusias hanya Yuri. Wanita paruh baya itu memang sangat mengidam-idamkan kehadiran sosok bayi lagi. Sementara Shireen terus tersenyum, dengan penuh ucapan syukur.


"Wahh, Azriel ada teman berantem hehe," sahut Lia.


"Kakak, besok tambah lagi ya. Perempuan, biar Azel ada temen berantemnya juga," kata Lisa.


"Senang sekali kalian melihat orang bertengkar!" ujar Dika.


"Iya Papi, suka aja gitu. Apalagi kalo main tonjokan, baku hantam, sama pukulan. Huuuhh, berasa di dunia fantasi!" celetuk Lia.


"Fantasi matamu tiga! Cucu Mami gak boleh ada yang bertengkar. Awas saja ya, jika kalian yang mengajari keponakan kalian itu tidak baik!" sahut Yuri.

__ADS_1


"Kenapa anakku tidak kembar lima? Apa aku tidak terlalu jago bermainnya?" Pertanyaan itu sontak membuat semua orang tercengang. Tiba-tiba kata polos Samuel membuat Shireen menahan malu.


"Haha, kurang pro!" sahut Lia.


"Kakak tuh enak banget ya minta anak kembar lima, atau berapalah itu. Gak mikir Shireen yang berjuang ngandut-ngandut bayi? Bahkan tidur aja serba salah. Miring kayak huruf tiga, terlentang bega, tengkurap takut meletos!" Seketika Dokter Stavie tertawa mendengar ocehan dari Lisa. Sungguh receh keluarga ini baginya.


"Memang benar itu," sahutnya sembari terkekeh.


"Pokoknya, kau harus makan banyak Shireen. Mami mau cucu Mami sehat!"


Semua orang terus memperhatikan kondisi kandungan Shireen, semata-mata untuk menyambut kebahagiaan yang tiadatara. Dengan datangnya sosok malaikat kecil nanti.


Secemburu-burunya hati, hanya Leona yang dapat merasakannya. Kecemburuan terbesarnya adalah di mana semua perhatian yang dulu ia dapatkan, kini teralihkan oleh orang lain.


Sekuat hati, perempuan itu tetap berusaha untuk tersenyum walaupun rasanya sangat pahit.


***


Pagi hari.


Terlihat sosok wanita anggun, sedang menarik-narik sebuah koper di tangannya.


"Sayang kau mau kemana?" tanya Yuri gelisah.


"Maafkan aku karena mendadak seperti ini. Sepertinya, aku harus pulang hari ini," ucap Leona.


"Astaga, kenapa? Apa kau mulai tidak nyaman? Kenapa Nak? Menetaplah lebih lama lagi di sini," minta Yuri.


"Masih ada anakmu Nak, kenapa kau mau meninggalkannya? Mereka masih butuh ibunya," ucap Dika.


"Maaf Papi, tapi sepertinya kehadiranku tidak cocok untuk keluarga ini. Aku hanyalah orang lama. Dan, ya aku sudah berusaha menjadi ibu yang baik. Namun, sepertinya kasih sayangku belum cukup untuk anakku. Maka dari itu permintaanku, aku ingin sekali membawa salah satu anakku," tutur Leona.


"Kau ingin mengambil anakku?" sahut Samuel.


Shireen terlihat mulai gelisah. Kekhawatiran ibu hamil itu hanya pada dua anak tirinya. Ia tak percaya jika perempuan itu mampu merawat seorang anak, walaupun hanya satu diantaranya.


"Mas, aku gak mau di pisahkan Azel dan Azriel," ucap Shireen cemas.


"Dia anakku, dan aku ini ibunya. Masih kurangkah kebahagiaan kalian? Aku hanya meminta salah satu dari mereka, sedangkan sebentar lagi akan ada calon pendatang baru untuk keluarga ini. Masih kurangkah, tidakkah kalian terlalu egois? Aku hanya ingin mengambil hakku!"


Leona mulai mengeluarkan air matanya. "Aku juga ingin bahagia seperti kalian. Hanya dekat dengan putra-putriku, itu saja hikss!"

__ADS_1


Bersambung ....


Cuma mau kasih tau hari ini Ay lagi ujian. Apa gak ada yang mau nyemangatin Ay gitu?😌


__ADS_2