Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Tidak Suka Dokter


__ADS_3

Setelah kedatangan Dokter Eza, Shireen dan Azel ikut menghantarnya ke dalam Azriel. Sementara Azriel yang mendapat tamu dadakan, langsung terkejut.


'Dokter? Ini pasti ulah Ina. Awas saja gadis itu!'


"Apa keluhannya Tuan?"


"Tidak ada!" cuek Azriel.


"Flu, batuk dan demam. Aku hanya takut dia terkena kanker!" sahut Ina yang kala itu ia baru masuk dengan masih menggendong Abel.


Tatapan elang sudah tertuju padanya, ia tak memperdulikan itu. Baginya Azriel sudah diperiksa ia akan tenang. 'Sialan sekali istriku. Lihat saja kau!' gerutu Azriel dalam hati.


"Astaga Ina ... kau polos sekali. Suami bukan kanker, tapi jantungan!" sahut Azel.


"Sudahlah aku tidak apa-apa, kalian berisik membuat kepalaku semakin pusing!"


"Ya, maka dari itu kau harus diperiksa. Kenapa sih, cuma diperiksa saja rasanya kau enggan. Padahal kau tidak akan mati hanya karena diperiksa!" gerutu Azel.


"Cerewet!" cemooh Azriel kepada kakaknya.


"Oke Dok, langsung periksa anakku yah! Perdebatan mereka tidak akan selesai, jika hanya ditonton saja," pinta Shireen sudah merasa jengah.


"Baik!" Dokter muda itu mulai memeriksa Azriel. Semenjak pensiun dokter Stevie, Samuel memilih dokter pribadi baru untuk keluarganya. Namun Azriel selalu malas bila berhadapan dengan dokter bule itu.


Pasalnya, bagi Azriel dia terlalu muda untuk menjadi Dokter. Usianya saja sama seperti Aryan adiknya, ia berpikir berapa lama ia kuliah? Hanya keahliannya yang diragukan Azriel.


'Apa-apaan ini, aku diperiksa dengan bocah baru netas kemarin,' batin Azriel.


Namun jangan ragukan kemampuan anak muda yang sangat tampan itu dengan nama lengkap Eza Berry Berton, itu berasal dari Amerika. Fakta mengungkap, bahwa pria bule itu sedari sekolah menengah pertama sudah diajarkan tentang ilmu kedokteran oleh sang ayah, karena sang ayah adalah dokter memang ahli di segala macam penyakit.


***


Sementara di sebuah tempat.


"Ayah sebenarnya ada apa denganku?"


"Jika ayah mengakatakan semuanya, apa kau masih mau bertahan?"


Aghafa merasa ada yang aneh dengan sikap sang ayah. Pasalnya, semenjak sesuatu hal yang ia dapat dari cerita seorang, pria tua itu menjadi pikiran sampai ia terbaring lemah di atas ranjang seperti ini.


"Ayah katakanlah semuanya, apa yang menjadi beban pikiran Ayah? Aku tidak bisa melihat Ayah terbaring seperti ini," ucap Agha.

__ADS_1


'Rasanya aku tidak sanggup untuk mengatakan. Sebenarnya aku kecewa, tetapi di lain sisi aku takut akan kehilanganmu Nak,' batin Abran.


"Mendekatlah! Ayah ingin memberitahu, jika kau bukan anak kandung Ayah," ucap Abran lemah.


"Ayah ... tolong jangan katakan itu, aku tahu. Walaupun aku bukan darah daging kalian, aku tetap menjadi anak Ayah dan ibu."


"Tapi, bagaimana jika orang tuamu mencarimu? Nak, sebenarnya kau ini mengalami amnesia. Ingatanmu hilang."


"Amnesia? Hilang ingatan? Sudahlah Ayah, percuma membahas keluarga. Jika mungkin aku berasal dari keluarga lain, kemana mereka? Tidak mencariku."


Dari awal Agha memang sudah tahu jika dia bukanlah bagian dari keluarga Luis, tetapi untuk ingatannya hilang ia tidak beritahu. Yang ia tahu bahwa dirinya adalah anak angkat Abran.


'Syukurlah dia tidak berniat untuk mencari keluarga asalnya. Mungkin hanya ini yang aku ungkap, untuk hal yang Nak Azriel ceritakan aku belum siap untuk mengakatannya.'


***


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, akhirnya hati Ina pun merasa lega. Ia tidak terlalu mengkhawatirkan dengan suaminya. Ya, karena Azriel hanya deman dan flu biasa.


"Beraninya kau mengadu dengan Mommy!" ucap Azriel penuh penekanan.


"Demi kebaikanmu!"


Azriel meremeh, lalu ia membuang mukanya. Hal pertama yang Ina lakukan, ia mendekat dan apa yang ia lakukan?


"Ooo ... rupanya kau mau aku mati?"


Ina menarik alisnya ke atas, seolah membentuk pertanyaan. Saat itu Azriel merasa sewot, ia membawa istrinya ke dalam pelukan.


"Kau sangat menantang aku ya?!" geram Azriel. Wajah Ina tampak ketakutan, tetapi ia berusaha untuk menetralkan jantungnya agar membuatnya terlihat santai.


"Mas lepas!"


Azriel yang melihat wajah istrinya mulai serius, merasa senang. Ia menyeringai, dalam hati ingin jahil. "Aku tidak akan lepaskan, sebelum kau meminta maaf dengan lemah lembut!"


"Tapi aku tidak merasa bersalah!" elak Ina.


"Baiklah ... kau mau yang lebih menantang rupanya?" Azriel melakukan hal konyol, ia menarik Ina dalam selimut. Saat ini mereka berada di bawah selimut dengan saling mendekap. Ah ralat hanya Azriel yang memeluk. Percayalah pria itu sedang mencuri-curi kesempatan.


'Astaga apa-apaan ini?"


Di dalam selimut itu, Ina merasa pengap terlebih pelukan Azriel yang sangat erat itu. "Aku sesak napas!"

__ADS_1


"Dadamu terlalu besar." Tiba-tiba kata polos itu terlontar dari mulut Azriel.


Bugh


"Akkh!"


Azriel langsung mengaduh kesakitan tatkala Ina lagi-lagi menendang pedang saktinya dengan sangat kasar. Gadis itupun berhasil lolos, dan membuka selimut. Terlihat matang wajah Ina karena pengap, ditambah dengan perbuatannya itu.


'Huh, demi keselamatan tidak apa-apa,' batinnya. Ia segera berlari keluar.


Sedangkan saat ini Azriel sedang menahan ngilu sembari memejamkan matanya. "Gadis betina, awas kau!" geramnya.


'Sakit sekali rasanya.'


***


Satu Minggu berlalu.


Selama 6 hari sakit, kini Azriel sudah pulih dan bisa beraktivitas kembali. Selama itu juga, kesehariannyan hanya tidur makan dan bermain dengan Abel, selain itu hobi baru Azriel sekarang menggoda dan menjahili istrinya.


"Aku ada urusan dinas ke luar negeri selama satu Minggu, jadi jangan merindukanku," ucap Azriel.


Ina yang sedang memakaikannya dasi, melongo mendengar perkataan Azriel itu. Namun sesaat kemudian, ia mendengus. 'Astaga apa dia sudah berganti kepribadian? Sangat berbeda jauh sifatnya saat aku baru masuk ke rumah ini,' batinnya.


"Tidak akan. Bagiku merindukan seseorang hanya membuang waktu,' balas Ina sangat pelan. Namun, Azriel terkekeh mendengar itu.


"Baiklah, akan kutertawakan jika kau menelponku nanti," ledeknya.


'Yaa terserah kau saja pria gila. Tuan muda yang terhormat dengan sikap konyolnya,' racau Ina dalam hati.


"Sudah selesai ...." Ina menyudahi argumen yang terdengar memuakkan baginya itu, kini ia memakai jas di tubuh kekar suaminya dan menyerahkan tas kantornya.


Azriel membungkukkan badannya, dan ya apa yang Ina dapat? Ia diberikan sebuah kecupan hangat di keningnya.


"Aku hanya ingin menjadi suami normal seperti yang lain dan ini hanya sebuah kecupan singkat, apa kau menolak jika aku melakukannya setiap hari?" ujarnya.


Ina mengulas senyum termanis, mampu menghipnotis mata Azriel saat melihatnya. "Tidak masalah," balasnya. Tanpa terasa Azriel membalas senyumannya.


'Maaf, aku belum bisa mengungkapkan rasa cintaku. Aku bukan pria romantis yang pandai berkata-kata cinta. Namun, suatu saat kau pasti tahu wanita satu-satunya yang aku cintai itu kau,' batin Azriel.


'Mungkin aku belum bisa menjadi istri yang baik, karena tidak menjalani keharusanku. Maafkan aku karena belum menjadi istri seutuhnya untukmu, Mas,' batin Ina.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2