Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Akhirnya Bertemu Walaupun Tak Sengaja


__ADS_3

Sampai di sebuah toko perhiasan ternama. Azel, dan Agha tiba saat petang ingin berganti malam.


“Pilihlah yang kau mau, aku ikut saja!” titah Xander.


Azel mulai melihat-lihat permata berlian yang bertengger cantik-cantik di atas kotak mini itu. Di bawah etalase berkaca, Azel dapat melihat begitu banyak pilihan cincin perhiasan di sana.


Dari harganya yang paling terjangkau, sampai yang paling mahal. Semua tersedia dengan ukiran-ukiran yang khas.


Namun dari sekian banyaknya cincin permata berlian di sana, ada satu cincin yang mengambil atensinya hingga Azel tertarik.


“Coba lihat yang itu!”


“Aku mau yang itu!”


Azel tiba-tiba terkejut, ucapan yang berbarengan dengan pilihan cincin yang sama. Bahkan mereka menunjuk cincin itu dengan serempak.


“Nona Azel?”


Saat Azel benar-benar kaget. “Kau ... hmm?”


“Elena, ya aku sahabat teman sosialitamu!”


“Oh ya Elena ....”


Sosok pria yang berada di belakang Elena, lagi-lagi membuat hatinya tak menyangka-nyangka. Azel seorang ayah dari anaknya, tengah mendampingi perempuan ini. ia seperti tidak percaya apa yang dilihatnya.


“Ale—ahmm, Agha!”


“Kenapa kaget Nona Azel?”


‘Ah, dari sini aku mulai. Orang ini pasti merasa panas. Yaa walaupun aku tahu hanya sedikit. Semoga saja aksiku ini membuahkan hasil nanti,' batin Elena.

__ADS_1


“Wah Pak Agha, kebetulan sekali kita bertemu. Apa kau juga sedang mencari alat untuk mengikat hubungan sucimu?” ujar Xander langsung menjabat tangan Agha. Agha sedikit tersenyum, terlihat keterpaksaan dari wajah pria itu. Entah lah, semua seperti mengganjal perasaannya.


“Ya, kalian juga ya? Jangan lupa undang kita juga, kemungkinan acara pertunangan kita tidak berjarak jauh,” sahut Elena tersenyum bahagia. Langsung ia tatap manik mata Azel. Tersirat senyuman licik dari bibir Elena, menciptakan kecanggungan antar mereka.


Deg!


Tidak ada kaitannya, tapi kenapa hati Azel seakan tidak bisa menerima itu. Ia menatap pria itu dengan matanya yang sayu, terlihat juga tatapan sebaliknya dari Agha. Ya, Agha begitu nanar melihatnya. Bukan perkara perasaan, tapi ini tentang ketidaknyamanan di antara yang terbelenggu.


‘Jadi mereka sudah ingin bertunangan juga. Cepat sekali perasaannya berpindah ke lain hati,' batin Azel. Miris, namun terasa tidak rela dari lubuk hatinya yang paling dalam.


“Ah tentu saja Nona. Katakan kapan pertunangan kalian akan diselenggarakan? Aku dan kekasihku sudah dua hari lagi, nanti kabari kita ya!”


“Wahh lebih cepat kalian ya. Baiklah, nanti pasti kita akan hadir. Ya ‘kan Sayang ....?” Kata embel-embel yang disebutkan oleh Elena itu seolah memanasi hati. Tak bisa dipungkiri, jika Azel mulai sedikit gerah. Bahkan atmosfer di tempat ini menjadi lebih lembab karena suasana.


“Ya. Hmm, apa kita bisa bicara Pak?”


“Tentu saja bisa. Biar kita cari tempat yang enak,” balas Xander. “Sayang ... kalian sibuklah berdua, kami ingin bicara bentar,” izin Xander langsung mendapat anggukan dari Azel.


“Kenapa kaget Nona? Apa kau sedikit tidak menyangka, aku menikah dengan ayah dari anakmu?” ujar Elena berbisik. Lihatlah wanita yang selalu berlagak nyeleneh itu, sudah mengeluarkan jati dirinya. Ia menyeringai tanda ingin tersenyum saat melihat wajah Abel begitu tidak nyaman.


“Aku biasa saja, bukan hal yang tidak wajar karena sebelumnya aku memang sudah tahu jika kalian dekat,” balas Azel lembut.


“Yakinkah? Hubungan satu malam itu apa tidak membuat bekas di hatimu? Ah, itu terlalu masa lalu ya maafkan aku. Tapi, bisakah kau ingat lagi pengorbanan calon suamiku saat anaknya hilang? Apakah yang ada di saat itu calon suamimu, bukan ya? Seharusnya ‘kan dia bukan Agha ...” Ucapan Elena terdengar mengejek, bahkan seperti sebuah sindiran.


‘Perempuan ini berusaha memojokkanku,' batin Azel merasa tidak nyaman.


“Jadi seorang perempuan tidak baik juga terlalu percaya diri, jika selalu merasa dicintai. Ada saatnya lelaki akan pergi di kala dia tak dihargai,” ujar Elena.


Azel mengalihkan pandangannya untuk fokus melihat-lihat cincin di bawah etalase kaca itu. Ia berujar sebagai membalas, “Tenang saja Nona Elena, aku memang pernah berhubungan di masa lalu tapi bukan berarti aku mencintainya saat ini. Dia memang ayah anakku, tapi dia tidak menjadi milikku. Sudah ada orang lain untukku, untuk apa aku masih meliriknya?” Tanpa menoleh sedikitpun.


“Jadi, jangan mengira seolah-olah aku masih mempunyai rasa dengan calon suamimu. Jika kau tahu, dari dulu aku membencinya bukan mencintai!”

__ADS_1


Seketika Elena terdiam, seolah rangkaian kosakatanya habis. Ternyata ucapan yang begitu ketat, tak mengena di hati perempuan ini.


Sementara di meja lain.


Ada dua orang pria sedang menikmati cangkir kopinya masing-masing.


“Jadi seperti itulah ....” ujar Agha setelah usai menceritakan semua keterkaitan dengan Azel dan anaknya.


“Baiklah aku paham. Bisaku simpulkan?”


“Silakan!”


“Abel anak hasil dari dari hubungan terlarang antara kau dan calon istriku. Tragedi penembakan itu disebabkan oleh perbuatanmu ‘kan? Sampai kau amnesia dan mengubah kau menjadi 100% jauh dari kepribadianmu. Nasib baik kau dipertemukan dengan orang sebaik pak Abran. Jika tidak, mungkin kau sudah tinggal nama saat ini,” papar Xander membuat simpulan.


“Ya, aku selalu bersyukur untuk itu. Tapi, dibalik semua perbuatanku ada alasannya Xander. Aku sama sekali tidak berniat untuk menghamili Azel, aku hanya ingin melampiaskan amarahku sebab rasa dendam yang kumiliki pada adiknya. Masa SMAku hancur karena orangtua asliku, sebab itulah kehidupanku menjadi bebas dan binal. Namun tidak sama sekali aku rutuki masa laluku karena itu bisa melahirkan Abel ke dunia,” balas Agha.


Xander menepuk pelan punggung Agha, seraya memberikan senyum terbaiknya.


“Mau seburuk apapun hubungan kau dan Azel, aku tidak mempermasalahkan itu. Bagiku itu masa lalu yang artinya sudah terlewat, kini jalani saja kehidupan yang tersisa. Aku masih bisa menerimanya, karena rasa cintaku bukan main-main,” ujar Xander sangat bijak.


‘Ternyata siapapun yang mencintai Azel memang bukan hal yang main-main. Kukira hanya aku yang tidak bisa melepaskannya, ternyata cinta pria ini sangat sejati sampai siap menerima segala hal dari Azel,' batin Agha.


“Dan, untuk pertanyaanku saat ini. Apa kau masih punya rasa dendam dengan calon istri, atau mungkin rasa cinta? Masih adakah?”


Deg.


Pertanyaan Xander tampak membuatnya bungkam. Antara ingin jujur atau mementingkan perasaan orang ini. Ia ingin berkata apa adanya untuk menjawab, tapi ia enggan membohongi dirinya sendiri.


“Aku harus jujur atau tidak?”


“Tentu saja jujur, aku bisa mewajarkan apapun jawabanmu nanti,” balas Xander sedikit mempunyai rasa penasaran.

__ADS_1


“Jika aku boleh jujur, aku masih sangat mencintainya. Jika aku ingin berbohong, aku bisa melupakannya.”


__ADS_2