Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Berlibur ke Desa


__ADS_3

Mendengar ujaran dari Tia, Azriel tampak tersenyum lalu melihat istrinya. "Boleh, aku ingin ke sawah!"


"Serius?" tanya Ina merasa ragu.


"Kenapa?"


"Di sana sangat kotor Kak, karena panen tahun ini dibarengi dengan hujan. Ladang jadi basah. Banyak lembu sapi dan kerbau lho sedang membajak ladang ...." sahut Tia.


"Aku pernah searching, kalau proses penanaman padi itu menggunakan traktor."


"Di sini masih pakai cara tradisional, tapi hanya sebagian. Memang kebanyakan menggunakan traktor, karena lebih cepat. Tapi, dulu kakek lebih suka dengan cara itu!"


"Astaga adikku ini sangat tahu semua ya!" ucap Ina gemas, mengusap kepala adiknya.


"Sayang ayo kita keliling, aku jadi penasaran!"


***


Ina berjalan mengelilingi kampung. Pria itu berpenampilan sangat santai. Menggunakan kaus hitam polos dengan layanan celana pendek selutut berwarna mocca. Kulit putih pria itu rupanya menarik perhatian semua orang.


Selama mereka berjalan, mereka selalu menyapa penduduk dengan ramah. Banyak yang menatap kagum sosok pria yang Ina gandeng, tetapi tak sedikit juga orang yang membicarakannya.


'Itu Ina anaknya pak Tian. Dulu dia dikejar-kejar anaknya juragan, sekarang sudah dapat orang bule.'


'Putih banget cowoknya.'


'Kembang desa udah pulang. Pulang-pulang sudah hamil, terlalu cepat prosesnya ya?'


'Pantas saja Inah meminta untuk digantikan. Ternyata buat jadi bahan, sekarang sudah menjadi orang kaya!'


'Aku dengar Tian dan Liana juga sudah tidak turun ke sawah lagi. Pantas saja, sudah mempunyai menantu konglomerat.'


'Ada orang kaya yang mau dengannya, ternyata dia suka yang lebih kaya.'


'Tapi tampan sekali ya suaminya.'


'Sekarang Ina juga sedang hamil. Beruntung ya bisa dapat orang kota.'


Mungkin banyak diantara mereka yang membicarakan itu, tetapi Ina seolah menulikan telinganya.


"Kenapa mereka melihat kita seperti itu?" tanya Azriel.


"Ya, mungkin mereka kaget karena kampungnya kedatangan pria tampan," balas Ina.


Azriel mengecup pelipis istrinya dengan singkat. "Astaga, istriku sudah pandai menggombal!" Ina pun hanya cengengesan.


Setelah tiba di sebuah ladang padi.


Azriel benar melihat pesawahan yang begitu luas, dari kejauhan ia juga dapat melihat gunung-gunung yang menjulang.


"Luas sekali ...."


Awalnya, Azriel terlihat jijik dengan lumpur-lumpur di sana, tetapi ia tertarik saat melihat mesin traktor itu dikendalikan oleh para petani. Kebisingan pun tercipta, karena suara mesin itu.

__ADS_1


"Aku lebih suka melihat kerbau yang membajak di sana. Mereka terlihat gemoy seperti kamu Mas!" gurau Ina terkekeh sendiri.


"Astaga Sayang ...."


"Eh, tiba-tiba kok aku kepengen liat kamu ngendalikan traktor itu ... Mas, kayaknya seru deh!"


"Sayang ... please permintaanmu ini sangat tidak mudah lhoo."


"Ina!"


Terdengar suara panggilan seseorang. Tampak seorang pria berwajah oval. Tampan dan lebih dominan manis.


"Mas Rano, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, bagaimana kabarmu juga?"


"Aku sangat baik."


"Sayang, dia siapa?" Azriel yang merasa tidak senang istrinya berbicara dengan orang lain, ia menyahut.


"Ini Mas Rano, dan Mas ini suamiku mamanya Azriel."


Pria bernama Rano itu terkejut. Sangat terlihat dari wajahnya itu. Sementara Azriel terlihat tengah menelisik wajah pria itu.


'Apa jangan-jangan dia anaknya juragan yang dimaksud oleh Tia tadi?'


"Serius kamu sudah nikah?" tanya Rano merasa tidak percaya.


"Ya, aku nikah di kota."


"Maaf Mas Rano, dari awal Ina sudah katakan jika Ina tidak mencintai Mas."


"Ya, karena kau sudah mencintai pria yang lebih tampan dan kaya 'kan?" tanya Rano tersenyum nanar.


Azriel tampak jengah dengan mereka yang sedang asik berdua. 'Mereka asik sendiri!' gerutunya dalam hati.


"Ya, berarti kau kalah. Berjuang lagi ya, karena wanita itu selain butuh cinta, dia juga butuh uang!" sarkas Azriel meremeh.


"Mas!"


"Apa ucapan aku salah?"


"Tidak, tapi sekarang aku mau kamu turun ke sana, ayolah demi anakmu!"


"Sayang ... di sana sangat kotor ...."


"Kamu memang tidak mencintai aku sama anakmu!" Ina merajuk.


"Terbukti, bahwa uang saja tidak menjamin kebahagiaan, tapi kasih sayang dan cinta itu yang berperan penting!" sindir Rano. Azriel merasa tertantang dengan ucapan remeh dari Rano itu.


"Baiklah Ina, demi anakmu dan rasa cinta yang masih membekas di hatiku, biar aku yang turun. Kau lihat yaa!"


Azriel lagi-lagi merasa tidak terima, ia mengepalkan tangannya terlebih saat melihat Rano yang mulai menggulung celana jeans, seolah siap untuk turun.

__ADS_1


"Orang kota mana mau kakinya kotor!" cemooh Rano.


"Kau bukan lelaki!" cetus Ina.


Tangan Azriel terkepal kuat, ia pun tegertak untuk ikut tantangan itu. Pria itu melepaskan sendalnya, lalu mulai turun ke pesawahan. Menyusul Rano yang sudah berada di dekat traktor sana.


Ina menekap mulutnya, tak percaya dengan aksi sang suami. Ia tersenyum lebar, saat melihat kaki jenjang Azriel yang putih bak lobak itu menenggelami lumpur yang hitam sangat jauh berbeda dengan warna kulitnya.


"Biar aku yang kendalikan!"


"Pak biar aku saja. Dia mana kuat, orang kota tidak pernah turun ke ladang!" celetuk Rano.


"Heyy, anak juragan. Kau tidak boleh menyepelekanku, apa kau tidak mengenal alat fitness? Aku sering olahraga, bahkan ototmu saja tidak kelihatan. Lebih kuat aku!" sungut Azriel.


"Halah kekar diotot lembek di tenaga. Sudah Pak biar aku saja, lagipula mesin ini milik ayahku semua!"


"Aku beli semua, bahkan ladangnya pun aku bisa membelinya!"


Mereka terus beradu argument sampai para petani tercengang melihat mereka. Sementara Ina merasa jengah, tetapi ia tetap senang dan puas setidaknya kemauan ia dan anaknya terpenuhi.


***


Di tempat lain, Azel justru dibuat kesal mati-matian oleh Aghafa.


Mengingat adiknya di kampung, ia tidak bisa berkutik untuk mengadu, sedangkan Aghafa semakin menjadi.


"Aku hanya ingin makan siang dan jalan-jalan bersama. Hanya itu saja, setelah itu aku akan berhenti mengikutimu," ucap Aghafa mengutarakan permintaannya dari awal.


"Aku sangat sibuk hanya untuk menuruti permintaanmu yang tidak penting itu!"


"Oke, tidak apa-apa. Berarti waktu aku menghabiskan bersamamu semakin banyak. Karena aku akan terus mengikutimu," ucap Aghafa.


"Agha please, mengertilah!"


"Tidak mengerti karena kau belum menjelaskannya!" Lagi-lagi pria itu membalas dengan kata yang konyol.


"Baiklah aku menyerah, kau boleh menghabiskan waktu seharian bersamaku. Hanya untuk hari ini!"


"Akhirnya ...."


***


Kembali lagi di pedesaan.


Tia yang melihat Azriel pulang dengan berlumuran lumpur merasa lucu, terlebih wajah putih pria itu banyak coretan tanah karena bertengkar dengan Rano di ladang tadi.


"Astaga Nak, kau main ke sawah?" tanya Inah.


"Iya Nek, demi menuruti permintaan anakku!" ucap Azriel melirik istrinya.


"Kau sendiri yang meminta!" lirih Ina.


"Lucu deh!" ujar Tia tertawa.

__ADS_1


"Ya sudah, Ina bawa suami ke sungai untuk membersihkan badannya!"


Bersambung ....


__ADS_2