
“Tapi itu dulu. Sekarang, aku hanya menganggapmu sebatas teman,” lanjut Azel. Agha pun berusaha memaksakan senyum.
“Tidak apa-apa ‘kan?” tanya Azel.
Agha tetap tersenyum, walaupun itu terpaksa tetapi ia tulus memberikannya. “Bukan hanya kau yang kucintai, tapi Abel sudah benar-benar terasa seperti anakku. Jika kau menikah nanti, aku harap kau tidak egois untuk memberikan jarak agar kita berpisah,” ujar Agha membalas.
“Baiklah, untuk itu tidak akan aku lakukan. Senyaman Abel kepadamu itu berarti kebahagiaannya. Aku tidak bisa mencegahnya!”
Agha merentangkan kedua tangannya begitu lebar, lalu ia berucap, “Apa aku boleh merasakan pelukan pertemanan kita?”
Azel berpikir sejenak, “Tidak lebih dan ini bukan caramu untuk mengambil kesempatan ‘kan?” curiganya.
Sampai Agha menurunkan kembali tangannya, Azel masih tampak curiga. Pria itu pun semakin jengah.
“Astaga Azel, kau--”
Tiba-tiba Azel menghampiri, menyela ucapan pria itu dan apa yang terjadi? Ya, perempuan itu sudah menyatukan pelukannya.
“Aku hanya bercanda, Om!” ledek Azel mendongakkan kepalanya, lalu menatap konyol wajah Agha.
Di bawah hembusan angin yang menerpa, di tengah ombak yang menerjang, dan di putaran langit yang cerah. Kala itu ada dua sepasang manusia sedang meresapi perasaan dengan saling berpelukan. Walau, rasa di hati masing-masing berbeda.
***
Gafin menyodorkan sebuah kertas kepada Gerald. Yang di mana pria itu sangat terkejut saat membuka dan membaca isinya.
“Sepertinya ada masa lalu tuan Agha yang disimpan rapat oleh pak Azriel, dan itu bersangkutan dengan nona Azel serta putrinya,” ujar Gafin.
Gerald merasa tidak percaya, ia terkekeh sendiri, “Astaga, aku seperti berteman baru kemarin dengan orang itu. Bukti ini sangat membuatku percaya jika Aghafa itu benar-benar Alex.”
“Aku ingin memberitahu semua ini kepada tuan Agha, tapi aku merasa jika dia akan menganggap ini sebuah lelucon. Karena, dia sendiri tidak akan percaya.”
“Gafin sebaiknya kita kumpulkan dulu seluruh buktinya, baru setelah itu kita akan tunjukkan semua kebenaran. Ini sangat aneh terdengar. Alex hilang dan dinyatakan telah tiada sebelum kita lulus, dulu. Lantas tidak mungkin jika sosok Aghafa adalah Alex. Jika memang benar dia Alex, kenapa dia menyadari semuanya? Lantas mengapa dia masih hidup? Aku mengira lelucon Azriel yang mengatakan jika pria itu adalah Alex hanya sebuah candaan, ternyata benar. Aku harus tanyakan semua dengannya!”
__ADS_1
“Andai pak Abran masih ada. Dia akan membuktikan semuanya,” lirih Gafin merenung. Jika mengingat jasa pria itu, ia selalu merasa sedih. Maka dari itulah, amanah untuk mendampingi anaknya selalu, menjadi sebuah janji untuknya.
“Tidak perlu orang lain Gafin. Jika kita mampu, sahabatku itupun dapat membuktikan. Namun, sangat sulit karena pria itu keras kepala terlebih kebenciannya terhadap tuanmu masih sangat membekas. Aku sendiri sedikit waspada jika berhadapan dengannya, membicarakan prihal Agha.”
Gafin menarik secerah kertas yang tipis itu. Ia menatap bukti yang jelas di sana, dengan selidik. “DNA ini sudah sangat membuktikan jika anak nona Azel itu adalah putri kandung tuan Agha. Secara logika, ada hubungan sebelumnya di antara mereka.”
“Entah kenapa aku hanya ingin menyembuhkan amnesia permanen dari Aghafa. Jika dia benar amnesia, itu berarti semua masalalunya terlupakan. Jika ia bisa mengingat, semua bisa membuktikan.”
Di tengah rumitnya permasalahan, ada sedikit aneh dari semua keingintahuan Gafin, sampai Gerald pun bertanya kembali, “Kenapa kau begitu perduli? Dan apa untungnya untukmu ini? Tidak mungkin Agha yang menyuruhmu ‘kan? Gafin aku merasa kau berlebihan kepada tuanmu, sampai kau mengedepankan kehidupannya. Jika semua terbukti pun, Agha hanya mendapat pernyataan saja. Azel akan menikah sebentar lagi, kemungkinan anaknya juga akan mempunyai ayah baru,” ujar Gerald.
Pria bule itu menyeruput kopinya dengan santai, lalu ia merileksasikan kemelut di pikiran dan hatinya.
“Pak Gerald jika Anda tahu, tuan Agha begitu mencintai nona Azel semenjak pertemuannya 10 tahun silam dengan pak Abran, sebelum mereka berpisah. Entah keajaiban apa, tuan Agha justru dipertemukan oleh anak dari nona Azel. Saat itulah kecurigaan saya mulai ada, karena kesamaan di antara keduanya sangatlah banyak dan begitu pekat. Sampai mereka mulai nyaman sehingga tuan Agha memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak, sebab nona Abel sangat sekali membutuhkan peran ayah di hidupnya.”
“Aku mengerti. Jika aku boleh simpulkan, mereka itu mempunyai ikatan hubungan antar keluarga, sementara Agha dan Azel itu seperti pernah melakukan hubungan terlarang hingga menghasilkan seorang Abel. Namun, jika demikian memang benar, berarti kita hanya tidak tahu kejadian apa saja sampai mereka terpisah dan saling tidak mengenal seperti ini. Contoh Agha yang amnesia, dan Azel yang mengelak untuk mempercayainya bahwa dia orang lain.”
“Itu benar Pak. Satu-satunya cara, memang kita harus menemui pak Azriel.”
“Biar aku dulu, nanti akanku sharing denganmu jika aku mendapat informasi darinya,” balas Gerald.
***
Malam hari.
Mengetahui Abel yang tidak ada di rumah. Aghafa berinisiatif untuk mengunjungi rumah Azel, karena ia tahu jika perempuan itu sedang sendiri di rumah.
Ting nong ....
Tampaklah sosok wanita cantik yang sudah mengenakan baju dinasnya. Ya, jika melihat penampilan Azel ini terlihat seperti pengantin baru. Lihatlah, begitu menggoda di mata Agha, bahkan untuk menelan saliva saja sangat sulit.
Refleks Azel menutup setelah pintu, untuk menyembunyikan penampilannya.
“Apa ada pacarmu di dalam?”
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Azel polos.
“Kau berpakaian seperti itu untuk siapa?”
“Ah tidak, aku memang seperti ini saat malam. Kau selalu berpikir buruk tentangku dan pacarku, jika dia ada di sini pun aku tidak akan berpakaian seperti ini, sebab dia selalu menjaga kehormatanku terlebih aku sebagai seorang ibu,” tegas Azel. Lagi-lagi hanya mendapat balasan ‘oh’ saja dari pria itu.
‘Menyebalkan sekali dia,' batinnya.
“Justru aku tanya padamu, ada apa malam-malam seperti ini kau mendatangi rumah perempuan?”
“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja.”
“Ya sudah, pulanglah. Aku baik-baik saja!”
‘Astaga tidak peka sekali dia,' batin Agha sedikit kecewa.
“Akkhhh, perutku. Astaga ini sakit sekali!”
Azel langsung respect membuka lebar pintunya, kala Agha mengaduh kesakitan sembari memegangi perutnya.
“Agha kau kenapa?”
Secepat kilat, Agha justru menerobos masuk dan ia tak lupa untuk mengajak Azel masuk juga.
“AGHA!”
“Azel aku sangat lapar, karena itulah perutku sakit. Mau ya masaki aku makanan?”
Mata Azel membola, akan tetapi di lain sisi wanita itu merasa iba, karena dia sendiri yang mendengar bagaimana gemuruhnya suara perut pria itu.
“Astaga kukira ingin bertamu, tapi datang malah merepotkan!”
“Kau tega sekali, pembantuku cuti sementara makanan di luar tidak nafsu. Hanya masakanmu Azel yang lezat. Ingat waktu sarapan hari itu aku jadi teringat padamu juga,” ucap Agha terlihat sekali memohon.
__ADS_1
“Ya sudah, marilah ikut aku!”
Terbitlah bulan sabit di birai pria itu.