Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Insiden dan Tetesan Darah


__ADS_3

"Jangan! Aku mohon, jangan bunuh cucuku!"


Yuri terus memohon. Leona seakan menjadi rubah yang licik, ia ingin menghabiskan kedua nyawa bayi dalam kandungan, beserta ibunya.


"Baiklah karena aku baik, aku tidak akan membunuh keduanya. Pilihlah salah satu, cucumu atau menantumu? Jika kau memilih cucumu, aku sendiri yang akan bantu keluarkan bayinya dengan menggunakan pisau ini, haha!"


Suara tawa Leona bergemuruh, keadaan semakin mencekam, sedangkan Yuri menambah kencang suara tangisnya. Ada Rico ya selalu merengkuh tubuhnya.


Rico melihat sekitar. Sangat sial ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, demi keselamatan istri dari tuannya. Ya, di sekitarnya banyak sekali antek-antek Leona yang mengepungnya.


Kini hanya ia, Yuri dan Shireen yang masih sadar dalam situasi seperti ini. Karena, ia melihat semua pembantu sudah pingsan dalam bekapan anak buah Leona.


'Tuan Sam sepertinya dalam perjalanan, demi menunggu kedatangannya lebih baik aku memancing Leona dulu untuk meluluhkan hatinya,' batin Rico.


Saat satu langkah kaki Leona maju menghadap Shireen, refleks Rico ....


"Leo!"


"Jangan mendekati aku Rico. Aku bisa nekat menancapkan pisau ini ke perutnya!"


"Baiklah, tapi dengarkan kataku sebentar saja. Kau pernah hamil, kau sudah menjadi seorang ibu dan pernah merasakan bagaimana rasa sakit perjuangan seorang ibu saat hamil. Kasihani dia, jangan menyalahkan bayi kecil yang tak berdosa demi membalaskan dendammu."


"Cih, kata-kata sok bijak itu tak pantas keluar dari mulutmu Rico. Aku tahu siapa kau, kau mantan psikopat. Pekerjaanmu seperti ini bukan? Membunuh karena bayaran. Apa kau pernah merasa kasihan dengan korban-korban yang sudah kau habisi?"


"Ya, aku tahu, aku sadar siapa diriku sebenarnya dan aku menyesal sampai saat ini. Tapi, sebab itulah kau lebih memilih Tuan Samuel dibanding aku? Aku yang sampai kini sendiri demi menunggu kau!"


Teringat sebuah cerita di mana saat dulu, Rico bersama dengan Leona.


"Kau psikopat Rico, aku tidak bisa menerima pendamping hidupku itu seorang pembunuh," ucap Leona nanar tatkala Rico menyatakan cintanya.


"Jika aku bisa berhenti dari pekerjaan ini, apa kau mau menerimaku?" Gadis cantik itu terdiam, berpikir bahwa tak ada kata lagi untuk membalas ucapan Rico.


"Tidak 'kan? Pekerjaanku bukan menjadi penghalang, tapi karena memang tidak ada cinta darimu, untuk aku!"


"Maafkan aku."


"Jika kau tahu. Uang yang aku raup agar kau bisa menjadi seorang model, itu hasil dari kerja haramku. Demi agar tercapainya cita-citamu. Sekarang kau sudah dapat semuanya, kau sudah menjadi orang yang terpandang dan seorang gadis karir dengan berlimpah kekayaan. Kini kau justru melupakan aku!"


Dengan mengingatkan masa lalu itu, Rico dan Leona saling berpandang. Flashback di masa silam membuat Rico mengungkitnya kembali akan ucapan mereka masa itu.


"Kau ingat itu?" ucap Rico setelah melihat Leona terdiam karena ia sedang flashback masa lalunya.


"Dari dulu aku tidak pernah mencintaimu Rico," lirih Leona.


"Karena kau sibuk mengejar pria kaya dan tampan yang kau rasa itu sederajat denganmu!"


"Aku hanya mencintai Samuel!"


"Sadarilah Leona, itu bukan cinta melainkan obsesimu terhadapnya!"


"Aku tak membutuhkan ucapan ataupun ungkitan masa lalumu itu. Memflashback ingatan adalah suatu hal yang sangat aku benci!" geram Leona.

__ADS_1


"Karena di situ hanya ada penyesalan bukan?"


Sreeetttt!


Akhh ...


Tiba-tiba lakban hitam yang membekap mulut Shireen, dibuka secara kasar oleh Leona.


"Yang jelas kuinginkan sekarang membalaskan rasa sakit hatiku, dengan tumpahan darah!"


"Jangan Nak, aku mohon ...."


'Mas kamu di mana? Cepat pulang, aku membutuhkanmu,' batin Shireen terus menyebutkan nama suaminya. Perempuan itu hanya bisa menangis. Itupun tanpa suara karena tenaganya sudah habis.


"Bagaimana Nona Shireen? Sekarang aku pemenangnya bukan? Kau sudah tidak bisa menjawab ucapanku lagi, haha!" Perempuan seram itu mengejek.


"Bunuh aku saja. Kau sakit hati karena aku sudah memberikan restu untuk Shireen 'kan? Seharusnya objek pertama yang kau salahkan itu aku! Biarkan cucuku lahir ke dunia, dan berikan kehidupan untuk menantuku!"


"Mami, jangan ucapkan seperti itu hikkss ... semuanya sebab aku, ambil saja nyawaku!"


Tiba-tiba Leona menyeringai. "Baiklah tiga-tiganya saja, lebih seru bukan?!"


Leona sudah ancang-ancang menodongkan pisaunya. Persetan dengan rasa dendamnya, ia benar-benar melakukan yang dia inginkan. Sebelum itu ia menyeringai dengan sangat menyeramkan. "Membunuh bayi di dalam perutmu adalah cita-citaku, haha!"


"JANGAN BUNUH CUCUKU!!"


Jleb!


"MAMI!"


"NYONYA!"


"Sial! Wanita tua ini menghalangi, aku tidak tepat sasaran!" gumam Leona merasa kecewa. Tusukkan pisau itu tidak mengenai perut Shireen, melainkan Yuri yang tiba-tiba melindungi.


Alhasil darah segar keluar bercucuran. Rico menghampiri Yuri yang berada tepat di depan Shireen.


Namun naas, kala itu Leona mengeluarkan senjata barunya. Ia menodongkan pistol lagi-lagi di depan perut Shireen. Saat itu, Leona sudah benar-benar menjadi iblis berwujud manusia. Tak ada rasa takut atapun iba di hatinya.


Dorrr!


Shireen yang sudah pasrah nyawanya akan hilang bersama bayinya, tapi justru ia orang yang terselamatkan kedua kalinya.


"TUAN, RICO!"


"SIAL!"


'Lagi-lagi aku gagal!'


Tembakan itu tepat mengenai dada Rico. Guna untuk menyelamatkan nyawa orang lain, tanpa niat dia telah mengorbankan nyawanya.


Sedangkan Shireen saat ini benar-benar merasa sangat mual, karena sudah banyak darah yang terlihat jelas di depan matanya. Bercucuran dengan deras, menetes dengan keras. Tiba-tiba kepalanya pusing, ia merasakan sesuatu yang amat sakit di perutnya. Tanpa terasa ada darah juga yang berjatuhan dari arah kakinya. Ya, itu berasal dari perselangkangan.

__ADS_1


DORR!


DORR!


DORR!


Akhhhhhhh ....!


Seketika Leona tumbang dengan posisi tengkurap. Tiga kali tembakan dari arah belakang, berhasil mengenai tubuhnya. Ternyata itu berasal dari Tansoon yang melepaskan peluru pistol, sampai menembus jantung Leona. Perempuan cantik itu tewas di tempat. Mungkin setelah ini akan ada informasi tentangnya yang akan meledak di dunia berita.


Melihat sang ketua sudah tak bernyawa, para anak buah suruhan itu berbondong bondong menyelamatkan diri, dengan cara berlari kabur.


Kedatangan Samuel, Dika dan Tansoon memang sangat tepat waktu. Kala itu Samuel sigap menyelematkan Shireen, ia hanya memikirkan bayi dan istrinya.


"Sayang aku mohon bertahanlah!" Samuel menggendong Shireen, kemudian ia berlari cepat.


Dika mengangkat istrinya yang tak berdaya. Sungguh miris melihat keadaan saat ini. Banyak sekali pertumpahan darah, ia pun tak menyangka bahwa istrinya juga menjadi korban kejahatan mantan menantunya.


Sementara Tansoon sibuk menembaki para anak buah Leona. Namun, sudah berakhir sebab mereka telah melarikan diri.


"Tansoon, cepat bawa Rico!"


"Baik Paman!"


***


Di rumah sakit.


"Mas, selamatkan Mami dan Rico hikkss!"


"Pikirkan anak kita dulu, Sayang!"


"Aku gak sanggup, sakit Mas. Perut aku sakit hikkss!"


"Aku mohon bertahanlah!"


Setelah menjumpai Dokter, semua perawat pun berlari membantu pasien baru yang akan melahirkan itu.


"Cepat tolong istriku!"


"Baik, silahkan menunggu di luar. Saya akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu!" Samuel menurut, dengan berat hati ia meninggalkan istrinya di ruang IGD.


Tiba-tiba Lia datang bersama dengan Dika yang membawa Yuri, dan Tansoon yang membawa Rico.


"Kakak!" Lia langsung menubruk kakaknya. Ia menangis terisak dalam dekapan Samuel. Dalam pelukan itu, mereka saling menguatkan.


Tiba-tiba Dokter datang.


"Bagaimana keadaan istriku?"


"Pasien mengalami pendarahan hebat, dia sudah waktunya melahirkan. Tatapi ini sangat beresiko. Anda harus memilih salah di antara bayi dan si ibu bayi. Kami tidak bisa menyelamatkan keduanya, melainkan salah satunya."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2