Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Anak dan Mami ini Jarang Sekali Akur


__ADS_3

Kali ini Agha sudah tidak bisa lagi leluasa untuk menjemput ataupun menghantar Abel. Pasalnya, setelah pak Darto pensiun Azel buru-buru menyiapkan sopir baru. Namun, bukan berarti ia tidak bisa menjumpai anak angkatnya lagi.


Kini gadis itu pulang dengan wajah murung. Sedikit kesal, karena sopir yang sudah dianggapnya seperti sang kakek sendiri, tiba-tiba tergantikan dengan pria muda yang kaku.


“Mami!”


“Baru pulang sudah marah-marah. Bentak Mami pula, muka ditekuk, bibir seperti bebek, pipimu jadi semakin bulat! Ada apa si hmm?” Azel sudah tampak segar, saat ini wanita itu sedang membaca buku seperti biasa.


“Kenapa sopir Abel diganti ....?” rengek Abel seolah ingin menangis.


“Sayang pak Darto sudah pensiun, dia sudah tua, sudah waktunya menikmati masa lansianya bersama keluarga dia,” balas Azel.


“Tapi, gak harus sama kakak dingin itu ....”


“Dia dingin? Oh mungkin dia habis kehujanan atau mungkin ....”


“Mami stop deh! Jangan pura-pura polos. Ini serius, dia gak asik, gak peka, gak suka juga Abelnya .... mending sama Ayah deh!”


“Abel, Abel! Lihat mami! Kamu itu tetap orang lain dengan pak Agha, dia mempunyai kehidupannya sendiri, tidak selalu hanya untukmu. Mami tidak ingin merepotkan dia demi sikap manjamu dengannya, dia orang sibuk!” omel Azel.


“Tapi ....”


“Sopir barumu itu jomblo lhoo, masih muda lagi. Bolehlah kamu main-main sama dia, tapi bukan berarti pacaran yah ....” potong Azel menggoda.


“Terserah, Abel gak suka!”


“Yasudah, mami yang suka, kamu mah bodoamat!” ketusnya.


Yaa, memang seperti itulah cara mereka bertengkar. Beradu mulut, bahkan bisa berujung baku hantam kecil-kecilan.


“Mami .....”


“Mau nangis? Sana mengadu dengan ayahmu itu!”


“Aaaa Ayah ... huaaa hikss, hikksss ....” Sepertinya mood Abel hari ini benar-benar sangat tidak bagus. Gadis itu dengan cepat dan mudahnya, langsung menangis. Sang mami pun tercengang.


Abel sudah menekan tombol telepon, dan itu langsung mendapat jawaban dari ayahnya.


“Ayah huaaaa ....”


“Astaga dia beneran mengadu!”


[Abel, Abel ... kenapa Sayang ....]


“Ayah, Mam—emmmpp!” Azel langsung merampas ponsel anaknya, lalu ia membekap mulut Abel hingga menjeda ucapannya.

__ADS_1


‘Bisa-bisa aku disangka penganiayaan anak jika Abel berbicara dengan menangis menjerit-jerit seperti itu,' batin Azel.


“Tidak ada apa-apa, dia hanya terjepit di sofa, jadi menangis!”


[Aku bukan anak kecil Azel, kenapa dengan anakku. Kau apakan dia?!]


“Tidak ada, sudahlah dia anakku jangan mengaku!”


Blep


Sambungan telepon itupun langsung dimatikan. Seketika mata Azel menyalang merah, seperti naga yang ingin mengeluarkan apinya.


‘Kenapa Abel jadi semenyebalkan dia! Astaga, anakku sudah terpengaruh dengan pria itu,' batin Azel.


Lalu tatapan mata yang awalnya begitu terbuka, tiba-tiba mengendur. Azel melemah, kala anaknya itu ingin menjatuhkan air matanya kembali.


“Katakan saja maumu apa? Mami pasrah ....” ucap Azel lirih.


Srottt ....


“Hehehe, Mami tahu aja!” Wajah Abel berubah drastis, bahkan cairan bening dihidungnya dia gosok dengan cepat sampai menyisakan sedikit hingga bleweran ke pipinya.


“Iyyuhhhh ....” Azel segera membersihkan, walaupun dia berlagak seperti orang jijik. Namun pada kenyataannya, seorang ibu tidak akan pernah merasa jijik, atau bahkan terbesit perasaan seperti itu, tidak mungkin ada. Itulah peran seorang ibu.


“Aduhh Aloe Veranya banyak banget. Nangis sebentar, tapi ing*snya ngumpul sebanyak ini. Anak gadis tapi seperti anak TK!” gerutu Azel.


“Apa camping. No Abel, camping pasti menginap di hutan dan itu tanpa penjagaan ketat dari orang dewasa. Big no, mami berat kasih izin untuk itu!”


“Huaaaa mami jahat ...!!”


Azel segera membekap mulut anaknya yang ingin kembali mengeluarkan suara melengkingnya lag, namun bisa tertahan oleh tangan sang mami.


“Astaga Abel, suaramu seperti kaleng bekas. Telinga mami bisa tuli!”


“Ayah, ayah Abel mau telepon ayah lagi!”


“Baiklah ... baiklah .... jangan lakukan itu. Mami akan beri izin, jika selama perkemahan kamu dijaga dengan para bodyguard paman okee?”


‘Sialan. Anak ini seperti punya pawang. Terpaksa aku harus baik-baiki dia selalu,' sungut dalam hati Azel.


Wajah Abel seketika murung. “Yaahh gak seru ... mau minta izin sama ayah aja deh.”


“ABEL .....!”


***

__ADS_1


Keesokan harinya.


Abel tampak bahagia sekali, saat ini ia sedang menaiki semua tas-tas besar ke dalam bagasi untuk persiapan kegiatan campingnya.


Sementara Azel, tampak sekali menunjukkan ketidaksetujuannya, bahkan untuk menatap semua arah pun terlihat merengut saja. Berbeda dengan Agha, ia justru tersenyum kala tak hentinya Abel terus berceloteh seolah sedang melampiaskan rasa gembiranya.


Ya, Agha datang untuk menghantar, karena ia ingin anaknya selalu mendapat dukungan, walaupun terbesit rasa cemas di hati.


“Come on, kita berangkat guyss!”


“Abel tadi mami diberi kabar jika kegiatannya diundur satu bulan lagi!” ucap Azel tiba-tiba menghentikan mereka yang ingin masuk.


“Iyakah? Tapi ini?” Abel menunjukkan ponselnya, terdapat di sana grup chat khusus kegiatan.


Seketika Azel menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Ternyata cara konyolnya untuk mencegah kepergian anaknya itu, menjadi sebuah lelucon. Terlihat dari ekspresi Agha, yang sedang menahan senyum.


“Mami Abel bukan anak bodoh seperti waktu mami kecil dulu,” ucap Abel tanpa ekspresi.


Sontak Azel menatap sinis, di kala anaknya sudah duduk di kursi belakang penumpang.


“Heh tahu-tahuan dari mana anak ini. Aku masih kecil, otomatis kau pun belum ada!” umpatnya.


Agha menghampirinya untuk membukakan pintu, lalu ia berbisik pelan tepat di telinga kiri Azel, “Sudahlah Nona, cara konyolmu itu akan menjadi sebuah candaan untukn dia. Tak perlu dicegah lagi, kita tidak ada daya,” ujarnya berbisik.


Alhasil Azel pun hanya bisa menghela napas, lalu berpasrah untuk merelakan.


Sampai di sekolah.


“Ayah jaga Mami ya. Bila perlu nanti menginap di rumah untuk menemani Mami,” pesan Abel saat sudah siap untuk berangkat.


Agha tersenyum terkekeh, lalu ia bulatkan jari telunjuk dan ibu jarinya, membentuk ‘O’ bisa didefinisikan menjadi kalimat ‘oke’.


“Kamu jangan nakal ya, ingat patuhi peraturan dan jangan pernah pisah dari rombongan!” pesan Azel.


“Mamimu benar, keselamatanmu itu nomor one. Untuk mamimu, tenang saja ayah bisa menjadi satpam untuknya!” sambung Agha mencondongkan sedikit punggungnya saat berbicara dengan Abel.


“Oke terima kasih Ayah!”


Agha pun tersenyum puas menggoda Azel, sedangkan perempuan itu tampak beberapa kali menghela napasnya, jengah.


“Yasudah, Abel berangkat. Bye kalian, akur-akur yaaa!” teriak Abel saat ingin memasuki gerbang sekolah.


Ya, mereka hanya menghantar sampai sekolah. Karena Abel selalu mendapat dukungan dari sang ayah, jadi ia lebih memilih untuk meminta izin kepada Agha. Sebenarnya ragu-ragu, ia merasakan perasaan yang sama seperti Azel. Namun, apalah daya dia yang tak bisa melihat anak angkatnya itu sedih, jadi membiarkan adalah caranya untuk membahagiakan.


“Berat sekali aku membiarkannya pergi,” ucap Azel sedih.

__ADS_1


“Sebenarnya aku juga merasa cemas, tapi jika itu untuk kebahagiaan anakku. Biarkan saja. Namun, bukan berarti dia tidak dalam pengawasanku. Sudah kukirim orang-orangku untuk menjaganya, selama perkemahan,” ucap Agha.


__ADS_2