
Sebenarnya Samuel sudah sadar dari semalam, semenjak kedatangan kedua orang tuanya yang menengok. Namun, saat itu Shireen tengah tertidur karena kelelahan.
Kini Shireen tak sanggup lagi menahan sesuatu yang amat berat di matanya. Air matanya menetes, seiring kedipan kelopaknya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa sakit di hatinya lagi. Sudah cukup dirinya berpura-pura biasa saja.
Samuel segera merengkuh tubuh istrinya itu. Sungguh rasa malu dan penyesalan terbesar kali ini. Bayangkan, bagaimana ia dilihat oleh istri tercintanya saat sedang berciuman mesra, bercumbu panas, dan itu ia lakukan dengan istri dari kakaknya sendiri. Sungguh kebodohan yang selalu Samuel rutuki.
"Aku tahu, dan aku bisa rasakan apa yang kau rasakan. Maafkan aku, maafkan atas kebodohanku. Sungguh kala itu aku hanya membayangkan wajah kau, terlebih di saat aku sedang mabuk!" jelas Samuel tak henti mengecupi wajah istrinya.
Shireen sangat enggan untuk membalas, ia sibuk meresapi rasa sakit hati dengan cara menangis sepilu-pilunya.
"Maaf!" Lagi-lagi hanya kata itu yang bisa Samuel keluarkan.
Shireen menghentikan suara tangisannya, ia mengusap air mata dengan lembut. "Aku lebih suka kamu berada di rumah terus dan bermanja, dibanding melebur lelah di tempat lain," ucap Shireen secara formal.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Jika kau tahu, apa yang kau lihat hanya kesalahpahaman. Aku minta maaf," balas Samuel.
"Shireen lebih suka Mas yang selalu merepotkan, daripada mencari angin malam di luar dengan wanita. Shireen suka Mas yang manja, bukan seperti ini!" Kembali Shireen memeluk suaminya.
"Ya, artinya Kak Sam gak boleh pergi ke club lagi! Lagian, istri lagi hamil bukannya jagain malah mampir ke tempat iblis itu. Seenggaknya beritahu istri dulu biar gak ada kecemasan," sahut Lisa. Terlihat ada Lia juga, mereka baru saja datang.
"Shireen juga keras kelapa. Udah dibilang jangan ikut masuk, tapi batu! Akhirnya dia sendiri yang sakit hati!" timpal Lia.
"Lia please, kepala bukan kelapa!"
"Biasakan ketuk pintu sebelum masuk!" tegur Samuel.
"Gak usah samakan kondisi di kantor!" cetus Lisa.
"Sebenarnya tidak ada niat aku datang ke tempat itu, tapi asistenku yang mengajak untuk mampir sebentar. Dan, aku tidak tahu jika akan terjadi seperti itu," jelas Samuel.
"Halah, udah tahu ada setannya masih aja betah, tapi emang dasar ya Rico sesat. Pecat aja dia jadi asisten Kakak!"
"Mana aku tahu ada dia, aku juga tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Jika aku tahu, aku tidak akan mengikutinya!"
"Berarti yang kalian maksud setan itu, Kak Liyu?" Tiba-tiba Lia menyahut dengan tampang polosnya.
"Bodoh!" serempak Samuel dan Lisa. Seketika Lia membentuk bibir bebeknya.
"Pusing!" keluh Shireen dengan memegangi kepalanya. Jadi, dia dianggap apa? Mereka sangat asik sendiri.
"Apa kau mau kita pulang sekarang, Sayang?" ucap Samuel.
Ya, sudah tidak ada lagi keseriusan. Jika sudah datang dua gadis kembar itu, candaan akan tercipta.
__ADS_1
"Reen, lo cuma salah paham. Kak Sam semalem dalam kondisi mabuk setengah sadar, lo tau 'kan gimana kondisi saat itu? Wajar aja, yang jelas semua tercipta dari Liyu perempuan jal*ng! Dia dari dulu emang selalu ngincer Kak Sam," jelas Lisa.
"Apa kau masih tidak mau memaafkanku?"
"Aku maafin. Dari awal udah tahu kok, kalo Nona Liyu itu menginginkan Mas. Tapi, emosi ibu hamil itu gak stabil bahkan perempuan biasa pun sakit hatinya liat suami sendiri lagi selingkuh!"
"Betul!" sahut Lia dan Lisa mengacungkan ibu jarinya.
"Astaga apa aku harus klarifikasi dan mengadakan konferensi pers, untuk menjelaskan semuanya? Ini sangat memalukan, dan begitu sepele!"
"Sepele Kakak bilang? Kepala Kakak hampir pecah karena ulah dia!" pungkas Lisa.
"Ya, itu semua karena kau sendiri yang memulai kegaduhannya."
"Aku cuma mewakili perasaan Shireen saja!"
"Dan, kebencianmu akan perempuan itu 'kan?"
"Ya ya ya, tapi Lisa merasa bersalah juga. Sebab lindungi Lisa, Kakak jadi sampai seperti ini ...." Gadis berparas bule itu menunduk. Entahlah, kenapa semuanya terasa seolah-olah ini adalah kesalahannya. Ya, di dalam hati gadis itu selalu menyalahkan dirinya.
Samuel merengkuh kepala adiknya, ia meletakkannya di dada tepat sang istri yang tengah bersandar.
"Itulah gunanya seorang kakak. Seburuk apapun sikapnya, dia adalah seorang yang sangat menyayangi adiknya," ucap Samuel.
Melihat mereka saling berpelukan, Lia juga ingin gabung. "Aaa, Lia juga mau pelukan. Pokoknya kita sayang Kakak dan Kak Daniel!"
Tiba-tiba Lisa mengundurkan diri dari aksi pelukan bersama itu. "Astaga, Kak Daniel hari ini ingin pulang!"
"Pulang? Ada apa? Apa yang terjadi semalam?"
Lia pun mewakili untuk menceritakan apa yang terjadi semalam di rumahnya.
***
Di rumah.
Sudah terlihat Daniel dan Liyu serta anak mereka yang tengah menarik koper masing-masing.
"Papi, Mami, aku pulang hari ini," ucap Daniel.
"Jika itu keputusanmu, Mami hanya bisa berdoa untuk keselamatan perjalanan kalian," ucap Yuri.
"Hati-hati Nak. Mungkin Papi akan menetap selamanya di sini. Bimbing adikmu di sana," ucap Dika.
__ADS_1
"Baik Papi!"
"Aku ingin minta maaf karena mengotori nama baik keluarga ini. Sungguh aku menyesal atas semua yang terjadi. Setelah ini, aku akan memperbaiki diri," ucap Liyu.
'Astaga apakah perempuan itu sudah berubah menjadi Dewi Pertiwi?' batin Leona merasa lucu dengan kata dan pengucapan saingannya itu.
"Biarkan yang terjadi telah usai, sudah waktunya kita memperbarui. Aku selalu berharap setiap menantuku bisa menemani anakku," ujar Dika.
"Terima kasih Papi."
"Kakak!"
Tiba-tiba Lia dan Lisa datang langsung memeluk kakak tersayangnya itu. Mereka menangis histeris.
"Kakak, apa ini semuanya sebab Lisa? Maaf, Lisa mohon jangan pergi lagi!"
"Kepulangan Kakak tidak disebabkan apapun, ini adalah kemauanku sendiri. Jaga baik-baik dirimu, kakak akan kembali lagi nanti untuk bersama," ucap Daniel membalas pelukan mereka.
"Kenapa di saat keluarga kita kumpul ada saja yang ingin pergi, hikkss!" sahut Lia.
"Adikku, aku hanya pulang ke negara lain, bukan alam lain! Jadi, untuk apa bersedih?"
"Kita mau Kakak selalu bersama!"
"Lia Lisa, kita harus pulang. Keberadaanku di sini tidak baik, dan aku menyesali perbuatanku. Apakah kalian masih ingin memaafkan aku?"
"Jaga kakakku, aku mau Kak Liyu berubah!" balas Lia.
"Kita maafin!" sahut Lisa.
"Terima kasih." Ini adalah kali pertama Lia dan Lisa memeluk kakak iparnya itu.
"Apa kau benar ingin pergi dari rumahku?" ucap Samuel yang sedari tadi menyaksikan mereka.
"Ya, aku pulang hari ini. Aku rasa sudah cukup waktu liburku di rumahmu," balas Daniel.
"Maafkan aku!" Samuel segera memeluk Kakaknya, dan mereka pun berpelukan seorang lelaki.
"Jika kau merasa malu, itu tidak perlu, karena semuanya sebab perbuatan istriku!"
"Aku mau kau tetap menjaga dan mempertahankannya!"
"Itu pasti!"
__ADS_1
Bersambung ....