Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Hasil Tes DNA


__ADS_3

“Menjadi ayah pura-pura saja kau sudah begitu memanjakannya, apalagi aku menikah denganmu nanti. Bisa dicekik aku sama Abel, jika keinginannya tidak dituruti,” gerutu Azel.


“Sekali-kali, dan aku bukan pura-pura tapi benar-benar!”


“Anak orang kok diaku!” cemooh Azel.


“Dia sendiri yang mengaku, kok tidak suka, takut tersaingi?”


“Dia lahir dari rahimku, mana mungkin orang lain bisa menyaingi aku yang memang orang tua kandungnya!”


Dan perdebatan mereka pun tetap berlanjut sampai beberapa menit kemudian ....


“Sudah lelah mengocehnya?”


“Belum!” kesal Azel kala ia berceloteh panjang kali lebar kali luas kali, sungai, sampai laut. Namun apa yang ia dapat? Hanya balasan dingin seperti itu. Kesal tidak?


Agha mendorong tubuh Azel agar masuk dan mendaratkan bokongnya di kursi mobil. Pria itu segera menancap gasnya untuk kembali ke rumah.


Namun, dalam perjalanan Azel tiba-tiba terhenyak kala pria itu berbelok arah yang salah. Ia pun menegur kepada sang pengemudi, “Ini bukan jalan ke rumahku. Kau mau bawa aku ke mana Agha!”


“Tenanglah. Aku bukan pria jahat yang bakat menculik tante-tante!” balas Agha tersenyum meledek.


“Sialan!”


Ckiiiittt ....


Pas sekali tiba saat Azel mulai curiga. Namun karena tempat tujuan Agha ini termasuk tempat yang terbuka, jadi sedikit menyingkirkan perasaan takut di hatinya.


“Kenapa? Kau takut aku akan membawamu ke hotel? Tenang saja, aku tidak minat dengan tante-tante!”


Kali ini rasa tidak terima mulai ditujukan oleh perempuan itu. Rasanya ingin sekali mencabik-cabik pria di hadapannya ini, menjengkelkan baginya jika harus dikasih julukan tante-tante. Iya tahu, ia sudah punya anak gadis, tapi dirinya sama sekali tidak menampakkan aura dari sebutan pria itu tadi.


“Agha sialan!”


“Awwsshh, Azel hentikan aku minta maaf!”


Azel benar-benar langsung menjambak rambut selembut sutra yang begitu tertata rapi, dan kini jadilah sarang lebah akibat ulah Azel.


“Kau menghilangkan kharismatikku!”

__ADS_1


“Kau duluan yang menjatuhkan harga diriku!”


“Baiklah aku minta maaf, tapi kau memang sudah tante-tante Azel, sudah berbeda saat kita bertemu dulu!” Lagi-lagi Agha meledeknya, semakin menambah rasa kesal dan ketidakterimaan dari perempuan itu. Alhasil, baku hantam tetap berlanjut di dalam mobil.


Sampai akhirnya, Azel cape sendiri. Namun baru ia sadari, kini kondisinya sedang menaiki paha Agha, sungguh benar perempuan itu tidak sadar jika dirinya tak sengaja berpindah tempat, sebab sibuk memberi pelajaran untuk pria itu.


“Ahh, ehmm lepaskan tanganmu!” tegas Azel saat melihat kedua telapak Agha mendarat cantik di pinggangnya.


“Berusaha menggodaku?”


“Eh astaga, mana ada. Aku tidak tahu, hmm lepaskan aku!”


“Tanggungjawab!”


Seketika Azel menjadi kikuk, ia merasa tak nyaman dalam posisinya saat ini. Namun, begitu konyol pria ini justru menahannya.


“Emm tanggungjawab apa? Agha aku mohon lihat kondisi, saat ini kita di tempat ramai!”


“Yaa biarkan saja, agar mereka tahu jika aku sedang dinodai tante-tante!”


“Arghhhh!”


Tidak dewasa? Memang! Namun, bagi Agha selalu dapat bersama dengan wanita ini adalah hal sulit. Jadi, hal konyol apapun yang ia lakukan, percayalah itu hanya untuk mengulur waktu agar selalu tetap bersamanya.


***


Di tempat lain.


Gafin sedang mengunjungi salah satu rumah sakit. Dia mendapat panggilan dari temannya.


“Cepat sekali?” tanya Gafin kepada salah seorang dokter pria yang seumuran dengannya. Ya, dia adalah dokter yang kemarin.


“Hmm, dan ini hasilnya. Bagiku sangat mengejutkan.”


Ucapan itu berhasil mencetak pertanyaan di hati Gafin. Sungguh rasa penasarannya saat ini tidak bisa dijabarkan lagi.


“Bagaimana?”


“Tes parternity exclusion and inclusion ini begitu akurat untuk membuktikan bahwa si anak itu memang benar putri kandung bosmu. 99.99% memastikan kecocokan lelaki yang diuji DNA-nya jika dia ayah kandungnya.”

__ADS_1


Terbitlah senyum Gafin, hatinya begitu senang mendengar penjelasan ini. Bukan berarti ia simpulkan banyak kebenaran praduga antara Agha dan Abel.


“Pardugaku tidak salah,” gumamnya.


“Bagaimana kau bisa menyimpulkan semua pradugamu itu benar?”


“Wajah mereka sangat mirip, bahkan jika kau bisa lihat secara detail mereka seperti spesies harimau dan kucing. Selain itu banyak sekali kesamaan antar keduanya. Namun, begitu rumit untuk memecahkan semua ini Ren, bagaimana aku bisa membuktikan hal yang tampak aneh ini. Bagi mereka mungkin berpendapat, pradugaku ini tidak logis,” jelas Gafin.


“Di mana letak tidak logisnya Gaf? Tes DNA ini sudah sangat membuktikan, bahkan begitu simpel tapi jelas,” ucap dokter bernama Reno itu.


“Tuanku itu tidak menyadari hal ini, karena baginya dia tidak pernah melakukan apa-apa. Jangankan mempunyai anak di luar pernikahan, bekerja saja seolah tidak ada liburnya. Dia begitu sibuk, dan aku percaya jika tuanku memang tidak mempunyai masa lalu seperti itu.”


Dokter tampan ini, secara terlihat tampak menunjukkan keanehannya. Ia ikut berpikir, menyimpulkan kebenaran yang masuk akal, “Kau yakin itu? Aku rasa mungkin banyak yang belum kau ketahui dari masa lalunya. Seseorang bisa kapan saja berubah.”


“Kau benar, terlebih dia nyatakan amnesia permanen sebelum umurnya beranjak 20 ”


“Ya, masalahnya ada di sana. Sudahlah, aku hanya bisa membedah dan mengetes, aku tidak ada bakat menjadi detektif ataupun mengintrogasi. Aku berharap saja semoga misimu segera terselesaikan,” ujar Reno. Ia tidak ada bakat berpikir sesuatu yang begitu menjadi teka teki. Dia hanya bisa membantu seseorang untuk sembuh dari segala tentang fisik.


“Baiklah terima kasih atas kerjasamanya. Aku harap kau bisa menjaga mulut untuk misiku ini,” ucap Gafin.


***


Kembali lagi ke suasana pantai.


Kini Azel sedang menatap ombak yang sedikit demi sedikit mulai menyentuh kakinya. Sementara rambut panjang perempuan itu, terus terombang-ambing seiring kencangnya semilir angin yang berhembus.


“Bisa kutebak, pacarmu itu tidak pernah menyempatkan waktu untuk hal seperti ini ‘kan?”


“Memang si, tapi bukan berarti dia tidak romantis. Banyak hal yang sudah kita lewati, dan itu tak membuatku memudarkan rasa cinta terhadapnya. Aku perempuan satu anak, sudah dewasa untuk memberi pengertian dalam kondisi apapun di antara kita,” balas Azel.


“Aku menyesal sekali, telah mendengarkan kata-kata adikmu. Aku telat menggapaimu, dan bodohnya perasaanku tidak bisa luntur. Kenapa aku bisa mencintai seseorang yang tidak bisa kumiliki?”


“Kau hanya mengenalku Agha, coba kau pandang wanita lain. Mungkin dari sekian banyaknya perempuan, aku akan kalah. Kau tidak telat, tetapi memang kita yang tidak mampu bersama,” ujar Azel membalas. Melihat lekat-lekat manik mata Agha.


‘Memang benar kata ayah dulu. Seberat apapun perjuanganku, sekencang itu kumengejar. Jika dia sudah mencintai yang lain, maka orang itu akan tetap menjadi pemenangnya. Sementara aku hanya lelah sendiri,' batin Agha.


“Aku masih mencintaimu Azel. Apa tidak ada secuil pun perasaanmu terhadapku dari besarnya kau mencintai dia?”


Sontak ucapan itu langsung diberi tatapan sendu oleh Azel. “Ada!”

__ADS_1


__ADS_2