Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
10 Menit Untuk Pagi Ini


__ADS_3

Dua hari telah berlalu.


"Om! Om ....!"


Saat Shireen tengah berada di depan almari pakaian sang suami yang sudah berhadapan dengannya. Ia memanggil Samuel dengan begitu bawel, pasalnya suaminya itu sungguh menyebalkan. Jika dihitung, sudah hampir satu jam Samuel di kamar mandi.


"Nih, orang mandi atau kelelep di bathup?" gerutunya.


Kembali lagi perempuan itu berteriak, "Om ... Om!!"


"Bisa tidak teriak, hmm?"


Tiba-tiba tangan dingin dengan aroma sabun menyeruak di indra penciuman Shireen. Ternyata, suaminya itu sudah keluar dari kamar mandi. Saat ini ia merasakan tangan dingin pria kekar itu sudah menempel erat di perutnya.


Shireen berbalik, lalu menyengir tanpa merasa dosa. "Om, CD Om itu letaknya di mana? Lihat semua baju-baju Om, banyak banget ... cari ****** ***** pun susah!"


Samuel berjinjit sedikit, lalu tangannya mengambil sebuah barang kebutuhannya dari bagian lemari teratas. "Aku lupa jika kau sangat pendek!" cemoohnya.


Shireen menekuk wajahnya, lalu mendongak sebal. "Udah tau istrinya bantet, naruh baju di tempat yang tinggi-tinggi!"


"Aku akan meminta pelayan untuk memindahkannya nanti!"


Shireen beranjak untuk memilihkan jas dan kemeja Samuel. Ia menyerahkannya ke sang suami dan tak ia dapat protes, karena dari dulu Samuel selalu cocok dengan pilihan istrinya itu.


Samuel segera memakai bajunya, tepat masih berhadapan dengan Shireen. Tak ada rasa malu, tak ada juga kecanggungan. Ya, semua harus terbiasa. Lagipun mereka juga saling terbuka. Namun, entah kenapa Shireen masih merasa malu dan enggan untuk melihat suaminya yang sedang mengenakan pakaian itu.


"Dasinya?" pinta Samuel.


Shireen segera mencari keberadaan pengikat kerah leher itu. Ada banyak sekali dasi-dasi panjang yang tergantung rapi, dan Shireen merasa bingung karena terlalu banyak. Setelah menemukan yang menurutnya cocok berpasangan dengan baju suaminya, ia segera memberikannya kepada samuel.


"Ini!"


Samuel menatapnya dingin saat istrinya menyerahkan dasi itu, lalu berkata, "Apa gunanya aku menikah, jika semua kebutuhanku dilayani setengah-setengah?"


"Gak usah berbelit, bilang aja minta dipakein!" cetus Shireen.


'Sepertinya pekerjaan gue sekarang jadi babunya nih Om tuan tua, hissh!' batinnya.


Samuel segera menarik istrinya agar dapat memakaikan dasi secara mudah, dengan memangku ia untuk duduk di atas pahanya.


"Pakaikan!"


Shireen menuruti itu, memasangkan dasi di leher suaminya dengan sangat telaten. Saat sudah selesai ia memakaikannya, dan ingin beranjak dari pangkuan tiba-tiba tangan Samuel menahan.

__ADS_1


"Om!"


Cup!


Satu kecupan berhasil mendarat di bibir merona Shireen. "Apa kau tidak ingin mengganti panggilanmu itu?"


"Ganti dengan panggilan apa?" tanya Shireen bingung.


"Apa saja yang penting kau menggantinya. Karena kau itu istriku bukan keponakanku!"


'Padahal lebih nyaman panggila itu,' batin Shireen.


"Baiklah, Mas Samuel suamiku. Oke sekarang lepasin istrimu ini ya!" balasnya dengan nada bercanda.


Bukan membiarkan istrinya itu pergi, justru Samuel mengukungnya dengan sebuah morning kiss yang begitu erotis. Shireen sedikit terbuai dan menerima serangan itu. Namun naasnya suami tampannya itu semakin melunjak, ya bukan hanya sekedar ciuman tapi cumbuan yang membuat Shireen horny.


Gairah Samuel pun tiba-tiba datang di saat dia sudah rapi. "10 menit untuk pagi ini," pintanya.


Otak cantik Shireen seketika langsung menangkap arti perkataan itu. "Gak liat penampilan?"


"Aku tidak perduli!"


"Nanti telat!"


Shireen menarik napas, ia mencegah Samuel saat ingin menyingkap piyama tipisnya.


"Mas ... aku harus bangunin Azel dan Azriel. Mereka belum mandi!"


Samuel menghela napas berat. Ternyata setelah menikah bukan berarti tidak ada penghalangnya di saat ia ingin bercinta.


"Dulu sebelum menikah ada penghalang ikatan yang belum sah, kini setelah menikah aku masih memiliki pengganggu. Cari waktu berdua untuk bercinta, sulit!" gerutu Samuel dengan memindahkan tubuh istrinya.


Cup


Satu kecupan manis Shireen berikan. Nekat memang, tapi itu hanya sekedar menghibur hati suaminya. "Nanti malam sepuasnya," ucapnya sambil tersenyum.


Samuel tersenyum, lalu ia mencium lebih dalam. Tidak lama hanya sebentar. "Istriku yang agresif!"


Shireen tertawa, lalu ia melenggang pergi dengan masih cekikikan. Samuel pun tak dapat menahan senyum melihat sang istri yang mulai hangat dengannya.


Shireen berjalan melangkah menuju ke kamar Azel dan Azriel. Sekarang dua bocah kembar itu memang sudah terbiasa tidur sendiri, tidak bersama dalam satu kamar dengan Daddy dan Mommynya lagi. Ya, semua itu berawal dari akal dua adik kembar Samuel. Lia dan Lisa yang membujuk mereka untuk pisah kamar. Percayalah mereka hanya ingin waktu berdua dan ketenangan antara kakak dan kakak iparnya.


"Lho, mereka kemana Bik?" Shireen bertanya kepada Inah, ia tak nampak keberadaan kedua anaknya di pagi hari. Kini hanya ada pembantunya itu yang sedang membereskan kamar tidur.

__ADS_1


"Mereka sudah bangun sejak pagi-pagi, tadi Nona. Mereka dibangunkan dengan Nona Leona. Setelah mandi, mereka ke meja makan," ucap Inah.


Entah kenapa ada rasa tak terima di hati Shireen. Pada kenyataannya yang berhak berbuat seperti itu adalah Leona selaku ibu kandungnya.


Shireen beranjak menuju ruang meja makan. Ternyata sudah kumpul keluarga suaminya di sana.


"Shireen, marilah Nak! Mana suamimu?" ucap Dika.


"Masih di kamar, Papi."


Azel dan Azriel seketika antusias dan langsung menghampiri Mommynya. Dan, ya mereka berdua meminta untuk di pangku. Menggunakan kedua tangannya, Shireen mendudukki mereka di paha kiri kanannya.


"Mommy, apa adik buat kita sudah dibuat?" tanya Azriel polos.


"Mana? Kok gak kelihatan?" tanya Azel.


"Sudah, kalian tunggu saja. Besok juga berbuah," sahut Lia asal.


"Iya, kecebongnya belum bertunas," timpal Lisa. Sementara Shireen bersemu, sahutan mereka selalu menjerumus.


"Astaga kalian ini!" sentak Dika, tetapi ia merasa lucu.


"Apa pantas seorang istri bangun jam segini? Terlalu sibuk berduaan sampai lupa dengan kewajiban seorang ibu," sindir Yuri.


Wajah kesal Leona berubah, dari rasa cemburu dengan Shireen yang lebih dekat dengan anaknya, kini ceria karena sang mantan mertua memulai pembicaraan panas. Bersamaan dengan Liyu yang mulai mengembangkan senyum seringainya.


'Satu umpan tiga hewan. Sudah pasti kemakan habis. Perlahan juga bakal gak kuat dia ,' batin Liyu.


"Mami seperti tidak pernah muda saja. Wajarlah, semua kebutuhan Samuel banyak. Lagi pula anak mereka sudah besar dan mandiri!" tukas Dika.


"Hanya anak Leona dan Sam ya Pih, ingat itu! Bahkan yang membangunkan mereka itu Leo Pih, dia yang mengurusnya dari pagi. Seharusnya itu yang Shireen lakukan sebagai seorang ibu sekarang!" cetus Yuri.


"Samuel yang baru saja turun, langsung menyahut, "Bukankah itu tugas seorang ibu kandung? Jika ingin disebut ibu, sudah harusnya tugas itu dijalani. Istriku melayaniku, selagi Leona bisa digunakan untuk apa dianggurkan?"


"Tapi, Sam ... apakah kau tidak terlalu memanjakan istrimu itu?"


"Justru aku yang dimanjakan dengannya Mami, sampai dia lupa mempunyai satu kewajiban lagi."


Bersambung ....


Akhirnya Ay bisa up lagi. Mohon maaf karena kemarin di jeda masa updatenya. Yang ngira Ay gak up lagi, karena ujian atau marah dengan komentar para readers. No, itu salah ya! Ay gk marah, Ay juga belum ujian di sekolah.


Ay cuma Hiatus sebentar, mengistirahatkan sejenak otak dan pikiran hehe. Moga masih ada yang baca ya.

__ADS_1


__ADS_2