Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Prihal Mandi Bersama


__ADS_3

Mendengar perkataan dari suaminya itu, Shireen mendelik tajam. Namun, dengan santai Samuel justru mencium perutnya. Bukan hanya mencium, tapi ia juga menggigit.


"Akhhh!"


Shireen memukul keras punggung pria itu. Begitulah Samuel jika sudah merasa gemas, dia akan menjadi bayi yang tak mengenal wibawa dan melupakan kharismanya.


"Aku sudah tidak sabar menantikan bayi kembar 5 kita," ucap Samuel menunjukkan smirknya.


"Astaga!"


"Kenapa?"


"Mas, jangan ngada-ngada deh, mana ada kembar sampai 5?!"


"Ada, jika kita lebih giat lagi membuatnya!"


Sungguh tercengang Shireen mendengar itu. "Tidak usah dipikirkan, biar aku yang bekerja keras malam ini," tutur Samuel.


"Mas!" Shireen memukul keras dada Samuel.


Setelah memberikan senyuman, Samuel langsung meraup bibir istrinya. Memang tempat penyalur lelah terbaik hanya kepada istri. Setelah bekerja seharian, bercinta dengan istri adalah bayarannya.


Samuel melucuti pakaian luar Shireen, hingga istrinya itu kaget. Shireen sudah hapal apa yang akan dilakukan suaminya, tetapi ayolah. Apakah suaminya itu tidak ingin mandi dan makan dulu?


"Mas, mandi atau makan dulu gitu!"


"Temani aku mandi!"


"Apa? Shireen udah mandi, gak mau!"


Samuel menghiraukan itu. Pria itu segera menggendong tubuh istrinya yang hanya memakai pakaian dalam. Shireen akhirnya hanya bisa pasrah.


1 jam kemudian.


"Huacihhh!"


Berkali-kali Shireen bersin, lalu menggosok hidungnya. Ia lakukan berulang kali sampai hidungnya itu berwarna merah. Sungguh menyesal ia menuruti suaminya untuk mandi bersama di tengah malam seperti ini.


Pasalnya bukan hanya sekedar mandi biasa. Ada ritual sebelum mandi yang dilakukan berkali-kali, sampai Shireen kelelahan. Nasib baik Shireen kuat, hanya tubuhnya yang tak menerima hawa dingin terlalu lama.


Sementara suaminya saat ini tengah asik menyantap makanannya. Mungkin setelah pergulatan di dalam kamar mandi tadi, menguras banyak tenaga.


"Makanlah!"


Shireen yang tengah menyisiri rambutnya hanya bisa melengos saat suaminya menyerunya untuk makan. Samuel pun bisa mengerti bahwa istrinya itu sedang marah dengannya, bahkan sebabnya ia tahu.


Pria itu bergerak menghampiri istrinya, kemudian mengambil alih kegiatan yang dilakukan Shireen. Ya, Samuel menyisiri rambut Shireen.


Samuel bisa melihat ekspresi wajah manyun istrinya dari pantulan cermin besar, sungguh menggemaskan. Memang benar, akhir-akhir ini Shireen begitu mudah marah bahkan hanya hal sepele. Apakah istrinya itu benar-benar sedang hamil?


"Marah?"


Shireen memasang wajahnya semakin masam, sampai terselampir ide bagus di otak Samuel untuk menghiburnya.


"Kemarin aku melihat di depan kantor seekor kera yang sedang cemberut seperti itu," ucap Samuel.


"Terus mirip aku gitu?!" sewot Shireen.


"Ya. Kau tahu? Menurut pelajaran agama kita ini tercipta dari tanah, dan menurut sejarah kita ini berasal dari kera, tetapi menurut IPA kita ini berasal sp*rma. Menurutku kau itu bagian dari kera yang hanya mempunyai ekpresi wajah cemberut," ujar Samuel.


Shireen menatap tajam dari cermin, sementara Samuel justru menahan senyumnya yang membuat perempuan itu luluh ingin tersenyum tetapi merasa kesal juga.

__ADS_1


Ia berbalik badan, memeluk suaminya erat, begitu pun dengan Samuel yang menyambutnya.


"Jika kau masih marah, aku akan sebut kau manusia kera!"


"Isshh, kalo aku ini kera berarti suamiku gorila!"


"Astaga!"


Samuel langsung mendatarkan ekpresi wajahnya. "Tuh kan mirip gorila, hahaha ...." Shireen langsung terbahak.


Ya, setidaknya pria itu berhasil membuat istri tertawa.


'Aku tahu menyebab sifatmu ini tumbuh. Ada banyak masalah yang kau pendam. Aku akan usahakan untuk membangun rumah tangga kita dengan baik,' batin Samuel.


***


Pagi hari.


Di hari weekend ini, sepasang suami istri masih sibuk menggeluti mimpinya. Sementara di langit sudah ada matahari yang tersenyum, dan udara yang menyapu bumi. Tetapi di atas ranjang masih terdengar suara dengkuran halus dari kedua pasangan itu.


Drttt ... drttt ....


Tiba-tiba suara ponsel terdengar nyaring, menggeliati tubuh tapi rasanya malas untuk membuka mata.


Kembali lagi suara nada dering itu terdengar, dan Shireen hanya berdecak kesal karena waktu tidurnya terusik.


"Berisik banget sih!"


Terpaksa Shireen mengambil ponselnya, kemudian dengan masih mata yang terpejam ia mengangkat panggilan suara itu.


"Hallo!" ketusnya.


Ternyata Jasson yang menelponnya.


"What?! Serius lo?" Refleks Shireen bangun dari tidurnya, dengan mata yang terbuka lebar.


'Kalo lo mau jenguk, pergi ke rumah sakit pribadi Kak Tansoon. Minta laki lo anter, dia tau lokasinya.'


Tut ...


"Aaaaakh, gue punya ponakan!" Shireen berteriak kencang, sampai menggemparkan seisi ruangan. Namun, sadar akan suaranya yang seperti toa demokrasi, ia segera menutup mulutnya.


Matanya beralih menatap suaminya yang masih pulas dengan wajah tenangnya. "Mas, Fania lahiran. Ayo kita jenguk!" bisiknya di telinga Samuel.


Samuel sudah setengah sadar, tetapi ia justru memunggungi istrinya. "Mass ...." rengek Shireen.


"Anaknya Tansoon?"


"Iyak!" jawab Shireen begitu semangat.


"Nanti saja, jika sudah besar!"


"Astaga!"


"Mas ... ayo dong, Shireen mau liat bayi bule Fania!" ucap Shireen memohon, beberapa kali ia menggoyangkan punggung Samuel. Namun sayang, suaminya itu lebih memilih untuk tidur.


"Oke kalo gak mau, gue bisa ajak anak gue sama Lia Lisa!" gerutu Shireen sangat pelan.


Shireen beranjak dari tempat tidurnya, tetapi suara Samuel menghentikan di kala ia melangkah ingin keluar kamar.


"Mau kemana?"

__ADS_1


"Mau bangunin Azel dan Azriel!" ketus Shireen.


"Dengan seperti itu?"


Seketika Shireen langsung menepuk jidatnya. Ternyata ia terlupa, semalam dirinya tak sempat memakai baju setelah mandi bersama. Kini, ia masih mengenakan handuk putih yang melilit di tubuhnya.


***


"Reen, makasih ya udah jengukin." Terlihat Fania di atas brankar begitu lemas. Ada banyak pasang infus yang melilit tubuhnya. Ya, Fania memang bersalin dengan operasi sesar. Sedangkan, sang suami selalu siap siaga. Lihatlah wajah bule Tansoon saat ini sangat kelelahan, sampai tertidur di atas sofa penunggu.


"Yaelah kayak sama siapa aja lo! Btw bayi lo mukanya ke Om Tansoon semua ya. Gak ada bagian lo Fan," ledek Shireen. Ya saat ini bayi Fania sedang ada di gendongan perempuan itu.


"Sialan lo. Nanti juga anak lo ke Om Sam semua!" Shireen langsung menatap suaminya yang sedang mengunyel-ngunyel pipi bayi bule itu. Ia berpikir pasti nanti anaknya akan berparas bule sepertinya juga. Jelas, Azel dan Azriel bagaikan fotocopy wajahnya, apalagi nanti anaknya.


"Mommy, Azel juga mau punya adek bayi," ucap Azel.


"Aziel juga, Aziel mau gigit pipi adek bayi biar nangis kayak Kakak!"


"Astaga soon, kau memang tak ada bakat menjadi seorang kakak!" sahut Samuel.


Fania tertawa lepas mendengar penuturan polos Azriel. Memang hobi Azriel menggigit pipi bulat Azel, jika kakaknya itu belum menangis ia tidak akan mau berhenti.


Lia Lisa ikut bersama mereka. Namun, saat ini mereka sedang mencari makanan.


Tiba-tiba datang Jasson dengan pesona cogan dan wangi parfum mahalnya. "Astaga, kasihan banget kakak gue sampe molor gitu, hahaha!"


"Hmm, kakak lo emang perjuangan banget," ucap Fania menatap suaminya nanar.


"Makanya jangan marahin dia terus?"


"Kalo lagi kesel doang!"


"Haha, gak sangka padahal dulu kalian musuhan," sahut Shireen.


"Gak sangka juga padahal dulu lu pengasuh anaknya, sekarang pengasuh bapaknya!" ketus Fania membalas.


"Sialan!"


"Jadi pengen cepet nikah," ucap Jasson.


"Mau ngapain?" tanya Shireen mendelik.


"Bikin anaklah!" Seketika mereka hanya menghela napas.


"Kak Jasson!"


Lia dan Lisa yang baru saja datang, tiba-tiba memanggil Jasson dengan bersamaan.


"Astaga mampus gue!" gumam Jasson.


"Kakak kenal Kak Jasson?" tanya Lia.


"Kenal, dia pacar kakak dek. Cowok yang sempet kakak ceritain waktu itu," jawab Lisa.


"Tapi dia juga pacar aku Kak!"


"Jadi?!" Mereka berucap bersamaan. Lia dan Lisa langsung menatap tajam ke arah Jasson.


"Maaf."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2