
"Tapi, aku masih menginginkan kau saat ini. Bahkan dirimu lebih menggoda dibanding dengan kakakmu itu," ujar Liyu meraba-raba dada Samuel.
Samuel memalingkan wajahnya tatkala Liyu membusungkan belahan dadanya, ke dada bidang Samuel. "Adik iparku yang tampan. Kakak iparmu ini sangat ingin merasakan kejantananmu lagi. Aku, yakin kau lebih perkasa dari Daniel."
Mendengar nada suara yang seksi itu, membuat Samuel merasa mual dan jijik. Bukan pria yang tidak normal. Namun, kebencian membuat naluri pria itu tidak bangkit. Padahal jika ia buaya, tubuh seksi itu adalah daging santapan. Sayangnya menurut Samuel itu sudah basi, dan membusuk.
Samuel tersenyum remeh, "Selain melayani Daniel, siapa saja pria yang kau puaskan?"
"Samuel oh Samuel. Mulut kau berkata beda dengan hasratmu. Aku tau kau bergairah melihatku, saking saja egomu menolak mentah diriku!"
Samuel mengabaikan wanita itu. Ia segera memakai parfum mahal yang begitu khas wanginya, membuat nafsu Liyu keluar saat mencium aromanya.
"Keluar, aku tidak rela kamarku di pasuki wanita yang tak ada harga dirinya, sepertimu!"
"Lelaki munafik!" ketus wanita itu, sebelum ia pergi keluar dari kamarnya.
Samuel menghela napasnya. "Andai saja Shireen yang menggoda seperti itu, mungkin tanpa aba-aba aku langsung menerkamnya," gumam Dia dengan seringaian di bibir.
Samuel keluar, ia langsung mendapati semua penghuni rumah sudah berkumpul dengan penampilan yang siap dan rapi.
"Mana wanitamu Sam? Sesuai yang kau katakan, hari ini kau harus mengenalkan calon ibu untuk cucuku!"
"Tenang Pih. Saat ini juga aku ingin menjemputnya, kalian duluan saja. Aku juga titip anakku," balas Samuel.
Ya, malam ini mereka mengadakan acara makan malam bersama di sebuah restoran. Sebagai tanda spesial untuk Samuel yang ingin memperkenalkan calon istrinya.
Lia dan Lisa tersenyum bahagia, karena ia tahu siapa sosok perempuan yang akan dikenalkan oleh kakaknya itu. Sedangkan, yang lain masih bertanya-tanya dengan rasa penasaran mereka.
***
Tiba di sebuah apartemen.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Shireen yang semeraut dengan keadaannya saat ini. Ia menatap terkejut Om tampannya itu.
"Om mau apa? Kok tumben malam-malam gini rapi banget ke sini?"
"Hey apa kau lupa? Aku ingin mengajakmu makan malam bersama keluargaku. Ingat janjimu? Kau harus mau kuperkenalkan kepada orangtuaku. Sekarang mereka sudah pulang dan menantikan kehadiranmu, malam ini."
Seketika Shireen kelimpungan. Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal. "Aduh kok mendadak gini sih. Shireen masih aut-autan Om. Shireen belum ada persiapan!"
"Tidak usah dipersulit gadis, bodoh!"
__ADS_1
Samuel menerobos masuk ke dalam apartemennya. Berselang beberapa menit kemudian ....
"Kau sangat cantik."
Samuel berbisik lembut di telinga Shireen. Napasnya seakan menyapu lehernya. "Aku tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya," lanjutnya seraya menarik resleting gaun yang dikenakan Shireen, dengan gerakan sensual.
"Hmm gaunnya bagus Om, Shireen suka. Tapi, pasti sangat mahal," balas Shireen berusaha menutupi rasa malunya.
"Spesial untukmu!"
Gadis itu membalikkan tubuhnya menghadap sang duda. "Bagaimana kalau Shireen gak keterima sama keluarga Om?" Inilah rasa kekhawatiran gadis itu dari tadi.
"Tenang saja, aku yakin semua akan berjalan dengan baik sesuai keinginan kita," balas Samuel memberikan pelukan hangat.
Sesampai sudah di sebuah restoran.
Shireen menepaki kakinya yang jenjang nan mulus dengan balutan high heels yang serupa dengan warna kulitnya.
Belum mereka sampai di meja, kini terlihat ada dua anak kecil yang sudah menghampiri mereka.
"Mama!"
Shireen tersenyum dan langsung menggandeng Azel dan Azriel. Semua penghuni meja besar di sana, menatapnya dengan bingung dan heran.
"Mereka baik, kau tenang saja."
Perlahan mereka berempat menghampiri meja. "Omah, Eyang! Kita juga punya Mama!" ucap Azel riang menunjukkan tangannya yang genggaman oleh Shireen.
Semua menatap Shireen penuh selidik, terkecuali Lia dan Lisa. Dua gadis kembar tersenyum melihat kedatangannya.
"Papi, sesuai ucapanku. Lihatlah, aku sudah membawa calon menantumu, ibu untuk cucu kalian," ucap Samuel memperkenalkan Shireen.
"Selamat malam Om, Tante. Aku Shireen," ucap Shireen malu-malu.
"Duduklah, Nak!" seru Dika.
"Wahhh Sam, kau masih suka yang daun muda. Bisa-bisanya gadis kecil ini, mau denganmu yang sudah ingin menjadi bapak-bapak," cceletuk Daniel mengarah pada Samuel dan Shireen.
"Aku masih suka yang suci, jelas dia bukan dari club," balas Samuel sekilas menatap sang istri kakaknya. Liyu hanya memutar bola matanya dengan malas.
'Menyindir. Aku yakin, gadis itu hanya sewaan!' batin Liyu.
__ADS_1
"Hmm, dia berasal dari keluarga mana? Pengusaha atau pembinis? Mungkin saja kita tahu, dan bisa menjalin kerjasama." Sahutan dari Yuri itu membuat Shireen membeku di tempat. Ia harus menjawab apa? Bukankah ini suatu pertanyaan sebuah martabat keluarga dan asal usulnya?
Namun, ia mengingat ucapan yang ia dengar dari Samuel tadi di dalam mobil. 'Berbicaralah apa adanya. Berkata jujur adalah suatu keharusan, agar orangtuaku mempunyai simpati baik padamu.'
"Saya dari keluarga biasa, Tante. Saya seorang anak yatim piatu yang dirawat oleh kakak saya. Pekerjaan pun, hanya sebagai barista cafe," jawab Shireen terus menampilkan senyum.
Tampak jelas Liyu berusaha menutupi bibirnya yang seolah terangkat otomatis. Seakan menahan tawa dan senyumnya. 'Miskin rupanya,' batin Dia menyeringai.
Samuel mengusap punggung wanitanya seraya memberikan senyum, sedangkan Dika merasa tertarik dengan calon menantunya itu.
"Gadis yang mandiri, aku suka. Pertahankan sampai dia menjadi menantuku, Sam!" ucap Dika dengan senyum. Sedangkan, Yuri hanya ikut tersenyum menanggapi.
"Bukan cuma itu, Papi. Shireen juga punya jasa banyak buat Azel dan Azriel. Dia adalah ibu ASI mereka. Yang dulu sempat kita ceritakan waktu itu di telepon," sahut Lisa.
"Ya, jadi jangan heran Azel dan Azriel panggil dia Mama. Padahal kita gak ngajarin lho, mungkin air susu Shireen sudah menjadi darah yang mengalir di tubuh mereka. Mungkin dia sudah mempunyai ikatan bagi Azel dan Azriel." Lia menimpali.
Yuri memberikan senyum. "Terima kasih."
Begitu pun dengan Dika, dia memberikan senyum lebih hangat kepada Shireen dengan berucap, "Terima kasih, Nak."
"Kita juga akan segera menikah, secepatnya," ucap Samuel.
"Son, apa tidak terlalu terburu-buru?" balas Yuri.
"Tidak Mih, itu lebih bagus. Papi cuma khawatir gadis ini dirusak sebelum menjadi istrinya. Kau, tahu sendiri bagaimana anak satumu itu," sahut Dika. Terlihat Samuel sudah memasang wajah tak bersahabatnya.
"Setuju itu Pih. Aku kasihan, pasti dia selalu menggunakan tangan," ledek Daniel.
"Sialan kau!"
"Cantik dan baik, bagaimana buatku saja?" Daniel terus menggoda dan memancing emosi adiknya. Ya, memang sifat mereka sangat berbanding terbalik. Daniel selalu hangat kepada siapapun, sedangkan Samuel lebih mendominasi keangkuhan dan sifat cuek sombongnya. Bersikap hangat pun terkadang hanya orang tertentu yang dikenalnya.
"Oh berarti Samuel buat aku!" sahut Liyu seakan kesal. Semua mata pun menunggu padanya.
Suaminya itu hanya bisa cengengesan. "Tidak Sayang, aku hanya bergurau ...."
"Sudah, biar adil. Kakak cantik ini jadi kekasihku yang ke lima saja!" Seketika suara tawa riuh menggema, akibat penceletukan dari Diksel.
Makan malam pun berlangsung dengan khidmat. Di sela-sela kegiatan mengisi perut itu, terdapat juga canda dan tawa dengan berbagai gurauan dari Diksel dan tingkah lucu Azel dan Azriel.
Bersambung ....
__ADS_1
Komen dong, readers lewat jalur apa nemu cerita ini?