
“Pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat. Benturan di kepalanya, mengakibatkan kehilangan banyak darah. Sayang sekali, stok darah kami sedang habis. Akan cukup lama untuk mendapatkannya, karena golongan darah pasien sangat langka.”
Azel seperti tersambar petir di siang bolong, hatinya melemah tak kuasa untuk menahan tangisnya. Menghadapi kenyataan dengan cobaan yang seolah bertubi-tubi datang, terlebih saat ini dirinya tidak bisa membantu. “Aku pernah tes darah. Golongan darahku dengan Abel berbeda,” ucap Azel lirih.
“Kita harus segera mendapatkan transfusi darah untuk pasien. Jika orang tua yang berbeda golongan darah, bisa dengan orang lain yang mempunyai golongan yang sama,” ucap sang dokter.
“Cek darah saya Dok, sepertinya golongan saya sama dengan pasien!” usul Agha tiba-tiba.
“Baiklah, mari ikut saya!” Agha langsung mengikuti langkah dokter itu. Tanpa ragu-ragu pria itu dengan sukarela ingin mendonorkan darahnya, walaupun ia belum tahu ada kecocokan atau tidak dengan golongan darah putri angkatnya.
Sementara Gafin diam-diam tersenyum. Keputusan yang tuannya berikan adalah hal yang tepat baginya untuk membuktikan keterkaitan antara ia dan Abel.
‘Jika aku tahu golongan darah tuan sama dengan nona Abel, itu berarti tes DNAku tidak salah. Mereka terbukti memiliki hubungan keluarga dan aku simpulkan jika tuan adalah ayah dari nona Abel,' batin Gafin.
“Berhentilah menangis Nona, tapi jangan berhenti untuk berdoa. Berharap darah yang dimiliki tuan cocok dengan nona manis,” ujar Gafin.
Azel membekap wajah menahan isak tangisnya. “Kenapa kalian begitu baik padaku?”
Seketika senyum simpul Gafin terhias. “Bukan hal yang aneh Nona, manusia memang selalu bergantungan dengan manusia juga. Aku seperti merasa kalian adalah satu keluarga yang terpisah,” ucap Gafin.
Sontak membuat Azel menatapnya, merasa janggal dengan ucapan pria itu barusan, “Maksudmu apa?”
“Ya, satu keluarga Nona. Seperti tuan yang menganggap putri Nona adalah anaknya, akan tetapi kenyataan yang mengatakan bahwa kalian tetap orang lain. Bagiku itu sama saja, satu keluarga yang terpisah,” jelas Gafin tetap menampilkan senyumnya.
Elakan berbentuk ucapan itu seakan menjadi alasan. Namun percayalah, Gafin selalu berusaha untuk siapapun itu yang berhubungan antara Azel dengan Agha, ia akan membuat mereka peka sama apa yang ada dipikirannya.
“Terkadang aku berpikir aku terlalu jahat sebagai wanita.”
Gafin menarik sebelah alisnya, seolah membentuk tanda tanya akan ucapan yang baru saja dikeluarkan oleh perempuan itu.
“Aku terlalu egois yang selalu berusaha memisahkan mereka. Lagi-lagi itu karena sakit hatiku. Ya, benar yang kau bilang tadi. Pada kenyataannya Agha hanya orang lain, tapi dengan bodohnya aku tetap saja aku menganggapnya seperti orang yang sama.” Azel semakin terisak, kali ini ia sudah benar-benar lelah sampai terdengar suaranya seperti lirihan saja.
“Sebenarnya ada apa Nona? Bisa kau cerita sedikit?”
__ADS_1
“Hemm aku ....”
“AZEL!”
‘Ah sial, mereka sampai. Ingat Nona, kau berhutang cerita denganku. Lain waktu aku akan tagih,' ucap hati Gafin.
Mungkin karena waktu yang tidak tepat ini, membuat Gafin sedikit merasa bodoh karena rasa penasarannya. Tidak pantas ia menanyakan hal lain, sementara kondisi Azel tidak mendukung.
“Mommy, Daddy ....” Pelukan Azel terjun bebas ke dalam rengkuhan sang ibu tirinya itu.
“Ada apa dengan cucuku Azel?” tanya sang Daddy dengan intonasi yang tinggi.
“Maafkan Azel Daddy, Azel bodoh telah mengizinkan Abel untuk ikut camping. Ini dampak kecerobohan Azel. Abel hilang dari kegiatan itu, dan ternyata dia jatuh dari jurang, hikksss ....”
“Astaga ....”
Azel menambah isak tangisnya, terlebih saat melihat guratan kekecewaan dari sang Daddy. Mau bagaimana pun Abel adalah cucu tersayang mereka, bagi Samuel berliannya itu boleh sampai terluka.
“Bagaimana kondisinya sekarang?”
“Agha ....”
Agha baru saja keluar dari ruang cek. Pria itu tampak semplonyongan, dengan kilatan bibir yang begitu pucat. Namun siapa sangka, pria itu justru tersenyum bahagia walau matanya terlihat sudah sangat sayu.
“Golongan darahku sama,” ucapnya begitu sumringah.
Azel menangis mendengarnya. Pengorbanan pria benar tidak tanggung-tanggung. Ia melakukan segala hal demi putrinya.
“Kau begitu baik, terima kasih!”
“Ini karena anakku, sudah pasti aku akan lakukan yang terbaik!”
“Sekali lagi aku berterima kasih, hikksss ....”
__ADS_1
Agha mencondongkan sedikit punggungnya, lalu ia berbisik sangat lirih di telinga Azel. “Aku pulang ya. Aku sangat lelah, esok aku akan ke sini lagi. Salam untuk orang tuamu!”
Gafin sigap menggandeng tuannya. Ia tahu saat ini puncaknya rasa letih dari segala apapun yang dirasakan oleh majikannya itu.
“Mari kita pulang Tuan. Anda butuh istirahat!” ajak Gafin. Lalu ia berpamit, “Kita pulang Nona. Semoga nona manis lekas membaik.”
Azel mengangguk. Kemudian Gafin menuntun Agha untuk berjalan. Namun sebelum itu Agha sempat saling bersitatap dengan dua pasang manusia bersuami-istri di bangku penunggu di sana. Tatapan itu tampak begitu nanar, sebelum akhirnya Agha berbalik badan masih dengan menatapnya.
Sampai di parkiran mobil. Agha sudah tidak bisa lagi menahan rasa lelahnya, sampai pria itu benar-benar tumbang karena sedang di fase selemah-lemahnya tubuh.
Ya, tenaga mencari Abel begitu banyak. Belum lagi mengurus sang ibu dari putri angkatnya itu dan baru saja yang ia lakukan seakan menguras segalanya. Hampir 3 kantung darah dengan kuantitas yang cukup banyak ia donorkan, itu seakan meresap semua energinya.
‘Anakmu sudah di depan mata Tuan, tapi ingatanmu masih sangat jauh. Lihatlah, tidak ada orang lain sepertimu yang rela seperti ini,' batin Gafin.
***
Kembali lagi dengan Azel. Kini kedua orang tuanya itu langsung bertanya salah satu dari keduanya, “Siapa mereka Nak?”
“Mereka teman Azel Daddy. Selama Abel hilang, aku ditemani dengan mereka. Dan ya, pria yang bicara dengan Azel tadi adalah orang yang sukarela mendonorkan darahnya untuk Abel,” jelas Azel.
“Baik sekali dia, tapi kenapa dia tidak mengunjungi kita tadi?” sambar Shireen sang Mommy.
“Kondisinya sudah sangat lemah Mommy. Dari kemarin dia ikut Azel mencari, dan sekarang dia banyak sekali mendonorkan darah.”
Samuel mengusap kepala anaknya. “Sempatkan waktu untuk Daddy bertemu dengannya nanti. Daddy ingin berterima kasih karena sudah menyelamatkan cucu Daddy,” ucap pria paruh baya itu.
“Baik Dad, tapi tolong jangan dulu beritahu ini semua dengan adikku,” pinta Azel.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa Dad, aku tidak ingin dia ikut cemas. Kabari nanti, jika Abel sudah membaik,” balas Azel. Sebenarnya bukan karena itu.
‘Aku hanya takut di saat adikku berada di sini, Agha berpapasan dengannya. Aku tak tahu, apa yang akan dilakukannya nanti,' batin Azel.
__ADS_1
“Jangan merasa takut jika dimarahinya. Abel memang kesayangannya juga, tapi percayalah jika kita menjelaskan Azriel akan mengerti,” ujar Samuel.