
“Tapi Daddy jangan putuskan hubungan persaudaraan kita. Bagaimana perasaan paman Abran di sana? Pasti dia sedih,” ujar Elena.
“Iya Sayang ... ternyata putriku ini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa, bukan hanya badan saja tapi pikiran juga,” balas Elbrio, dan itu dibalas wajah tidak menyenangkan dari putrinya.
“Menyesal aku berkata bijak,” umpatnya.
“Baiklah Agha, jika memang ini pilihanmu dan juga keinginan putri tercintaku. Maka tidak ada masalahnya, bagiku kebahagiaannya adalah yang utama,” ucap Elbrio.
“Terima kasih Paman atas pengertiannya. Semoga ikatan persaudaraan ini terjalin,” balas Agha.
“Tentu saja Agha, kau pun putraku. Aku dan ayahmu bagaikan adik kakak, jadi tidak ada salahnya jika kau juga menganggapku seperti ayah.” Elbrio tersenyum, lalu ia beranjak dari duduknya. “Ya sudah berbicaralah kalian berdua, paman ingin mengurus ikan-ikan paman,” sambungnya sebelum ia melangkahkan kaki.
“Terima kasih sekali lagi Paman.”
“Ya!”
Kini tinggallah mereka berdua. Keberadaan saat ini memang sedang di mansion keluarga Elbrio, dan Agha hanya menurut panggilan darinya saja.
“Terima kasih Elena.” Percayalah kata itu adalah ucapan pertama yang pernah ia lontarkan untuk perempuan pengganggunya ini.
“Tumben sekali,” ketus Elena. Agha pun menyesal telah mengucapkan itu.
“Aku seperti ini demimu Agha. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana nanti jika aku bisa menikah denganmu, tapi jika kita bagaikan minyak dan air, aku rasa ini terbaik walau aku sedikit mengorbankan perasaanku,” ucap Elena tulus.
Agha tersenyum, ia benar-benar menyadari bahwa perempuan yang ia anggap manja dan cerewet ini, sebenarnya memang banyak mempunyai sisi kebaikan.
“Aku juga akan membantumu untuk bersatu dengan Azel. Dia salah satu teman sosialita sahabatku, aku sudah mendapat banyak informasi tentangnya dari sahabatku. Sepertinya menghancurkan hubungan mereka bukan hal yang sulit bagiku,” lanjut Elena menatap lekat mata Agha.
“Kau begitu baik Elena, bagaimana aku bisa membalas semuanya? Tapi, untuk menghancurkan hubungan mereka aku tidak setuju, kau boleh membantu akan tetapi untuk hal itu sangat aku larang!”
“Kenapa?”
“Kau berkorban demi perasaanku kepada Azel ‘kan? Di sini aku juga berkorban untuk rasa cintaku demi Azel. Aku begitu mencintainya, sampai aku ingin sekali membuatnya bahagia, tapi karena kebahagiaan dia saat ini hanya pada kekasihnya, maka aku akan menjauh. Nasib kita sama bukan?”
Elena berpikir. Ia bisa mengira rasa sakit hati yang diderita pria ini. “Aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus Agha. Bagaimana kedepannya? Sementara usiamu tidak lagi dibilang muda. Menikahlah ... baik jika kau tidak mencintaiku, setidaknya kau belajarlah melirik orang lain, dan melupakan dia!”
“Tak perlu cemas, berangsur perasaanku akan hilang nanti. Untuk wanita, aku bisa mendapatkanya dengan satu ucapan. Kau tenang saja.”
Elena akhirnya tersenyum lega. Perasaan cinta pun terganti dengan rasa sayang sebagai saudara. “Baiklah, aku hanya ingin kau menikah sebelum aku!”
Agha tersenyum lalu mengangguk. “Bolehkah aku memelukmu? Tanda persaudaraan kita." Permintaan itupun langsung disetujui oleh perempuan yang bisa berubah drastis dari biasanya ini.
***
Setelah pulang dari tempat kediaman Elena. Agha menyempatkan waktu untuk menepi di rumah Abel. Karena tugas menjemputnya telah digantikan tadi, kini ia merasa rindu dan ingin mengecek langsung keadaan putri angkatnya.
Kala ia memencet bel pintu, begitu sigap Abel sudah menyambutnya.
“Ayah!”
“Sayang ....” Agha tersenyum lalu secepat kilat ia mencium seluruh wajah Abel.
“Ayo masuk, Abel mau kasih tahu ....”
“Apa itu?”
“Tapi diam ya ... mami sakit, karena kehujanan semalam dia demam dan flu. Saat ini mami sedang tidur setelah Abel beri obat tadi,” jelas Abel.
Tentu saja rasa bersalah tiba-tiba menyerang Agha. Ia teringat semalam, kejadian hujan-hujanan itu merasa disebabkan olehnya.
“Boleh ayah mengecek mamimu?”
“Boleh banget dong Ayah ... tapi jangan sampai mami bangun ya, jika tidak ingin suara gong mami keluar.” Agha terkekeh dengan ucapan gadis ini. Pria itu mengacungkan jarinya pertanda ia setuju.
Kemudian, mereka masuk secara perlahan dan sunyi, bahkan tidak sedikit pun di antara keduanya yang mengeluarkan suara.
Kini dapat Agha lihat dari wajah Azel yang tertidur pulas dengan tumpuan tangannya di bawah pipi, bisa ia lihat juga rona merah di hidung dan bibir perempuan itu.
‘Dia benar-benar demam,' batin Agha.
“Ayah tunggu di sini ya, Abel mau ambil kompresan buat Mami,” bisik Abel berbicara pelan.
“Iya Sayang ....” Azel langsung melangkah keluar kamar.
Entah keberanian dari mana, pria itu menyentuh dahi Azel untuk mengecek suhu tubuhnya. Dapat Agha rasakan kehangatan di sana, bahkan bukan hanya itu, bagian lain pun terasa panas.
Agha mengambil ponsel di sakunya, dengan gerakan cepat ia mengetik pesan kepada asistennya untuk segera memanggilkan dokter.
Kemudian datang Abel dengan membawa wadah kecil. “Ayah yang kompresi ya!”
Agha mengangguk, ia bergerak untuk lebih dekat. Sembari memeras kain kompres itu, ia membenarkan posisi Azel agar bisa lebih leluasa untuknya mengompres, akan tetapi tidak sampai membuatnya terbangun. “Sudah panggil dokter?” tanyanya.
“Mami tidak mau, karena Mami takut Eyang tahu kalau Mami sakit. Dokter kita memang satu keluarga, jadi siapapun yang sakit pasti tahu semua,” jelas Abel.
__ADS_1
‘Berarti tindakanku memanggil dokter, tepat.’
“Kenapa mamimu tidak ingin mereka tahu jika ia sakit?”
“Mami takut buat mereka cemas ....”
‘Astaga Azel ... kau ini tidak pernah berubah dari dulu. Sikapmu ini membuatku kagum. Selalu mementingkan orang-orang tersayang terlebih dahulu,' batin Agha.
***
Keesokan harinya.
Sosok pria muda berumur 27 yang mempunyai paras khas Indonesia sekali, tampak sedang menunggu seseorang.
Beberapa kali ia melihat jam di tangannya, tetapi bukan berarti rasa sabarnya meluntur, hanya saja ia menjadi resah. Hingga dia saat yang tepat, ia melihat seseorang yang sangat ia tunggu-tunggu. Kini terbit sudah senyumnya.
“Maaf Gafin, apa aku terlalu telat?”
“Ah tidak Pak, santai saja. Niat pertemuan hanya untuk mengobrol bukan? Duduk dan minumlah dulu!”
“Baiklah terima kasih.”
Ya, pertemuan yang sudah direncanakan sebelumnya oleh Gafin memanglah sangat persuasif, karena menurut Gerald pria ini akan membahas wanita yang dimaksud Darren kemarin.
Setelah mereka saling menyuruput minuman yang telah tersedia, sampai tenggorokan mereka terasa basah. Berargumen pun akan terasa enteng.
“Jadi, mau hari dan tanggal berapa kau datang ke clubku?”
Sudah diduga, pasti pembicaraan Gerald lebih dulu mengarah prihal wanita. Gafin pun menanggapinya dengan senyum. “Bisa diatur Pak. Janganlah terburu-buru, kau sendiri bilang ada uang jangan takut kehabisan wanita. Jadi, aku mencari uang terlebih dahulu baru setelah itu wanita. Seperti itu bukan?”
“Ah ya benar, kau ini pria yang sangat pandai beragumen.” Gafin pun terkekeh.
‘Sepertinya sudah cukup berbasa-basi.’
“Jujur saja, niatku membuat pertemuan privat ini bukan hanya membahas hal itu Pak. Ada yang lebih penting dari itu,” papar Agha.
“Apa itu?”
“Apa Pak Gerald ini termasuk teman Pak Azriel?”
Lontaran pertanyaan dari Gafin, refleks membuat mata Gerald lebih terbuka. Namun pria itu justru terkekeh, dan berkata, “Aku bahkan seperti buntutnya. Bukan termasuk, tapi memang dari SMA aku dan Azriel itu sahabat.”
‘Aku tahu, pemuda ini pasti mencari tahu tentang Azriel,' batin Gerald.
“Pak apa aku boleh meminta perjanjian untuk menemuinya?”
‘Ternyata aku sedang berhadapan dengan orang jenius,' batin Gafin.
“Jika untuk membahas prihal Aghafa, aku beri saran sebelum kau terluka lebih baik hindarilah itu,” lanjut Gerald.
“Begitu peka Bapak ini, bahkan saya belum berucap Anda sudah mengetahui semuanya,” balas Gafin.
Gerald terkekeh, ia tertawa kecil menanggapinya. “Aghafa Luis. Dia adalah Alexanderel Richard keturunan bangsawan Amerika. Sebelum itu siapa yang memberitahumu tentang semua ini, sampai kau begitu niat untuk berhadapan dengan sahabatku? Tidak mungkin Aghafa yang memberitahu, kau pasti paham!”
‘Jadi sebelum Pak Abran menemukannya, nama asli tuan adalah Alex,' batin Gafin.
“Paman Zex, adik dari Pak Abran. Sebelum beliau pergi, dia menitipkan sesuatu kepada adiknya jika semua jati diri tuan Agha tersimpan oleh Pak Azriel. Dia sendiri tidak tahu semua itu, dan karena itulah saya ingin sekali mencari tahu sendiri,” jawab Gafin.
“Apa yang ingin kau tahu?”
“Kenapa pak Azriel begitu memusuhi tuan Agha?”
Gerald tampak menimbang-nimbang. Ia mencoba mengingat sesuatu yang pernah sahabatnya dulu katakan.
"Dulu aku, Azriel dan Alex serta Reno bersahabat begitu dekat semasa SMA. Di masa sekolah kami, ada satu perempuan yang selalu menjadi incaran setiap murid. Salah satunya adalah Alex. Dia terus berusaha untuk mendapatkan gadis itu, tapi sayang sekali fakta membuktikan jika perempuan yang sangat ia sukai ternyata menyukai Azriel. Sebab itulah Alex berpisah dari kami.”
Gafin mencermati ucapan yang di mana pria ini sedang bernostalgia semasa SMA-Nya. Namun, ini sangat mengarah kepada indentitas tuannya itu, sampai ia bingung bagaimana cara menyimpulkan. Karena, setiap ucapan dari orang yang berbeda, tampak lain juga ceritanya.
“Kami sempat berpisah beberapa tahun, karena Azriel tiba-tiba pindah sekolah. Ya, satu sekolah digemparkan oleh berita yang menyatakan bahwa saudari perempuannya telah hamil di luar pernikahan. Pihak sekolah pun mengeluarkan kakaknya, dan Azriel saat itu memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di luar negeri.”
“Sebentar, saudari perempuannya? Apa itu nona Azel?”
“Ya, kembaran Azriel. Dari mana kau bisa tahu?”
“Pak Gerald bisakah kita bekerjasama? Apa kau tahu kejadian sebelum Pak Azriel pindah sekolah? Kau sahabat bukan? Pasti tahu semua tentang sahabatmu, tapi sepertinya banyak yang kau belum tahu.”
***
Malam hari.
Tempat kediaman Azel.
“Gara-gara kau, aku jadi harus minum obat sebanyak ini!” gerutu Azel.
__ADS_1
Saat ini Agha sedang berada di rumah perempuan yang tengah sakit itu. “Maafkan aku, tapi memanggil dokter bagiku cara yang terbaik. Aku tahu ini semua salahku, maka dari itulah aku minta maaf.”
“Mami, Ayah udah baik banget lhoo, masih saja disalahkan!” sahut Abel.
“Menyahut saja bocah!” sergah Azel. Abel pun langsung menjulurkan lidahnya.
“Ayah menginap ya di rumah, Abel takut nanti malam-malam Mami demam lagi!”
“Abel ...!!” geram Azel. Agha tahu Azel sangat tidak setuju dengan itu.
“Boleh, kita tidur bersama lagi bertiga!”
“TIDAK!”
Mereka pun saling tertawa bersahutan. Alhasil dua bantal mendarat bagus di kedua muka mereka.
Keesokan paginya.
Agha kembali menjemput untuk menghantar sang putri, yaa sekaligus mengambil kesempatan untuk bertemu dengan maminya bukan? Tentu saja, apalagi yang membuat semangat jika bukan karena mereka berdua.
“Morning Ayah ....”
“Morning Baby, di mana mamimu? Apa dia sudah mendingan?”
“Mami sudah lebih baik dari semalam Ayah. Sekarang, mami sedang tidur setelah sarapan. Mungkin karena pengaruh obat juga, mami jadi banyak tidur,” jelas Abel.
“Baiklah, kita berangkat sekarang?”
“Come on!”
***
Di perjalanan. Agha sedang mengamati Abel yang terus saja bercermin.
“Genit sekali,” gumamnya.
“Ihhh Abel dengar Ayah ... ini lho, kenapa poni Abel grepes?!”
“Coba lihat?”
Abel menunjukkan deretan rambut di bagian depannya, yang dirasa berbeda dari yang kemarin. Ia pun baru menyadari hari ini, karena ia juga baru bercermin.
“Oh iya, kok bisa?”
“Gak tahu, Abel juga baru sadar sekarang ... perasaan kemarin gak kayak ini. Seperti ada yang potong rambut Abel!”
“Mungkin mamimu.”
“Untuk apa? Mami ‘kan sakit, dari kemarin mami gak keluar sama sekali dari kamarnya.”
“Ya sudahlah tidak apa-apa nanti kita ke salon untuk memperbaikinya.”
***
“Ini rambut anaknya, dan ini si bapaknya,” ucap Gafin menyodorkan dua plastik kecil berisikan beberapa helai rambut.
“Gafin ... Gafin ... niat sekali kau mencari informasi-informasi yang kau belum dapat, dengan cara seperti ini. Kenapa kau bisa berpikir orang yang jelas-jelas berbeda kau samakan dalam ikatan hubungan orang tua dan anak?”
“Jika kau tahu, ini menyangkut tuanku!”
“Diperbudak sekali kau, sementara dia saja tidak memperdulikan itu!”
“Banyak bicara sekali kau, jalankan saja tugasmu!”
Ya, saat ini Gafin sedang mendatangi seorang dokter spesialis yang di mana dokter itu adalah teman lamanya. Dulu mereka bersahabat dekat, tetapi karena perbedaan jurusan mereka terpisah.
“Baiklah, tunggu sampai sehari atau tiga hari. Nanti kuberi kabar untuk hasilnya.”
Ya, rambut yang ia dapat dari mencuri diam-diam, kini ia bawa untuk menyatukan sebuah kebenaran. Jikapun salah, itu akan membuat rasa penasarannya terjawab.
‘Jikalau hasilnya tidak sesuai ekspektasi, aku akan berhenti untuk mencari bukti jika tuan dan Abel itu mempunyai hubungan darah. Begitupun sebaliknya, sebab menurutku tes DNA ini merupakan bagian yang paling penting untuk membuktikan semuanya,' batin Gafin.
***
Di sekolah.
“Adik-adik kakak sekalian, maaf mengganggu waktu belajarnya. Di sini, kakak ingin memberikan informasi untuk kegiatan perkemahan yang akan dilaksanakan esok. Kita akan berbarengan dengan kakak-kakak senior dari fakultas sebelah. Maka dari itu siapkan diri, dan jangan lupa untuk meminta izin kepada orangtuanya masing-masing. Terima kasih!”
Tiba-tiba sorak-sorai tercipta dari mereka yang menyambutnya dengan kebahagiaan. Namun tidak semua, ada juga yang saat ini sedang bimbang dan sedih. Pasalnya, setiap kegiatan camping seperti ini Abel jarang sekali diberi izin.
Seorang pria dewasa yang memang sedang menjaga barisan para siswa-siswi yang bertepatan di samping Abel, tiba-tiba menyentuh punggung gadis itu.
“Apa salahnya untuk mencoba. Mintalah terlebih dahulu, aku yakin untuk kali ini kau pasti akan diberi izin,” ucapnya.
__ADS_1
Sontak Abel langsung menatapnya dengan nanar, dan ia bertanya, “ Kakak siapa?” Dapat Abel lihat lelaki berbadan tegap tinggi, dengan wajahnya yang sangat manis.
“Aku Elgo, kau bisa panggilku Kak El. Aku mahasiswa racana pandega. Jadi, selama camping nanti aku yang menjaga.”