
“Mami sudah berapa kali juga Abel bilang, kalau ayah Agha itu bukan orang asing ....” Abel tidak marah di saat maminya berkata sedikit tegas dengan nada tingginya. Gadis itu justru membalas dengan lembut.
Azel pun merendahkan ucapannya, “Baiklah maafkan mami, tapi bisakah kamu jangan sebut dia ayah? Mami merasa risih Abel, dan ingat kamu akan mempunyai ayah dari suami mami sendiri nanti!”
“Kenapa Mami risih? Apa dengan menyebut panggilan ayah, mami merasa dia seperti suami mami? Atau bahkan seperti ayah kandung Abel sendiri?”
Azel dapat melihat air mata yang mulai merembes dari pelupuk mata anaknya. “Coba katakan siapa ayah kandung Abel yang sebenarnya? Apa mami pernah beritahu Abel? Sekarang Abel bukan anak TK lagi yang ditanya ayah dimana, mami jawab ayah pergi jauh! Abel sudah mengerti Mami, dan sampai saat ini Abel belum diberitahu siapa ayah Abel. Sudah begitu, dengan egoisnya Mami melarang Abel dekat dengan orang yang sudah menganggap Abel seperti anaknya!”
Gadis itu bangkit dari kursinya, masih dengan bergelimang air mata. Dengan berlari gadis itu berlari keluar rumah. Namun sebelum itu ia berkata ....
“Mami egois, Mami gak pernah bolehin Abel merasakan kasih sayang seorang ayah. Apa niat Mami seperti itu? Mami gak izinkan Abel dekat dengan sosok seorang ayah, kenapa? Mami jahat!”
Ucapan lantang dari Abel, seketika menciptakan air mata. Perempuan itu terisak tanpa suara, menggigit jari jemarinya menahan kesesakan hati. Mencerna apa yang dikatakan oleh anaknya, yang terdengar seperti sebuah tamparan keras untuk dirinya.
“Jika kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, kamu pasti tidak akan percaya. Alasanku seperti itu, karena aku sendiri tidak tahu siapa ayahmu. Jikapun aku tahu, aku akan tetap tidak memberitahu karena mau bagaimanapun ayahmu itu pria brengsek!”
Azel terdengar bertambah terisak, lagi-lagi dia hanya bisa menahan diri agar berusaha untuk tidak bercerita tentang masa lalu kepada putrinya. Biarlah anaknya itu berpikir apa yang terlintas di otak tentangnya. Mau jahat ataupun egois biarlah, yang jelas ia selalu ingin yang terbaik untuk anaknya.
***
Di dalam mobil, Abel meminta sang supir untuk berhenti. Ya, karena ia melihat mobil yang sangat ia kenal tak sengaja berpapasan dengan mobilnya.
“Berhenti Pak!”
“Kenapa Non?”
Abel tidak membalas, ia langsung keluar berlari menghampiri Agha yang terlihat ingin keluar dari mobilnya juga.
__ADS_1
“Ayah ....”
Agha langsung menangkap gadis kecil itu. Hatinya berdesir, lagi-lagi ia terharu panggilan itu ternyata awet untuknya. Ya, sebutan ayah.
“Anak ayah kenapa?” Pria itu benar-benar merasa perannya sesuai panggilan Abel terhadap.
“Abel gak mau sekolah, Abel mau ikut ayah aja!”
“Coba cerita dulu, apa yang terjadi?” Abel tetap menggeleng, ia hanya mampu mengeluarkan air mata yang turun deras bagai lebatnya hujan membawa rindu.
“Maaf, Nona harus ke sekolah. Jam pelajaran akan di mulai beberapa menit lagi, menghindari keterlambatan sebaiknya kita segera menuju sekolah Nona!” ucap sang supir setelah ia ikut keluar dari dalam mobil.
“Abel gak mau sekolah!”
“Hmm Pak biar saya yang hantarkan. Bapak boleh pulang, dan mengatakan jika Anda telah selesai menjalankan tugas menghantarnya!” ujar Agha.
Agha mengeluarkan sebuah dompet tebalnya, lalu ia mengeluarkan selembar kertas kecil, kemudian ia serahkan kepada sang supir paruh baya itu.
“Majikan Anda pasti kenal dengan saya, jika tidak segera hubungi nomor yang tertera di kartu nama saya. Saya berani berhadapan dengan pihak yang berwenang jika melakukan sesuatu kepada anak majikan Anda!”
‘Astaga Tuan Agha. Ya, aku sangat mengenalnya. Jika tuan Azriel tahu tentang ini, apa jadinya nanti?’ Sang supir itu baru menyadari, siapa sosok pria ini setelah ia membaca kartu namanya. Ternyata, fakta mengatakan bahwa manusia ini bukanlah orang asing.
“Tapi Tuan ....”
“Lihat Nona mudamu, sepertinya tidak ada daya lagi untuk Anda melarang saya menghantarnya. Tenang saja, saya hanya menghantar!” Agha kembali memakai kacamata hitamnya, lalu ia memasuki mobil.
Sementara pria paruh baya yang berprofesi sebagai supir pribadi yang diketahui ternyata mantan supir Azriel itu, tak dapat melakukan apa-apa lagi. Selain membiarkan anak majikannya itu dihantar orang lain.
__ADS_1
'Baiklah untuk sementara aku akan rahasiakan ini, tapi mau bagaimana pun tuan Azriel harus tahu tentang hal ini,' batinnya.
***
Di rumah Azel sedang termenung. Ia masih mencerna ucapan dewasa anaknya itu. Namun kesendirian terisi oleh sang kekasih yang baru saja datang.
“Morning Sayang ..., kenapa dengan pagi ini?” ucapnya langsung memberikan kecupan di kening perempuannya itu.
“Aku merasa gagal jadi ibu,” balas Azel berangsur memeluk kekasihnya.
“Why? Coba cerita!”
“Aku merasa terlalu egois Mas. Anakku sangat ingin tahu siapa ayah kandungnya, sementara aku sendiri tidak tahu. Dan, apa salah jika aku melarang dia untuk mengangkat ayah yang baru ia kenal? Mas, aku hanya takut anakku terlalu percaya dengan orang itu. Kejahatan di jaman sekarang bisa berbentuk apapun!”
Azel mengeluarkan semua kata-katanya di bawah dada sang kekasih. Tempat bersandar terbaik memang selalu ada, hanya saja Azel masih sangat sungkan bahkan untuk to the point saja berat untuk ia ucapkan.
“Sejujurnya aku merasa sangat cemburu, jika ternyata anakmu lebih respek dengan orang lain. Namun, karena seseorang yang kau maksud itu adalah orang yang sangat aku kenal, aku bisa jelaskan jika kau itu terlalu overtaking terhadapnya. Sayang ... percayalah, Aghafa bukanlah pria yang kau kira jahat, mungkin karena keahliannya juga, dia bisa mengambil perhatian anakmu. Wajar saja, Abel sangat luluh padanya karena sedari kecil dia tidak pernah merasa kasih sayang seorang ayah.”
Tatapan Azel seketika menjadi nanar, ucapan kekasihnya itu terlalu bijaksana bahkan rasa cemburunya tetap tertutup karena cinta dia kepadanya.
‘Ini akan menjadi berurusan dengan adikku, aku sangat tahu Agha adalah orang baik. Tetapi, mau bagaimanapun wajahnya masih tersimpan dendam di hati Azriel. Walaupun aku tahu, sebenarnya dia tidak ada sangkut pautnya dengan masa laluku,' batin Azel.
“Aku hanya ingin anakku luluh hanya kepada calon ayahnya,” balas Azel.
“Aku akan berusaha untuk itu. Tapi, apa perlu aku selidiki lebih lanjut untuk permasalahan siapa ayah kandung Abel?”
Deg!
__ADS_1
Seketika jantung Azel berpacu lebih cepat, iramanya tak beraturan, sekelebat bayang-bayang masa lalu pun berdatangan, seketika rasa perih hati menjalar ke seluruh tubuhnya. Kini ia sedang merangkai kata untuk menjadi alasan. “Sepertinya tidak perlu Mas, aku takut bertentangan dengan adikku. Karena dialah orang pertama yang akan menolak keras, apapun jika itu yang bersangkutan dengan masa laluku.”