Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
Penyusup Tampan


__ADS_3

Shireen terkekeh mendengar penuturan dari Sheila. Ia memang mengetahui perempuan ini adalah seorang pelayan malam. Namun, Shireen yakin Sheila tak seburuk kata-kata orang.


"Canda. Aku memang seorang wanita malam, tapi bukan tugasku merayu milik seseorang, terlebih punya sahabatku sendiri. Aku hanya memuaskan seorang pria yang kurang kasih sayang dari seorang istri," balasnya.


"Kenapa Kakak lebih memilih jalan hidup dengan pekerjaan itu?" ucap Shireen.


"Aku ini orang miskin, banyak kebutuhan yang harus aku cukupi. Terutama untuk biaya ibuku yang tak kunjung sembuh di rumah sakit. Aku juga harus menyekolahkan adikku, sedangkan aku ini anak sulung yang ditinggal seorang ayah. Sudah menjadi keharusan bagiku," balas Sheila. Shireen dapat melihat pancaran kesedihan dari perempuan itu.


"Ternyata aku gak sendirian. Ada banyak orang-orang yang seperti aku," gumam Shireen.


"Ya, aku tahu pekerjaan aku ini kotor. Ibu dan adik-adikku juga kuberi uang haram, tapi apapun yang aku lakukan ini hanya untuk mempertahankan hidup ibuku dan adik-adikku. Aku tak menghiraukan orang-orang atau bahkan para karyawan yang tak menyukaiku. Itulah mengapa aku selalu membelamu dari manager kejam itu, dan gosip miring dari mulut para karyawan. Karena cuma kamu yang mau dekat denganku, yang pasti kamu tau identitas kehidupanku sebenarnya," ucap Sheila parau.


"Bagi Shireen berteman gak harus memilih."


"Ya, kamu itu kayak adik kakak sendiri. Semoga pertemanan kita gak putus."


"Gak akan. Tapi, apa Kakak gak ada niatan untuk keluar dari pekerjaan itu?"


"Entahlah. Gajiku di cafe ini, tak menyanggupi semua biaya pengobatan ibuku. Jadi selagi masih bisa menghasilkan uang dengan cara itu, agar ibu tetap bertahan hidup. Aku akan tetap lakukan."


"Menikah. Ya, hanya menikah yang membantu Kakak keluar dari pekerjaan itu."


Dengan gemas Sheila menangkup wajah Shireen. "Shireen Sayang ... sepertinya mustahil jika lelaki menerima perempuan kotor sepertiku. Mana ada lelaki tulus yang mau denganku yang sudah menjijikkan seperti ini. Jika ada pun, pasti hanya untuk pemuas satu malam," balas Sheila.


"Carilah Kak. Mau bagaimana pun, Kakak harus mempunyai keluarga. Aku yakin suatu saat ada lelaki yang mau menerima segala kehidupan Kakak. Mungkin bisa saja itu kak Tansoon."


"Haha, pria mesum seperti Tansoon itu tidak mungkin tulus, dia hanya menyewaku. Lagipula jika dia mau denganku pun, aku yang menolaknya. Dia itu bagaikan bintang buas."


"Ya sudah, lebih baik Kakak goda manager kejam itu aja. Aku rasa, dia pria yang tulus tapi menantang."


"Boleh juga, tapi aku selalu gugup berhadapan dengan dia."


***

__ADS_1


Malam hari.


'Son ulang tahun si kembar, Mami mau adakan acara pesta. Lusa Mami akan pulang dengan Papimu.'


Samuel memandang isi pesan dari sang ibu. Ia berpikir-pikir saat ini, hingga terulang memori ingatannya sewaktu di kantor kemarin.


'Apa yang membuatmu belum siap, hmm? Semua sudah tersedia, apa yang menjadi penghalang untuk kita menikah?'


'Restu. Bagaimana dengan restu dari orang tua Om?'


Perkataan Shireen kala itu, selalu membuatnya tidak bisa tidur tenang. "Apakah ini kesempatan yang bagus untuk aku membawa gadis itu, dan meminta restu dari papi mami, untuk menikahinya?"


Ya, mungkin memperkenalkan calon istrinya dengan sang Mama Papa, adalah hal tepat untuk kepulangan mereka esok.


Saat ini, hati Samuel hanya memikirkan rumah tangga yang ingin ia bentuk kembali dengan Shireen. Ia sudah tidak sabar untuk memperistri gadis itu. Otak dan pikirannya kalut, membayangkan bagaimana ia hidup bahagia bersama wanita yang dicintainya.


Sementara di kediaman Shireen.


Terlihat seorang gadis tengah gasar-gusur di atas kasur dengan gelisah. Pikirannya lari kesana kesini. Menatap nanar ponsel yang ia genggam.


Apa mungkin itu pegawai gedung yang sedang ada keperluan dengannya? Tidak mungkin. Lantas itu siapa? Tanpa berpikir panjang lagi, Shireen membuka pintu dan sekarang yang ia dapat ialah seseorang yang begitu mengejutkan dengan sosok kehadirannya. Setan? No! Atau penyusup? Ya, penyusup tampan yang tanpa izin mendatanginya malam-malam seperti ini.


"Mau apa Om kesini?"


"Apa aku tidak dipersilahkan untuk masuk?"


Shireen segera membuka lebar pintu apartemennya, dengan begitu santai pun Samuel masuk ke dalamnya.


Shireen berdecak jengah, melihat pria yang dengan sangat slownya duduk sofa tanpa ia mempersilakan terlebih dahulu. Bahkan lelaki yang mengenakan kaus putih oblong dan jeans pendek yang hanya membalut pahanya itu, terlihat begitu seenaknya menaikkan kakinya di atas meja sofa.


"Om, mau apa? Ini udah malam, gak etis duda masuk apartemen perawan!" cetus Shireen. Gadis itu melipat kedua tangannya, lalu menatap Samuel dengan tajam.


"Kau menghinaku duda? Hey Nona, aku ini calon suamimu, jadi tak pantas kau mengatai calonmu ini duda!" Shireen berdesis. Ia merasa sedikit khawatir dengan kedatangan pria itu di malam-malam seperti ini.

__ADS_1


"Om tau gak! Penghuni sebelah itu tukang gosip, gimana kalo besok pagi Shireen jadi bahan? Masa pagi-pagi Shireen sarapan makan gosipan!"


Samuel hanya menampilkan senyum smirk, senyum yang tak dapat dinikmati oleh orang lain selain dirinya. Manik matanya tak terlepas dari pandangan tubuh gadis itu. Apa mungkin karena pakaian santai yang dikenakannya?


Tantop dengan renda tipis, celana pendek ketat yang hanya menutupi bagian atas pahanya. Sungguh seperti jal*ng bukan? Sayangnya Shireen mengenakan pakaian seperti itu hanya di saat sendirian saja. Bahkan jika ada Jasson pun Shireen akan menggantinya.


"Jangan marah-marah, kau jadi tambah seksi." Ucapan yang menggoda itu membuat Shireen mendengus, sekaligus bercampur rasa malu. Namun, ia juga kesal. Sejak kapan prianya itu menjadi sangat mesum? Mana Samuel si angkuh dan arrogant?


Pria itu menarik gadisnya yang sedang kesal dengan ia. Lalu pria itu dudukkan di atas pahanya.


"Om ..."


"Susstttt ...." Samuel membisukan mulut Shireen. "Bagaimana? Apa kau sudah siap dengan pertemuan orangtuaku? Lusa mereka pulang. Kita akan segera meminta restu dengan mereka," katanya.


Ini yang sedari tadi mengganggu pikirannya. "Hmm, aku belum siap Om. Shireen takut mereka tidak suka dengan Shireen," balasnya.


"Mereka baik, aku yakin jika ada kepastian yang jelas untuk niatku ini. Kita akan segera menikah, jadi tidak ada lagi alasanmu untuk menunda-nundanya."


Mendapatkan tatapan tulus dan sendu dari Samuel, Shireen pun merasa tenang dengan kata-kata penenangnya. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum dan berkata, "Baiklah ...."


"Terima kasih, aku mencintaimu," ucap Samuel mengecup kening gadisnya. Shireen hanya memejam matanya menikmati benda kenyal itu menyentuh dahinya.


Benda sensual itu tidak hanya berdiam di sana. Namun, perlahan turun menyusuri hidungnya bahkan bibir merah Cherry miliknya. Hingga, Shireen benar-benar merasakan bibir seksi milik Samuel menyentuh bibirnya.


'Bibir manismu candu bagiku,' batin Samuel.


Bersambung ....



NIH PENYUSUP TAMPANNYA.


__ADS_1


INI GADIS CANTIKNYA.


Ay gk suka yang kekorean ya Mamak, jadi yang ada aja oke. Gimana suka ngga sama visualnya? Ay baru kasih Samuel dan Shireen dulu ya. S2 dulu, nanti baru aku kasih A2nya.


__ADS_2