Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S2. Kencan Pertama


__ADS_3

Terang bulan menyinar, membentuk bayangan, memantulkan cahayanya ke laut, menerangi malam yang sunyi. Seolah mengiringi alunan dansa sepasang pasutri.


Kunang-kunang cahaya bintang menghias, menata langit dengan pantulannya yang indah. Sepasang insan tengah tengah memadu kasih, dengan hati yang bahagia.


Senyum secerah mentari itu, tak terputus dari bibir keduanya.


"Aku mencintaimu!"


Ungkapan cinta terus terdengar dari mulut Azriel, Ina tampak merasakan dunia cinta hanya milik mereka berdua.  Namun gadis ayu itu belum menyadari perasaan cintanya, tetapi ia merasa ini adalah hal yang membuatnya merasa bahagia.


Di balik semak-semak dedaunan, tampak tiga anak curut menyaksikan mereka sembari cekikikan. 


"Rasanya mau ngontrak di mars aja?" ucap Iren.


"Ya ahahah jomblo ya?"


"Emang lo punya pacar?" tanya Aryan.


"Tidak, kita sama!"


Aryan mendatarkan ekspresinya. Kemudian mereka kembali menyaksikan dua orang yang sedang mabuk cinta di sana.


"Apa kau merasa bahagia malam ini?" tanya Azriel masih menggiring istrinya itu untuk mengikuti irama kakinya.


"Sangat!"


Acara dansa mereka berhenti, bermulai dari Azriel menyudahinya. Pria itu menggenggam tangan istrinya, mencium tangan Ina lalu mengecup keningnya.


"Terima pernikahan ini, mulailah hidup selamanya bersamaku. Aku ingin membentuk keluarga yang harmonis, apa kau mau?"


"Tentu saja."


priwittttt ...


Kiw ..


Kiw ...


Terdengar dari arah sana mereka saling bersiul menyaksikan paduan kasih sepasang suami istri ini. Ina yang menyadari itu tersenyum malu-malu, lalu ia menatap sang suami dengan mata beningnya.


"Aku sadar, mungkin pernikahan ini ketidaksengajaan, tapi sekuat apapun pikiranku menyangkal pada kenyataannya ini adalah sebuah takdir. Aku menerimamu, dan mulai saat ini jadikan aku wanita yang kau cintai satu-satunya dalam hidupmu," ungkap Ina.


Azriel merengkuh tubuhnya ringkih istrinya, meluapkan rasa cinta dengan penghayatan. "Terima kasih, aku akan terus mencintaimu."


"Awww, aww!"


Mereka di sana tengah menjerit histeris dengan scene kiss yang terjadi di antara dua pasang suami istri ini.


"Ternyata Kak Azriel romantis juga," gumam Aryan.


"Akhirnya ...."

__ADS_1


"Rasanya mau nangis, iri ...." Ainsley merasa iri dengan keromantisan mereka, sampai ia ingin pulang.


"Mami ... Sle mau nikah besok titik, hikss!"


"Halah, dasar alay!" cemooh Iren.


Kembali dengan mereka.


Ina digandeng dengan Azriel menuju sebuah meja makan. Yang di mana hanya untuk dua orang saja. Mereka melewati jalan yang terbentuk dari sebuah lilin putih menyala yang membentuk jalur jalan mereka.



"Kau suka?" tanya Azriel. Ia dapat melihat wajah istrinya yang terpesona dengan keestetikan tempat ini.


"Sangat suka. Siapa yang menyiapkan semua ini?" Ina dituntun untuk duduk, bak putri cantik yang diratukan.


"Aku!"


"Waahh bagus ... tapi aku tidak percaya ini kamu yang buat. Secara semua orang pun tahu, kamu itu bukan pria yang romantis," ucap Ina.


Ya, mengetahui suaminya itu bukan seperti pria lain, ia berpikir ini dekorasi seseorang. Azriel mana pandai dalam hal seperti ini, mengurusi percintaannya saja dia sangat bodoh. Mungkin itu pikiran seseorang yang selalu beranggapan kepada pria ini.


"Yaa jujur, ini adikku yang buat, tapi kau tetap suka 'kan?"


"Terima kasih, aku tetap suka!"


Setelah mengecup singkat bibir istrinya, mereka pun memulai acara makam malam.


***


"Kau sudah mengantuk? Kita kembali hotel!"


Azriel menggapai tangan istrinya. Setelah beranjak berdiri, dan ingin melangkah Ina terhenti. Ia memandangi kakinya.


"Lecet," gumam Azriel saat melihat kaki istrinya penuh dengan memar merah.


"Hmm, aku tidak terbiasa memakai sepatu tinggi seperti ini."


Azriel menghela napasnya dengan kasar, lalu ia berjongkok dan melepaskan high heels yang dikenakan Ina.


"Kau selalu memaksakan diri! Awas saja Sle, dia sudah membuat istriku lecet!"  gerutunya.


Setelah terlepas dari kaki putih istrinya, dengan sangat entengnya pria itu membuang ke sembarang tempat. Ina yang menyaksikan aksi suaminya hanya menggeleng kepala. 'Mas Azriel tetaplah Tuan Azriel. Sikapnya tetap dirinya yang dulu,' batin Ina.


Saat melihat tangan Azriel memasuki celah kakinya, tiba-tiba Ina berteriak.


"Mas!"


Ya, ternyata pria itu menggendongnya. Hari ini Azriel benar-benar memperatukan Ina. "Diamlah, kakimu tidak boleh kotor!"


Ina hanya pasrah, tangannya terus bergelantung di leher Azriel. Tatapan mata itu pun tak luput dari wajah suaminya. 'Dulu aku yang selalu menuntunnya, tetapi saat ini aku yang digendongnya. Nenek, kukira pernikahan ini suatu bencana untukku, ternyata aku salah. Aku telah menemukan pria yang tepat, yang memang Tuhan menggariskan takdir untukku bersamanya.'

__ADS_1


***


Setelah sampai di hotel, Ina segera direbahkan di atas ranjang. Namun, gadis itu sudah tertidur. Azriel menyelimuti tubuh Ina, setelahnya entah kemana ia kembali pergi.


Tiba-tiba datang Iren dan Ainsley dengan kebisingan mereka, sampai Ina terbangun karena terusik.


"Duh maaf ya Kak, jadi bangun. Ki-kita cu-cuma mau ngecek keadaan Kakak aja kok. Issh, Kak Sle sih!"


"Kok aku?!"


Ina mengucek-ngucek matanya. Ia melihat seisi kamar, tapi tidak mendapati keberadaan suaminya.


"Kalian melihat suamiku? Di mana dia?" tanya Ina.


"Kak Azriel keluar sebentar. Entah aku tidak tahu dia mau kemana," balas Iren. Ina hanya ber-oh saja.


Kemudian, Ainsley mendekati Ina, tiba-tiba ia berbisik, "Apa benar kau belum melakukan malam pertama?"


Ucapan itu membuat Ina terlonjak. Namun, ia tidak berbohong untuk menyangkalnya. Bukankah ini terlalu privasi?


"Hmm untuk apa kau menanyakan itu?" balas Ina.


"Ayolah Kak, berkata jujur saja. Aku ingin tahu!"


"Kak Sle apaan banget si, itu privasi tauk!" sahut Iren.


"Diam saja kau anak kecil!"


"Jujur saja. Dari hari pertama pernikahan ini, aku memang belum melakukan malam itu. Aku belum siap, karena aku belum mencintai mas Azriel," ujar Ina.


"Kak, itu hak suami lhoo. Sungguh miris nasib kakakku menahan hasrat, sementara mangsa selalu di depan matanya. Pernikahan ini memang sebuah incident. Namun, at least kau sadarilah dia bukan pria asing lagi bagimu. Dia suamimu, sudah waktunya dia merasakan indahnya pernikahan," tutur Ainsley.


Ina tampak berpikir, ia menyadari sesuatu hal, 'Apa aku begitu jahat? Dia benar, sekarang aku sudah menjadi istrinya tetapi tubuhku belum menjadi miliknya. Apa aku harus menyerahkan semuanya? Tetapi, malam itu ... Ina, sudah waktunya kau melupakan. Pernyataan cinta sudah kau dengar, setidaknya kau harus membalas,' batin Ina.


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Serahkan tubuhmu untuknya. Tante dan om sangat mengharapkan cucu dari kak Azriel, juga. Jadi kau menunggu apa lagi? Cinta tumbuh di hatimu? Tidak akan ada cinta di hatimu jika bukan kau sendiri yang memulainya!"


"Baiklah, memang sudah waktunya aku menyerah diriku. Mungkin malam ini dia berhak menerimanya," ucap Ina final.


Ainsley dengan Iren sama-sama tersenyum merekah.


"Iren mari kita buat dia menggoda di depan kakak!"


"Gass lagi, kakak pasti sudah menyiapkan lingerie 'kan?"


"Tunggu-tunggu, maksud kalian apa?"


"Mau merombak Kakak lagi!" ucap mereka bersamaan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2